|
Penulis : Hary
B.Kori'un
Penyunting : Raudal Tanjung
Banua
Penerbit : AKAR
Indonesia
Cetakan : I, Agustus
2005
Tebal : xx + 258
hlm.
Wartawan menulis novel tentang wartawan rasanya sudah banyak ya.
Untuk menyebut salah duanya : Akmal N.Basral dengan Imperia dan
Syahmedi Dean untuk L.S.D.L.F dan J.P.V.F.K.
Tanggal 1 Mei
yang lalu, saya 'nonton' demonstrasi buruh di Jakarta. Banyak hal menarik saya
peroleh dari acara nonton itu. Agak 'memalukan' juga sebenarnya alasan saya
nonton, yaitu : ingin mencoba jadi wartawan, meliput peristiwa dan kemudian
membuat laporannya. Duluuu...saya pernah bercita-cita menjadi seorang jurnalis.
Sampai
sekarang sebetulnya hasrat ingin bekerja di dunia pers masih terus bersemayam
dalam hati. Rasanya gagah dan mulia banget deh profesi tersebut :
mengungkap fakta di balik peristiwa; mewartakan kepada dunia segala kejadian
penting; selalu menjadi pihak nomor satu yang mengetahui sebuah berita
terbaru; berpeluang keliling dunia gratis; bertemu dan
berbincang dengan banyak tokoh terkenal...Pokoknya, yang
terbayang semua yang asyik-asyik saja. Namun, apa daya, suratan nasib
membawa saya terdampar di perkebunan.
Nah, salah
satu yang menjadi perhatian saya selama unjuk rasa 1 Mei itu adalah para
wartawan. Saat itulah ingatan saya melayang pada cerita novel Nyanyian
Batanghari karya Hary B.Kori'un, wartawan Riau Pos, Pakanbaru.
Satu lagi wartawan yang menulis (novel) tentang wartawan. Tokoh novel ini
seorang wartawan muda dan salah satu peristiwa yang dikisahkan adalah unjuk rasa
buruh perkebunan.
Tak bermaksud
mengecilkan, tetapi tentulah akan lebih mudah menulis cerita mengenai sesuatu
yang dekat dan akrab dengan kita ketimbang menulis hal yang tak kita pahami
betul. Begitulah, dunia jurnalisme bagi Hary : sesuatu yang sangat ia kenal,
sebaik ia mengenal telapak tangannya sendiri. Karenanya, ia bisa dengan fasih
mendongeng di novel terbarunya ini.
Novel
Nyanyian Batanghari terdiri dari 3 bagian, masing-masing berjudul :
Katrin, Naomi, dan Sari. Setiap bagiannya mengisahkan sepak terjang dan
perjalanan hidup sang jagoan : Martinus Amin, melalui penuturan ketiga orang
gadis tersebut (Katrin, Naomi, Sari). Ketiganya menyimpan
kenangan manis bersama Martin, lelaki muda yang sangat
beruntung mendapatkan cinta (dan pengabdian) mereka.
Seluruh
cerita berpusat pada tokoh Martin, wartawan muda dengan idealisme menggunung,
membara membakar dada, yang kerap terlibat berbagai aksi unjuk rasa menentang
segala kebijakan pemerintah /penguasa yang merugikan rakyat/orang banyak.
Peristiwa kerusuhan nasional Mei 1998 menjadi setting utama kisah
heroik romantis ini. Penuturannya tak runut, bolak-balik antara masa lalu dan
masa kini lewat sudut pandang ketiga pencerita.
Pada bagian
pertama, terungkap keterlibatan Martin dalam peristiwa huru-hara di Tongar,
Pasaman Barat, Sumatera Barat, antara penduduk Tongar dengan PT Sawit Makmur
Pasaman. Masalahnya soal penyerobotan tanah adat milik komunitas Tongar oleh PT
Sawit Makmur Pasaman demi memperluas areal perkebunan sawit mereka. Penduduk
Tongar menolak menyerahkan tanah mereka yang dihargai dengan amat rendah. Namun,
pihak lawan dengan kekuasaan dan uangnya, terus-menerus melakukan teror, hingga
pada suatu malam pecahlah huru-hara; orang-orang Tongar yang terdesak itu
melakukan perlawanan : membakar kebun sawit milik PT SMP.
Pada bagian
ini, terungkap juga kisah cinta unik antara Martin dan Katrin. Katrin adalah
putri pemilik Andalas Post, koran tempat Martin bekerja sebagai reporter.
Keduanya saling jatuh cinta. Pada hal, si gadis jelita akan segera menikah
dengan pria lain.
Bagian kedua,
giliran Naomi Kurasawa bercerita. Gadis Jepang yang bekerja sebagai koresponden
The Japan Post mengenal Martin (dan jatuh cinta) saat ia bertugas meliput
kerusuhan buruh perkebunan sawit di Pangkalan Kerinci. Bersama dua orang
buruh mantan anggota GAM (Gerakan Aceh Merdeka), Martin memimpin perlawanan.
Pangkal penyebabnya adalah upah yang terlalu minim serta tuntutan kesejahteraan
yang tak terpenuhi. Setelah melakukan aksi pembakaran, Martin buron dan kemudian
dengan bantuan Naomi ia meneruskan pelariannya ke Jakarta.
Di sini,
lagi-lagi, dibumbui percintaan unik : asmara tanpa komitmen. Sebagai buron yang
dicari-cari aparat, Martin sadar bahwa sebagai kekasih ia tak mampu memberikan
rasa aman bagi Naomi. Oleh karenanya, ia memilih hubungan percintaan tanpa
ikatan apa pun. Tak dilembagakan. Naomi, tanpa banyak protes menerima
kesepakatan tersebut. Ia pun mengerti, Martin adalah angin, bisa datang dan
pergi setiap saat dalam kehidupannya. Yang penting baginya, Martin juga
mencintainya. Ah...perempuan...
Terakhir
adalah Sari yang kebagian mengisahkan masa kecil Martin dan orang tuanya di
kampung halamannya di pedalaman Sumatra : Rantau Berangin. Terletak di tepi anak
Sungai Batanghari, 20 km dari kota kabupaten Muara Bungo. Pada bagian ini,
pembaca diajak menelusuri masa lalu Martin yang pahit dan getir. Ayahnya
berasal dari Pati, Jawa Tengah, datang mengadu nasib sebagai penakik getah
di bumi Sumatra pada 1952, dalam usia amat belia, 23 tahun.
Namun, harus pula mati muda. Mati dengan tragis dalam pembantaian
kudeta 1965 karena dicap komunis. Meninggalkan Martin sebagai yatim. Ini menjadi
penjelasan psikologis mengapa jiwa pemberontak bersemayam dalam tubuh jangkung
lelaki muda itu.
Pada episode
ini, Hary B.Kori'un juga menyisipkan cerita tentang manusia harimau; legenda
yang sangat dipercaya kebenarannya oleh masyarakat setempat. Cerita rakyat
Sumatra ini dibeberkan sebagai penjelasan sejarah kekuatan
supranatural yang dimiliki Martin.
Novel yang
cukup menarik, mencuatkan ide dan semangat perjuangan/perlawanan anak muda
terhadap ketidakadilan yang berlangsung di negeri ini. Peristiwa-peristiwa
faktual yang menjadi setting cerita dipaparkan dengan cukup detail.
Hary cukup berhasil mengawinkan fakta dan fiksi ke dalam karyanya ini.
Nyanyian Batanghari bagai sebuah cuplikan dokumentasi peristiwa
kerusuhan Mei 1998.
Saya jadi
ingat Udin, wartawan Bernas yang mati dibunuh akibat berita-berita yang
ditulisnya telah mengusik ketenangan seorang pejabat daerah. Martin jelas
lebih beruntung, berhasil selamat dari kejaran aparat dan terus hidup sampai
novel berakhir.
Yang agak
"mengganggu" - kalau ini boleh disebut gangguan - adalah karakter-karakter yang
tampil terasa kurang manusiawi. Martin, misalnya, selalu ditampilkan
sebagai pahlawan jantan, pemberontak yang seksi sekaligus lelaki
romantis, terutama di hadapan ketiga perempuan yang cinta mati padanya itu.
Sementara, Katrin, Naomi, dan Sari digambarkan sebagai perempuan-perempuan
"pasrah" yang meyakini kebenaran : mencintai tak berarti memiliki. Bahkan,
Katrin rela menggagalkan pernikahannya demi keyakinan itu dan Sari memilih
menjadi kekasih setia penjaga cinta sang Arjuna, menanti sepanjang hayat
kembalinya Martin tercinta. Kisah yang sangat maskulin.
Satu
hal lagi, jika kelak novel ini harus dicetak ulang, agar diperbaiki beberapa
kesalahan ketik dan ejaannya.
Selain
menulis novel, Hary B.Kori'un menulis juga sejumlah cerpen yang telah
diterbitkan di berbagai surat kabar dan buku antologi cerpen. Salah satu novel
karyanya - Nyanyi Sunyi dari Indragiri - meraih penghargaan Anugerah
Ganti dari Yayasan Bandar Serai Pekanbaru sebagai novel/roman terbaik.
Lalu, kapan
kita minum teh dan ngobrol bersama, Bung Hary? :)
Endah
Sulwesi
/*-----------------*|*------------------*\ kalo mau promosiin ni milis, minta buat yang mau join untuk kirim email kosong ke [EMAIL PROTECTED], kalo mau unsubscribe dari milis ni, sila kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED], nah kalo mau tengok-tengok kabar bisa mampir di http://klub-sastra-bentang.blogspot.com /*-----------------*|*------------------*\
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|
