Luar biasa Teh Susy, sangat setuju sekali dengan kalimat "Facing globalization 
by local empowering". Membangun dengan bersumber/ mengembangkan kearifan local, 
dan itu SUNAH ROSUL bangeeet.

Nah tadi Mamang coba merenung euy dan come up with the idea seperti ini... 
Katakanlah Judulnya Solusi Jatigede Ala Kabayan xixixi.

Mamang inget di dalam Surat Al Baqarah diceritakan bahwa Nabi Ibrahim dan 
Ismail membangun Ka'bah dari bekas reruntuhan dan dengan cara meninggikan 
pondasinya. Itu dasar hukum based on Al Qur'an bagaimana kita mengembangkan/ 
membangun berdasarkan Local Wishdom/ Kearifan Lokal, itulah konsep Revitalisasi 
yang diajarkan Nabi Ibrahim AS dan diperkuat oleh Rosululloh SAW. Rosululloh 
SAW memperkuat Local Wishdom dengan cara memindahkan Kiblat dari Masjidil Aqsa 
di Yerusalem ke Ka'bah di Makah karena memperhatikan local wishdom yaitu 
Kabuyutannya Nabi Ibrahim AS, his acenstor. Seperti kita ketahui bahwa 
Rosululloh SAW adalah turunannya Nabi Ibrahim AS dari anaknya Nabi Ismail AS. 

Nah Mamang baru inget waktu ririungan IPB Sumedang ada Kang Elan dari IPB yang 
bekerja di Bapeda Kab. Sumedang dia menceritakan tentang masterplan Kabupaten 
Sumedang sebagai Puseur Budaya Sunda/ Pusat Budaya Sunda, CMIIW Kang Odjat 
mohon dikoreksi kalau Mamang salah.

Nah Mamang berfikir waktu itu dan ngasitahu ke Kang Elan, atuh bagaimana mau 
menjadi Puseur/ Pusat Budaya Sunda tapi kok Kabuyutan yang Nyunda kok 
ditenggelamkan sangat tidak nyambung dan ironis kata Mamang teh.

Nah Mamang barusan dapat wangsit xixixi lhaaaa atuuuh Pemkab Sumedang dari pada 
bikin Puseur Budaya Sunda yang malah membangun dari Enol malah mungkin 
cenderung dibuat-2 kenapa tidak Membangun di Jatigede? Dimana disana pan sudah 
ada 38-an situs bersejarah dari jaman Megalitikum sampai ke jaman Islam masuk 
pertama kali Abad ke-7, Urang Cipaku sangat meyakini Islam disana disebarkan 
oleh Eyang Haji yang pergi naik Haji ke tanah suci ketemu Sayidina Ali lalu 
Eyang Haji diberi tongkat suci Sayidina Ali. Jadi Islam menyebar di Tatar Sunda 
itu secara damai pada Abad ke-7 dimulai di Kabuyutan Cipaku itu.

Nah Mamang belajar tentang Transformasi Arsitektur dan kita belajar dari Nabi 
Ibrahim AS bagaimana membangun Ka'bah dari reruntuhan dengan meninggikan 
pondasinya. Nah Pemkab Sumedang pun kenapa ngak Membangun Puseur Budaya Sunda 
ini dari Situs Jatigede dalam hal ini Kabuyutan Cipaku dimana Eyang Haji Resi 
Guru Aji Putih lah yang pertama kali menyebarkan Islam. Jadi Simbol Monoteismeu 
Ketuhanan bisa dipertahankan dan nilai-2 keislaman justru bisa ditegakan.

Nah lebih canggih lagi nih Kawasan Puseur Budaya Sunda ini bisa terintegrasi 
dengan Kawasan Kampung Budaya Sunda Buhun di Desa Cipaku, sudah banyak rumah-2 
Tradisional peninggalan dulu dan masyarakatnya pun egaliter jadi bisa 
ditumbuhkan kembali tradisi-2 yg dulu ada. Direvitalisasi nilai-2 budayanya 
tentunya dengan sentuhan Modern dan Professional.

Mengenai Aset berupa tanah, kebun, sawah, rumah, dlsb. Mamang kemarin baca 
kompas dan dibahas tentang Abah Ugi Ciptagelar bersama Kabuyutannya disebutkan 
disana bahwa seluruh tanah, sawah, dlsb merupakan MILIK ADAT dalam Hal ini 
berarti pan MILIK NEGARA juga? Nah masyarakat disana berhak/ boleh mengelola 
sawah/ kebun/ dlsb akan tetapi ada sharing/ setoran yang disetorkan kepada 
pemimpin Adat dalam bentuk Leuit Jimat untuk kepentingan-2 bersama. Nah Mamang 
berfikir kenapa di Jatigede tidak dibuat sistem yang serupa dimana Lahan yang 
sudah dibebaskan tersebut menjadi Lahan Adat/ Lahan Negara lalu kemudian dengan 
sistem sharing n' win-win masyarakat bisa mengolahnya. Keuntungannya adalah 
lahan tersebut akan tetap lestari sebagai sawah/ kebun/ kolam, dlsb karena 
milik Adat/ Negara yang tidak boleh diperjualbelikan. Nah tinggal diatur saja 
apakah Asetnya masuk ke Pusat atau ke Pemerintah Kabupaten Sumedang. Kalau mau 
memperkuat otonomi daerah ya mungkin ke Pemda Sumedang.

Nah untuk pengembangan Sawah, Kebun, Kolam, dlsb bisa kerjasama dengan BUMN 
yang dikelola Dahlan Iskan sebenernya inget ngak Dahlan Iskan pernah membuat 
rencana untuk mencetak sawah yang baru untuk menunjang ketahanan pangan 
nasional. Nah kenapa ngak BUMN yang ditugaskan Dahlan Iskan ini bekerjasama 
dengan BUMD Kabupaten Sumedang juga bekerjasama dengan Masyarakat di daerah 
genangan Jatigede untuk mengembangkan Kawasan Organik? Padi Organik, Kebun Buah 
Organik, dlsb? Tentunya dikemas dalam sentuhan AGROWISATA yang super ajiiiiib 
beuuuuh Juaraaaaa Banget!! Everybody win-win, negara mendapatkan benefit berupa 
sharing, ketahanan pangan terjaga, PAD Pemkab Sumedang dapat, masyarakat tetap 
bisa tinggal disana dan malah bisa merdeka hidup makmur. BUMN tidak susah 
mencari karyawan utk mengelola sawah tinggal sharing knowledge, sharing benih, 
sharing metoda dan tentunya sharing profit. Islami banget bukan, sistem bagi 
hasil yang saling menguntungkan semua.

Nah bagaimana fisik bendungan yang sudah kadung jadi? Ya ngak apa-2 justru itu 
jadi Prasasti kan bisa saja bendungan tetap dibendung akan tetapi tidak seluas 
5 kecamatan dan menenggelamkan 35000 kepala keluarga. Bisa saja bendungannya 
jadi mini bendungan dengan luas misalnya 50Ha -100Ha saja. Tetep jadi bendungan 
tapi tidak merusak Situs-2 Bersejarah, Tatanan Sosial Masyarakat, dan Pastinya 
tidak akan jadi bencana. 

Listrik kan tetep bisa jalan jadinya konsepnya MiniHydro yg banyak dan 
sebenernya dari pada bikin PLTA besar kenapa ngak dibikin yg kecil-2 tapi 
banyak, konsepnya Mini Hydro mungkin 2 - 10 MW kan bisa dibuat disepanjang 
sungai Cimanuk mah. Kalau tidak salah di sana juga sudah ada PLN Indonesia 
Power Parakan Kondang yang menghasilkan listrik 10MW. Cukup bendung sedikit dan 
alirkan airnya ke Turbin? Kalau kata Pak Ustad mah lebih baik kecil tapi rajin 
dari pada bongsor tapi males hehehe. Lebih baik kecil-2 tapi banyak dari pada 
besar tapi membahayakan. 

Untuk perencanaannya BAPPENAS bisa bekerjasama dengan ITB, IPB, dan UNPAD untuk 
perencanaan Puseur Budaya Sunda ini dengan Konsep AgroWisataBudaya terpadu 
tentunya dipandu oleh Kementrian Kebudayaan sebagai Soul-nya. Ahli kehutanan n' 
pertanian bisa dari IPB atau UNPAD, ahli Hydrologi n' Geologi n' Perencanaan 
bisa dari ITB bisa dari Teknik Arsitektur n'  Teknik Sipil tentunya melibatkan 
DPKLTS dan LSM juga untuk mengawasi proses perencanaan dan pelaksanaannya. Jadi 
bener-2 Dari Kita, Oleh Kita, Untuk Semua. Subhanalloh ya.

Jadi SBY diakhir pemerintahannya dapat memberikan KADO yang JUARA dan 
memerdekakan masyarakat. SBY akan dikenang sebagai Jendral yang dekat dengan 
Rakyat. Indonesia juga akan bangga punya Puseur Budaya Sunda yang ajiiib 
surajiiib dan lahannya ngak perlu membebaskan lagi sudah jadi milik negara kok. 
Hutan tetap lestari, kabuyutan tetap terjaga malah barokah karena mengamalkan 
Sunah Rosul Menjaga Kabuyutan dan Mengembangkannya. Islam juga yang dulunya 
pasti berfikir penyebarannya dengan berdarah-2 ternyata ada Situs yang 
menunjukan disebarkan secara damai Abad Ke-7 oleh Eyang Haji Purwa. Kalau tidak 
salah yang menulis ini Prof. Dr. Edi S. Ekadjati Alm.

China juga mestinya senang, masa China saja yang membuat dan melestarikan 
saitus-2 bersejarahnya yaitu Ming Tombs, Istana Kaisar, Tembok sejarah, dlsb. 
Bisa dibayangkan kan China itu mendapatkan multiplier effect yang luar biasa 
dari situs-2 itu.

Apalagi nanti kalau Bandara Kertajati jadi dan toll Cisumdawu jadi beuuuuuh 
Puseur Budaya Sunda Jatigede bisa juaraaa. Kampung Sampireun aja di Garut 
ramainya bukan main. Apalagi ini nanti lengkap Kawasan Agrowisatabudayanya. 
Juara banget, berapa PAD, Pajak, dan nilai ekonomi yang bisa diputarkan dari 
aktivitas tersebut. Dan pastinya kalimat yang Teteh sampaikan tentang "Facing 
globalization by local empowering" itu sudah terlaksana dengan baik.

Kalau Bupati Sumedang cerdas, harusnya dia mati-matian melaksanakan ide ini. 
 
Terlampir tulisan di Mushola yang ada di Kabuyutan Eyang Haji, "Tafakur, 
Tasyakur, Tadzakur".

Merdekaaaaa!!!

nuhuuuuns,
mang kabayan
www.udarider.com

-----Original Message-----
From: Susy Aisyah Nataliwati <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Fri, 16 Aug 2013 09:55:18 
To: [email protected]<[email protected]>; 
[email protected]<[email protected]>; 
[email protected]<[email protected]>; 
'Baraya_Sunda'<[email protected]>; 
[email protected]<[email protected]>; 
[email protected]<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [Senyum-ITB] Arti Merah Putih Bagi Rakyat

Yang ideal: Facing globalization by local empowering. Bila yang terjadi seperti 
di bawah ini maka kita tidak akan mampu berdikari menghadapi gempuran...yang 
ada kocar-kacir....gejalanya sudah terlihat.
 
Susy Aisyah Nataliwati




________________________________
 From: mang kaby <[email protected]>
To: [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; 'Baraya_Sunda' <[email protected]>; 
[email protected]; [email protected] 
Sent: Friday, August 16, 2013 8:25 AM
Subject: [Senyum-ITB] Arti Merah Putih Bagi Rakyat [7 Attachments]
 


  
[Attachment(s) from mang kaby included below]
Arti
Kemerdekaan dan Makna Merah Putih Bagi Masyarakat Kabuyutan & Kampung
Cipaku, Darmaraja, Sumedang, sangat ironis sekali Kabuyutan Cipaku dimana Ada
dua Situs Kabuyutan Peninggalan Jaman Megalitikum Prasejarah dan Sejarah dengan
Hutan Keramatnya yang masih lestari pohon-2 besar tinggi menjulang masih tegak
berdiri. Situs-2 Kabuyutan yang begitu melekat di hati masyarakat, sudah
berdiri jauuuuh sebelum Indonesia ada, dimana di areal situsnya ternyata
dililit oleh Bendera Merah Putih ternyata pada akhirnya Situs- situs tersebut
bersamaan dengan 38 situs bersejarah lainnya akan ditenggelamkan melalui Proyek
Waduk Jatigede karena ada kepentingan para pemilik modal/ kapitalist (Bung
Karno: Imperialismeu Modern). 
 
Mamang
jadi mempertanyakan apa arti kemerdekaan sesungguhnya? Ketika Kakek Mamang
dahulu ikut berjuang bersama Mang Ihin, Solihin GP untuk memberantas Gerombolan
DI/ TI dimana waktu itu Kakek dan Warga Kabuyutan Cipaku pergi ke Gunung
Cakrabuana dengan berbekal misting dan beras untuk ngaliwet dengan jalan kaki
pergi ke Kaki Gunung Cakrabuana ikut membantu Kodam III Siliwangi menghentikan
DI/ TII yang mengancam kedaulatan Negara Republik Indonesia. Malahan Bapak
Mamang juga waktu itu yang masih anak- anak ikut pergi ke Gunung Cakrabuana
untuk mengepung Gerombolan, mendirikan rumah-2 pohon dan membawa kentungan dari
bambu. 
 
Namun
ternyata balasannya untuk perjuangan yang telah dilakukan Kakek Mamang beserta
Masyarakat Kabuyutan Cipaku adalah Kampungnya dan Kabuyutannya dihancurkan oleh
Pemerintah Indonesia melalui Proyek Waduk Jatigede. Jati kasilih ku junti,
kebaikan dikalahkan sama keburukan. Inalillahi wa ina ilaihi rojiun. Sedihnya
lagi Pemerintah Propinsi Jawa Barat dan Pemrintah Kabupaten Sumedang beserta
para wakil rakyatnya setuju dan tega sekali menenggelamkan Kabuyutan
Karuhunnya? Dimana kah hati nurani mu wahai aparat pemerintah dan para wakil
rakyat? Masih layak kah kita mengibarkan bendera merah putih sepenuh tiang?
Atau kah sebaliknya kita cukup mengibarkannya setengah tiang?
 
Kemanakah
kami harus mengadu dan kemanakah kami harus memohon untuk menghentikan ketidak
adilan ini? Do’a tulus selalu kami panjatkan kepada Alloh SWT, Tuhan
semesta Alam dimana dalam kabuyutan itu ada Batu Tunggal yang merupakan Simbol
keberadaan Mu ya Alloh yang masih diyakini oleh seluruh masyarakat. Hanya
kepada Mu kami menyembah, dan hanya kepada Mu pula kami memohon pertolongan.
 
nuhuuuns,
mang kabayan
www.udarider.com
 
 

Kirim email ke