Beberapa waktu yang lalu, saya diminta untuk assessment sebuah sekolah
gratis untuk siswa tidak mampu di suatu daerah di Padalarang, Gunung Bentar.

awalnya si pendiri sekolah (yang sejak februari lalu) diterima bekerja di
kampus almamater saya, dan kebetulan bulan lalu senior saya tampil dalam
acara ospek sebagai dokter dalam bidang kemanusian. Pendiri sekolah ini
memberanikan diri untuk meminta bantuan kepada senior saya, yang kemudian
mendelegasikan tugas tersebut kepada saya.

Sekolah merupakan MTs dan MA, saat ini baru hingga kelas 2 MA. Siswa MTs
masuk pagi hari, sementara siswa MA masuk siang hari dan pulang sekitar jam
5. Jumlah siswa per kelas sekitar 18-20 orang. Kebanyakan siswa justru bukan
dari sekitar sekolah, tapi justru datang dari tempat yang cukup jauh. Salah
satu diantaranya bersepeda selama 2 jam untuk sampai ke sekolah.
Latarbelakang orangtua siswa sangat beragam, seperti pemulung, penarik
sampah, penjahit, penjual koran, dll.

Sementara pengajar berjumlah hampir 40 orang, mayoritas (lebih dari 40
orang) berlatar belakang mahasiswa dan statusnya sebagai sukarelawan,
kebanyakan mahasiswa dari perguruan tinggi yang cukup dekat atau tinggal di
padalarang, tetapi ada juga yang dari tempat jauh.

Gedung sekolah terdiri dari 5 ruangan; satu ruangan guru, 3 ruangan kelas,
dan satu ruang wc. Gedung beserta tanahnya merupakan milik yayasan, tetapi
peran yayasan ini hanya sebagai payung hukum dan menyediakan gedung saja.
Selebihnya untuk operasional sehari2 tidak ada.

Salah seorang siswa, berkendara dengan sepedda ke sekolah, melewati suangi,
sawah, dan jalan setapak setelah membantu orangtuanya mencari nafkah di pagi
hari. Tetapi suatu hari sepedanya dicuri. Alhasil, sekarang sang siswa
berdagang batagor pada pagi hari, dan pada siang hari, gerobak batagor
"diparkir" di halaman sekolah sementara dia mengikuti pelajaran.

Cerita lain ketika naik kelas, buku2 tahun lalu yang dikumpulkan di seorang
siswa lenyap karena dijual siswa tersebut untuk tambahan penghasilan. Dan
pada waktu pertemuan orangtua-guru, beberapa orangtua menunggu hingga
pertemuan tuntas karena hendak memunguti gelas dan botol air mineral.

Kebutuhan utama pada saat ini adalah buku, baik itu buku pelajaran maupun
buku tulis. BOSS, dari pemerintah, hanya untuk setingkat SLTP, sementara
untuk setingkat SMU tidak ada bantuan sama sekali dari pemerintah. Bahkan
untuk MTs yang mendapatkan BOSS pun masih terasa kekurangan. Untuk MA, buku
pelajaran paling2 hanya 3 buah, itupun hanya dipegang guru. Ini
mengakibatkan beberapa siswa berkunjung ke rumah guru2nya (mahasiswa) untuk
belajar tambahan, beberapa bahkan menginap.

Ada juga pelajaran komputer, tapi satu2nya komputer yang dimiliki adalah
milik sang guru. Sehingga setiap harinya, siswa silih berganti belajar
komputer di rumah pa guru. Satu minggu bergiliran 5 orang merasakan
komputer.

Saat ini saya sedang mencoba menggalang pengumpulan buku pelajaran, buku
tulis, seragam, komputer bekas, dll. Jika ada rekan2 penguin yang dapat
membantu, bisa hubungi saya. Atau bahkan ada yang ingin terlibat secara
langsung?

Tidak lama setelah sekolah padalarang ini, saya juga sempat diminta untuk
assessment sekolah serupa di gunung halu dan cicalengka, tapi belum sempat
karena masih disibukkan dengan rutinitas di IBU.

Buku ataupun bantuan dalam bentuk lain dapat dikirimkan langsung atau ke
IBU Foundation
Jl. Waspada No. 17 Bandung 40161
Telp/Fax 022-20346701

Contact Person:
Endri Budiwan (liquidkermit)
[EMAIL PROTECTED]

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
You received this message because you are subscribed to the Google Groups "Klub 
Linux Bandung" group.
To post to this group, send email to [email protected]
To unsubscribe from this group, send email to [EMAIL PROTECTED]
For more options, visit this group at 
http://groups.google.com/group/klub-linux-bandung?hl=en
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke