sampeyan benar kang her...
musibah2 mengoyak perasaan tersebut telah berubah menjadi 'sekedar' ratapan peristiwa, bahan cerita
dan semua disibukkan kembali oleh urusan dunianya, tanpa serakan hikmah yg sempat terpungut

dan malam ini, syair berita kepada kawanpun
terus mengiringi gambar2 hidup; rekaman kepanikan dan peristiwa
di sela berita2 yg memecah pada layar kaca
begitu menyanyat dan menggugah jiwa

dan akankah kita hanya mampu berucap kata
tanpa mampu berbuat semampu yang kita bisa?

adhika
 
#my personal weblog: http://dirgaa.com


----- Original Message ----
From: hermawan aksan <[EMAIL PROTECTED]

DUA puluh tujuh tahun lalu, Ebiet G. Ade sudah membuat syair yang menyentuh melalui judul lagu Berita Kepada Kawan: sebuah refleksi atas bencana yang menimpa kita. Tak lekang lagu itu oleh zaman. Sekarang, syairnya tetap menyentuh. Boleh jadi bukan hanya karena kejeniusan Ebiet merangkai kata-kata, melainkan juga karena bencana memang menjadi bagian kehidupan (alam semesta) kita.
Bahkan, sebelum manusia tercipta, bumi berkembang melalui bencana demi bencana. Setelah memadat dari debu materi antarbintang, bumi kemudian berevolusi melalui rentang miliaran tahun. Benturan-benturan dari asteroid, letusan-letusan dari rangkaian gunung muda, luapan-luapan samudera, adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup sang bumi. Misteri lenyapnya dinosaurus sekian juta tahun yang lalu hanyalah salah satu contoh bencana di atas mayapada. Dan kemudian kita mengenal banjir dahsyat yang menenggelamkan lembah Eufrat dan Tigris pada zaman Nabi Nuh serta terbaliknya kota Sodom dan Gomorah oleh gempa vulkanis dan letusan lava pada zaman Nabi Luth.
Satu setengah tahun yang lalu, bumi Aceh dilahap lidah tsunami yang menelan ratusan ribu nyawa manusia. Kita mencatatnya sebagai tragedi terbesar di Indonesia. Kini, bumi Yogyakarta (dan sekitarnya) luluh lantak oleh gempa tektonis yang membuat ribuan orang perlaya. Kita mencatatnya sebagai tragedi gempa terbesar di Pulau Jawa, atau bahkan di Indonesia.
Angka statistik memang tak bisa membandingkan Aceh dengan Yogya. Namun bencana bukanlah deretan angka semata. Selalu ada air mata duka untuk berbagai bencana, kendatipun tak menelan korban nyawa. Sebab, kita--mestinya--bukanlah biro statistik. Kita adalah manusia yang memiliki hati. Memiliki empati.
Demikianlah mestinya. Sebab, kian lama kita seperti kehilangan hati. Rasa empati kita makin tumpul, seperti jamparing kehilangan taring. Ketika di Tanah Rencong air mata sudah kering, kita segera lupa dan sibuk dengan urusan perut kita masing-masing. Ingatkah kita akan rangkaian derita yang tersisa di sana? Ah, mana mungkin, kita terlalu sibuk dengan berbagai pertikaian tanpa makna. Maka yang kita bangun bukanlah kemanusiaan kita, melainkan bencana demi bencana lain yang tak kalah dahsyat: bencana ekonomi (merosotnya rupiah, melesatnya harga BBM dan tarif listrik, dll), bencana hukum (memaafkan Soeharto tanpa pengadilan, lepasnya sekian banyak koruptor, dsb), bencana budaya (membludaknya sinetron yang menyesatkan, merebaknya jalan pintas menuju ketenaran, dst), juga bencana politik dan bencana sosial yang tak bisa kita hitung satu per satu.
Senantiasa ada makna di balik berbagai bencana meski kita tak selalu bisa memahaminya. Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa. Namun toh, kita tak perlu bertanya pada rumput yang bergoyang bahwa, apapun bencana yang menimpa, kita tengah diingatkan.
Apakah kita menjadi ingat, menjadi sadar, menjadi mawas diri, itulah persoalannya. (*)
 
Salam,
Hermawan Aksan


/*-----------------*|*------------------*\
kalo mau promosiin ni milis, minta buat yang mau join untuk kirim email kosong ke [EMAIL PROTECTED], kalo mau unsubscribe dari milis ni, sila kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED], nah kalo mau tengok-tengok kabar bisa mampir di http://klub-sastra-bentang.blogspot.com
/*-----------------*|*------------------*\




SPONSORED LINKS
Culture Culture club Organizational culture


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke