Neng Ena??rupanya anda aktivis PMII jg nih...? pengamat atu 
komentator..? he..he...

Hal yang anda sebutkan itu bukannya sekadar terlupakan?.memang 
dilupakan, atau tak dipikirkan mendalam (laa yufakkar). Misalnya kok 
masih berkutat pada pembahasan ASWAJA mau diapain lagi. Mau 
dipertahankan atau dibuang. Nah katanya merujuk pada para 
tokoh, "nabi-nabi" PMII, semisal Hassan Hanafi. Dia proyeknya 
salahsatunya turats dan tajdid. Ga ada proyek membuang (hadzf). Tapi 
merevitalisasi atau memperbarui, dalam arti menggerakkannya agar bisa 
hidup lagi. Hal Aswaja ya dipajang aja namanya, masih cukup cantik 
kok. Agar gak usang kaya punya NU ya pake versi PMII dipoles dan 
dikemas (dimaknai) secara progresif-transformatif lagi. Seperti yang 
pernah saya sampaikan dulu, bagi sahabat-sahabat yang pernah ikut 
simposium aswaja dan pergerakan 2003 lalu.., tentu masih 
ingat....Jadikan aja manhaj al-fikr al-wasathy....(Paradigma Kritis 
Moderatis, PKM). Tengah merupakan titik pijak. Kemana-mana kan 
gapai..ke depan, belakang, kanan, kiri, atas, bawah...ok....Jadi gak 
kaku. Gitu Aja Kok Repot! 

Saya setuju dengan yang dikatakan Hatim Ghazali mengenai, bisalah 
dikatakan sebagai salah kaprah, tidak kreatif, dan visioner. Di mana 
mendefinisikan atau mempopulerkan istilah kader militan bagi kader 
yang suka di jalanan, berdemo. Lha yo mbok ingat to?.! PMII itukan 
pergerakan (movement). Gerak yang ga ngandalkan pada fisik aja. 
Jadinya ga jauh beda dengan yang berkaki empat dan berkuku?.Ingat 
juga tuh ngadalkan otot/fisik akhirnya kaya Tyson, si leher beton. 
Keok juga kan?! Olehkarena itu, gerakan ya di gerak fikir 
(inteletualitas), dzikir (kesadaran dan keteguhan hati), serta 
gerakan amal shaleh (praksis). Lha yang praksis kan belakangan. Coba 
ingat tuh DZIKIR-PIKIR-AMAL SALEH. Artinya ingin gerakan praktis, 
perlu kosep matang, wacana oke, dan kebulatan tekat serta keteguhan 
jiwa dalam kebersamaan. 

Langkahnya menurut saya, bisa dimulai dengan membuat spesifikasi. 
Misalnya, di Yogya fokus di kajian filsafat atau sosial. Di Jombang 
fokuskan di ushul fiqh. Di Jakarta fokuskan di pemikiran keagamaan. 
Kalau lalu dibuat seperti ini, PMII akan melahirkan bibit2 dan kader2 
intelektual, seperti yang disebutkan oleh Hatim, semisal Pak Masdar 
F. Mas'udi. 

PMII kan bukan partai politik. Ya orientasinya jangan politik praktis 
dong. Ya itu tadi orientasinya arahkan ke gerakan intelektualitas. 
Meski demikian, pengamatan terhadap atau "kerja" perpolitikan juga 
tidak boleh diabaikan, namun ingat bukan orientasi dominan.

Saat ini dan ke depan, orientasi intelektualitas perlu diusung dan 
dikedepankan ok... Bentuklah realitas/sejarah masa depan bangsa 
dengan gagasan-gagasan progresif, dan kerja-kerja praksis secara 
bertahap. 

Gitu dong sahabat-sahabat. Terutama kepengurusan PMII yang baru. 
Selamat Bekerja, Kembalikan Citra Pergerakan Dzikir-Pikir dan Amal 
Salehmu...!!! Ku kan bersamamu.....  

Salam Transformatif

Jakarta,

`Aly MD


--- In [email protected], Ena Nakiah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> PMII........yang baru........
> Saya juga bertanya-tanya kepada PB PMII yang baru ? Mau dibawa 
kemana kapal PMII kedepan? Apa isu yang akan diusung? 
> Persoalan mahasiswa yang sekarang study oriented, tidak peduli lagi 
dengan persoalan masyarakat, berkembangnya organisasi militan yang 
berbeda, bagaimana PMII meresponnya?
> Apa aksi yang akan dilakukan menyikapi persoalan kerusakan budaya 
Indonesia? 
> kalau dulu zaman 80an, teman-teman PMII harus belajar komputer, 
lalu sekarang isue 2005 mau belajar apa menghadapi pasar bebas? 
Bagaimana PMII memberikan pengkaderan kepada mahasiswa baru,  
pernahkah di evaluasi? PMII menurut saya, harus terus mereposisi 
peran kejumudannya kearah sikap yang kreativ. he..he..he...
>  
> Salam PMII
> NAJ
> 
> Hatim Ghazali <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> Catatan Untuk Kongres PMII XVII
> 
> Membaca Agenda Yang Terlupakan
> 
> Oleh : Hatim Gazali
> 
> [Aktif di PMII UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta]
> 
> 
> 
> 
> 
> Sudah lazim, setiap organisasi yang menggelar hajatan besar seperti 
Kongres, Muktamar yang selalu mengemuka perebutan struktur dan 
jabatan. Tak terkecuali Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) 
yang kini melaksanakan Kongres XVII di Bogor (26-31/05/2005). 
Seperinya perebutan struktur sangat mulia dan tak ada agenda lain 
yang bisa menandinginya. Merumuskan konsep, masa depan, visi-misi dan 
agenda PMII kedepan tak pernah menjadi perbincangan yang serius dan 
mendalam. 
> 
> Maka, tidak heran jika jauh-jauh hari masing-masing calon melakukan 
konsolidasi ke beberapa daerah/wilayah/cabang untuk memilih dirinya 
ketika pencalonan nanti. Bahkan money politic menjadi jalur yang 
absah yang meraih cita-cita tersebut. Siapa yang berani bayar mahal, 
maka dialah yang akan terpilih. Hal semacam ini juga terjadi di tubuh 
PMII. 
> 
> PMII sebagai organisasi mahasiswa yang seringkali menyuarakan 
demokratisasi, anti money politic, dan isu-isu kerakyatan lainnya 
pada kenyataannya seringkali menygughkan fenomena sebaliknya. Kongres 
yang merupakan forum tertinggi tidak sekedar untuk mendemisioner 
pengurus lama dan memilih pengurus baru. Lebih dari itu, Kongres juga 
diharapkan menjadi sarana untuk berbincang hal-hal yang fundamental 
dan krusial ditubuh PMII. Misalnya, tentang kaderarisasi, aras gerak 
dan agenda-agenda kedepan. Sehingga, Kongres bisa menjadi ruang 
dialektika dan diskursus yang menarik. Penulis tidak hendak 
mengatakan bahwa memilih pengurus baru dalam Kongres bukan tidak 
penting. Tetapi, jika Kongres diadakan semata-mata untuk hal tersebut 
sungguh sangat remeh. Sebab, organisasi yang baik tidak hanya 
ditentukan oleh pengurus, tetapi juga sistem yang mengitari 
didalamnya.
> 
> Jika mau jujur, ada beberapa persoalan mendasar yang perlu segera 
mendapat penanganan yang serius dari seluruh pengurus PMII baik 
pusat, cabang sampai Komisariat. Pertama, sepinya intelektual. 
Disadari atau tidak, sejak tahun 1998 ketika gerakan mahasiswa 
tersentral pada aksi-aksi jalanan, seluruh gerakan mahasiswa (baca: 
Organsiasi Kepemudaaan, OKP) terjebak pada hal tersebut. Sehingga, 
bidang intelektualitas tidak pernah menjadi perhatian yang sangat 
serius. Gerakan-gerakan politik, baik ditingkat pusat, regional 
maupun masing-masing kampus lebih mengemuka daripada gerakan-gerakan 
intelektual. 
> 
> Bahkan, definisi kader yang militan adalah kader yang sering 
melakukan aksi demonstrasi, dan gerakan-gerakan politik. Sebaliknya, 
orang-orang yang tidak aktif dijalanan tidak dikategorikan sebagai 
aktivis pergerakan atau "kader militan". Kelompok-kelompok mahasiswa 
yang aktif di Lembaga Pers, penulis, budayawan, sastrawan dan lain 
sebagainya sama sekali tidak dikategorikan sebagai aksi-aksi gerakan 
moral, walaupun apa yang disuarakan mereka juga memiliki sinergisitas 
dan pesan yang sama dengan apa yang diperjuangkan "kader jalanan". 
Karena itulah, tidak sedikit diantara mahasiswa yang memiliki cita-
cita untuk menjadi aktivis jalanan, dengan mengesampingkan kuliah, 
nilai baik dan ilmu pengetahuan. 
> 
> Pemaknaan yang sedemikian sempit ini tentu tidak bisa 
dipersalahkan. Sebab, yang menonjol diantara mahasiswa adalah mereka 
yang bisa melakukan aksi turun jalan. Akan tetapi, mengikuti 
pengertian gerakan yang disempit diatas tentu akan membawa akibat 
yang tidak remeh. Mahasiswa yang memiliki kecenderungan selain 
jalanan akan hengkang (tidak aktif) atau bahkan tidak berminat untuk 
mengikuti organisasi pergerakan mahasiswa seperti PMII, HMI, IMM, 
KAMMI dan lain sebagainya. 
> 
> Lihat saja ketika organisasi kepemudaan diatas membuka pendaftaran 
(Pelatihan Kader Dasar, PKD/Latihan Kader, LK/Darul Arqom, DA dsb) 
cukup banyak diminati mahasiswa, tetapi pasca itu jumlah mahasiswa 
yang aktif diorganisasi tersebut semakin surut. Semakin minimnya 
mahasiswa yang aktif diorganisasi pergerakan dikarenakan tidak 
tersedianya ruang dalam organisasi tersebut. Padahal diakui atau 
tidak, mahasiswa yang memiliki kecenderungan diluar itu sangatlah 
tumpah ruah. 
> 
> Jika mau jujur, makna pergerakan sendiri meliputi semua aspek 
dengan satu catatan mengandung nilai emansipasi, pembebasan. Gerakan 
mahasiswa tidak mesti dimaknai dengan aksi turun jalan. Jika aksi 
turun jalan sudah tidak lagi mampu menyedot simpati masyarakat, 
apakah PMII akan tetap memaksa dengan aksi turun jalan. Bagaimanapun, 
sebuah gerakan mahasiswa tidak mempunyai makna apa-apa tanpa ada 
dukungan dari masyarakat banyak yang meliputi pemerintah, rakyat dan 
lain sebagainya.
> 
> Konon, PMII sangat respek dan responsip terhadap bidang 
intelektualitas kader. Lihat saja kader-kader PMII era 80-an dan 90-
an awal yang kini banyak bertengger ditingkat nasional. Misalnya-
untuk menyebut sebagian?Jadul Maula, Hairus Salim, Ahmad Baso, 
Marzuki Wachid, Sumanto, Masdar F. Mas'udi dan lain sebagainya. Kini, 
sulit untuk menemukan kader PMII yang menekuni bidang 
intelektualitas. Jika ternyata ada kader yang berkonstrasi pada 
intelektual, maka dengan cepat dia akan termarginalkan diantara 
sahabat-sahabat PMII yang lain. 
> 
> Dalam hemat saya, intelektualitas PMII perlu segera menjadi skala 
prioritas sebelum PMII semakin terjebak pada gerakan-gerakan politik 
praktis. Sebab, kedepan PMII diharapkan menjadi pioner dalam 
melakukan perubahan sosial. PMII bukan sekedar organisasi latihan 
demonstrasi. Lebih dari itu, PMII merupakan organisasi pergerakan 
yang memiliki makna yang sangat kompleks. 
> 
> Kedua, keberagamaan. Ada stigma yang kurang baik tentang PMII 
diantara mahasiswa. Bahkan, kader-kader PMII lebih cenderung untuk 
meninggalkan ajaran-ajaran agama seperti shalat dan puasa. Stigma 
semacam itu tampaknya benar. Sejauh pengamatan penulis, tidak jarang 
kader-kader PMII yang meninggalkan ajaran agama. 
> 
> Sebenarnya, dalam hemat penulis, melaksanakan ataupun meninggalkan 
shalat dan puasa tidaklah menjadi persoalan. Itu adalah urusan 
individu-personal kader PMII sejauh itu berangkat dari refleksi 
pergulatan yang mendalam, tidak sekedar ikut-ikutan ataupun malas. 
Tapi, yang menjadi persoalan adalah opini publik. Dengan opini yang 
demikian itu, tidak jarang mahasiswa enggan masuk PMII. 
> 
> Sebaliknya, organisasi yang menekuni bidang itu, seperti KAMMI dan 
Gema Pembebasan, semakin diminati oleh mahasiswa. Lihat saja beberapa 
kampus umum yang kini didominasi oleh mereka. ITB, UGM, UI dan 
beberapa kampus umum lainnya lebih banyak didominasi oleh kelompok 
revivalis (baca: fundamentalis). Jargon-jargon syariat Islam, 
khilafah islamiyah seakan menjadi trend mahasiswa saat ini. Peserta 
workshop Jaringan Kampus yang diadakan Jaringan Islam Liberal (JIL) 
pada 28 Februari s/d 1 Maret 2005 di Utan Kayu semua memberikan data 
bahwa gerakan Islam revivalis semakin menguat. 
> 
> Kondisi semacam ini tidak boleh tidak harus direspon oleh PMII. 
Sebab, tidak menutup kemungkinan PMII akan tutup buku di beberapa 
perguruan tinggi. Penulis tidak hendak mengkampanyekan agar PMII 
melakukan hal yang sama. Yakni memperjuangkan syariat Islam dan 
khilafah islamiyah. Yang perlu segera dilakukan adalah revitalisasi 
wacana dan gerakan keislaman dalam tubuh PMII. Disamping itu, wacana 
keislaman ini juga akan membantu PMII ketika melakukan korespondensi 
dengan masyarakatnya, yakni warga nahdliyin yang memiliki tradisi 
fiqhiyyah. Sehingga, PMII tidak tercerabut dari akar tradisinya. 
Atau, jika PMII tidak lagi mau berbicara tentang wacana keislaman, 
tak ada yang salah jika nama PMII diganti. Bukan Pergerakan Mahasiswa 
Islam Indonesia tetapi Pergerakan Mahasiswa Independen Indonesia.
> 
> Dengan mengganti singkatan tersebut, PMII perlu peduli lagi dengan 
wacana dan gerakan keilsmanan. Dan, semua agama-pun bisa menjadi 
keanggotaan PMII. Ia akan lebih terbuka dengan seluruh agama dan 
aliran kepercayaan. Tetapi, itukah yang dikehendaki oleh para 
founding father's PMII seperti Mahbub Junaidi. Tentu tidak. Sebab, 
cikal bakal dan anteseden lahirnya PMII tidak terlepas dari kejumudan 
dan konservatisme warga Nahdlyin. Maka, PMII ?disamping juga 
organisasi kepemudaan yang dimiliki NU?di harapkan menjadi generasi 
masa depan. 
> 
> Ketiga, jaringan komunikasi. Telah diakui bersama, bahwa jaringan 
komunikasi baik dalam internal PMII ataupun PMII dengan Nahdlatul 
Ulama (NU), ataupun PMII dengan senironya sangat lemah. Lemahnya 
jaringan komunikasi dan koordinasi akan menjadi kendala bagi kemajuan 
PMII dalam mewujudkan cita-citanya. 
> 
> Al-hasil, kedepan?paling tidak?PMII harus memperhatikan ketiga hal 
tersebut diatas. Dan, Kongres bukan sekedar momentum suksesi, tetapi 
juga area untuk berdialektika, sharing, dan merumuskan agenda yang 
lebih visioner dan progresif. Wallahu `a'lam.
> 
> Email: [EMAIL PROTECTED]
> 
> Salam............
> 
> __________________________________________________








______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke