CATATAN SEORANG KLAYABAN:
TENTARA TIPE LAIN [1] Tulisan Mawie Ananta Jonie [selanjutnya saya sebut: Mawie], "Menuju Ke Tapal Batas" [MKTB], saya kira, merupakan sebuah reportase literer yang unik dan berharga. Lebih dari itu, barangkali patut dipelajari sebagai bahan banding untuk kepentingan negeri dan bangsa kita. Saya katakan unik karena sejauh ini, sejak zaman Pemerintahan Soekarno sampai sekarang, barangkali hanya Mawie seoranglah yang telah menulis tentang tema "tentara rakyat" dan Myanmar [Birma]."MKTB" adalah sebuah tulisan yang mengambil setting di Myanmar.Tema yang diangkatnya adalah mengenai kehidupan Tentara Rakyat etnik-etnik di daerah-daerah terpencil di negeri tersebut. Apa yang dituliskan oleh Mawie bukanlah berdasarkan khayalan atau isapan jempol, tapi ditulis berangkat dari kenyataan yang dia saksikan dan dia hidupi langsung selama bertahun-tahun ketika berada di lingkungan wilayah geografis yang ia tuturkan. Sebelum menetap di Negeri, Mawie pernah tinggal dan bahkan nikah dengan seorang puteri Myanmar yang menjadi istrinya sampai sekarang. Mawie dan istrinya pernah kembali ke tanahair sang istri dan usai berkunjung ke kampung, Mawie kemudian menulis reportase literer MKTB ini. Dengan latar belakang demikian, bisa dipastikan bahwa Mawie tahu benar apa yang ia tulis. Saya harapkan, kelak kemudian, dari Mawie bisa diharapkan tulisan lain yang menelusur sejarah dan keadaan orang-orang Indonesia yang dikirim paksa oleh kaum militeris Jepang pada masa Perang Dunia II sebagai romusha ke Myanmar. Apabila bekas-bekas kehadiran orang Indonesia yang dibuang ke Afrika Selatan, sampai sekarang masih terdapat dan meninggalkan tanda tak terhapuskan, kiranya sangat mustahil jika ribuan romusha Indonesia itu tidak meninggalkan tanda apa pun di Myanmar. Kebuasan fasis tidak pernah mampu menumpas seluruh romusha dan apalagi seluruh rakyat. Sampai sekarang tulisan tentang nasib dan keadaan romusha serta turunan mereka hampir tidak pernah ditulis rinci. Mereka seperti orang yang dilupakan dan seakan pupus dari ingatan. Bahwa tidak sedikit dari mereka yang meninggal tentu tidak terbantahkan, tapi adalah mustahil jika dari ribuan orang itu akan terbunuh semua dan tidak meninggalkan turunan sama sekali. Menelusur sejarah mereka, akan merupakan sumbangan bagi usaha mempelajari lika-liku sejarah obyektif negeri dan bangsa kita. Mawie lebih mempunyai syarat untuk menulis masalah ini atau ada peneliti LIPI lain yang menekuni masalah Myanmar. Kalau pun ada, berapa banyak tenaga itu dan seberapa jauh kemampuan mereka dari segi kontak dan penguasaan bahasa, atau pengenalan lapangan? Dalam soal Myanmar ini, saya kira, Mawie merupakan salah seorang tenaga berharga yang tak banyak jumlahnya bagi Indonesia. Hanya saja sering Indonesia tidak bisa menghargai tenaga-tenaga berharganya sendiri sehingga akhirnya tenaga-tenaga berkemampuan tinggi dari berbagai bidang digunakan oleh orang lain, tanpa usah bersusah payah mendidik mereka. Negeri-negeri lain itu menampung dan menggunakan keahlian mereka sebagai "tenaga jadi". Apakah pemerintah SBY mempunyai keberanian memilih politik baru dalam ilmu-pengetahuan dan kebudayaan? Pertanyaan ini masih belum terbaca jelas, kecuali dari penggabungan masalah kebudayaan dengan pariwisata. Penggabungan begini mengesankan bahwa politik kebudayaan yang dipilih oleh SBY menjadikan kebudayaan lebih sebagai barang dagangan dan bukan sebagai kekayaan rokhani yang memanusiawikan manusia, kehidupan dan masyarakat. MKTB Mawie saya katakan "berharga" karena apa yang dituturkannya tentang pengalaman Myanmar bisa berguna bagi Indonesia. Menggunakan pengalaman negeri jiran ini sebagai bandingan dalam melihat dan memecahkan masalah negeri dan bangsa sebagaimana halnya kita pun perlu belajar dari pengalaman-pengalaman bangsa dan negeri mana pun. Kongkretnya dalam masalah etnik. Dari MKTB Mawie, kita ketahui bahwa di Myanmar terjadi pemberontakan etnik-etnik minoritas sampai etnik-etnik minoritas ini mempunyai Tentara Rakyat mereka sendiri. Pertanyaannya: Mengapa sampai etnik-etnik minoritas itu memberontak? Mau ke mana pemberontakan bersenjata itu dibawa oleh pemikir-pemikir dan para pemimpin pemberontakan? Ke pembentukan negara merdeka ataukah masih merupakan bagian dari Myanmar? Mengapa arah demikian diambil? Pertanyaan lain: Mengapa etnik-etnik itu menggunakan jalan perjuangan bersenjata? Bagaimana mereka melancarkan perjuangan bersenjata? Lalu apa perbedaan antara Tentara Rakyat etnik-etnik minoritas itu dengan tentara pemerintah pusat Myanmar? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini barangkali diperlukan latarsejarah tertentu yang minim baik nasional maupun internasional. Pertanyaan-pertanyaan di atas kita harapkan jawabannya dari Mawie sebagai orang yang relatif lebih tahu tentang Myanmar. Di sini saya hanya memusatkan perhatian tentang masalah Tentara Rakyat etnik-etnik minoritas yang memberontak. Paris, Desember 2004. -------------------- JJ.KUSNI [Bersambung...] LAMPIRAN: Mawie Ananta Jonie: MENUJU KE TAPAL BATAS (64) Grup grup kecil yang terdiri atas dua tiga orang Tentara Rakyat tersebut merangkak ke bukit-bukit. Mereka masuk ke desa-desa.Mereka mengetuk pintu rumah-rumah kaum tani.Mereka menemui dan berbicara dengan tuan rumah. Terutama grup ini sangat-amat peduli atas penduduk yang menghadapi kesulitan.Mereka berpakaian seperti orang-orang biasa.Di kepala terlilit sehelai kain.Berwarna kumuh.Memakai baju dan celana galembong. Hitam. Kampir rokok atau kampir sirihnya tersandang di satu bahu. Dan sebilah ladiang Kachin tersandang di bahu yang lain.Orang-orang ini membawa bekal untuk makan sendiri sendiri. Bila kemalaman, mereka membayar dengan harga yang patut, nasi dan lauk yang di makannya di rumah penduduk. Sebatang rokok yang digulung dan dihisap dari kampir rokok tuan rumah diperhitungkan. Agar jangan sampai mengambil dengan cuma-cuma. Walaupun di dalam kehidupan dan kebiasaan suku Kachin sebatang rokok atau sepinjit sugi adalah semacam pembuka kata bertamu dan tanda persaudaraan. Tapi kebiasaan "jangan mengambil sececah garam" pun dari penduduk telah mengakar pula pada diri setiap grup Tentara Rakyat ini. Pernah seorang anggota grup dari Tentara Rakyat memecahkan sebuah cawan sesudah makan. Dan cawan terjatuh waktu mencucinya. Tidak disengaja. Hanya karena kurang hati-hati saja. Tuan rumah begitu mengetahuinya berkali-kali menyatakan tidak apa-apa. Jangan khawatir. Jangan merasa tidak enak.Namun, sebelum grup ini pergi, kepala grupnya dengan bahasa sangat sederhana menjelaskan mengapa mereka harus membayar ganti rugi. Kami anak-anak petani. Bila kami tidak mengganti. Berarti kami akan meninggalkan sebuah kesulitan di dalam keluarga sendiri. Akhirnya si tuan rumah bisa menganggukkan kepala. Menerimanya.. Yang merasa berdosa lega berangkat dan tuan rumah yang dirugikan tenang ditinggalkan. Keesokan harinya kejadian ini telah menjadi buah bibir ibu-ibu petani di desa itu. Lain pula di desa tetangga. Sebagai pengalaman dari anggota grup Tentara Rakyat. Seorang anggota grup meminjam ladiang kepada penduduk. Ladiang ini dipakai mereka untuk mencari kayu dan bambu buat bahan bangunan rumah baru. Karena kurang hati hati maka seorang dari mereka telah merusak mata ladiang yang dipinjam tadi. Si kepala grup sekembali dari gunung dan pulang ke rumah, menemui bapak tani yang meminjamkan ladiang tersebut Seraya menyodorkan kampir rokok dan sirihnya dia membuka pembicaraan . Menjelaskan bahawa hari ini salah seorang dari mereka telah merusak mata ladiang yang dipinjamkannya. Ladiang itu sumbing waktu memotong bambu. Pada kesempatan ini kepala regu meminta maaaf atas kejadiannya. Di hari pekan yang datang meminta tuan rumah untuk membeli lading yang baru.Berupa bahan yang sama dengan yang dirusak anggota grupnya. Walaupun pembicaraan ini berlangsung seperti penuh basi-basi, namun akhirnya kedua belah pihak bisa menyelesaikannya. Pak tani menerima ganti rugi. Karena memang dia butuh ladiang. Dan uang tidak tersedia untuk membeli yang baru. Sedang grup kecil Tentara Rakyat merasa lega. Karena terbebas dari merasa salah dan berhutang. Ladiang yang rusak itu mereka bawa. Dan suatu hari ditinggalkan mereka di rumah seorang petani yang memerlukannya. Pada desa yang lain, ada pengalaman penduduk menolak mentah-mentah kehadiran grup kecil dari Tentara Rakyat. Penduduk keberatan menerimanya. Menolak mereka naik kerumah. Takut pada Tentara Rakyat yang Komunis. Tapi sambil bekerja dengan mereka; ya di ladang waktu panen, ya ketika memperbaiki atap rumah mereka yang tiris, atau membuat balai-balai tempat duduk, atau meperbaiki anak tangga yang patah, atau sedang duduk waktu makan sirih dan merokok, anak-anak muda dari grup kecil ini menjelaskan: Bahwa: anggota Tentara Rakyat yang Komunis itu bukan "gui" , bukan setan ,bukan jiin. Tidak ada yang perlu ditakuti pada mereka. Mereka juga bukan "anjing atau serigala" piaraan negeri asing yang makan dan menghisap darah manusia. Mereka manusia. Manusia yang punya hidung dan telinga. Punya mata dan mulut. Punya kaki dan tangan. Sebagian besar dari anggota mereka adalah anak-anak kaum tani. Anak petani miskin.Anak petani tak bertanah! Ya mereka seperti tuan rumah. Jadi tak ada yang perlu ditakutkan pada mereka. Pekerjaan seperti ini di desa-desa lain juga memakan waktu berbulan-bulan lamanya. Karena ketakutan mereka yang sesungguhnya bukan terletak pada Komunisnya, tapi takut pada Tuan Tanah dan Tuan Gunung atau serdadu penguasa dari Pusat. Yang kalau mereka kembali lagi nanti, penduduk akan menerima hukuman. Hukuman sepak terjang . Hukuman kerja badan Hukuman denda dan sebangsanya. Dari hari ke hari kesulitan semacam ini menampakkan hasil dapat diatasi. Kerja keras dalam membantu dan mengatasi kesulitan petani di pegunungan Bang Siang dan sekitarnya semakin meningkat. Di malam hari gerakan grup-grup kecil dari Tentara Rakyat yang bersenapang melancarkan perang "ulat sutra memakan daun murbai" berlangsung dengan penuh semangat. Yaitu menggirik-melobangi kedudukan musuh setempat demi setempat. Akhirnya pelan-pelan para penguasa desa dan kaki- tangan jahatnya diam diam melarikan diri. Sasaran utama Tentara rakyat ketika itu adalah Tuan Tanah dan Tuan Gunung jahat serta serdadu Pusat pendukungnya yang setia. Amsterdam, 04-12-2004. [Sumber:Mawi;<<[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];[EMAIL PROTECTED] com; Saturday, December 04, 2004 2:01 PM] [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/.DlolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ______________________________________________________________________ http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
