Resensi
Minggu, 25/07/2004
Cara perempuan siasati dampak pembangunan
Judul buku : Perempuan Asia dari Penderitaan Menjadi Kekuatan
Penulis : Yayori Matsui
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia, 2004
Tebal : 268 halaman
"Saya cuma tak tahan lagi. Saya ambil pisau dari dapur dan memberi
tahu istri pertama bahwa lebih baik saya dibunuh daripada dipukuli dan
ditendang. Ketika mendengar ini, dia mendorong saya sampai jatuh ke lantai.
Saya kabur ke kamar mandi dan jatuh pingsan." ungkap Tina, perempuan
Indonesia yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Arab Saudi.
Ini pengalaman yang sudah sering kita dengar dari tenaga kerja wanita
(TKW) di luar negeri. Pelanggaran hak asasi manusia yang dialami oleh TKW
Indonesia berupa kekerasan fisik hingga pelecehan seksual merupakan kasus
yang masih terus terjadi tanpa ada penyelesaian yang jelas.
Peran perempuan berkembang dari sektor privat ke sektor publik.
Masuknya perempuan dalam sektor publik tidak semata didorong oleh kesadaran
untuk mengembangkan potensi mereka melainkan juga disebabkan oleh tuntutan
ekonomi.
Akibat dari desakan kebutuhan ekonomi itu, perempuan menjadi kurang
selektif terhadap pekerjaan yang ditawarkan kepada mereka. Tidak sedikit
perempuan yang tertipu dan masuk ke dalam jeratan industri seks.
Inilah yang disoroti oleh Yayori Matsui, jurnalis dan feminis asal
Jepang, dalam karyanya Perempuan Asia, dari Penderitaan Menjadi Kekuatan.
Di dalam bukunya ini dia menguak realitas kerasnya kehidupan perempuan
Asia di tengah tarikan antara kemiskinan dan pembangunan ekonomi.
Dia juga menggambarkan bagaimana kerasnya perjuangan perempuan Asia
untuk bangkit dari penderitaan karena perdagangan perempuan, kekerasan
seksual dalam tataran domestik dan juga yang dilakukan oleh negara,
feminisasi migrasi, hingga permasalahan AIDS.
Mengenai perdagangan perempuan, misalnya, dikisahkan bagaimana sekitar
200.000 perempuan Nepal seperti Maya diperdagangkan di kawasan prostitusi di
India. (hal. 21)
Maya adalah perempuan Nepal yang harus dirawat selama tiga bulan di
rumah sakit karena terjangkit penyakit kelamin setelah dijual dalam
perbudakan seks.
Berangkat dari realitas
Perhatian Matsui terhadap masalah-masalah perempuan di Asia terbangun
setelah dia meneliti masalah ekspor polusi dan wisata seks di Jepang yang
membuat dia menyaksikan realitas hubungan Asia-Jepang dalam kerangka
perluasan aktivitas ekonomi Jepang di Asia.
Rezim otoriter atau diktator militer di Asia melaksanakan
pemerintahannya lewat penindasan politik dan pelanggaran hak-hak asasi
manusia.
Trauma dari masa pemerintahan berdarah rezim Pol Pot, yang menewaskan
satu juta orang dari satu juta rakyat Kamboja, misalnya, masih dialami
keluarga-keluarga di Kamboja.
Kaum pria di negara itu, yang menyaksikan kekerasan di masa Pol Pot,
lalu bertindak kejam terhadap istri-istri mereka yang berada dalam posisi
lemah.
"Suami saya menjadi brutal hanya karena masalah-masalah sepele,"
ungkap seorang istri yang suaminya, mantan serdadu Pol Pot, sempat
mengacungkan kapak ke atas kepalanya.
Demikianlah, Matsui mengupas penderitaan perempuan di Jepang, Kamboja,
Thailand, Filipina, Taiwan, Cina, Nepal, dan Korea Selatan, berdasarkan
realitas, data serta kesaksian hidup para korban kekerasan gender.
Dalam masyarakat Thai, lelaki mulai membeli perempuan saat si gadis
menginjak usia sekitar 13 tahun. Sekitar 50% dari pria usia 16 tahun dan 90%
mahasiswa mengunjungi rumah bordil.
Laki-laki yang telah menikah biasanya melayani klien bisnis dengan
mengajak mereka ke rumah bordil. "Kita takkan mampu mencegah meluasnya HIV
kecuali kita mengubah perilaku seks kaum pria Thai," kata seorang guru besar
yang menjadi sumber dalam buku tersebut. (hal. 33)
Perjuangan kaum perempuan untuk bangkit dilakukan lewat berbagai
bentuk tindakan perlawanan. Salah satunya dengan pengorganisasian buruh
perempuan di Korea Selatan-bagian dari masyarakat yang tidak diperlakukan
selayaknya manusia oleh perusahaan yang beroperasi dalam tekanan luar biasa
UU darurat.
Organisasi itu mampu menghimpun sekitar 400 orang buruh perempuan dari
pabrik tekstil Dong Il di Inchon pada 1976, untuk menentang perusahaan yang
berafiliasi dengan serikat dagang dan menentang polisi dengan cara membuka
baju, hingga mereka digiring ke stasiun polisi.
Sejak 1970-an gerakan perempuan di Korea Selatan telah melangkah maju
mengubah siksaan dan kesengsaraan para buruh miskin dan omoni (ibu) yang
para anggota keluargannya dibawa pergi selama gerakan demokratisasi.
Walaupun perjuangan yang dilakukan para pejuang perempuan ini harus dibayar
dengan darah dan air mata.
Bentuk lain dari perjuangan perempuan untuk bangkit dari kemiskinan
adalah dalam bentuk proyek swadaya perempuan di desa pegunungan di Provinsi
Jiangxi, Cina, melalui pembentukan koperasi simpan pinjam untuk mengumpulkan
modal awal usaha. Dana itu kemudian dimanfaatkan untuk bisnis akar bunga
lili.
Buku yang ditulis Matsui ini menambah deretan (cukup) panjang ulasan
yang semakin banyak mengenai peran perempuan dalam pembangunan.
Karya-karya tersebut dapat menjadi sumber inspirasi bagi para pemimpin
bangsa di Asia tentang bagaimana memberdayakan suatu kelompok besar-dalam
hal ini perempuan-yang memiliki potensi terpendam.
Maria Utami,
Mahasiswa IPB, pemerhati buku
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/.DlolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000,
atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke:
[EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/