Bagaimana cara untuk menumbuhkan kecerdasan emosi, sosial dan spiritual pada
anak-anak kita?
ada tulisan sangat menarik untuk dijadikan renungan. setidaknya menjadikan kita
termotifasi untuk menyeleaikan masalah secara baik-baik. bukan dengan cara2
yang mencerminkan jika kita adalah anak2 yang kurang kasih sayang dan tak
pernah mencercap indahnya cinta.
selamat membaca,
--ahmad ginandjar sya'ban
SUARA PEMBARUAN DAILY
--------------------------------------------------------------------------------
Refleksi Peringatan Hari Ibu Ke-76
Peran Ibu Menumbuhkan Kecerdasan Anak
Oleh Neni Utami Adiningsih
UATU sore, tampaklah seorang ibu, dengan lima orang anaknya, sedang berkumpul
di dapur. Mereka mengelilingi sebuah meja yang di atasnya terdapat 'potongan'
kertas dan kotak melukis yang berisi delapan warna dan sebatang kuas. Mereka
akan melukis bersama-sama, belajar menggambar bunga.
Di tengah keasyikan dan kegembiraan melukis, tiba-tiba ada nuansa
ketidaksenangan dari anak perempuan terkecilnya.
"Ada apa, sayangku?" tanya si ibu. "Salah satu kelopak bungaku tampak seperti
daun," jawab anak kecil itu, hampir menangis karena kelopak bunganya tidak
tampak seperti kelopak bunga. "Biar kulihat", ujar si Ibu. "Oh ya, baiklah.
Tambahkan dengan warna hijau. Sekarang, kelopak bunga itu berubah menjadi
daun". Tentu saja si anak tidak jadi menangis. Ia tertawa gembira.
Cerita di atas saya cuplik dan tutur ulang dari pengalaman nyata Margo Marshall
- Olmstead akan ibunya saat mereka tinggal di Ferryden, sebuah desa nelayan si
pesisir timur Skotlandia (Lesson from Mom, 2004).
Potensi Ibu
Briliyan! Hebat! Luar biasa! Itulah deretan kata (dan masih banyak lagi yang
lainnya) yang pantas kita ucapkan sebagai apresiasi terhadap cara ibu tersebut
mengatasi 'masalah' yang dihadapi anak perempuannya.
Ia seakan paham betul dengan kata bijak Pablo Picasso, seorang pelukis genius,
bahwa 'Setiap bocah adalah seniman. Masalahnya bagaimana cara mempertahankannya
agar ia tetap menjadi seniman ketika dewasa'. Itu sebabnya ia berupaya agar
anak perempuan terkecilnya tidak patah semangat, sehingga dapat terus
mengembangkan potensinya sebagai seniman.
Tindakan yang ia ambil, tidak saja mencerminkan kecerdasan intelektualnya,
namun juga menggambarkan kecerdasan emosinya, kemampuannya berempati. Ia
memahami betul bila anak perempuannya bukanlah dirinya, yang sudah piawai
melukis bunga.
Ia mampu membuat anaknya tetap merasa berhasil (menggambar daun), walaupun hal
tersebut akibat dari ia gagal menggambar bunga. Ia mengajar anaknya agar bisa
mengambil hikmah (dan terobosan) ketika menghadapi sebuah kegagalan.
Si ibu tahu betul bahwa kepada anak harus diajarkan keberanian untuk mencoba
kemampuan, kejelian untuk melihat kemungkinan, keyakinan dalam memilih strategi
dan kesempatan untuk melaksanakanan strategi pilihannya. Ia juga tahu betul
bahwa semua proses itu harus dikenalkan sejak dini, agar proses belajar untuk
memecahkan masalah bila memberikan hasil optimum.
Ia sadar bahwa semakin banyak contoh cara memecahkan masalah yang ia berikan,
akan membuat makin berkembang pula kemampuan anaknya dalam menangani masalah.
Bisa dibayangkan, bagaimana jadinya bila ketika menghadapi ketidakbisaan anak
perempuannya, si ibu berkata "Kamu bodoh, menggambar bunga saja nggak bisa!".
Atau berkata "Gimana sich kamu ini, membuang-buang kertas dan cat saja".
Tentu saja si anak akan merasa gagal. Ia akan kehilangan kepercayaan diri,
merasa rendah diri. Dan ini bukan masalah sepele. Karena akan sangat menghambat
kemampuannya dalam menanggapi dan menyelesaikan masalah-masalah yang lain.
Tentu kita masih ingat dengan begitu banyaknya kasus bunuh diri di kalangan
anak-anak, akibat dari ketidakmampuannya dalam menanggapi dan menyelesaikan
masalah.
Atensi si ibu akan aktivitas melukis dari anak-anaknya juga merupakan hal tepat
sebab memang sesungguhnya otak belahan kananlah yang lebih dulu berkembang.
Dalam tulisannya yang berjudul Pendidikan Dimulai dari otak Kanan (bagian dari
buku Mencetak Anak Cerdas dan Kreatif, 2001), Salomon Simanungkalit
mengungkapkan bahwa perkembangan otak belahan kanan sudah dimulai sejak anak
berusia nol tahun. Sedangkan otak belahan kiri umumnya mulai berkembang pada
saat anak berumur enam tahun. Dan aktivitas melukis yang mengandalkan kemampuan
akan berkhayal, mengasah rasa seni adalah kerja otak kanan.
Otak kanan juga yang bertanggung jawab atas kemampuan mengendalikan emosi.
Sehingga sungguh sebuah tindakan luar biasa, yang sangat tepat, ketika sambil
melukis bunga, si ibu juga mengajarkan cara mengoper kuas dan cat, sehingga ia
dan kelima anaknya mempunyai kesempatan yang sama untuk menggambar.
Secara tidak langsung hal ini melatih anak untuk mengendalikan ego
masing-masing, menanamkan makna bekerja sama dan berbagi, melatihnya
mengandalikan emosi. Artinya menstimulus kecerdasan emosi anak-anaknya.
Selain Kecerdasan
Hingga kini masih banyak orang (tua) yang memuja kecerdasan intelektual yang
mengandalkan kemampuan berlogika semata. Orang tua merasa bangga dan berhasil
mendidik anak, bila melihat anak-anaknya mempunyai nilai rapor yang bagus,
menjadi juara kelas.
Tentu saja hal ini tidak salah, tetapi tidak juga benar seratus persen. Karena
beberapa penelitian justru menunjukkan bahwa kecerdasan emosional, kecerdasan
sosial dan kecerdasan spirituallah yang lebih berpengaruh bagi kesuksesan
seorang anak.
Hasil penelitian Daniel Goleman (1995 dan 1998) memperlihatkan bahwa kecerdasan
intelektual hanya memberi kontribusi 20 persen terhadap kesuksesan hidup
seseorang. Yang 80 persen bergantung pada kecerdasan emosi, kecerdasan sosial
dan kecerdasan spiritualnya. Bahkan dalam hal keberhasilan kerja, kecerdasan
intelektual hanya berkontribusi empat persen.
Sebuah survei terhadap ratusan perusahaan di Amerika Serikat, mengungkapkan
bahwa kemampuan teknis/ analisis bukan hal yang menentukan keberhasilan seorang
pemimpin/manajer. Yang terpenting justru kemauan, keuletan mencapai tujuan,
kemauan mengambil inisiatif baru, kemampuan bekerja sama dan kemampuan memimpin
tim.
Hasil identik juga disimpulkan dari penelitian jangka panjang terhadap 95
mahasiswa Harvard lulusan tahun 1940-an. Puluhan tahun kemudian, mereka yang
saat kuliah dulu mempunyai kecerdasan intelektual tinggi, namun egois dan
kuper, ternyata hidupnya tak terlalu sukses (berdasar gaji, produktivitas,
serta status bidang pekerjaan) dibandingkan dengan yang kecerdasan
intelektualnya biasa saja, tetapi mempunyai banyak teman, pandai berkomunikasi,
mempunyai empati, tidak temperamental sebagai manifestasi dari tingginya
kecerdasan emosi, sosial dan spiritual.
Pertanyaannya adalah, bagaimana cara untuk menumbuhkan kecerdasan emosi, sosial
dan spiritual pada anak-anak kita?
Kerja Pengasuhan
Menurut John Gottman dan Joan DeClaire dalam The Heart of Parenting (Kiat -
kiat Membesarkan Anak yang Memiliki Kecerdasan Emosional, 1997), cara
pembelajaran pengetahuan emosional adalah dengan menyadari perasaan anak dan
mampu berem-pati, menghibur dan membimbing mereka. Sementara Marsha Sinetar
dalam bukunya Spiritual Intelligence (Kecerdasan Spiritual, 2000) mengungkapkan
bahwa melalui teladanlah, anak bisa meningkatkan kecerdasan spiritualnya.
Ini artinya, upaya untuk meningkatkan kecerdasan emosi, kecerdasan sosial dan
kecerdasan spiritual anak tidak bisa sepertihalnya upaya meningkatkan
kecerdasan intelektual yang bisa dipacu dengan memasukkan ke sekolah-sekolah
favorit (yang umumnya adalah sekolah mahal), atau menjejali anak dengan aneka
macam les.
Sementara orang tua dituntut menyediakan uang sebanyak mungkin. Yang pada
akhirnya kerap dianggap sebagai alasan tepat oleh para ibu untuk ikut mencari
uang (umumnya di ruang publik).
Dan hasilnya, setiap tahunnya terjadi kenaikan tingkat partisipasi angkatan
kerja (TPAK) perempuan, khususnya di sektor informal dibandingkan dengan TPAK
laki-laki. Bila pada tahun 1980, prosentase TPAK perempuan 'baru' mencapai
58,1persen, pada tahun 2000 sudah menjadi 70 persen, naik 11,9 persen.
Sangat terbuka kemungkinan persentase ini akan terus meningkat, terlebih saat
ini gencar disosialisasikan bahwa agar supaya perempuan mempunyai posisi tawar
(terhindar dari aneka bentuk kekerasan) maka ia harus mandiri, termasuk dalam
hal ekonomi.
Di sinilah letak permasalahannya. Kondisi ini, di mana kedua orang tua sibuk di
ruang publik, akan mereduksi kemungkinan anak bisa meningkatkan kecerdasan
emosi, sosial dan spiritualnya. Sebab kecerdasan seperti ini sangat dipengaruhi
oleh teladan dan sentuhan personal yang penuh rasa cinta, atensi dan apresiasi.
Dalam konteks itulah aktivitas pengasuhan menjadi urgen. Dan pengasuh terbaik
bagi seorang anak adalah ibunya. Sebab ibulah, sosok yang paling dikenal oleh
anak.
Bukankah mereka (ibu dan anak) pernah mengalami 'hidup bersama' selama sembilan
bulan? Bukankah ibu pula sosok yang melalui payudaranya memberinya makan di
awal kehidupannya. Jadi tidaklah berlebihan bila ada ikatan yang sangat kuat
antara ibu - anak.
Belum lagi kondisi natural seorang perempuan yang memang sangat tepat untuk
melaksanakan kerja pengasuhan. Kondisi - kondisi ini merupakan modal besar
dalam proses pembelajaran emosi, sosial dan spiritual anak. Akankah hal ini
disia-siakan? Semestinya tidak.
Saya berharap, peringatan Hari Ibu kali ini dapat menyadarkan kita semua,
termasuk juga Pemerintah akan urgensi kerja pengasuhan serta besarnya potensi
yang dimiliki oleh para ibu terhadap keberdayaan anak-anaknya.
Sebagaimana ungkapan Dorothy Canfield Fisher bahwa "Seorang ibu bukan seorang
untuk dijadikan sandaran, tetapi seseoang yang menjadikan kita tidak perlu
bersandar ...." *
Penulis adalah adalah ibu rumah tangga yang sangat berminat pada masalah anak,
perempuan dan keluarga
--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 21/12/04
Best Regards
----- Original Message -----
From: "--==GuN==-" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, December 21, 2004 11:31 AM
Subject: [kmnu2000] tentang NU Mesir
|
|
| Salam,
| sebenarnya tidak semua pengurus NU Mesir seperti Aang, masih banyak
| mereka yang memiliki idealisme,kritis dan menjaga jarak. Seorang
| teman yang cerdas, Anis Masduki mengundurkan diri dari NU Mesir.
| Motifnya? kompleks sekali seperti bantah2an yang ada di milis ini.
| Saya tidak mau dibilang mengada-ada, atau menyebar isu, provokasi
| dll. Email dari teman di bawah ini jadi bukti, pengurus nu mesir
| yang--dalam bahasa teman ini--"pragmatis" membawa korban dinamika nu
| mesir.
| Sorry kalau posting email ini, karena soheh aang juga suka
| posting2an email :))
|
| Salam
|
| -GuN-
| *Sepandai-pandainya menyimpan bangkai pasti akan tercium juga.
| Soheh, haris dan aang, jangan suka menyimpan bangkai lah, kritis
| lah, kita sama-sama NU, tidak ada istilah aurat. Seperti dalam
| keluarga, aurat tidak berlaku (tentu bukan yang daleman hahaha)
|
| From: "Fu Lan" <[EMAIL PROTECTED]>
| Date: Mon Dec 20, 2004 3:43 pm
| Subject: Re: [numesir] Anis; Siapa lagi menyusul?
|
|
| ADVERTISEMENT
|
|
| pengunduran diri sahabat Anis jelas sangat memukul. setidaknya bagi
| saya. saya
| sangat terpukul sebab 'kehilangan' ia yang sahabat sekaligus guru
| saya. betapa
| pun saya dan kawan2 Afkar masih sangat besar membutuhkan
| bimbingannya. yang sya
| sayangkan lagi, pengunduran diri sahabat Anis tidak segera mendapat
| respon
| serius dari KT, atau elite tanfiziah
|
| opini yang dilemparkan sahabat Mukti Ali akan ("keluarnya saudara
| Anis secara
| resmi, ADALAH SALAH SATU BUKTI BAHWA PENGURUS PCINU TELAH GAGAL
| MENGAKOMODIR
| KECENDERUNGAN DAN SUARA LAIN") saya kira patut lebih jauh
| dipertimbangkan. dan
| mungkin inilah ujung pangkal sekaligus akar persoalannya: dialog
| buntu. sebagian
| kalngan terlalu memaksakan suara mereka, dan tak mendengarkan
| aspirasi kalngan
| yang lainnya!!!!
|
| hemat saya, NU sekarang seolah 'dikuasai' oleh pragmatisme-kalangan
| tua(--maaf,
| tanpa mengurangi rasa hormat saya pada beliau2--). sayangnya,
| kebijakan2
| kalangan tua (KT) banyak dipandang kurang demokratis oleh kalangan
| muda. lebih
| tak enak didengar lagi ketika yang tua malah 'menggerus' yang muda.
| naifnya lagi
| dengan dalih beda fikiran dan pemikiran.
|
| jika logikanya mengandalkan putusan rapat, ad-art, atau legal-formal
| itu lain
| lagi. porsinya kita bicara kultural. realitanya sekarang, mayoritas
| warga NU
| Mesir adalah mahasiswa. semangat dan nalar mahasiswa jelas beda jauh
| dengan KT.
| bisa jadi kalangan muda masih hidup dalam dunia idealisme mereka
| yang 'reno2',
| dan kalangan tua sudah dalam posisi pragmatis. masalahnya sekarang,
| kenapa
| pragmnatisme mengalahkan idealisme? kenapa kalangan pragmatisme tidak
| 'menyempatkan berbagi' dengan kalngan muda? bahkan terkesan
| menggerusnya.
|
| padahal siapa pun tahu, jika NU Mesir bangkit dari kubur sejak tahun
| 2001
| adalah berkat jasa besar kawan2 muda. kegiatan2 prestisius yang
| menjadikan nama
| PCINU kembali 'segar' juga kan sebab jasa besar kalangan muda: acara
| Juli,
| tarohlah contoih kecil, opaba, konfercab, diskusi, simposium,
| kegiatan2
| intelektual, kerja jurnalistik, bikin buletin-jurnal, bikin buku,
| thariqah, dan
| lain2nya (yang justeru dengan kegiatan2 itulah PCINU tercium ambune)
| kan yang
| 'banting keringat peras tulang' adalah kalangan muda (tanpa
| menafikan yang tua).
| melupakan jasa dan perjuangan seorang Anis Masduki dan kawan2 jelas
| sangat
| kurang perhitungan panjang.
|
| kemarin, mantan senior Afkar saya, Mudarris, juga mengatakan
| perencanaannya
| untuk mengundurkan diri. kawan-kawan muda sehaluan Anis pun banyak
| yang mengarah
| ke arah sana.
|
| ya!!!!!, yang saya takutkan NU Mesir terancam ditinggalkan oleh
| kalangan muda.
| kalangan muda yang kritis dan punya potensi strategis tentunya,
| bukan anak muda
| yang 'tuturut munding---manut-manut thok'. ditinggalkan sebab
| kekecewaan
| panjang, sebab dalih NU telah jadi sarang pragmatisme, NU tak lagi
| mau mendengar
| dan menampung aspirasi kaum muda, NU ternyata hanya dijadikan
| tunggangan mereka
| yang punya kepentingan sepihak, sementara rakyat-kultural (kbanyakan
| anak muda)
| hanya dikasih harapan, hiburan tak pasti, atau kado kosong bahkan
| ampas-ampas
| konflik dan permasalahan.
|
| saya berharap, ke depan NU Mesir bisa lebih bisa menampung beberapa
| aspirasi dan
| suara: mempertemukan berbagai arus dalam satu muara besar. tegasnya
| harus
| terdapat keseimbangan dan kesinambungan antara idealisme dan
| pragmatisme.
|
| pengalaman pahit ini kiranya bisa dijadikan kaca benggala yang
| betul2 kaca
| benggala. bahwa memang ada saatnya kita tak selamanya jadi 'budak'
| rapat-ad-art,
| seperti halnya tak selamnya memaksakan idealisme kita. bahwa yang
| tua harus
| menghargai yang muda jika mau dihormati yang muda, sebagaimana yang
| muda harus
| menghormati yang tua jika mau dihargai yang tua.
|
| Well, saya berharap, generasi2 sesudah saya tidak bernasib seperti
| generasi
| saya: yang 'disuguhi' dengan konflik2 dan permasalahan akut,
| generasi yang
| akhirnya terlupakan, tak mendapat perhatian.
| semoga.
|
| salam
| --ahmad ginandjar sya'ban--
| NB: ada yang punya obat patah hati sebab putus cinta ga??????? kalo
| ada, kirim
| segera ke
| sekretariattttttttttttttttttttttttttttttttttttt......................
| ..........
|
|
|
| Best Regards
|
|
| ----- Original Message -----
| From: "mukti ali" <[EMAIL PROTECTED]>
| To: <[EMAIL PROTECTED]>
| Sent: Monday, December 20, 2004 7:34 PM
| Subject: Re: [numesir] Re: Prihatin buat Yang KO
|
|
| |
| | Kita bersikap dan menyikapi problem kolektif (organisasi) mesti
| harus
| bersikap menjaga jarak terlebih dahulu dgn organisasi kita, sehingga
| jelas
| kapan saatnya kita menjadi diri kita secara orisinil dan kita
| sebagai pejabat.
| Dengan seperti itu, kita akan bisa berfikir kritis. Kalau kita selalu
| memposisikan kita sebagai pejabat, maka kita akan terjebak pada
| pobiah kritik,
| oto-kritik dan lebih parah takut jabatannya hilang. Ka rena itu
| bersikap
| 'oportunis', tidak punya keberanian untuk bersuara lain dengan yg
| lian. Otak
| buntu dan tersumbatnya daya nalar demi sebuah jabatan.
| |
| | Jabatan penting, tapi lebih penting lagi idealisme. Itu pandangan
| org
| idealis. Dan tidak ada istilah KO, ko' mempertahankan idealisme
| dianggap ko
| gimana sih Qodok ehhhh salah Qodri.... hehehhee (bercanda Qod).
| |
| | Doain mg naik.
| |
|
|
|
|
|
|
|
| ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
| Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
| Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
| http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/.DlolB/TM
| --------------------------------------------------------------------~->
|
| ______________________________________________________________________
| http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
| ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
| Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke:
| [EMAIL PROTECTED]
|
| Yahoo! Groups Links
|
|
|
|
|
|
|
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
$4.98 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/.DlolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke:
[EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/