Ti grup sabeulah, mugi aya mangpaatna.

 
~ experientia docet sapientiam ~

----- Forwarded Message -----
From: dani ramdani <[email protected]>
To: "[email protected]" <[email protected]> 
Sent: Monday, 19 August 2013, 3:01
Subject: Fw: [anggota-iai] Renungan




----- Forwarded Message -----
From: "[email protected]" <[email protected]>
To: 
Sent: Friday, August 9, 2013 8:49 AM
Subject: [anggota-iai] Renungan

  
Very interesting and absolutely true! Regards, 

Ahmadi Hadibroto
Begin forwarded message:
From: "Gatut Adisoma" Date: 9 August 2013 05:19:51 GMT+07:00To: 
  
>Terima kasih atas hadiah lebarannya pak Didik... Betapa benarnya apa yang 
>digambarkan dalam tulisan di bawah ini. Semoga dibaca oleh para pembuat 
>kebijakan pendidikan di Depdiknas.Barangkali dengan turut menyebar-luaskan 
>tulisan kecil ini ini kita dapat ikut andil untuk mempersiapkan Indonesia yang 
>lebih baik ke depan.Salam,GAdis
>Powered by Sheer WillPower®
>
>________________________________
>
>From: didik kuntadi
>Sender: 
>Date: Wed, 7 Aug 2013 18:11:13 +0700
>To: 
>Subject: [keluargavcm] Renungan
>
>  
>
>
>Seorang guru di Australia pernah berkata
>
>
>
>“Kami tidak terlalu khawatir jika anak2 sekolah dasar kami tidak pandai 
>Matematika” kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.”
>
>
>“Sewaktu ditanya mengapa dan kok bisa begitu ?” Kerena yang terjadi di negara 
>kita justru sebaliknya.
>
>
>Inilah jawabannya;
>
>
>1. Karena kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan saja secara intensif 
>untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 Tahun atau 
>lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran berharga di balik proses 
>mengantri.
>
>
>2. Karena tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu matematika 
>kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Sebagian mereka anak menjadi Penari, 
>Atlet Olimpiade, Penyanyi, Musisi, Pelukis dsb.
>
>
>3. Karena biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelas 
>yang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan Matematika. 
>Sementara SEMUA MURID DALAM SATU KELAS ini pasti akan membutuhkan Etika Moral 
>dan Pelajaran Berharga dari mengantri di sepanjang hidup mereka kelak.
>
>
>”Memang ada pelajaran berharga apa dibalik MENGANTRI ?”
>
>
>”Oh iya banyak sekali pelajaran berharganya;”
>
>
>1. Anak belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih 
>awal dan persiapan lebih awal.
>
>
>2. Anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama jika ia di antrian 
>paling belakang.
>
>
>3. Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat 
>giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting..
>
>
>4. Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain.
>
>
>5. Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan 
>untuk mengatasi kebosanan saat mengantri. (di Jepang biasanya orang akan 
>membaca buku saat mengantri)
>
>
>6. Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di 
>antrian.
>
>
>7. Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.
>
>
>8. Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima 
>konsekuensinya di antrian belakang.
>
>
>9. Anak belajar disiplin, teratur dan kerapihan.
>
>
>10. Anak belajar memiliki RASA MALU, jika ia menyerobot antrian dan hak orang 
>lain.
>
>
>11. Anak belajar bekerjasama dengan orang2 yang ada di dekatnya jika sementara 
>mengantri ia harus keluar antrian sebentar untuk ke kamar kecil.
>
>
>12. Anak belajar jujur pada diri sendiri dan pada orang lain
>
>
>dan mungkin masih banyak lagi pelajaran berharga lainnya, silahkan anda 
>temukan sendiri sisanya.
>
>
>Saya sempat tertegun mendengarkan butir-butir penjelasannya. Dan baru saja 
>menyadari hal ini saat satu ketika mengajak anak kami berkunjung ke tempat 
>bermain anak Kids Zania di Jakarta.
>
>
>Apa yang di pertontonkan para orang tua pada anaknya, dalam mengantri menunggu 
>giliran sungguh memprihatinkan.
>
>
>1. Ada orang tua yang memaksa anaknya untuk ”menyusup” ke antrian depan dan 
>mengambil hak anak lain yang lebih dulu mengantri dengan rapi. Dan berkata 
>”Sudah cuek saja, pura-pura gak tau aja !!”
>
>
>2. Ada orang tua yang memarahi anaknya dan berkata ”Dasar Penakut”, karena 
>anaknya tidak mau dipaksa menyerobot antrian.
>
>
>3. Ada orang tua yang menggunakan taktik dan sejuta alasan agar anaknya di 
>perbolehkan masuk antrian depan, karena alasan masih kecil capek ngantri, 
>rumahnya jauh harus segera pulang, dsb. Dan menggunakan taktik yang sama di 
>lokasi antrian permainan yang berbeda.
>
>
>4. Ada orang tua yang malah marah2 karena di tegur anaknya menyerobot antrian, 
>dan menyalahkan orang tua yang menegurnya.
>
>
>5. dan berbagai macam kasus lainnya yang mungkin anda pernah alami juga.?
>
>
>Ah sayang sekali ya.... padahal disana juga banyak pengunjung orang Asing 
>entah apa yang ada di kepala mereka melihat kejadian semacam ini?
>
>
>Ah sayang sekali jika orang tua, guru, dan Kementrian Pendidikan kita masih 
>saja meributkan anak muridnya tentang Ca Lis Tung (Baca Tulis Hitung), Les 
>Matematika dan sejenisnya. Padahal negara maju saja sudah berpikiran bahwa 
>mengajarkan MORAL pada anak jauh lebih penting dari pada hanya sekedar 
>mengajarkan anak pandai berhitung.
>
>
>Ah sayang sekali ya... Mungkin itu yang menyebabkan negeri ini semakin jauh 
>saja dari praktek-praktek hidup yang beretika dan bermoral. ?
>
>
>Ah sayang sekali ya... seperti apa kelak anak2 yang suka menyerobot antrian 
>sejak kecil ini jika mereka kelak jadi pemimpin di negeri ini ?
>
>
>Semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua juga para 
>pendidik di seluruh tanah air tercinta. Untuk segera menyadari bahwa mengantri 
>adalah pelajaran sederhana yang banyak sekali mengandung pelajaran hidup bagi 
>anak dan harus di latih hingga menjadi kebiasaan setiap anak Indonesia.
>
>
>Mari kita ajari anak kita untuk mengantri, untuk Indonesia yang lebih baik...!
>Semoga Bermanfaat...
>Sent from my BlackBerry 10 smartphone.

Kirim email ke