Ternyata Gus Dur toh yang memperkenalkan ketiga orang
ini di khalayak Indonesia: Hassan Hanafi, Abu Zayd dan
A'zami...
Kalau Abu Zayd saya maklum karena berhadapan secara
diametral dengan A'zami, tapi mengapa A'zami ini
merasa juga berhadapan dengan Hassan Hanafi, saya
belum mengerti... Mohon penjelasannya...
Salam,
Nano
--- Lutfi Ahmad <[EMAIL PROTECTED]> schrieb:
> An: "'[EMAIL PROTECTED]'"
> <[EMAIL PROTECTED]>
> Von: Lutfi Ahmad <[EMAIL PROTECTED]>
> Datum: Fri, 15 Apr 2005 10:51:13 +0200
> Betreff: [CafeMuenchen] Mereka Ketakutan Pada
> Al-Quran (Wawancara: Muhammad Mustafa al-A'
> zami)
>
> Muhammad Mustafa al-A'zami:
> Mereka Ketakutan Pada Al-Quran
>
>
> SPESIALIS penakluk tesis kaum orientalis. Predikat
> itu tepat disematkan pada sosok Prof. Dr. Muhammad
> Mustafa al-A'zami, 73 tahun, guru besar ilmu hadis
> Universitas King Saud, Riyadh, Arab Saudi.
> Popularitas A'zami mungkin tidak setenar Dr. Yusuf
> Qardlawi dan ulama fatwa (mufti) lainnya. Namun
> kontribusi ilmiahnya sungguh spektakuler.
>
> Sumbangan penting A'zami terutama dalam ilmu hadis.
> Disertasinya di Universitas Cambridge, Inggris,
> ''Studies in Early Hadith Literature'' (1966),
> secara akademik mampu meruntuhkan pengaruh kuat dua
> orientalis Yahudi, Ignaz Goldziher (1850-1921) dan
> Joseph Schacht (1902-1969), tentang hadis. Riset
> Goldziher (1890) berkesimpulan bahwa kebenaran hadis
> sebagai ucapan Nabi Muhammad SAW tidak terbukti
> secara ilmiah. Hadis hanyalah bikinan umat Islam
> abad kedua Hijriah.
>
> Pikiran pengkaji Islam asal Hongaria itu jadi
> pijakan banyak orientalis lain, termasuk Snouck
> Hurgronje (1857-1936), penasihat kolonial Belanda.
> Tahun 1960, tesis Goldziher diperkuat Joseph
> Schacht, profesor asal Jerman, dengan teori
> "proyeksi ke belakang". Hadis, kata Schacht,
> dibentuk para hakim abad kedua Hijriah untuk mencari
> dasar legitimasi produk hukum mereka. Lalu
> disusunlah rantai periwayatnya ke belakang hingga
> masa Nabi.
>
> Saking kuatnya pengaruh Goldziher-Schacht, sejumlah
> pemikir muslim juga menyerap tesisnya, seluruh atau
> sebagian. Seperti A.A.A. Fyzee, hakim muslim di
> Bombay, India, dan Fazlur Rahman, pemikir
> neomodernis asal Pakistan yang cukup populer di
> Indonesia. Definisi hadis ala Goldziher-Schacht
> berbeda dengan keyakinan umum umat Islam. Bahwa
> hadis adalah ucapan, perbuatan, dan ketetapan Nabi
> yang telah diuji akurasinya oleh para ulama hadis
> seperti Bukhari dan Muslim.
>
> Namun belum ada sanggahan telak atas pikiran
> Goldziher-Schacht dengan standar ilmiah, selain
> disertasi A'zami. "Cukup mengherankan," tulis
> Abdurrahman Wahid saat pertama mempromosikan A'zami
> di Indonesia tahun 1972, "hanya dalam sebuah
> disertasi ia berhasil memberi sumbangan demikian
> fundamental bagi penyelidikan hadis." Gus Dur
> menyampaikan itu dalam Dies Natalis Universitas
> Hasyim Asy'ari, Jombang, tak lama setelah pulang
> kuliah dari Baghdad.
>
> Temuan naskah kuno hadis abad pertama Hijriah dan
> analisis disertasi itu secara argumentatif
> menunjukkan bahwa hadis betul-betul otentik dari
> Nabi. A'zami secara khusus juga menulis kritik
> tuntas atas karya monumental Joseph Schacht,
> judulnya On Schacht's Origins of Muhammadan
> Jurisprudence. Versi Indonesia, buku ini dan
> disertasi A'zami sudah beredar luas di Tanah Air.
> Murid A'zami di Indonesia, Prof. Ali Mustafa Yaqub,
> berperan banyak memopulerkan pikiran ulama kelahiran
> India itu.
>
> Ali Mustafa membandingkan jasa A'zami dengan Imam
> Syafi'i (w. 204 H). Syafi'i pernah dijuluki "pembela
> sunah" oleh penduduk Mekkah karena berhasil
> mematahkan argumen pengingkar sunah --sebutan lain
> hadis. "Pada masa kini," kata Ali Mustafa, "Prof.
> A'zami pantas dijuluki 'pembela eksistensi hadis'
> karena berhasil meruntuhkan argumentasi orientalis
> yang menolak hadis berasal dari Nabi."
>
> Setelah lama mapan dalam studi hadis, belakangan
> A'zami merambah bidang studi lain: Al-Quran. Namun
> inti kajiannya sama: menyangkal studi orientalis
> yang menyangsikan otentisitas Al-Quran sebagai kitab
> suci. Ia menulis buku The History of The Qur'anic
> Text (2003), yang juga berisi perbandingan dengan
> sejarah Perjanjian Lama dan Baru. "Ini karya pertama
> saya tentang Al-Quran," kata peraih Hadiah
> Internasional Raja Faisal untuk Studi Islam tahun
> 1980 itu.
>
> Sabtu pekan lalu, A'zami meluncurkan versi Indonesia
> buku itu dalam Pameran Buku Islam di Istora, Senayan
> Jakarta. Gus Dur, yang mengaku pengagum A'zami,
> bertindak sebagai panelis bersama pakar Quran dan
> hadis lainnya. Prof. Kamal Hasan, dalam pengantar
> buku itu, menilai karya A'zami ini relevan untuk
> meng-counter maraknya buku Hassan Hanafi, Nasr Hamid
> Abu Zayd, dan Mohammad Arkoun di Indonesia.
>
> Kamal menyebut mereka sebagai "pengikut jejak
> orientalis". Tetapi Hanafi dan Abu Zayd juga
> dipromosikan Gus Dur di Indonesia, seperti halnya
> A'zami. Dua kutub kajian ini tampaknya perlu dibaca
> bersama. Wartawan Gatra Asrori S. Karni, Luqman
> Hakim Arifin, dan Nordin Hidayat, Ahad lalu, bertemu
> A'zami di Hotel Sahid Jakarta. Berikut petikan
> percakapan mereka:
>
> Apa yang mendorong Anda menggeser objek studi dari
> hadis ke Al-Quran?
> Al-Quran dan hadis keduanya pegangan penting seorang
> muslim. Keduanya sama-sama berasal dari Allah SWT.
> Selain itu, kini orang-orang Barat, para orientalis,
> banyak mengkaji Al-Quran sekehendak mereka. Mereka
> begitu ketakutan pada Al-Quran. Bagi mereka,
> Al-Quran seperti bom. Karena itu, mereka ingin ada
> proses peraguan (tasykik) atas kebenaran Al-Quran.
>
> Studi orientalis generasi lama memang antipati pada
> Islam. Namun ada penilaian, arah kajian mereka
> akhir-akhir ini makin membaik: makin apresiatif dan
> empati pada Islam.
>
> Apanya yang membaik? Bila Anda hendak menyimpulkan,
> jangan dari fakta parsial. Anda harus menyimpulkan
> dari keseluruhan fakta. Masih ada orientalis yang
> menulis sejarah Nabi dan mengatakan bahwa musuh
> terbesar manusia di dunia adalah Muhammad, Al-Quran,
> dan pedangnya Muhammad.
>
> Dan problem mendasar kajian orientalis, mereka
> memulai kajiannya dengan tidak mempercayai Nabi
> Muhammad. Kita mengatakan, Muhammad adalah Nabi dan
> Rasul Allah. Menurut mereka, itu bohong besar. Jadi,
> mereka mengawali pembahasan dengan dasar pikiran
> bahwa Muhammad adalah pembohong, bukan rasul
> sebenarnya.
>
> Mungkinkah mengkaji Islam semata-mata untuk tujuan
> studi, tanpa tujuan dan bekal keimanan, sebagaimana
> kaum orientalis?
> Tidak mungkin. Agama apa saja, pada kenyataannya,
> sulit sekali mengkajinya tanpa keimanan. Kita lebih
> mudah mengkaji dan memahami Yahudi dan Kristen,
> karena kita percaya dan menghormati Musa, Harun,
> Maryam, dan Isa. Sementara orang Yahudi dan Nasrani
> tidak bisa memahami Islam, karena mereka mendustakan
> dan tak beriman pada Muhammad.
>
> Bila Anda baca tulisan orang Yahudi tentang Isa dan
> Maryam, Anda akan temukan ungkapan mereka sangat
> kotor dan menjijikkan. Ada yang menuding Isa telah
> berzina tiga kali. Kalau penulisnya muslim, tidak
> mungkin bilang begitu. Haram! Karena kita memuliakan
> para nabi terdahulu. Persoalannya, berapa banyak
> orang Islam yang mau mengkaji lebih jauh tentang
> keyakinan Yahudi dan Nasrani? Sedangkan mereka
> sangat intens melakukan kajian tentang Islam.
>
> Benarkah buku Anda sebagai counter atas corak kajian
> Al-Quran ala pemikir semacam Hassan Hanafi, Abu
> Zayd, dan Arkoun yang populer di Indonesia?
> Ini bukan counter langsung. Tapi ada hal penting
> yang harus digarisbawahi di sini bahwa otoritas
> menafsirkan Al-Quran ada di tangan Rasulullah. Kita
> percaya, Al-Quran berasal dari Allah dan diturunkan
> pada Muhammad. Allah berfirman, "Dan kami turunkan
> Al-Quran pada kamu agar kamu jelaskan pada manusia."
> Sama saja, bila ada problem konstitusi di Indonesia,
> misalnya, maka yang berwenang membuat interpretasi
> adalah para hakim Indonesia. Meski meraih gelar
> doktor di Universitas Cambridge, saya tidak punya
> otoritas menyelesaikan problem konstitusi di
> Indonesia.
>
> Jadi, kalau ada orang berpikir liberal, lalu
> menafsirkan perintah salat dalam Al-Quran semaunya,
> tidak mengindahkan tuntunan Rasul sebagai penafsir
> yang mendapat mandat dari Allah, maka saya katakan,
> "Siapa Anda? Siapa yang memberi Anda otoritas
> membuat tafsir sendiri?" Orang-orang seperti Hassan
> Hanafi dan Abu Zayd itu adalah "anak-cucu" Barat.
> Tak perlu meng-counter langsung mereka. Kecuali
> kalau terpaksa. Saya sebenarnya tidak peduli pada
> pemikiran-pemikiran mereka. Saya ingin membentuk
> pandangan saya sendiri.
>
> Dalam pandangan Anda, apa yang membuat beberapa
> pemikir muslim menyerap pengaruh Barat? Tidakkah
> karena kekuatan argumentasi Barat?
> Persoalan pokok sebenarnya adalah soal iman. Dari
> berbagai informasi, sangat nyata kebanyakan dari
> mereka adalah fasik (banyak berbuat dosa) dan
> sedikit sekali yang religius (mutadayyin). Mereka
> tidak puasa dan tidak salat. Ketika bulan Ramadan,
> subuh mereka bangun, makan pagi, tapi ketika magrib,
> ikut berbuka bersama lainnya, malamnya juga ikut
> sahur, ha, ha, ha....
>
> Hasan Hanafi dan Nasr Abu Zeid misalnya, tidak
> belajar di sekolah-sekolah Barat. Tapi pemikiran
> mereka seperti mewakili pemikiran Barat. Mungkinkah?
> Tentu. Karena buku-buku kajian mereka berasal dari
> Barat. Tapi Nasr Abu Zeid pernah belajar secara
> khusus di Jepang.
>
> Kami pernah mengulas buku Prof. Christhop Luxenberg
> (nama samaran) yang berkesimpulan, bahasa asli
> Al-Quran adalah Aramaik, jadi yang beredar sekarang
> Quran palsu. Komentar Anda?
> Ah, dia pemikir bodoh. Beberapa penulis mengomentari
> bahwa pengetahuannya tentang bahasa Syiriya-Aramaik
> sangat dangkal. Kata dia, Al-Quran berasal dari
> bahasa Aramaik, kemudian setelah 100 tahun beralih
> ke bahasa Arab. Sehingga disebut Quran kondisional.
> Itu sama sekali bukan kajian ilmiah.
>
> Apakah pemikiran Chistof ilmiah atau tidak?
> Tidak. Sama sekali jauh dari pemikiran ilmiah...
>
> Apakah ini merupakan salah satu cara dari para
> orientalis untuk merusak umat Islam?
> Itu nggak ada artinya. Tapi sekarang beberapa kali
> dan akan berkali-kali, mereka menginginkan bahwa
> ketika Al-Quran dibuat tidak ada titik dan tasydid.
> Nah, sekarang mereka menginginkan agar Al-Quran
> diperbarui dari sisi titik dan tasydid-nya. Lalu,
> membacanya seperti yang kita kehendaki, memberi
> tanda-baca baru, dan menjadikannya baru. Al-Quran
> lalu menjadi Al-Quran sesuai kebutuhan
> (kondisional).
>
> Apakah mereka juga memiliki kaidah dasar untuk
> membuat Al-Quran kondisional tersebut?
> Kaidahnya ya sekehendak hati mereka. Karena mereka
> memberi tanda baca sesuai kebutuhan mereka.
>
> Ada pendapat yang mengatakan bahwa Al-Quran
> merupakan produk budaya. Apa komentar Anda?
> Itu pendapat Nasr Abu Zeid. Tapi apa yang sebenarnya
> disebut produk budaya? Ini tak ubahnya ketika orang
> menyebut "terorisme". Semua berbicara terrorism.
> Tapi tidak pernah ada satu pun definisi yang
> muttafaq alaihi tentang terorisme. Terorisme justru
> kerap dikaitkan dengan Islam. Kita perlu memahami
> apa pengertiannya dulu.
>
> Dalam hal ini, apakah pengertian produk budaya sama
> dengan asbabun nuzul (memahami Quran secara
> kontekstual)?
> Tidak (sama). Memahami Quran secara kontekstual bisa
> dilakukan, jika "sesuatu" mempunyai kaitan dengan
> asbabun nuzul, tapi tak bisa diterapkan di semua
> tempat. Kecuali di beberapa tempat khusus yang
> merupakan sebab turunnya (ayat). Jadi, Anda tak bisa
> datang dan langsung mengatakan aqiimus shalat.
> Padahal di sana tidak ada asbabun nuzul, karena di
> sana adalah amr (perintah). Seharusnya, sebelum itu
> ada sebab. Allah adalah pencipta seluruh makhluk.
> Tentunya Dia tahu mana yang berbahaya dan bermanfaat
> bagi makhluk-Nya.
>
> Jangan bermain dengan Api! Tidak ada ...konteks di
> sini. Tidak hanya berlaku sekarang tapi selamanya.
>
> Ini wacana yang elit. Apa hal penting dari buku Anda
> bagi orang-orang awam?
> Saya tak bisa mengemukakan sesuatu untuk semua
> orang. Jadi saya sudah kepikiran untuk menulis buku
> baru, yang bisa dibaca dan dipahami oleh semua ummat
> Islam.
>
> Anda pernah belajar dan lulus dari sebuah
> universitas di Barat. Tapi sikap anda tampak
> konservatif, dalam arti tidak liberal orang-orang
> seperti Hassan Hanafi atau Nasr Abu Zeid. Mengapa?
> No! Saya kira ini pertanyaan dan persoalan tentang
> iman. Ha...ha..ha...
>
> Menurut anda, apa yang salah dengan Barat?
> Apa yang salah dengan Barat adalah sikap
> (attitude)-nya.
>
> Apa tantangan terbesar bagi umat Islam saat ini?
> Kitalah sesungguhnya tantangan terbesarnya. Karena
> kita tidak mempraktekkannya.
>
> Man ghassa falaisa minna. "Barangsiapa yang menipu
> tidak termasuk golongan kami". Kalau anda mengambil
> hadis dan mengujinya di dalam kehidupan (Adzami
> memberi contoh, bagaimana ia menemukan seorang
> penjual susu yang menempelkan hadis ini di atas
> tokonya, tapi ternyata ia menambah air dalam susu
> yang dijualnya). Meskipun Anda percaya Al-Quran dan
> Hadis, tapi dalam praktek kehidupan kita kita jauh
> dari sunnah. Ini salah satu kesulitan kita. Kalau
> kita menjadi good practicse-nya moslem. Saya tidak
> bicara tentang Islamisasi ilmu di sini. Tapi saya
> ingin menegaskan bahwa pengetahuan di Islam masih
> sangat jauh dari praktek. Islam itu sebenarnya
> pratek, bukan teori.
>
> [Agama, Gatra Nomor 22 Beredar 11 April 2005]
___________________________________________________________
Gesendet von Yahoo! Mail - Jetzt mit 250MB Speicher kostenlos - Hier anmelden:
http://mail.yahoo.de
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Give underprivileged students the materials they need to learn.
Bring education to life by funding a specific classroom project.
http://us.click.yahoo.com/4F6XtA/_WnJAA/E2hLAA/.DlolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke:
[EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/