Cak, Untuk menjawab email ini, saya mengajak sampeyan melihat fakta langsung di lapangan. Saya ajak sampeyan ketemu dengan jaringan P3M: TKW di NTB, para Nelayan di Banyuwangi, Petani Tembakau di Jember, Petani Tebu di Situbondo dan Bondowoso, Petani Garam di Madura.
Sampeyan membaca pikiran-pikiran kami hanya lewat tulisan saja, sehingga dipahami kami hanya bergerak dalam "wacana". Lakpesdam sudah membentuk "FORUM WARGA" di Jateng, Jabar dan Lampung. Gerakan kami sekarang langsung menyentuh masyarakat. Kalau sampeyan bilang bahwa program-program kami hanya menyejahterakan kami, tolong jangan menduga-duga lagi, apalagi memfitnah. Kalau sampeyan ada kesempatan pulang, saya akan tunjukkan gaji saya dan teman-teman yang bergerak di LSM. Kami transparan Cak. Bila dibandingkan teman-teman yang berada di sekeliling Hasyim, hidup mereka mewah sekali cak. Mobilnya keren, pakaiannya parlente, dan sikap hidupnya bukan seperti orang NU. Belum lagi, mobilnya Ketua Umum Tanfidziyah, wuh eunak tenan jadi ketua umum. Sekarang, kalau ke mana-mana sudah naik helikopter dan pesawat pribadi. Ketua Umum nggak usah sekolah ke luar negri seperti sampeyan, bisa kaya raya:) Cak, sampe sekarang kita belum dapat keterangan, dari mana sumber-sumber dana yang diterima HM, jumlahnya berapa? Sebab dalam LPJ keuangan kemarin, seolah-olah donaturnya adalah HM. Padahal sumbernya adalah para konglomerat. Tidak usah jauh-jauh, bila kita bandingkan antara HM dengan Syafi'i Ma'arif. Kita malu kan? Jadi, sekali lagi saya ingin sampeyan membaca kami dari dekat, tidak hanya membaca tulisan-tulisan kami semata. Tulisan kami memang untuk orang-orang menengah ke atas, sedangkan untuk warga NU, kami memilih untuk menjadi aktor dan aktivis pemberdayaan. Pertanyaan saya, sudahkah cak Nadhir memberdayakan warga NU. Kalau belum, saya akan ajak advokasi para nelayan di Banyuwangi, kita naik ojek dan berinteraksi dengan masyarakat. Inilah kerja-kerja emansipatoris Cak. Sedangkan perbandingan antara GD dan HM, apalagi soal dana, politik dll, harus hati-hati. GD adalah tokoh bangsa, yang betul-betul mencerdaskan warga NU. Cuman sayang, setelah GD jadi Presiden dan media massa sama sekali tidak bisa menyaring informasi terbaik dari GD, maka muncullah kebencian seperti yang cak Nadir lontarkan. Kemarin, saya ngisi acara IPPNU di Pesantren Gus Mus bersama GD. Saya merasakan kebesaran tokoh yang satu ini, apalagi komitmen civil society untuk pemberdayaan warga NU. GD adalah guru bangsa cak. Sedangkan HM adalah bendahara, akuntan. Jauh dong, antara guru bangsa dan bendahara atau akuntan. Belakangan, saya kurang simpati sama GD, tapi saat ini saya amat mencintainya, i love u Gus Dur. Dia berani dan nekad berbuat apa saja untuk NU. Kita sepintas melihat GD kali ini kalah, tapi sesungguhnya dia adalah pemenangnya. Salam persahabatan selalu, kullukum nahdhiyyun wa antum mas'ulun 'an nahdhiyyatikum":) Zuhairi Misrawi --- Nadirsyah Hosen <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Syekh Zuhairi, > Terima kasih atas tanggapan baliknya yang sangat > cepat. Saya rasa > antum "miss" terhadap sejumlah point yg saya > sampaikan, khususnya > dalam kerangka civil society. Berbeda dengan antum > yang menganggap > saya jatuh pada skala "mikro", saya justru hendak > mengatakan bahwa > yang saya lakukan hanyalah mengimbangi antum yang > mengangkat isu > mikro: yaitu keuangan PBNU dalam kepengurusan HM. > > Antum tidak melihat bahwa dalam skala makro civil > society apa yang > antum lakukan di P3M dan Lakpesdam sama saja dengan > yang dilakukan > HM. Yang ingin saya sampaikan sebenarnya adalah soal > kemandirian > dana. PBNU dan P3M/Lakpesdam sama-sama gagal > membangun kemandirian > dana Nahdliyin. Mereka sama-sama bergantung pada > dana dari luar. > Bedanya mungkin Hasyim mendapat dana dari pengusaha > "lokal" > sedangkan antum dkk dapat dana dari "luar". > > Makanya ketika antum mengangkat soal "keuangan" PBNU > di bawah HM, > untuk pengimbangan wacana, saya tunjukkan bahwa > antum dkk > juga "bermasalah" dari sudut kemandirian dana. Entah > civil society > apa yang HM dan antum dkk bayangkan, namun menurut > hemat saya, itu > semua akan sukar terwujud selama masih > meng-gantungkan diri > terhadap sumber dana pihak lain, dan tidak menggali > potensi dana di > tubuh Nahdliyin sendiri. Ini juga salah satu > kegagalan LSM di tanah > air pada umumnya, yang begitu ditinggal pihak > sponsor langsung > kelimpungan (contoh: YLBHI). > > Mengenai PBNU yang terseret dalam politik praktis, > menurut saya ada > benarnya. Namun apakah GD tidak akan melakukan hal > yang sama kalau > beliau memimpin lagi PBNU sekaligus sebagai ketua > dewan syura PKB? > Tidakkah bisa kita baca upaya GD menguasai PBNU dan > PKB sekaligus > sebagai upaya utk maju kembali dalam pentas politik > nasional? Saya > kurang bisa memahami kalau dianggap GD tidak > menyeret Nahdliyin ke > dalam politik praktis. Bukankah kegalauan GD kepada > HM bermula dari > HM yang mencoba menjaga jarak dengan PKB? Bahwa > ternyata HM pun > tergoda utk masuk pertarungan capres-cawapres tentu > kita sesali, > tetapi mengatakan HM lebih politis ketimbang GD, ya > nanti dulu. > > Kalau antum merasa gerakan GD mendirikan NU 1926 utk > mengontrol > aktivitas HM dan hanya GD yang berani dan punya > kemmapuan melakukan > ini, maka siapa yang akan mengontrol GD kalau beliau > menguasai PKB > dan PBNU sekaligus? Apa Anak-anak muda NU bisa > mengontrol gerakan > politik GD dengan dua kendaraan PBNU dan PKB tsb? > sejak kapan mereka > merasa bisa mempengaruhi langkah GD? > > Ini memang pilihan yang sulit antara memilih HM atau > GD. sayang > tidak ada tokoh ketiga yang bisa dimunculkan > anak-anak muda NU dalam > muktamar kemarin. Kalau Mbah Riz mempertanyakan > mengapa PCINU luar > negeri tidak memunculkan tokoh alternatif di luar GD > dan HM, > pertanyaan serupa bisa kita ajukan kepada > kawan-kawan muda NU yg > mengitari muktamar saat itu. > > Disamping itu saya cukup terganggu dengan klaim > "kesucian" yang > antum lontarkan (keikhlasan, memberdayakan > masyarakat dan kalimat2 > normatif lainnya) seraya menunjuk kubu HM sebagai > kebalikannya. HM > memang bisa digugat karena hanya memberdayakan > pimpinan cabang dan > wilayah; bukan ummat NU. Tetapi apa sih hasil > pemberdayaan yang > sudah P3M, lakpesdam, Rahima, dll lakukan? Yang baru > berhasil > dilakukan kan hanya dalam level "wacana". Bahkan > isu-isu yg diangkat > kaum kultural NU juag sangat elitis. Saya > bertanya-tanya, kenapa > PBNU saja yg disalahkan karena gagal mengurusi TKW? > Bagaimana dengan > anak-anak muda NU yg teriak-teriak mengarahkan isu > ini ke PBNU, > apakah mereka juga sudah mengurusi masalah TKW, > tukang becak, tukang > ojek, pedagang bakso warteg, dll ? > > Kalaupun sudah dilakukan, bagaimana kita mengukur > keberhasilan > gerakan kultural nan "suci" itu terhadap masalah > ummat? Apakah > menerbitkan buletin jum'at atau buku hasil muktamar > pemikiran NU > dapat memberdayakan warga NU? jangankan > memberdayakan warga NU, lha > wong membuat mereka tidak alergi dg paham "liberal" > saja ternyata > antum dkkboleh dibilang gagal. > > Bagaimana kemudian antum dkk mempertanggungjawabkan > duit ratusan > juta yg sudah dialirkan pihak asing ke antum dkk? > Kalau yang antum > lakukan itu hanya sebatas angka di atas kertas, itu > sama saja dengan > yg dilakukan HM dalam laporan keuangannya. Tapi mari > kita lihat > hasilnya di lapangan? Apakah gerakan kultural nan > "suci" tsb sudah > berhasil memberdayakan warga NU lebih dari apa yang > dilakukan > pengurus struktural NU? Justru ini sebenarnya > pertanggungjawaban > yang hakiki. Dan tentu saja perdebatan akan panjang > :D > > Mari juga kita hitung semua dana asing yang sudah > diterima oleh kaum > kultural selama 5 th terakhir ini dengan dana yang > sudah diterima > HM. Jangan-jangan nggak beda jauh :D Dan letak > perbedaannya adalah > HM masih "berbaik hati" mendistribusikan dana yg dia > terima ke > wilayah dan cabang, sedangkan kaum kultural tidak > melakukan > pemerataan distribusi. Bukan rahasia lagi kalau di > kalangan kaum > muda NU pun terlihat ada kompetisi utk bisa > "menjual" proposal ke > penyandang dana. > > Sekali lagi, yang saya hendak angkat sebenarnya > adalah isu > kemandirian dana kalangan NU. Selama kaum kultural > NU juga bermain > di wilayah "mikro" yg sama dg yg dilakukan HM [baca: > bergantung pada > dana dari luar] maka perjuangan civil society yang > diagung-agungkan > hanya non-sense saja. Alih-alih memberdayakan warga > NU, kaum > kultural hanya memberdayakan pengurus P3M, > lakpesdam, Rahima, dll > sebagaimana HM yg "hanya" memberdayakan pengurus > cabang dan wilayah. > > > Syekh Zuhairi, > Saya tidak mengerti dua kalimat yang kontradiktif > ini: di bagian > awal antum menegaskan bhw antum bukan pengamat, dan > antum adalah > aktor [ini tentu berbeda dg saya yg mengamati dr > jarak jauh]; namun > di bagian lain antum menulis: > > "Cak, maaf, saya tidak haus kekuasaan. Termasuk > untuk masuk dalam > pengurus PBNU. Saya sama sekali tidak tertarik. Saya > lebih senang > menjadi akademisi, peneliti dan penulis." > > Menurut saya kalau antum sudah mendeklarasikan diri > selaku aktor, > maka antum harus bermain di wilayah kekuasaan (tanpa > harus dianggap > kotor atau haus kekuasaan). Di samping itu, sebagai > aktor, maka > semua email antum dalam dialog kita ini harus dibaca > sebagai > pandangan seorang aktor yang berasal dari salah satu > kubu yg > === message truncated === __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/.DlolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ______________________________________________________________________ http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
