Benar2 memprihatinkan melihat (dari jauh) muktamar NU
kali ini; Apalagi nanti kalau sampai terjadi perebutan
jabatan Rais Aam syuriah antara Gus Dur dan Kyai
Sahal. Seperti perebutan jabatan politik saja.

Karena NU pada dasarnya adalah organisasi keagamaan,
maka pemimpin tertingginya seharusnya juga para ulama.
Mungkin perlu dibentuk semacam wilayat al faqih,
seperti di Iran. Untuk menyederhanakan, sebutlah
wilayat al-faqih versi NU ini adalah Dewan Kyai Khos.
Kalau ada Dewan kyai Khos ini, maka pemilihan Rais Aam
dan Ketua Tanfidhiyah tidak perlu harus melalui
pemungutan suara dari pengurus2 NU cabang dan wilayah,
tetapi cukup ditentukan dan dipilih secara langsung
oleh Dewan Kyai Khos ini.
Intinya, Dewan Kyai Khos ini memiliki kekuasan
tertinggi, berhak menetapkan apapun dan berhak
mengeluarkan hak veto kapanpun kalau diperlukan. 
Dengan sistem yang seperti ini, maka tidak akan
terjadi konflik yang memalukan seperti yang terjadi
dalam muktamar kali ini. Kalau terjadi perbedaan
pendapat atau bahkan konflik diantara para anggota
Dewan Kyai Khos (misalnya seperti Kyai langitan versus
Kyai Lirboyo), maka seharusnya diselesaikan secara
intern, diantara para anggota Dewan Kyai Khos itu
sendiri. Nahdiyin dan para pengurus NU yang lain hanya
tinggal mendengar dan patuh.  

Masalahnya kemudian adalah menentukan siapa2 yang
berhak masuk dalam Dewan Kyai Khos ini. Kriterianya
tentu adalah kualitas keulamaan-nya, penguasaannya
terhadap warisan intelektual islam masa lalu (kitab2
kuning), kesufian-nya, juga, idealnya, penguasaan
terhadap ilmu2 modern (minimal tidak buta sama
sekali). Syukur2 kalau ada anggota Dewan Kyai Khos
yang sekaliber Imam Khomaini, atau sekaliber Allamah
Thabathaba'i, pengarang kitab Tafsir Al-Mizan, yang
juga seorang pakar Matematika. 



Salam sangat2 prihatin,
Pradhita al-Rasyid



----------------------------------------------
http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2004/11/28/brk,20041128-37,id.html
----------------------------------------------
Kubu Hasyim Muzadi Tak Gentar, Walau Gus Dur Didukung
Kiai Sepuh
Minggu, 28 November 2004 | 21:20 WIB 

TEMPO Interaktif, Jakarta:Meski para kiai sepuh telah
mendaulat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai calon
Rais �Aam Syuriah PBNU berpasangan dengan KH Musthofa
Bisri (Gus Mus) sebagai calon Rais �Aam Tanfidhiyah
(Ketua Umum) periode 2004-2009, kubu KH Hasyim Muzadi
menyatakan tetap siap bersaing dengan Gus Dur di arena
Muktamar NU ke-31. �Pak Hasyim akan terus maju dan
tidak khawatir. Kami optimis Pak Hasyim terpilih
lagi,� kata KH Masruri Mughni, Rais Syuriyah PWNU
Jateng.

Mughni juga menegaskan, dari 36 cabang NU yang ada di
Jateng, dipastikan hanya dua cabang yang tidak
mendukung pencalonan terhadap Hasyim yang dipasangkan
dengan KH MA Sahal Mahfudz.

Khusus tentang kesediaan Kiai Sahal untuk kembali
dicalonkan sebagai Rais �Aam Syuriyah, Mughni mengaku
telah bertemu dengan Kiai Sahal. �Kiai Sahal bersedia
dicalonkan sebagai Rais �Aam Syuriyah berpasangan
dengan Pak Hasyim dengan catatan, Pak Hasyim harus
berjanji tidak akan terlibat dan membawa NU ke wilayah
politik praktis�.

Ketidak khawatiran serupa juga disampaikan oleh salah
satu tim sukses Hasyim, Ahmad Bagja. Menurutnya,
pernyataan sejumlah kiai sepuh yang mencalonkan Gus
Dur dan Gus Mus sama sekali tidak berpengaruh terhadap
pencalonan Hasyim. �Sama sekali tidak berpengaruh,
karena dukungan tersebut hanya disampaikan oleh
sejumlah kiai sepuh. Padahal di NU terdapat ratusan
kiai sepuh,� ujar Bagja.

Bagja yang juga Ketua Panitia Muktamar, melihat
pencalonan Gus Dur belum tentu mulus, karena harus
menunggu kesediaan dari Gus Mus. �Ya, kalau bersedia,
kalau tidak,� katanya.

Minggu (28/11), bertempat di Hotel Novotel Solo, lebih
dari dua puluh kiai sepuh NU mendaulat Gus Dur untuk
menjadi Rais �Aam Syuriah PBNU berpasangan dengan Gus
Mus sebagai Ketua Umum PBNU. Para kiai tersebut antara
lain KH Nurul Huda Jazuli (Ploso, Kediri), KH Abdullah
Abas (Buntet, Cirebon), KH Hamdan Cholid (Martapura),
KH Sanusi Baco (Sulawesi Selatan), KH Azis Amin
(Jakarta), KH Zaenuddin Maftuhin (Lasem), KH Mahfud
Sobari (Mojokerto), KH Hanief Muslich (Mranggen), KH
Muhaiminan Gunardo (Parakan), KH Chotib Umar (Jember),
Tuan Guru Turmudzi (Lombok, NTB), KH Mas Subadar 
(Pasuruan).

KH Muhaiminan Gunardo,,juru bicara para kiai sepuh
menyatakan, alasan dukungan terhadap Gus Dur adalah
dalam rangka menyelamatkan NU dari ancaman perpecahan.





__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/.DlolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke