NU Harus Mandiri (7/10)
Bismillah, Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu
`Ala Rasulillah, Wa'ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah
amma ba'du... 

--------------------------------------------------------------------------------


PENGANTAR :

Perkembangan politik Indonesia belakangan ini, perlu diamati secara serius. 
Apakah ada perubahan-perubahan substantif yang dialami Indonesia baik dari sisi 
ekonomi, politik, sosial dan budaya ? Apakah perubahan yang dilakukan mengarah 
pada kemajuan atau kemunduran ? lantas dimana akar problem yang menjadi 
ganjalan sehingga Bangsa Indonesia belum mengalami kemajuan dalam penegakan 
demokrasi ? Siapakah yang dapat berperan maksimal dalam penataan Indonesia ke 
depan ? 
Ditengah-tengah situasi itu, bagaimana posisi dan peranan NU dalam 
mengapresiasi perkembangan zaman. Bagaimana NU memainkan peran strategis dalam 
bidang sosial, ekonomi maupun Politik ?. Adakah kemajuan-kemajuan yang dicapai 
atau justru mengalami stagnasi? Bagaimana pula proses kaderisasi di tubuh NU 
dan dialektikanya dalam mengapresiasi nilai-nilai demokrasi ? Untuk menelusuri 
jawaban ini, wartawan NU Online, Ahmad Kosasih Marzuki mencoba melakukan 
wawancara jarak jauh dengan JJ. Kusni, Ph.D, pemerhati NU dari l'Ecole des 
Hautes Etudes en Sciences Sociales (l'EHESS, Sorbonne), Paris,France. 

Berikut ini petikannya :

T:9.Bagaimana anda melihat sistem kaderisasi dalam NU sehingga memunculkan 
tokoh-tokoh kontroversial seperti Subhan, Gus Dur, Hasyim yang walaupun mereka 
ditentang tetapi pikiran-pikirannya sangat berpengaruh?

J:[Kaderisisasi adalah soal yang sangat penting bagi perkembangan gerakan, 
termasuk gerakan kebudayaan. Gerakan kebudayaan adalah suatu gerakan yang 
menyentuh masalah paling hakiki, karena ia menyentuh masalah pola pikir dan 
mentalitas manusia -- hal yang paling dirusaki oleh Orba selama ini.  Pola 
pikir dan mentalitas sama dengan masalah pembentukan manusia yang berkarakter 
dan berwawasan manusiawi. Melihat keadaan manusia Indonesia sekarang, terkadang 
saya bertanya di mana manusia di negeri ini? 
 
Ketika di Paris bertemu Gus Dur puluhan tahun lalu, justru soal ini yang 
pertama-tama saya tanyakan kepada Gus Dur.Dan saya ingat benar, betapa Gus Dur 
sempat tercenung sejenak mendengar pertanyaan saya. Pertanyaan ini baru 
kemudian, ia jawab ketika kami bertemu di Kantor Pusat NU Jakarta beberapa 
tahun kemudian. Waktu itu Gus Dur mengatakan "Pertanyaanmu dulu sekarang sudah 
terjawab". Beliau pun menunjukkan tempat-tempat yang selayaknya saya datangi 
untuk mendapatkan jawaban pertanyaanku itu. Waktu itu, saya belum menjadi 
anggota milis [email protected] , belum kenal atau belum punya kontak  
dengan MG.Romli, Aman, Thomafi, OcHie, Aguk, Rizqon, Ntis, Ulil dan sederetan 
nama lain.. Saya mengenal dan berhubungan dengan nama-nama ini beberapa tahun 
kemudian setelah pertemuan saya dengan Gus Dur di Kramat Raya. Perkenalan 
[walaupun belum pernah bertatapan muka!] membuat saya mempercayai pernyataan 
Gus Dur bukan hanya untuk menenangkan kegelisahan saya tentang kader penerus 
NU. Saya melihat NU secara sadar menangani masalah kaderisasi ini. 
 
Yang menarik dari semua yang mereka saya kenal, kader-kader NU mempunyai ciri 
khas. Dari hampir semua kader NU dari berbagai angkatan mempunyai langgam dan 
gaya merakyat. Setenar apa pun nama mereka, gelar akademi apapun yang mereka 
raih, dari mereka tidak saya dapatkan keangkuhan intelektual yang suka  
"sok-sokan". Mereka selalu penuh canda, mengungkapkan pikiran dan perasaan 
dengan santai sekali pun tajam. Barangkali hal ini disebabkan karena mereka 
biasa dengan kehidupan pesantren yang berada di pedesaan, biasa dengan kerja 
badan sehingga mereka nampak tidak memisahkan secara tajam antara kerja fisik 
dan kerja otak. Mereka adalah orang-orang berwatak dan menyediakan tempat bagi 
kebenaran dari pihak lain. Apakah ini merupakan hasil dari kedekatan mereka dan 
NU yang dekat dengan massa lapisan bawah? Karena massa lapisan bawah akan 
menolak keangkuhan intelektual yang "sok-sokan".
 
Ketika NU juga mengirimkan tenaga-tenaga muda untuk belajar ke berbagai negeri, 
saya membaca kegiatan ini sebagai bentuk dari usaha NU mendidik kader-kader 
berwatak merakyat dan berketrampilan. Kader-kader yang bercakrawala wawasan 
yang luas. Barangkali dalam usaha kaderisasi ini, jumlah kader muda lelaki 
masih mengungguli jumlah kader-kader perempuan. Di hari-hari  mendatang saya 
membayangkan akan muncul dalam barisan NU kader-kader perempuan yang kian 
menjamur sehingga Ntis dan saudaranya Rosa Prabowo akan mendapat teman lebih 
banyak lagi. Masalah perempuan dan pembebasan perempuan saya kira merupakan 
salah satu kunci dalam usaha memanusiawikan manusia. Perempuan oleh orang 
Tiongkok disebut sebagai kekuatan yang "menyangga separo langit". Separo lagi 
disangga oleh lelaki. Sehingga jika perempuan tidak dibebaskan untuk menjadi 
manusia, maka langit hanya disangga oleh tangan lelaki maka bisa terjadi langit 
di atas kita akan "njomplang". Satu ujungnya bisa menimpa jutaan anak manusia. 
Apakah langit ide NU sampai sekarang tidak hanya disokong oleh sebelah tangan, 
yaitu hanya tangan lelaki? Kapan dan adakah kader perempuan yang masuk ke 
pimpinan pusat Nu? Mengapa tidak ada? Apa artinya ketiadaan mereka ini? 
 
Bung menyebut Subhan, Gus Dur, Hasyim sebagai "tokoh-tokoh kontroversial" "yang 
walaupun mereka ditentang tetapi pikiran-pikirannya sangat berpengaruh". 
"Kontroversial" kata sifat yang menunjukkan bahwa mereka adalah tokoh-tokoh 
berwatak. Watak ini pun berkembang sesuai pandangan seseorang, terutama 
pandangan hidupnya. Pandangan sangat dipengaruhi oleh keadaan. Sadar akan sifat 
dialektis watak ini maka di Republik Rakyat Tiongokok pada zaman Mao Zedong, 
kader-kader semua tingkat diwajibkan "sekali-kali jangan melupakan masa silam" 
dan "selalu dekat dengan rakyat" melalui kemestian "turun ke bawah" untuk waktu 
tertentu secara bergiliran. Bukanlah aneh pada masa itu jika seorang jenderal 
melakukan tugas jaga malam seperti seorang prajurit, Perdana Menteri dan 
Presiden turun ke pabrik dan pedesaan melakukan kerja-badan.  
 
Lingkungan Indonesia sekarang yang paling mengancam dan bersifat merusak adalah 
KKN. Godaan uang. Uang yang diciptakan manusia telah memperbudak penciptanya 
seperti Frankenstein. Saya hanya bisa berharap agar Frankenstein ini tidak 
mengetuk pintu NU dan menyerbu pesantren-pesantren. Karena jika hal ini terjadi 
dan tidak dihalau maka Frankenstein akan menyeret NU ke jurang petaka. Inipun 
satu watak kontroversial , tapi kontroversial  Dasamuka. 
 
Membaca berita-berita tentang Muktamar Boyolali, saya melihat NU dan saya 
teringat akan sebuah  baris sanjak penyair Agam Wispi alm. yang mengatakan: 
"bertimbun bangkai di kota rebutan". Berita-berita tentang Muktamar Boyolali 
membayangkan kepada saya bahwa NU tak obah sebagai sebuah "kota rebutan" yang 
bisa tidaknya jadi harapan bangsa dan kemanusiaan ditentukan oleh siapa yang 
menguasai "kota rebutan" itu. Berbicara tentang kalah dan menang,ia  
berhubungan dengan imbangan kekuatan. Kekuatan bertautan dengan pengaruh. 
Pengaruh bisa muncul dari uang, bisa muncul dari kekuasaan dan juga bisa 
dilahirkan oleh pekerjaan tekun penyadaran. Yang sadar akan tetap jadi manusia 
dan setia pada kemanusiaan, setia pada misi hidup matinya tidak tergertak oleh 
Dasamuka dan atau Frankenstein, seperti Nabi Isa [Yesus] ketika dicoba setan.
 
Dalam gerakan kebudayaan pergulatan begini akan terus berlanjut. Pergulatan 
kebudayaan adalah suatu pertarungan merebut "kota rebutan" bernama manusia.
 
Dengan latar pikiran di atas, saya melihat masalah "kontroversial" dan 
"pengaruh" tak obah seperti sebuah jalan simpang yang menanyakan kita mau ke 
mana? Kontroversial dan pengaruh tidak selalu bermakna positif dan terhormat 
serta sesuatu yang patut dibanggakan atau utama. Kalau tokoh-tokoh 
kontroversial itu mengajak orang melakukan bunuh diri kolektif, apakah watak 
dan pengaruh begini positif? Yang utama, apapun watak seseorang, betapa pun 
besar pengaruhnya tetap terletak pada pertanyaan apakah tokoh itu dengan segala 
warna wataknhya serta kadar pengaruhnya,  setia pada misi memanusiawikan 
manusia, kehidupan dan masyarakat.Apalagi kita ketahui bahwa seribu kepala 
seribu perangai. Kontroversial dan pengaruh bukan dasar penilaian hakiki, 
paling-paling bisa dijadikan dasar perhitungan dan pemahaman pribadi mereka].



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give the gift of life to a sick child. 
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/.DlolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke