Salam, Ini tulisan dari pengamat sekaligus pemain politik NU--PKB. -GuN-
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0407/23/opini/1163994.htm Dukungan PKB dalam Pilpres 2004 Oleh Moh Mahfud MD LAODE Ida (Kompas, 19/7/2004) mengemukakan, kegagalan pasangan Wiranto- Gus Solah masuk dalam putaran kedua pemilu presiden 2004 merupakan dampak perpecahan internal PKB dan NU yang menyebabkan massa NU tercabik-cabik dan tidak menyatu. Menurut Laode Ida, jika NU tidak ingin kehilangan peluang untuk mendudukkan kadernya dalam kepemimpinan nasional (kepresidenan) yakni menjadikan Hasyim Muzadi sebagai wakil presiden (wapres), yang harus segera dilakukan adalah membangun kembali modal sosial dan rekonsiliasi NU-PKB. Untuk melakukan itu tidak mudah karena faktor penentunya adalah Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Hasyim Muzadi yang tampaknya sulit didamaikan. Seandainya NU-PKB bisa dirujukkan dan menyatukan suara massa untuk mendukung Mega-Hasyim, menurut Laode Ida, belum cukup menjamin pasangan itu untuk memenangi pilpres putaran kedua. Sebab, kemenangan Mega-Hasyim nantinya bukan hanya ditentukan menyatunya suara NU-PKB, tetapi akan ditentukan juga dukungan parpol lain yang signifikan seperti Golkar, PAN, dan PKS secara utuh. Apa yang dikemukakan Laode Ida, terutama kesimpulannya bahwa perpecahan NU dan PKB sebagai penyebab gagalnya Wiranto-Wahid masuk putaran kedua pilpres tak dapat dibantah. Begitu pula tak dapat dibantah, peluang Mega-Hasyim untuk menang pada putaran kedua ada di ujung tanduk jika tidak segera ada rekonsiliasi antara NU-PKB guna membangun kembali modal sosial yang telanjur tercabik-cabik. Namun, ada yang kurang pas dan perlu diperjelas dari apa yang dikemukakan Laode menyangkut latar belakang terjadinya perpecahan itu. Dikatakan, perpecahan terjadi karena elite NU dan PKB begitu berambisi dan ingin memperoleh bagian kekuasaan dengan menjadikan basis massanya sebagai komoditas politik unggulan dan tidak ada yang mau mengalah. Ada dua hal yang perlu diketahui dalam kaitan ini. Pertama, sikap PKB terhadap NU sebagai induknya. Kedua, soal latar belakang pilihan politik PKB. Akomodasi pencalonan Hasyim Menyangkut sikap PKB terhadap pencalonan Hasyim Muzadi, adalah kurang tepat jika dikesankan PKB tidak aspiratif dan tak mau memperhatikan aspirasi NU. Pada bulan puasa 2002 saya bersama Alwi Shihab dan Wahib Zainal (Sekretaris Dewan Syuro PKB Jatim) berkunjung dan bermalam di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Hikam asuhan KH Hasyim Muzadi. Saat itu kami kemukakan, beberapa teman NU mengusung nama Hasyim Muzadi untuk dijadikan capres atau cawapres dari PKB pada Pemilu 2004. Sebagai organisasi politik yang dilahirkan NU, PKB merasa wajib memerhatikan aspirasi itu agar secara politik tidak diolah sendiri oleh NU. Sebab, urusan politik NU seharusnya diolah oleh PKB yang secara resmi dibentuk sebagai alat politik NU. Bahkan, PKB juga harus mempertimbangkan nama Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Nurcholish Madjid yang juga muncul saat itu. Parpol itu kan alat mengolah aspirasi secara demokratis. Namun, semua aspirasi itu harus disinkronkan dengan aspirasi lain yang amat kuat, yakni mencalonkan kembali Gus Dur menjadi presiden. Di Malang saya katakan, Gus Dur dan Hasyim Muzadi harus satu langkah, jangan berjalan sendiri-sendiri. Jika keduanya bersimpang jalan, keduanya akan rugi. Jika persimpangan jalan itu benar terjadi, PKB pasti ikut Gus Dur. Alasannya sederhana. Pertama, secara resmi Gus Dur adalah pimpinan puncak PKB yang diberi tugas mengambil berbagai keputusan politik. Kedua, dalam realitas politik, suka atau tidak, massa NU-PKB akan lebih mengikuti jalan Gus Dur sehingga akan sia-sia jika kita membuka pilihan lain tanpa persetujuannya. Itu sebabnya PKB meminta agar KH Hasyim Muzadi segera "mencairkan" kebekuan (yang bukan rahasia lagi) dengan Gus Dur. Kami meminta dari keduanya segera ada kesatuan sikap agar PKB bisa segera bekerja secara fokus. Berbagai upaya mencairkan hubungan dilakukan melalui mediasi dalam berbagai bentuk, misalnya silaturahmi di Ponpes Lirboyo (Kediri), Langitan (Tuban), dan Tegalrejo (Magelang), tetapi tidak berhasil. Konsekuensinya DPP PKB membuat keputusan dan langkah politik sesuai kewenangannya sebagai sayap politik NU. Jadi sejak awal, bagi PKB sebenarnya sudah ada akomodasi atas aspirasi dan tidak ada masalah dengan pencalonan KH Hasyim Muzadi, sejauh NU bisa meyakinkan Gus Dur bahwa hal itu merupakan pilihan politik yang tepat. Ini dilakukan karena PKB masih menyadari posisinya sebagai anak kandung NU. Pilihan PKB Laode juga mengesankan, elite PKB dan NU amat berambisi mendapat bagian kekuasaan sampai-sampai bertindak amat pragmatis dan melupakan idealisme. Jadi, masalah pokoknya adalah "bagi-bagi" kekuasaan. Jika kesan seperti itu dibantah, tentu akan dipandang sebagai apologi belaka. Namun, secara umum permainan politik oleh "parpol" sejak dulu dan di mana pun berkisar pada soal seperti itu. Soalnya, apakah itu dilakukan untuk kepentingan elite atau umum. Namun, lebih dari sekadar "mendapat bagian" seperti itu sebenarnya ketika menjatuhkan pilihan politiknya PKB mendasarkan pada kebutuhan tampilnya kepemimpinan nasional yang visioner dan kuat. Masalah utama kita kini, bagaimana memberantas KKN dan menegakkan supremasi hukum. Dalam dua hal ini hampir semua penilai yang bersikap obyektif mengatakan, Pemerintah Indonesia gagal mengatasinya. Indikatornya gampang: indeks korupsi termasuk yang terbesar di dunia, tetapi penegakan hukum atas koruptor termasuk yang terkecil. Bahkan disebutkan, sistem hukum dan peradilan kita termasuk yang terjelek di dunia. Gagalnya pemerintah dalam mengatasi kedua hal itu karena tidak ada tindakan tegas, sungguh-sungguh, dan sistematis atas KKN yang sudah menggurita pada semua level birokrasi dan jabatan penting sehingga terjadi blokade dari tubuh pemerintahan sendiri. Saat ini Indonesia memerlukan tampilnya duet kepemimpinan presiden dan wakil presiden yang punya visi jauh ke depan serta berani menegakkan hukum tanpa pandang bulu. Pemimpin yang visioner, tegas dalam sikap, dan berani bertindak itulah yang dibutuhkan Indonesia sekarang tanpa mempersoalkan latar belakang primordial atau jenis kelamin. Siapa pun yang akan tampil, apakah itu Gus Dur, Megawati, SBY, Wiranto, Amien Rais, atau Hamzah Has, harus berani melakukan itu. Dan PKB menetapkan pilihan politiknya secara bertingkat dengan menggunakan ukuran itu. Soal bagi kekuasaan yang merupakan kewajaran dunia politik, harus diletakkan dalam kerangka tampilnya pemerintahan yang bersih dan siap bertempur melawan gurita KKN dan mafia peradilan. PKB meyakini, Indonesia bisa melakukan "penukangan" politik (dalam arti positif) ke arah itu. Dan momentum utama untuk melakukan penukangan itu adalah pilpres 2004. Sebagai bangsa yang percaya dan berharap pada demokrasi kita harus siap menerima apa pun pilihan rakyat pada final pilpres nanti. Moh Mahfud MD Wakil Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa --------------------------------- Do you Yahoo!? Vote for the stars of Yahoo!'s next ad campaign! [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/.DlolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ______________________________________________________________________ http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
