|
DENGAN KATA
LAIN
Tiba di stasiun kereta, aku langsung
cari ojek.
Entah nasib baik, entah nasib buruk,
aku mendapat
tukang ojek yang, astaga, adalah guru
Sejarah-ku dulu.
"Wah, juragan dari Jakarta pulang
kampung,"
beliau menyapa. Aku jadi malu dan
salah tingkah.
"Bapak tidak berkeberatan mengantar
saya ke rumah?"
Nyaman sekali rasanya diantar pulang
Pak Guru
sampai tak terasa ojek sudah berhenti
di depan rumah.
Ah, aku ingin kasih bayaran yang
mengejutkan.
Dasar sial. Belum sempat kubuka
dompet, beliau
sudah lebih dulu permisi lantas
melesat begitu saja.
Di teras rumah Ayah sedang tekun
membaca koran.
Koran tampak capek dibaca Ayah sampai
huruf-hurufnya
berguguran ke lantai, berhamburan ke
halaman.
Tak ada angin tak ada hujan, Ayah
tiba-tiba
bangkit berdiri dan berseru padaku,
"Dengakn kata lain,
kamu tidak akan pernah bisa membayar
gurumu!"
Joko Pinurbo
(2004)
/*-----------------*|*------------------*\ kalo mau promosiin ni milis, minta buat yang mau join untuk kirim email kosong ke [EMAIL PROTECTED], kalo mau unsubscribe dari milis ni, sila kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED], nah kalo mau tengok-tengok kabar bisa mampir di http://klub-sastra-bentang.blogspot.com /*-----------------*|*------------------*\
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|
- [KlubSastraBentang] Dengan Kata Lain (Puisi bagi para ... perca
- Re: [KlubSastraBentang] Dengan Kata Lain (Puisi b... Bung Kelinci
- Re: [KlubSastraBentang] Dengan Kata Lain (Pui... perca
- Re: [KlubSastraBentang] Negara Jargon (ni... sidik patriatmaja
- [KlubSastraBentang] truman capote krisna suryadanuaji
- Re: [KlubSastraBentang] Negara Jargon... Erich H. Ekoputra
