Selasa, 07 Desember 2004 Republika Solusi Konflik Internal NU Endin AJ Soefihara Keluarga Besar NU dan Ketua FPPP DPR RI
Di atas kertas, perhelatan Muktamar ke-31 Nahdlatul Ulama (NU) di Boyolali, Jawa Tengah, kemarin membuahkan konflik internal. Hal ini tak lepas dari sikap KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang siap mendirikan NU tandingan, bahkan siap menduduki Kantor PBNU di Jl Kramat Raya, Jakarta. Yang perlu kita teropong, akan terjadikah konflik internal itu, apalagi berkepanjangan dan serius? Kebanyakan pihak cenderung menilai Gus Dur memang ''bermagnet'' tinggi di tengah massa NU. Apa pun yang dilakukannya cenderung diikuti oleh sebagian besar warganya bahkan mendapat respon positif sejumlah pihak di luar NU. Dukungan kuat ini menjadikan Gus Dur --terutama para inner circle-nya-- terus melakukan perlawanan terhadap KH Hasyim Muzadi dan kubunya. Perlawanan ini, atas dasar legalisasi yang dikantungi dari forum Muktamar Boyolali, akan dijawab. Inilah kondisi yang menjustifikasi konflik internal sulit dihindari. Kita perlu menggaris bawahi bahwa andaikan konflik itu sungguh terjadi, maka, pertama, NU akan menjadi tontonan publik secara mengenaskan, baik publik domestik ataupun internasional. Di antara sebagian publik itu mungkin terlontar penilaian yang tidak proporsional: sebegitu rendahnya NU dalam mencapai kepentingan sempitnya. Pernyataan seperti ini jelaslah merendahkan martabat ormas dan pribadi NU. Namun, pernyataan ini relatif sulit dibantah karena berangkat dari realitas konflik yang terjadi. Kedua, dampak konflik internal akan memperlemah politik NU ke depan. Logika politiknya, ketika semua kekuatan politik sibuk mengatur sejumlah strategi untuk menghadapi medan kompetisi yang ada dan kian ketat, justru keluarga NU tersedot perhatian dan tenaganya untuk menyelesaikan masalah internalnya. Praktis, dalam diri NU kehilangan waktu dan banyak hal yang semestinya dicurahkan untuk menghadapi kekuatan sejumlah lawan politik lainnya. Ketiga, jika konflik itu benar-benar terjadi dan berkepanjangan, bukan tidak mungkin akan terjadi ''agresi'' dari kekuatan lain dalam kerangka mengkooptasi sejumlah figur NU. Hal inilah sebenarnya yang harus dirisaukan oleh keluarga besar NU. Pendek kata, NU ke depan akan menjadi bancakan. Jika hal ini terjadi, NU akan kehilangan posisi tawarnya dalam pentas perpolitikan nasional. Penulis sangat yakin, Gus Dur tidak rela pemandangan pahit itu terjadi di tengah NU. Landasannya, sebagai pewaris sah dari pendiri NU dan sangat mencintai dan loyal, bahkan punya integritas tinggi terhadap ormas sosial-keagamaan terbesar di Indonesia ini, tidaklah mungkin tega melihat NU porakporanda hanya karena kekecewaan yang kini dihadapinya. Karena itu, penulis juga yakin bahwa Gus Dur sebenarnya tidak menghendaki konflik berkepanjangan itu. Dari keyakinan ini, penulis memperkirakan bahwa tekad mendirikan NU tandingan, kalau itu benar, merupakan reaksi sesaat di luar kontrol kesadarannya. Dalam hal ini, apa yang terlontar dalam tekad destruktif itu tak lepas dari inner circle Gus Dur yang menghembuskan ide-ide yang mencelakakan. Kita mengetahui bahwa lingkaran Gus Dur (para inner circle) itu bukan hanya dari NU. Sebagai tabiat inner circle --dari kelompok manapun-- terus berusaha mencari sesuatu untuk kepentingan sempit pribadi dan atau kelompoknya, tanpa mempertimbangkan kepentingan yang lebih luas dari orang yang ditempelnya. Dengan tabiat seperti ini, mereka tak akan mempersoalkan atau tak mempedulikan sejumlah akibat atau risiko yang bakal dirasakan Gus Dur, bahkan keluarga besarnya (nahdliyyin). Mencermati tabiat inner circle itu --dan hal ini haruslah menjadi tanggung jawab seluruh keluarga besar NU-- semua pihak yang sayang terhadap NU harus lebih memperhatikan apa dan bagaimana yang dilakukan orang-orang yang melingkari Gus Dur itu. Sebagai rasa cinta yang mendalam dan respek terhadap Gus Dur, para inner circle haruslah diingatkan: janganlah menjebak Gus Dur untuk memasuki sebuah permainan yang berpotensi merusak jatidiri Gus Dur itu sendiri dan keluarga besar NU yang sangat dicintai Gus Dur; janganlah merusak kualitas dan komitmen Gus Dur yang setia memperjuangkan demokrasi di tanah air ini. Ajakan yang terakhir ini sejalan dengan realitas bahwa penjebakannya agar Gus Dur mendirikan NU tandingan apalagi akan menduduki markas besar NU dapat ditafsirkan sebagai tindakan yang menodai demokrasi, sebuah sikap yang tentu tidak sejalan dengan prinsip perjuangan Gus Dur. Bagi para inner circle Gus Dur, jika memang ingin bermain brilian, masukkan cucu pendiri NU itu dalam permainan yang jauh lebih besar di level nasional ini bahkan di tingkat internasional. ''Rumah'' NU haruslah dilihat sebagai rumah yang terlalu kecil untuk ukuran Gus Dur, karena memang bukan kapasitasnya. Sekali lagi, jika para inner circle mampu memahami kualitas jatidiri Gus Dur, seharusnya mereka mampu merancang (membuktikan) mantan presiden RI keempat ini sebagai bapak bangsa, bukan sekedar di tengah NU. Kini, Muktamar Boyolali telah berakhir dan meninggalkan masalah yang berpotensi destruktif bagi kepentingan citra Gus Dur, ormas NU, dan nahdliyyin. Menghadapi potensi destruktif ini, sekali lagi, penulis punya keyakinan akan segera berakhir masalahnya. Landasannya, pertama, rasa cinta Gus Dur itu sendiri terhadap NU dengan berbagai elemennya. Landasan pertama ini akan mampu meredam emosi Gus Dur jika gerak inner circle yang eksploitatif berhasil dicegah: mereka harus diingatkan agar tidak terus memanas-manasi sekaligus menjebak Gus Dur, atau menghembuskan informasi atau ide yang dapat menggiring Gus Dur bangkit emosinya. Kedua, Rais Aam KH Sahal Mahfudz, sebagai paman Gus Dur bersama para kiai sepuh lainnya, akan memiliki pendekatan tersendiri yang tentu belum diketahui banyak publik. Keberadaan mereka, baik karena kekeluargaan, ikatan emosionalitas kepesantrenan, dan kharisma yang ada dalam diri mereka, insya Allah masih dilihat Gus Dur dalam berbagai dimensinya. Hal ini bisa menumbuhkan harapan bahwa persoalan perbedaan, termasuk hasil Muktamar Boyolali kemarin akan dilihat sebagai persoalan kecil yang tak perlu dibesar-besarkan. Dan keberadaan mereka yang tidak berkepentingan sempit, insya Allah, akan menggeser peran ambisius para inner circle yang terus menjebak itu. Akhirnya, peran konstruktif KH Sahal dan para kyai sepuh lainnya akan berperan efektif untuk meredam emosi Gus Dur yang kini masih "digosok" oleh sejumlah pihak yang tak bertanggung jawab itu. Ketiga dari perspektif psikologi pihak yang kalah, KH Hasyim Muzadi harus mampu menunjukkan kedewasaannya. Yaitu, beliau harus mendahului datang (silaturahmi) ke Gus Dur. Kehadirannya bukanlah merendahkan harga diri pemenang (diri KH Hasyim Muzadi), tapi justru meninggikan kedua pihak, yakni dirinya sendiri dan diri Gus Dur yang perlu dipulihkan perasaannya akibat kekecewaannya. Dalam perspektif psikologi, kehadiran sang pemenang punya makna yang sangat mendasar: menghargai pihak lawan yang pernah menjadi kompetitor; menunjukkan empati tersendiri; akan dilihat oleh publik dan khususnya para pengurus NU di berbagai lini dan kaum nahdliyyin sebagai proses dan upaya ishlah di antara dua pihak yang pernah berkompetisi. Tak dapat disangkal, kemauan silaturahim KH Hasyim Muzadi akan menjadi faktor paling penting dalam kerangka menyelesaikan persoalan setelah Muktamar Boyolali. Ada sebuah renungan yang barangkali perlu kita kaji bersama untuk masa depan NU. Apakah dalam kerangka rotasi kepemimpinan di tengah organisasi NU perlu dan harus melalui muktamar yang melibatkan banyak delegasi dari berbagai daerah? Pertanyaan ini penting dalam upaya menghindari gejala yang terus menguat bahwa menjalang, saat. dan pasca muktamar kerap menimbulkan konflik internal yang cukup membayahakan. Jika memang kita risau dan sangat tidak mengharapkan konflik internal itu, bukankah efektif jika rotasi kepemimpinan cukuplah dipercayakan kepada para kiai sepuh yang otoritatif untuk memusyawarahkan siapa yang mendapat amanah? Gagasan tersebut boleh jadi akan dituding sebagai sikap yang mereduksi demokrasi di tengah tradisi NU. Meski demikian, kita perlu bertanya lebih jauh: apakah petaka sebagai dampak persaingan itu, minimal potensi konflik internal harus dipertahankan dan diciptakan hanya karena komitmen demokrasi? Dalam hal ini sebaiknya perlu dilihat kembali kaidah ushul fiqh jika mudaratnya lebih besar --setidaknya berpotensi besar-- ketimbang manfaatnya, maka haruslah ditinggalkan. Di sinilah, tidak ada salahnya asas keterwakilan yakni mempercayakan kepada para kiai sepuh yang otoritatif untuk melakukan musyawarah dan menunjuk seseorang dan timnya untuk memimpin ormas NU, bukan menyerahkan kepada para delegasi muktamirin yang beragam kepentingan dan rentan dengan sejumlah permainan kotor, misalnya politik uang, serta biaya yang tentu tidak kecil. Sistem keterwakilan untuk proses pemilihan kepemimpinan NU ke depan tampaknya perlu dikaji lebih mendalam dan tidaklah berlebihan jika diterapkan. Untuk kemaslahatan NU dan keluarga besarnya itulah asas atau prinsip yang harus disosialisasikan lebih intensif-produktif. Tawaran gagasan ini merupakan kesadaran mendalam agar tidak terjadi kegelisahan seperti yang kini dihadapi pascamuktamar NU di Boyolali, meski disadari secara bahwa bayang-bayang konflik internal setelah hajatan itu hanyalah fatamorgana. Meski prediksinya demikian, tidak menumbuhkan bayang-bayang pahit jauh lebih baik. Inilah makna strategis tawaran gagasan solusi yang terkait dengan rotasi kepemimpinan di tengah organisasi NU. ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> $4.98 domain names from Yahoo!. Register anything. http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/.DlolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ______________________________________________________________________ http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
