Media Indonesia
Kamis, 22 Juli 2004
POLITK DAN KEAMANAN
---------------------------------
Pengumuman Kabinet dan Proses Pendewasaan Politik
M Hasibullah Satrawi, Anggota Kosiem (Komunitas Islam Emansipatoris) Kairo, Mesir
IBARAT kejuaraan, masyarakat baru saja menyaksikan putaran semifinal pemilihan umum
untuk presiden dan wakil presiden yang baru saja berlangsung 5 Juli lalu. Berdasarkan
hasil sementara, dua pasangan, Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla dan
Megawati-Hasyim Muzadi, dipastikan bersaing di putaran final yang akan berlangsung
pada 20 September nanti.
Setidaknya ada satu hal yang dapat disimpulkan dari hasil pemilihan umum 2004, baik
pemilihan legislatif pada 5 April lalu maupun pemilihan presiden (pilpres) putaran
pertama. Yaitu meningkatnya kedewasaan masyarakat dalam berpolitik.
Saat ini, masyarakat bisa menentukan arah politiknya sendiri. Kebenaran politik tak
sepenuhnya berada di tangan elite, justru sebaliknya, telah mencair dan mengalir ke
dalam kehidupan masyarakat umum. Pemilu legislatif dan pilpres putaran pertama menjadi
saksi perkembangan menggembirakan ini.
Ada dua kasus yang sering dijadikan contoh oleh para pengamat berkaitan dengan
meningkatnya kedewasaan berpolitik masyarakat. Pertama, apa yang telah dialami oleh
masyarakat Nahdlatul Ulama (NU). Sebagaimana dimaklumi, masyarakat NU di Pemilu 2004
ini melakukan "penyelewengan" besar terhadap para elitenya. Hingga dua tokoh NU,
Hasyim Muzadi dan Salahuddin Wahid, yang masing-masing tampil sebagai cawapres
Megawati dan Wiranto tidak mendapatkan dukungan penuh dari warganya. Kemenangan
pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla di kawasan NU seperti Jawa Timur menjadi
salah satu buktinya.
Kedua, pecahnya suara Partai Golkar. Sebagaimana dimaklumi, Golkar yang pada pemilihan
legislatif menduduki peringkat pertama, pada pilpres putaran pertama menjagokan
pasangan Wiranto-Salahuddin Wahid (WW). Partai Kebangkitan Bangsa (peringkat ketiga)
pun menjagokan pasangan yang sama.
Namun, gabungan dua partai "raksasa" ini ternyata tidak mampu membawa pasangan WW ke
putaran kedua. Ini menunjukkan terjadinya perpecahan serius di dua tubuh, Partai
Golkar dan PKB.
Realitas politik di atas oleh banyak pengamat disinyalir sebagai proses pendewasaan
masyarakat dalam berpolitik. Di mana masyarakat tidak terlalu tergantung pada
pandangan elitenya, sebaliknya, mereka melakukan apa yang disebut dengan "ijtihad"
politik. Walaupun hal ini harus berlawanan dengan kebijakan para elitenya. Hingga
mereka mampu menentukan pasangan ini lebih baik ketimbang pasangan itu.
Aroma meningkatnya kedewasaan masyarakat dalam berpolitik mulai tercium kuat di
pemilihan legislatif 5 April lalu. Perang teks yang sering kali terjadi di hari-hari
kampanye dan selalu dilakukan oleh parpol-parpol berasaskan agama, seperti Islam,
jarang ditemukan pada pemilu sekarang. Kalaupun itu terjadi, namun tidak mampu
membakar sensitivitas keagamaan masyarakat umum. Mereka seakan tak mau peduli terhadap
"halal-haram pentas" yang biasa dimainkan oleh para jurkam kampanye.
Proses pendewasaan ini semakin tampak jelas di pilpres putaran pertama yang baru saja
terlaksana. Yaitu tatkala timbul rasa ingin tahu masyarakat secara langsung terhadap
para calon pemimpinnya. Dengan kata lain, masyarakat ingin melakukan komunikasi
langsung dengan para calon pemimpinnya.
Para pasangan capres/cawapres yang berkepentingan terhadap dukungan masyarakat pun
berlomba-lomba memenuhi keinginan di atas. Setiap perkumpulan masyarakat seperti pasar
menjadi incaran para capres/cawapres sebagai ajang penjelasan visi dan misinya. Tidak
cukup sampai di sini, pengenalan visi dan misi juga ditempuh melalui media, baik cetak
(koran) maupun gambar (TV).
Proses perkenalan ini tampak kian utuh dengan diselenggarakannya debat presiden.
Hingga mereka dapat mengenal lebih dekat para calon pemimpin bangsa di masa yang akan
datang.
Tampaknya, proses pendewasaan berpolitik masyarakat di Pilpres putaran kedua akan
semakin matang. Terbukti dengan bergulirnya tuntutan baru dari arus bawah agar
pasangan yang bersaing di Pilpres putaran kedua mengumumkan nama-nama yang akan duduk
di kabinet.
Sampai sekarang, hal ini masih menjadi perdebatan. Menurut Eep Saefulloh Fatah,
seorang pengamat politik, ada beberapa aspek yang bisa dicapai dengan pengumuman
susunan kabinet itu. Pertama, masyarakat tahu arah kebijakan dengan melihat daftar
nama kabinet. Kedua, masyarakat punya peluang mendiskusikan kelayakan calon menteri.
Ketiga, bagi kandidat sendiri, tidak ada kerugiannya dengan mengumumkan itu sejauh
mereka bisa memilih kandidat menteri yang bisa diterima masyarakat.
Sementara di sisi lain, hal ini dirasa kurang penting oleh pasangan yang akan bersaing
di pilpres putaran kedua. Salah satu pasangan capres yang dipastikan lolos ke putaran
kedua contohnya, tidak memandang perlu terhadap pengumuman kabinet sebelum 20
September. Mengingat tidak ada aturan yang mengharuskan demikian.
Alasan yang bisa disampaikan sebagaimana disinyalir Eep Saefulloh Fatah adalah agar
tidak terjadi kekecewaan, kemudian meninggalkan pasangan ini. "Persoalannya, para
kandidat merasa kesulitan mengumumkan komposisi pemerintahannya sebelum 20 September.
Ketika mereka sudah mengumumkan alternatif kabinet, maka orang-orang yang tidak masuk
tentu akan kecewa dan kemudian bisa jadi lari." (Kompas, 17/7).
Hemat saya, pengumuman kabinet merupakan tingkat tertinggi perkenalan capres/cawapres
dengan masyarakat. Tidak berlebihan kiranya apabila hal ini disebut sebagai satu
keharusan. Lebih dari apa yang telah disampaikan Eep Saefulloh Fatah di atas, karena
hal ini merupakan puncak perkenalan capres/cawapres dengan masyarakat.
Dengan demikian, capres/cawapres mulai merintis kebiasaan jujur dan terbuka terhadap
masyarakat. Hingga tercipta kehidupan bangsa yang seirama dalam menciptakan masa depan
yang lebih cerah.
Proses pendewasaan yang cukup gencar dari arus bawah seharusnya mendapatkan tanggapan
yang sama dari para elite politik bangsa ini. Keterbukaan dalam bentuk pengumuman
nama-nama yang akan duduk di kursi kabinet merupakan sikap dewasa dalam dunia politik
yang mendambakan kehidupan bangsa yang sejahtera.
Selama keadilan, kesejahteraan, dan perdamaian menjadi cita-cita politik bangsa, maka
kalah/menang seharusnya tidak dijadikan titik persoalan. Justru sebaliknya, yang layak
dipersoalkan adalah kemampuan masing-masing capres/cawapres dalam merealisasikan
cita-cita luhur bangsa di atas.
Menghindari satu kebijakan politik karena pertimbangan kalah/menang tak layak
dilakukan oleh kaum elite di masa sekarang. Mengingat terjadinya proses pendewasaan
berpolitik masyarakat yang semakin matang. Sangat disayangkan apabila proses
pendewasaan yang sedang berlangsung di arus bawah ini harus terhambat oleh elitenya
sendiri.
---------------------------------
Do you Yahoo!?
New and Improved Yahoo! Mail - Send 10MB messages!
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/.DlolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000,
atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke:
[EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/