Tanggal 15 Desember nanti, deklarasi organisasi baru bentukan Gus dur akan di 
dengungkan, pengurusnya akan terbelah semakin membuat blok NU dan NU tandingan. 
Kasihan benar.... para orang tua kita itu, selalu saja membuat organisasi baru 
dan membiarkan yang lama. Selalu saja kita gagal dan membangun kembali dari 
"nol". jarang mau instrospeksi diri. akhirnya evaluasi hanya jadi utopi yang 
tidak pernah dilakukan. kita tidak belajar dari khasanah NU yang telah banyak 
berbuat. Kita tidak tahu kemanfaatan dan kegunaan dari lamanya NU berdiri.

NU telah lama hidup, setua dengan umur para elit sesepuhnya. Banyak garam yang 
telah dimakan, membuahkan sikap kedewasaan dan juga kekanak-kanakan para 
jamaahnya. Umpama, pohon yang tumbuh, telah berkembang dan beranak pinak 
berganti dengan generasi muda baru dan lahir dari orang tua mereka, mereka 
anak-anak NU yang menginginkan nuansa baru memajukan dan mengembangkan sayap NU 
dengan nafas kebebasan, keberanian dan kearifan. 

Organisasi NU adalah unik. NU bergulat dengan realitas multikultural yang terus 
berjalan dan berjuang mengatasi permasalahannya. Pasca muktamar NU ke 31 di 
Surakarta Jawa Tengah menyisakan problem keorganisasian dan administrasi. 
Ketidakpuasan kepada hasil pemilihan K. H. Hasyim Muzadi dan K. H. Sahal 
mahfudz telah membuat kelompok gus Dur membuat organisasi baru NU tandingan 
sebagai kontrol terhadap kepemimpinan PBNU sekarang. Banyak diakui bahwa 
kentalnya muatan politis yang diusung oleh keduanya membawa gerbong NU telah 
menyeret segregasi jamaah pada alur konflik yang tidak jelas orientasinya.

NU terbagi dalam beberapa organisasi baru akibat ketidakpuasan terhadap 
kepemimpinan selama ini. Terpilihna HM kembali menegasikan bahwa NU tidak 
banyak mengalami perubahan mendasar pada wilayah gerakan cultural. 
Kecenderungan politiknya sangat kental untuk menghabiskan dana merebut 
kekuasaan dan jabatan. Kebebasan berpikir dan membuat organisasi perorangan 
maupun kelompok sebagai keniscayaan membentuk NU tandingan dengan wajah dan 
bentuk khas kelompoknya sebagai orientasi pemberdayaan masyarakat.

Peran media massa mengeksplore dan mengklarifikasi perdebatan para elit NU 
dengan segala keterbukaan dan toleransi. Perbedaan dan kebebasan berpendapat 
menjelaskan ada kecenderungan kuat dari arus modern untuk melakukan organisasi 
bentuk baru dengan perampingan personalia dan menghasilkan produk kerja 
pemberdayaan masyarakat. Trend perubahan organisasi skala besar dikendalikan 
oleh individual akan menentukan kualitas jaringan lintas organisasi NU dengan 
seluruh kekuatan organisasi berbeda namun mempunyai visi sama. Selama ini telah 
dilakukan oleh LSM, pemerintah, NU dengan Ford Foundation (FF), UNDP ang 
bersumber dari world bank dan sebagainya. Organisasi sebesar NU akan mengalami 
perubahan mendesak karena kebutuhan untuk eksis di masyarakat. Organisasi NU 
akan ditinggalkan oleh jamaahnya apabila tidak berbuat apa-apa bahkan justru 
menambah konflik. 

Kecendurangan perpecahan elit NU ke berbagai kubu merupakan bentuk tren dari 
wacana publik yang dialami oleh masyarakat Indonesia. Banyak organisasi yang 
besar terpecah dalam beragam kubu. Dengan kemajuan ilmu berpikir dan toleransi 
dari bangsa yang pluralistic memungkinkan mengadakan organisasi tandingan NU. 
Beragam isi dan pemikiran yang tidak bisa menyatu memerlukan satu wadah baru 
membangkitkan organisasi dan pengaruh entitas sosialnya.

Kelompok marginal yang memisahkan diri dari kepengurusan PBNU dengan menggagas 
terbentuknya organisasi tandingan merupakan bentuk kewajaran bagi anggota yang 
tidak puas. Kewajaran ini ampuh untuk melakukan kompetisi secara konstruktif, 
menggali nilai budaya local masing-masing wilayah yang mengakui keragaman. 
Perhitungan masyarakat bukan lagi pada label nama NU, tapi pada kualitas 
orang-orang NU yang berkiprah. Apapun nama organisasi tidak penting, tapi 
esensinya melakukan sesuatu yang bermanfaat pada masyarakat dengan terus 
meningkatkan karakter insane NU yang mengabdi dan melayani jamaah. Trend baru 
ini menuntut masyarakat lebih bebas bergerak dan bergabung dalam beragam 
kegiatan lintas NU. Semangat toleransi mencerahkan modal penting membangun 
aliansi kerja. Persaingan yang terjadi bukan lagi, merebut kekuasaan sebagai 
elit NU pada kepengurusan tingkat pusat sampai cabang, melainkan pada kualitas 
dan kompetensi beraktualisasi diri membuat langkah transformasi social. 
Melakukan
 gerakan mengawal, menjaga dan menyatukan bangsa Indonesia serta Islam pada 
kemajuan. 

Defersifikasi masyarakat menantikan pembelaan yang tulus tanpa adanya 
kesombongan dan kepongahan kekuasaan dan kebesaran NU. Masyarakat "jengah" 
dengan pertentangan dan permusuhan elit NU. Konfrontasi yang disulut oleh gus 
Dur kepada HM menunjukkan kentalnya permainan politik yang akan menyeret NU 
pada ketidakjelasan orientasi kedepan. Pemboikotan kepada PBNU dengan langkah � 
langkah maju dengan membentuk organisasi tandingan merupakan suatu bentuk 
balance agar NU tetap istiqamah pada gerakan basis yang tidak perlu menjadi 
sebuah konflik. Berbagai organisasi tanpa bentuk yang akan dan sedang di gagas 
oleh elit NU, nantinya akan teruji di mata masyarakat akan peran yang akan 
dilakukan. Sikap dewasa nan toleransi dengan mengakui kekuatan lain sebagai 
penyeimbang adalah keabsahan oragnisasi yang akan eksis di kehidupan modern. 
Sebaliknya, penjegalan terhadap pemasungan kreativitas karena pembentukan 
organisasi baru merupakan pemasungan kebebasan setiap insan.

Organisasi tanpa bentuk sebagai cermin NU tandingan akan menghantarkan NU pada 
dimensi baru yang mengalami pasang surut organisasi. Upaya rekonsiliasi dengan 
melibatkan dalam kepengurusan dengan cara silaturrahmi hanya akan menjadikan NU 
sebuah kooptasi bagi sosok sekaliber Gus Dur. Penghargaan pada suatu kebebasan 
dengan membangun bentuk NU dengan nama baru akan menjadi semacam reinkarnasi 
dari tubuh NU yang akan semakin mengibarkan kebesaran NU. Disinilah, kompetisi 
itu akan teruji, manakala ada persaingan yang sehat dengan kacamata positif dan 
toleransi. Kerangka pesantren dengan kepemimpinan para kiai merupakan cerminan 
bagi kepeminpinan NU yang punya model jaringan sesama tokoh secara berdampingan 
penuh dengan persamaan. Gagasan NU membebaskan para kadernya berorganisasi 
dengan membentuk kelompok merupakan khasanah yang perlu diapresiasi. Bahwa 
bersatu dalam perbedaan merupakan sikap dewasa memajukan bangsa. Menatap NU ke 
depan akan sangat ditentukan oleh jaringan NU oleh
 intelektual muda. Harapan itu bersambut, manakala melakukan kerja praktis 
berikut ini; (1). Bentuk jaringan kegiatan dengan beragam organisasi lintas NU. 
Gagasan membangun aliansi dengan jaringan international dengan pemanfaatan 
teknologi digital akan memudahkan gerakan kerja kelompok lintas negara dengan 
misi fastabiqul khairat (berlomba dalam kebaikan). Kerja bersama negara maju 
meniscayakan keuntungan keduabelah pihak yang emmbutuhkan kearian untuk berbagi 
kepentingan secara terbuka, fear dan jujur. Kerja semacam ini memerlukan orang 
yang punya akses pada teknologi informasi dan kompetensi serta komitmen yang 
kuat memperjuangkan nilai kesejahteraan bersama. Para intelektual muda NU 
seharusnya berada pada garda paling depan untuk melakukan aliansi gerakan 
cultural. NU bergerak pada wilayah kerakyatan yang menegasikan pengentasan pada 
problem kemiskinan. Membukakan kehidupan yang bermartabat dan percaya diri 
menatap masa depannya. (2). Mengembangkan dialog pencerahan masyarakat
 sepanjang hayat. Proses transformasi perlu banyak melibatkan sharing dan 
diskusi agar penyadaran itu menjadi nilai yang menginternalisasi pada setiap 
insane untuk melakukan yang terbaik mengusahakan kerja keras memperjuangkan 
hidup yang layak. Transformasi nilai sebagai usaha penyadaran akan tuntutan 
masa sekarang dengan terus meningkatkan kemampuan dan mengurangi penderitaan. 
Masyarakat jangan dibiarkan berkubang pada pemahaman atalistik dan kepasrahan 
keadaan dengan skeptik. Mendiamkan mereka dalam kemiskinan dan penderitaan 
hidup adalah kejahatan yang nyata. Banyaknya kaum ploletar dan marginal yang 
termiskinkan oleh system merupakan cirri kebanyakan jamaah di pedesaan. Mereka 
merindukan penguatan diri dan aktualisasi yang didampingi oleh elit NU yang 
punya power. (3). Penguatan kaderisasi NU akan menghindarkan hilangnya 
orientasi organisasi berbasis agama. Sebagai organisasi kader, NU bertanggung 
jawab membentuk kader yang punya visi keislaman yang memiliki jiwa pengabdi pada
 kebenaran dan ilmu pengetahuan. 

Akhirnya, jalan pembebasan NU makin terbentang luas dihadapan mata untuk lebih 
berbuat banyak pada kemanusiaan. Waktu dan masyarakatlah yang akan menilai, 
apakah NU masih berkenan dihati mereka untuk membebaskan belenggu kemiskinan 
ataukah NU hanya menjadi lambing kematian penuh konflik. Sebuah Tanya yang 
memerlukan jawaban kerja nyata. Jalan kebebasan telah terbuka lebar, mampukah 
mengisi dengan pengabdian ditengah jajahan kapitalisme yang pongah penuh 
egoisme peribadi. Tanya itu hanya bisa dibuktikan dengan kerja pemberdayaan 
diri dan masyarakat secara bersam-sama.



 


Anis Masduki <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Memahami Arti Sebuah Kongres 
  
Oleh: Abdurrahman Wahid

Muktamar NU ke-31 di Boyolali, untuk selanjutnya kita namai kongres, 
baru saja usai. Ternyata menjawab pernyataan penulis dalam sebuah 
tulisan beberapa waktu yang lalu, bahwa kongres tersebut mempunyai 
dua wajah. Namun hal yang sama sekali tidak penulis perkirakan, yaitu 
bahwa para sesepuh NU memerintahkan penulis untuk mendirikan sebuah 
organisasi baru di luar NU formal yang ada. Penulis merasa sangat 
sedih sekaligus sangat bangga dengan penunjukan tersebut. Sangat 
sedih, karena ia harus meninggalkan NU yang selama ini dilayaninya 
dengan menjadi pengurus sejak 1979. Sejak hasil Muktamar NU ke-26 
tersebut, segera penulis menjadi Khatib Awal PBNU di bawah sang kakek 
KH. Bisri Syansuri sebagai Rais ` Aam. Kemudian NU terbelah dua, blok 
Situbondo di bawah pimpinan KH. As'ad Samsul Arifin dan blok Cipete 
di bawah pimpinan DR. Idham Chalid.

Pertentangan antara kedua blok itu berjalan secara "lucu", karena 
dengan sekretariat tetap satu, berkantor dan menggunakan alamat yang 
sama dan hanya berbeda dalam nomor surat saja. Penulis menjadi orang 
yang mengendalikan pihak blok Situbondo, dan H. Chalid Mawardi 
mengendalikan pihak blok Cipete. Sedangkan DR. Fahmi Syaifuddin 
Almarhum menjadi perantara antara kami berdua. Karena antara penulis 
dan H. Chalid Mawardi tidak pernah ada pertentangan (bahkan terikat 
hubungan kekeluargaan karena perkawinan), maka NU `aman-aman' saja. 
Hal inilah yang sebenarnya penulis ingini, agar terjadi dalam 
hubungan antara KH. M. Sahal Mahfudz sebagai Rais `Aam dan penulis 
sendiri untuk selanjutnya. Kalau ini terjadi, toch pada akhirnya 
penulis dan teman-teman lain di lingkungan NU (yang pada waktu itu 
sudah dapat `menumbuhkan keberanian') dapat memperbaiki NU secara 
pasti.

Dalam pertemuan antara penulis dan Dr. KH. A. M Sahal Mahfudz di 
jalan Adi Sucipto (dekat Manahan Solo) penulis bertanya kepadanya, 
dapatkah beliau melarang KH. Drs. Hasyim Muzadi untuk menjadi salah 
seorang anggota Pengurus Besar Nahdlatul `Ulama (PBNU) periode 2004-
2009? Ia menjawab tidak dapat melakukan hal itu apapun alasannya. Itu 
berarti ia `merelakan' perpecahan dalam tubuh NU yang penulis 
harapkan pada waktunya dapat diselesaikan dengan tetap berpegang 
kepada perintah tertulis para sesepuh (baca: Ulama Sepuh) untuk 
mendirikan organisasi baru, yang berarti juga benar-benar menjadikan 
NU terbagi dua, pihak struktural (dalam hal ini PBNU dibawah pimpinan 
Dr. KH. AM Sahal Mahfudz), dan organisasi baru yang 
penulis "jalankan" dipimpin para sesepuh itu.

Persolannya sederhana saja: dapatkah beberapa ulama yang memimpin 
PBNU sekarang "mengendalikan" organisasi tersebut, dan "tidak 
dikalahkan" oleh kesepuluh orang (yang sebagian bermasalah sudah 
lebih dari 3 kali menjadi anggota PBNU, masalah kejujuran moral dan 
kepremanan yang "melecehkan" para sesepuh) yang dipimpin oleh Drs. H. 
Hasjim Muzadi itu? Sekarang yang terpenting adalah bagaimana menjaga 
agar kedua organiasi itu tidak berbenturan, karena hal itu akan 
mengakibatkan keterpecah-belahan yang dilarang oleh kitab suci Al-
Qur'an, yaitu dalam ayat "Berpeganglah kalian pada tali Allah secara 
keseluruhan, dan jangan terpecah belah" (Wa'tashimu bi habli Allahi 
Jami'an wala tafarraqu).

Mengapakah adanya kedua organisasi dapat `dibiarkan' di kalangan 
Nahdliyin? Karena kitab suci kaum muslimin juga yang 
mengatakan: "Sesungguhnya telah ku-ciptakan kalian lelaki dan 
perempuan, dan ku-jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku 
bangsa agar saling mengenal" (Inna khlaqnakum min dzakarin wa untsa 
wa ja`alnakum syu`uban wa qabaila li ta`arafu) hingga akhir ayat. 
Jadi, masalahnya sekarang bagaimana kedua organisasi dapat berbeda 
tanpa membuat kaum Nahdliyin terpecah. Disinilah kearifan penulis dan 
Dr. KH. A M Sahal sekali lagi diuji. Karena Drs. KH Hasyim Muzadi 
tidak seperti DR. KH. Idham Chalid yang bersedia mengalah kepada para 
sesepuh NU dalam Muktamar ke-27 di Asembagus, dengan tidak 
mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PBNU sehingga keutuhan 
organisasi "dapat diselamatkan".

Sudah tentu hal ini berarti kesediaan untuk bertemu dan berbicara 
antara para sesepuh, yang memerintahkan berdirinya organiasi baru itu 
dengan para ulama yang mendukung PBNU. Cukup banyak kegiatan yang 
dapat dihadiri kedua belah pihak bersama-sama, tanpa harus bertolak 
belakang antara mereka dalam gerak kehidupan sehari-hari. Ini berarti 
kesediaan untuk bersilahturahmi antara kedua belah pihak, dengan 
menggunakan berbagai "kesempatan", seperti berbagai peringatan hari-
hari besar, acara perhelatan (seperti perkawinan) dan hari-hari 
peringatan nasional. Sudah tentu, kehidupan pondok pesantren dan 
hubungan kekeluargaan sangat dekat antara para warga pondok 
pesantren, akan menjadi wahana komunikasi antar warga seperti yang 
dimaksudkan itu. Hal-hal semacam inilah yang dapat menjadi penjaga 
hubungan antar warga NU sendiri seperti dikemukakan diatas.

Mengapakah penulis mengemukakan hal itu? Karena melihat beberapa 
indikator yang obyektif seperti akan berakhirnya krisis multi-dimensi 
pada ujung tahun ini. Nah, apa yang akan menjadi kesudahan dan proses 
itu? Jawabnya adalah salah satu antara dua hal berikut: kita tetap 
menjadi bangsa yang kecil, lemah dan miskin, atau mengatasi krisis 
itu sehingga kita mampu menciptakan bangsa yang kuat dan negara yang 
besar. Sudah tentu kita ingin yang berjalan adalah jawaban kedua. 
Munculnya kemampuan untuk menjadi bangsa yang besar dan negara yang 
kuat, adalah kalau benar-benar kita menuju kepada tegaknya demokrasi 
yang harus diwujudkan dalam bentuk kedaulatan hukum yang tuntas, 
perlakuan sama pada seluruh warga negara tanpa pandang bulu asal-usul 
mereka, kemerdekaan berbicara pendapat, pengembangan SDM yang memadai 
dan keadaan yang mantap dalam kehidupan bersama para anak bangsa.

Untuk mencapai sasaran-sasaran diatas diperlukan hal yang sama 
diantara para warga NU. Karena itu prioritas tindakan-tindakan 
yang "harus" kita ambil adalah memelihara keutuhan NU baik secara 
kolektif maupun individual diantara para warganya. Penulis tidak 
dapat melukiskan dengan tepat tindakan apa yang dilakukan untuk 
menuju ke arah itu, yang baru terasa makna dan artinya dikala 
ada "ancaman-ancaman perpecahan" tersebut. Penulis menyadari, menjaga 
terlaksananya sekian macam kegiataan untuk mencapai keadaan itu 
tidaklah mudah. Apalagi di kalangan warga NU yang demikian heterogen 
dan memiliki pola hidup yang memang tidak "di desain" untuk itu. 
Memang benar klaim bahwa NU adalah gerakan Islam terbesar di seluruh 
dunia, yang mengharuskan kita untuk mencari unsur-unsur yang 
membuatnya besar. Dan itulah yang tampak dalam berbagai kegiatan yang 
semula tidak dirasakan sebagai demikian.

Jelaslah dengan demikian bahwa arti kehadiran NU menjadi sangat 
penting, kalau kita menginginkan keadaan dimana kita menjadi bangsa 
yang kuat dan negara yang besar. Sudah tentu NU yang bersatu, 
sehingga tenaga dan kekuatannya tidak terpencar-pencar dan terfokus 
seperti yang kita perlukan. Hal ini hanya akan dapat tercapai jika 
secara sadar warga NU menghindarkan diri dari keterpecah-belahan. Dan 
untuk menghindari hal itu, tidak berarti mereka harus melakukan upaya 
penyeragaman (uniformisasi) kehidupan mereka dalam segenap aspeknya. 
Kita percaya para warga NU cukup dewasa, sehingga mereka tidak akan 
melakukan tindakan-tindakan yang akan memecah-belah organiasi yang 
mereka cintai itu. Dan yang akan menjalani proses alami menuju kepada 
perbenturan bangsa yang kuat dan negara yang besar. Proses yang 
berintikan upaya melestarikan apa yang kita inginkan untuk masa 
depan, dan membuang apa yang mungkin mengganggu kita saat itu adalah 
sebuah proses sejarah yang terjadi dimanapun, bukan? 



--- In [EMAIL PROTECTED], "Muhammad.Faqih" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >===== Original Message From "nur munir" <[EMAIL PROTECTED]> =====
> >Alhamdulillah,
> >tapi.....nanti lain kali kalau sudah beramal jangan ditunjuk-
tunjukkan lagi
> >yaa
> >yang ikhlas saja.
> >wassalamu'alaikum
> 
> Yang beramal itu Pak Ghoffar, pak Kusno, Pak Agus, Mas Ifan, 
delegasi NU UK.
> Yang menunjuk-nunjukkan dan menyombong-nyombongkana dan ya ria 
adalah saya.
> 
> Tanyakan Gusti Allah, apakah mereka masih diberi pahala.





______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 



Yahoo! Groups SponsorADVERTISEMENT


---------------------------------
Yahoo! Groups Links

   To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/
  
   To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
  
   Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 




http://najlah.blogspot.com     

                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 All your favorites on one personal page � Try My Yahoo!

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$4.98 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/.DlolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke