Dari Notes Belajar Seorang Awam:

SATU SEGI DARI DEBAT BUDAYA ANTARA MANIKEBU DAN LEKRA

[Catatan Untuk Aguk Irawan Mn]


Dalam artikel yang sangat menarik berjudul "Menuju Kebudayaan Baru Itu Meniru Barat" 
yang diturunkan oleh Harian Sinar Harapan, Jakarta, pada tanggal 17 Juli 2004, Aguk 
Irawan antara lain menulis: 

"Di saat gelombang perdebatan Manikebu Vs Lekra bertemu di puncak yang sangat sengit 
(1950-1965), Mesir juga mengalami persengketaan yang meluap dan tak kalah sengitnya. 
Permasalahannya juga tak jauh berbeda, yaitu dalam hal dan cita-cita "mewujudkan 
kebudayaan baru" persoalan itu digiring melalui konsepsi "bahasa dan sastra Arab". 
Pelaku perdebatan adalah para eksponen modernisasi dan eksponen tradisionalisasi.Dalam 
perdebatan tersebut, ada satu nama yang sangat penting".

Artikel Aguk yang berharga sebagai pembanding dalam usaha menarik pelajaran dari 
negeri lain dan juga dalam usaha menyidik hukum umum dari peristiwa sejarah, telah 
mengangkat beberapa soal serius, antara lain apakah kebudayaan modern dan tradisional, 
risiko apa yang dihadapi oleh seorang pembidas, dan kemudian inti masalah dalam debat 
budaya antara Lekra [Lembaga Kebudayaan Rakyat] dan seniman-budayawan yang mencetuskan 
Manifes Kebudayaan yang oleh  Pramoedya A. Toer ketika menjadi pengasuh ruang 
kebudayaan Lentera, Harian Bintang Timur, Jakarta disingkat dengan Manikebu -- istilah 
ironis yang sekalipun sudah menjadi umum digunakan tapi saya sendiri enggan 
menggunakannya. Mengapa?  Karena ironisme dan sinisme tidak hakiki dan tidak membantu 
dalam menjawab masalah. Saya lebih suka jika dalam perdebatan kita memasuki dan 
membahas masalahnya dengan tenang tanpa sinisme dan ironisme. Saya tidak pernah 
menemukan irionisme, sinisme, apalagi gunjing dan maki-maki bisa memecahkan masalah 
kecuali menghilangkan ketenangan dan membangkitkan kekalapan. Penggunaan ironisme dan 
sinisme, apalagi gunjing dan maki-maki bagi saya hanya memperlihatkan taraf budaya dan 
kemanusiaan para peserta yang disebut "debat".  Debat ide dengan cara ini akan merosot 
menjadi yang disebut oleh orang Jawa sebagai "eyel-eyelan" setingkat dengan "pokrol 
bambu", tanpa hasil apapun selain memarakkan kedengkian.Dan barangkali tidak bisa 
digolongan pada kategori debat ide. 

Dalam hal ini sungguh menarik mengingat dan mencatat praktek debat tentang "gerakan 
aksi sepihak" antara Harian Rakjat dan Harian Merdeka, kedua-duanya terbit di Jakarta, 
yang saya nilai sangat sehat dan tenang sekalipun memperlihatkan perbedaan tajam dalam 
pendirian, sikap dan pandangan. Adanya debat ide antara kedua harian nasional penting 
ini dulu di samping adanya cara-cara debat emosional, menunjukkan bahwa kaum terdidik 
Indonesia itu terdiri dari paling tidak dua kategori: yang bisa berdebat ide dan yang 
sulit melakukannya. Sikap yang mau menang sendiri, pada galibnya tidak berbeda dengan 
ujud otoritarianisme di bidang pemikiran dan mentalitas.      

Dari tiga permasalahan-permasalahan utama yang diangkat oleh Aguk Irawan Mn melalui 
artikelnya di atas, saya mendapatkan tambahan contoh lagi, bahwa  kehidupan seorang 
pembidas, sekalipun sebatas ide, menanggung banyak risiko, termasuk diusir dari 
tanahair sendiri, dienyahkan dari tempat kerja  dan dikucilkan, tanpa berarti bahwa 
ide-idenya  salah. Keadaan ini bagi saya tidak lain dari memperlihatkan taraf 
kemampuan suatu masyarakat untuk mengkhayati, melaksanakan dan mengelola kehidupan 
masyarakat yang selalu majemuk dan tidak pernah monolit.

Sedangkan terhadap masalah tradisi dan modernitas, saya tidak mempertentangkan 
keduanya karena antara keduanya ada saling hubungan tak terelakkan. Dalam hal ini saya 
membedakan antara tradisi dan kekolotan atau konservatisme. Tradisi secara arti tidak 
identik dengan kolot. Kolot menolak perobahan, sedangkan tradisi selain berarti "adat 
kebiasaan turun-menurun[dari nenek moyang] yang masih dijalankan di masyarakat; 
penilaian atau anggapan bahwa cara-cara yang telah ada merupakan cara yang baik dan 
benar" [lihat:"Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan & Kebudayaan dan 
Balai Pustaka, Jakarta, 1988, hlm.959], tradisi juga bisa berarti "sebagai sesuatu hal 
baru tapi dijadikan sebagai kegiatan yang secara teratur dilaku ulang". Misalnya F�te 
de la Musique [Pesta Musik] yang diadakan atas prakarsa menteri kebudayaan Perancis, 
Jack Lang pada masa kekuasaan Presiden Mitterrand di Perancis. Sampai sekarang Pesta 
Musik, ide yang tanggap aspirasi oleh rakyat Perancis telah dijadikan tradisi baru.

Kalau tradisionalitas dan modernitas dilihat dari segi kurun waktu, maka tautan 
keduanya akan makin jelas dan tak perlu dipertentangkan.Keduanya merupakan jawaban 
generasi secara budaya atas permasalahan zaman yang berbeda. Modernitas sejati tidak 
mungkin lahir dan berakar jika meninggalkan tradisi. Dalam artian ini modernitas 
membentuk dan mengembangkan diri atas dasar tradisi.Dan tidak semua nilai tradisional 
[sebagai kata sifat] menjadi kadaluwarsa total. Hal ini kian aktual bagi Indonesia 
sebagai negeri dan bangsa. 

Mengenai debat Lekra-Manikebu, yang oleh Aguk Irawan Mn dikatakan bermula pada tahun 
1950, saya kira secara data, Aguk melakukan kekeliruan. Manikebu tidak ada pada tahun 
1950. Ia diumumkan pada tahun 1963 setelah gagalnya Muyarawah Teater Nasional 
Indonesia di pendapa ASDRAFI [Akademi Seni Drama Dan Film Indonesia]  Yogyakarta dan 
memanasnya situasi politik nasional pada waktu itu [Di sini saya tidak memasuki 
pertanyaan: Mengapa keadaan politik nasional memanas setelah Gerakan Aksi Sepihak, dan 
juga tidak memasuki masalah apa bagaimana gerakan aksi sepihak untuk melaksanakan 
perobahan agraria].Di sini yang ingin saya tunjukkan bahwa Aguk melakukan ankronisme 
sejarah. Kecuali itu jika Aguk Irawan Mn membandingkan Mukadimah Lekra dan isi Manifes 
Kebudayaan maka Aguk akan menemui inti debat sesungguhnya tidak terletak pada masalah 
modernitas dan tradisionalitas. Katakanlah Aguk benar. Lalu dalam konteks ini, siapa 
yang modern dan siapa yang tradisional? Karena itu saya kira, Aguk perlu menjelaskan 
pengertian modern dan tradisional sebagai konsepsi. Apakah Manikebuis itu modern dan 
Lekra itu tradisional? Jika Lekra itu tradisional bagaimana Aguk menjelaskan seluruh 
prinsip-prinsip Lekra seperti metode penciptaan 1:5:1, tiga pemaduan [pemaduan 
kreatifitas pimpinan, massa dan seniman], prinsip-prinsip Mukadimah Lekra, pandangan 
filsafat kebudayaan Lekra, fungsi dan peranan sastra-seni dan  seluruh prinsip-prinsip 
Lekra yang lain? Dalam konteks sejarah pada waktu itu, memahami debat Lekra-Manikebu 
tidak bisa lepas dari pemahaman atas keadaan politik pada waktu itu baik secara 
nasional maupun internasional. Debat budaya dan politik Lekra-Manikebu jauh lebih luas 
dari yang disebut Aguk sebagai "Permasalahannya juga tak jauh berbeda, yaitu dalam hal 
dan cita-cita "mewujudkan kebudayaan baru" persoalan itu digiring melalui konsepsi 
"bahasa dan sastra Arab". Pelaku perdebatan adalah para eksponen modernisasi dan 
eksponen tradisionalisasi." 

Memahami debat Lekra-Manikebu hanya sebatas dan bermula dari permasalahan bahasa dan 
sastra, saya khawatir Aguk tidak memahami benar latarbelakang dan inti debat tersebut 
dan masih kurang cermat mengikuti dokumen-dokumen yang masih tersedia serta bisa 
didapat mulai dari yang anti dan yang sangat anti Lekra maupun yang mencoba obyektif. 
Menempatkan dan melihat masalah sebagaimana adanya, barangkali sekarang sangat 
diperlukan kalau kita masih merasa sejarah mempunyai makna. Karena itu saya menyatakan 
kesediaan diri untuk debat dengan mereka yang paling anti Lekra  dengan syarat mampu 
atau paling tidak mencoba melihat masalah tanpa emosi. Sangat memalukan jika setelah 
tiga dasawarsa lebih kita masih saja tidak bisa duduk bersama di satu meja selagi 
sama-sama masih bernafas untuk berbicara tenang dan melihat masalah sebagaimana 
adanya. Berusaha melihat masalah sebagaimana adanya, saya kira hanya memberikan 
manfaat kepada anak bangsa dan negeri, terutama angkatan sekarang dan selanjutnya. 
Hanya memberikan kegunaan bagi eksistensi dan perkembangan bangsa dan negeri bernama 
Indonesia ini. Artikel Aguk di atas memperlihatkan keperluan angkatannya tentang 
kejelasan sejarah dan betapa perlunya belajar sejarah serta adanya sejarah obyektif.


Paris, Juli 2004.
----------------
JJ.Kusni



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/.DlolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, 
atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke