Ass, Selamt bergabung Mas! bagaimana kabarnya? berapa jumlah mahasiswa Nu disana? kapan Mas libur? ya main2 lah ke mesir, kita menunggu.
Wass, M.L. Qodri Bendahara PCI-NU Mesir --- In [email protected], NU Libya <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Nama ; > Iwan Zainil Ghulam > > Status: Mahasiswa S-2 Jur. Ulumul Al-Qur'an > International Islamic Cal College > Tripoli Libya > > Alamat di Libya: > International Islamic Call College > PO. BOX. 86072 > Tripoli Libya > > Alamat di Indonsia: > PP. Raudlatul Ulum > PO. BOX. 09 > Besuk Kejayan Pasuruan > Jawa Timur > > > -GuN- <[EMAIL PROTECTED]> wrote:Salam, > Pagi itu, usai menemui imam masjid Paris, Dr. Dalil > Boubakeur di kantornya yang berada di dalam kawasan > masjid Paris yang sangat antik dan indah, dengan > arsitektur dan interior yang khas pada bangunan > mediterianian dari abad-abada keemasan Islam, saya > beruntung menemukan sebuah toko buku yang luar biasa > kaya dengan koleksi-koleksi langka. Dikelola oleh > seorang "pecinta ilmu" dari Libanon, Hachem Mouawieh, > toko buku Avicenne Libariarie adalah semacam "taman > pemikiran" yang tak kalah indahnya dengan "taman-taman > kota" lain yang bertebaran di kota Paris (Kapan > Jakarta mempunyai taman kota yang hijau, rindang, > tempat untuk melepaskan penat dan "ngelamun"?). Toko > ini mempunyai dua cabang, satu di 25, rue Jussieu, > Paris dan yang lainnya di 30, rue des Fosses St > Bernard, Paris. Yang pertama khusus menjual buku-buku > pemikiran Islam dalam bahasa Perancis, yang kedua > berbahasa Arab. Yang menarik minat saya tentu yang > kedua ini. > > Inilah adalah toko buku yang menjadi langganan para > pemikir-pemikir Islam besar yang tinggal di Paris, > seperti Mohamed Arkoun, Hachem Saleh, Malek Chebel, > Youssef Seddik, Nasr Hamid Abu Zaid, Muhsin Mahdi > (seorang sarjana penting setelah Rosenthal yang > memperkenalkan Ibn Khaldun ke dunia Barat), dll. > Barangsiapa ke Paris, dan mempunyai minat besar di > dunia pemikiran Islam, maka mengunjungi toko buku ini > hukumnya adalah fardlu 'ain. Koleksinya lengkap, meski > ruag tokonya tak terlalu besar: mulai dari tafsir, > hadis, kalam, filsafat, tasawwuf, sastra, sampai ke > buku-buku para pemikir Islam kontemporer. Tampaknya > pemilik toko buku ini mempunyai "passion" atau syahwat > besar pada dunia pemikiran, sehingga ia hanya menjual > buku-buku yang memang sangat dibutuhkan oleh kaum > "khawashul khawash", kaum pemikir dan intelektual. Dia > bisa menunjukkan buku-buku kepada saya sambil > menerangkan isinya dengan cukup detil dan mendalam. > > Traktak-traktak filsafat Islam klasik bisa kita > temukan dengan cukup lengkap di sana, dan ditempatkan > di bagian yang terpisah, berjejer dengan > traktak-traktat tasawwuf. Saya sungguh terkejut karena > di sana saya temukan traktat filsafat klasik yang > dikarang oleh seorang teolog Yahudi, Musa ibn Maimun > (1135-1205 M), atau lebih dikenal dengan Maimonides, > "Dalalat al Hairin". Saya menjumpai pula edisi yang > sudah diedit dengan kritis dari risalah klasik yang > menyerupai sebuah novel, yaitu "Hayy ibn Yaqdzan". > Risalah ini sebetulnya beredar di di mana-mana, tetapi > yang unik pada edisi yang saya jumpai di sana adalah > bahwa ia merangkum tiga versi dari risalah itu. > Seperti kita tahu, risalah dengan judul itu dikarang > oleh tiga tokoh yang berbeda, yaitu Ibn Thufail, Ibn > Bajjah dan Al Suhrawardi al Maqtul. Naskah yang saya > temukan itu merangkum ketiga versi itu, dan diedit > dengan cukup bagus oleh Ahmad Amin. > > Kejutan-kejutan lain terus bersusulan. Di sana, > misalnya, saya menemukan pula sebuah buku yang ditulis > oleh salah seorang ulama penting dari kalangan > Mu'tazilah, yaitu Abul Husein al Khayyath al > Mu'tazili. Buku itu adalah kritik atas salah seorang > zindik (agnostik) besar Islam yang dulunya berada di > kubu Mu'tazilah, tetapi kemudian "membangkang", yaitu > Ibn Rawandi (yang ingin mengetahui sekilas > pemikiran-pemikiran Ibn Rawandi, silahkan membaca buku > yang ditulis oleh Ibn Warraq, "Leaving Islam"; ada di > perpustakaan Freedom Institute). Bagi pengkaji > pemikiran Mu'tazilah, buku itu tentu tak asing lagi, > yaitu "Kitab al Intishar wa al Radd 'ala Ibn al > Rawandi al Mulhid" (Kitab Kemenangan: Kritik atas Ibn > al Rawandi yang Agnostik). Buku ini termasuk langka, > dan selama berabad-abad hilang dari peredaran, karena, > sebagaimana kita tahu, buku-buku kaum Mu'tazilah > umumnya dibenci dan dijauhi sebagai "barang najis". > Buku ini penting karena merekam dua hal sekaligus: > pemikiran kaum Mu'tazilah yang jarang kita ketahui > kecuali melalui karya-karya para musuhnya, dan tentu > pemikiran Ibn Rawandi yang memang tidak mungkin dibaca > oleh umat Islam karena seluruhnya karyanya disensor, > sebab dianggap sebagai semacam "Nietzsche" yang > menghancurkan fondasi doktrin Islam. > > Mungkin menarik membaca kisah bagaimana buku ini bisa > "lahir" kembali ke dunia. Terbitnya buku ini adalah > berkat usaha seorang orientalis Swedia, H. S. Nyberg > (Universitas Uppsala, Swedia), yang membongkar buku > itu dari koleksi-koleksi manuskrip kuno di "Dar al > Kutub al Mishriyyah". Menurut Nyberg, manuskrip buku > karya Al Khayyath ini adalah manuskrip kedua paling > kuno yang ditulis dalam bentuk kertas yang bisa kita > miliki saat ini, setelah manuskrip Abi 'Ubaid, "Gharib > al Hadis" yang selesai disalin pada 311 H (awal abad 4 > Hijriyyah atau 10 Masehi). Naskah manuskrip "Al > Intishar" sendiri selesai disalin pada 347 H. > > Buku ini, seperti saya katakan tadi, "tenggelam" lama > dalam timbunan sejarah, hingga akhirnya ditemukan oleh > orientalis Swedia itu dan diedit secara kritis > sehingga bisa dibaca dengan enak oleh publik sekarang. > Untuk memperlihatkan bagaimana buku itu sendiri > sengaja "dihindarkan" dari publik agar tak dibaca, > Nyberg mengutip kalimat yang berisi semacam > "peringatan" yang ditulis oleh pemilik awal naskah > itu. Inilah bunyi lengkap peringatan yang ditulis di > sampul kitab itu: > > "Puji bagi Allah yang Maha Hebat, Hebat sekali (Al > 'Azhim, al 'Azhim), kitab ini telah dibaca oleh > Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Abdurrahim ibn Al > Shumaidiy, dan dia berkata: Sebaiknya kitab ini > dihindari, tak usah dibaca". > > Saya sungguh sangat beruntung mendapat buku yang > sangat berharga itu. > > Karya para intelektual Arab mutakhir yang mungkin bisa > kita sebut sebagai "liberal", bisa kita jumpai dengan > lengkap di toko ini. Salah satunya adalah seorang > ulama, intelektual, dan sastrawan dari Libanon yang > sangat prestisius dan baru saya kenal melalui pemilik > toko itu, yaitu Syeikh Abdullah Al 'Alayili. Sungguh > aneh, saya belum pernah mengenal tokoh ini. Bahkan > teman-teman Indonesia yang kuliah di Mesir juga belum > pernah menyebut nama ini. Pemilik toko itu > memperlihatkan sejumlah buku yang dikarang oleh al > 'Alayili. Karena keterbatasan finansial, saya hanya > ambil dua saja. Salah satunya yang menarik, setelah > saya baca sepulang di hotel, adalah bukunya yang > berjudul "Aina al Khatha'?: Tash-hih Mafahim wa > Nadzrah Tajdid...." (Dimana yang Salah?: Meluruskan > Paham, dan Memperbaharui Jalan Pikiran). > > Saya baru percaya bahwa tokoh ini memang istimewa > setelah saya baca tuntas buku itu (tidak cukup tebal, > hanya 136 hal.)Saya sungguh menyesal tidak mengetahui > tokoh ini sejak lama. Al 'Alayili (saya kira dia sudah > meninggal) mempunyai selera bahasa yang sangat > "flamboyan", selain penguasaannya yang sangat mendalam > dalam hampir seluruh cabang-cabang pengetahuan Islam > klasik. Membaca buku dia sama dengan membaca esai-esai > Goenawan Mohamad. Membaca buku dia, kita akan teringat > langgam penulisan yang pernah dipertunjukkan dengan > indah oleh penulis-penulis semacam Mushthafa Shadiq al > Rafii. Membaca buku al 'Alayili, kita akan merasa > kembali berada pada masa keagungan artikulasi bahasa > Arab pada zaman sastrawan-sastrawan besar klasik > seperti Al Buhturi, Abu Tammam, Al Ma'arri, dll. > > Yang lebih istimewa lagi adalah bahwa al 'Alayili ini > memperkenalkan sudut pandang yang "liberal" dalam > memahami Islam. Bukunya yang sudah saya sebut itu bisa > menjadi semacam model yang sangat baik bagaimana > memahami warisan intelektual Islam yang sangat kaya > dalam konteks tantangan modern, terutama warisan yang > berkaitan dengan pemikiran hukum Islam, atau fiqh. > > Dalam bukunya itu, misalnya, al 'Alayili dengan > argumen yang cukup kokoh mengatakan bahwa hukum rajam > sebetulnya tak ada dasarnya dalam Islam (saya bertemu > dengan Mufti kota Marseille, Socheib Bencheikh [yang > sangat ganteng, elegan dan tidak berjenggot!], sehari > setelah saya mengunjungi toko buku Avicenna itu, dan > mengatakan hal serupa). Argumen al 'Alayili adalah: > hukum rajam hanyalah didasarkan pada sebuah hadis > riwayat Umar. Hadis itu mengatakan bahwa dulu, pernah > ada sebuah ayat dalam Qur'an yang sudah dihapus > redaksinya (tilawatan), tetapi hukumnya masih berlaku. > Ayat itu bunyinya: "Seorang tua lelaki dan perempuan > jika melakukan zina, maka rajamlah mereka hingga mati, > sebagai hukuman dari Allah." Hadis ini, dalam ushul > fiqh, biasa dipakai sebagai contoh untuk salah satu > dari tiga jenis "naskh" (penghapusan atau amandemen > ayat Quran), yaitu naskh dari segi bacaan, tetapi > tidak dari segi isi (naskh tilawatan, la hukman). > Maksudnya, ayat tadi itu pernah ada dalam Qur'an, > terus dihapuskan, tetapi isinya tetap dipertahankan. > Bagi Al 'Alayili, naskh semacam ini aneh, dan tidak > mungkin terjadi. Dia menolak naskh semacam itu. Dan > dengan demikian, dia juga menolak hukum rajam yang > dianggapnya berlawanan secara tegas dengan ayat Qur'an > tentang hukum zina, yaitu jilid atau lontar batu > hingga 100 kali. Bagi dia, tidak ada sama sekali hukum > rajam dalam Qur'an. Melalui kritik teks yang sangat > menarik, dia menolak hadis tentang sahabat Ma'iz yang > meminta Nabi untuk dirajam; salah satu hadis yang > dipakai untuk mendukung adanya hukum rajam. Hadis itu, > bagi dia, adalah palsu. Taruhlah hadis itu bisa > diterima dari segi sanad atau mata rantai periwayatan, > tetap susdah diterima, karena jelas berlawanan dengan > Qur'an. Menurutnya, tidak mungkin Qur'an diam dalam > soal sepenting seperti "rajam", kalau benar hukuman > itu dikehendaki oleh Qur'an. > > Tetapi, tiada buku yang lebih membuat saya suka cita > dan gembira luar biasa kecuali empat buku klasik > karangan para ulama besar Islam, yang boleh kita sebut > sebagai semacam "seni bercinta a la Islam", atau > katakan saja "Islamic Kamasutra". Buku pertama adalah > "Al Wisyah fi Fawaid al Nikah" karya ulama besar yang > saya kira tak asing di Indonesia, yaitu Jalaluddin Al > Suyuti, pengarang tafsir yang mungkin paling luas > dibaca di dunia Islam, Tafsir Jalalain. Kedua, "Rusyd > al Labib ila Mu'asyarah al Habib" karangan Ahmad ibn > Muhammad ibn "Ali al Yamani. Ketiga, "Tuhfat al 'Arus > wa Mut'at al Nufus" karya Muhammad ibn Ahmad al > Tijani. Buku keempat adalah yang paling "sensual", > dengan judul "Jawami' Al Lazzah" [Ensiklopedi > Kenikmatan Seksual) karya 'Ali al Katibi Al Quzwini. > Harap diingat, ini bukanlah buku "panduan seks" yang > dikarang oleh penulis-penulis modern, tetapi oleh para > ulama Islam di zaman pertengahan. > > Buku-buku ini, sekali lagi, memperlihatkan bahwa > "taman pemikiran" Islam sangatlah penuh nuansa dan > pelangi warna-warni, tidak melulu karya-karya > "ortodoks" yang hanya bicara soal pengkufuran dan > pemurtadan. Yang lebih memikat perhatian saya > sebetulnya adalah buku karya Al Suyuthi. Bagi mereka > yang mempelajari tokoh besar ini, mungkin akan > teringat para eksiklopedis besar Perancis dari zaman > pencerahan, seperti Diderot dan Condorcet. Al Suyuthi > mengarang ratusan buku, dengan cakupan tema yang > dahsyat sekali, mulai dari tafsir, hadis, teologi, > fiqh (dengan segala cabang-cabangnya), linguistik, > sastra, folklore, etika perdebatan, nahwu, sharaf, > balaghah, tarajum (semacam "who is who", misalnya > "Bughyat al Wu'ah fi Thabaqat al Nuhah" tentang > biografi para sarjana bahasa dalam Islam), dll. Hanya > ada satu bidang saja yang tidak digeluti oleh Al > Suyuthi, yaitu filsafat dan logika. Dia tak mempunyai > satu karangan pun dalam dua bidang itu. > > Dalam bidang "seni bercinta" sendiri, konon Al Suyuthi > menulis tak kurang dari 4 buku. Selain buku yang sudah > saya sebut tadi, ada dua buku lain, yaitu: "Al Ifshah > fi Asma' al Nikah" dan "Al Yawaqit al Tsaminah fi > Shifat al Saminah" (yang ini perlu saya terjemahkan: > "Mutiara-Mutiara Berharga, Tentang Karakter-Karakter > Perempuan Berbadan Montok") dan terakhir "Mabasim al > Milah wa Mayasim al Shabah fi Mawasim al Nikah" > (tentag musim-musim yang baik untuk melangsungkan > pernikahan). > > Buku-buku ini layak diulas tersendiri sebagai bidang > yang cukup menarik, sebab literatur tentang > "seksualitas" dalam Islam cukup kaya, dan > memperlihatkan bahwa dalam Islam sebetulnya sikap > terhadap "seks" tidaklah sarat kecurigaan, seperti > yang dikira banyak orang. Dunia seks dipandang dengan > rileks dan ringan, tanpa beban "Victorian" yang > sekarang kita lihat di kalangan sebagian > kelompok-kelompok Islam yang berpaham > "fundamentalis-salafi-wahabi". > > Lihatlah, misalnya, bagaimana Al Suyuthi dengan ringan > berbicara tentang nama-nama vagina dan penis dalam > bahasa Arab yang jumlahnya hampir lima puluhan. > Nama-nama vagina dalam bahasa Arab, antara lain: al > ajamm, al ajabb, al izb, al budh', al basha', al buh, > al jar, al jahaz, al hir, al hajum, al hafasy, al > hauz, al hauzah ("hauzah" juga berarti pesantren dalam > tradisi Iran; saya tidak tahu, kenapa pesantren dan > vagina mempunyai nama yang sama), al syarih, al > 'adabah, al furq, al qahfaliz (saya suka nama ini), al > qabqab (anda bisa bayangkan, kata ini sudah "menyaran" > kepada obyek yang menjadi rujukannya), al masydakh, > dll. (saya kutip dari "Al Wisyah fi Fawa'id al Nijah" > ). > > Banyak anekdot-anekdot seks yang dikisahkan oleh A > Suyuthi. Contoh-contoh berikut ini sangat menarik. > > Seorang linguis besar Arab dari abad pertengahan, Al > Ashma'i, yang sering melakukan penelitian > "etnolinguistis" ke suku-suku pedalaman Arab, pernah > bertanya kepada seorang Arab badui, "Apakah sesuatu > yang anda anggap paling lezat dalam hidup?" Jawab > orang badui itu, "Makan daging, tidur di atas > "daging", dan menancapkan "daging" ke dalam "daging"" > (hal. 143). > > Al Suyuthi mengisahkan anekdot lain dari kitab "Al > Jawahir", karya Al Biruni. Anekdot itu sangat > ilustratif menggambarkan kehidupan seksual raja-raja > Islam pada zaman pertengahan. Khalifah Al Mutawakkil, > salah satu satu khalifah pada zaman dinasti Abbasiyah, > adalah orang yang sangat suka melakukan hubungan seks. > Saking seringnya khalifah ini berhubungan seks, dia > "letoy", kehabisan tenaga. Tetapi, dalam keadaan yang > demikian itu, toh dia masih terung ingin melakukan > hubungan seks. Maka, dicarilah "teknik": dibuatlah > semacam "bath up" atau kolam rendam yang dipenuhi > dengan air "zi'baq" (semacam air raksa yang sangat > licin seperti oli), kemudian di atas air itu > ditaruhlah karpet. Al Mutawakkil kemudian terlentang > di atas karpet itu (saya bayangkan, khalifah kita ini > sedang melakukan seks "WOT" atau "woman on top") yang > bergerak secara otomatis. Dia tinggal terlantang saja, > tanpa perlu melakukan gerakan (karena sudah terlalu > "letih"), (hal. 310). > > Sebetulnya, ada buku lain yang juga cukup menarik, > karangan Al Hafiz Maghalthay, dengan judul yang sangat > mengusik, "Al Wadhih al Mubin, fi Dzikr Man Ustuyshida > Min Al Muhibbin" (Penjelasan Yang Gamblang-Kentara, > Tentang Orang-Orang yang Mati Gara-Gara Asmara). > > Berada di dalam toko buku itu, saya seperti > mengendarai "mesin waktu" dan kembali ke masa > "pencerahan" Islam di masa klasik, ke zaman Al > Zamakhsyari, Abu Bakr Al Razi, Al Farabi, Ibn Sina, > Ibn Rushd, Ibn Khaldun, Ibn Bajjah, dll. Itulah masa > ketika kebebasan berpikir berdaulat, dan perbedaan > pendapat bisa berlangsung dalam segala lapangan > keilmuan. Pada masa itulah, seorang penyair besar > Arab, Abul Ala al Ma'arri (jangan dikacaukan dengan > Abul Ala al Maududi yang sangat "cupet" pemikirannya > itu), lahir, mengumandangkan nada yang kritis dan > skeptis kepada ajaran-ajaran agama Islam, tanpa takut > dituduh sebagai kafir dan murtad. > > Sebelum saya pulang, Hachem, pemilik toko buku itu, > melontarkan komentar, sambil berkelakar: kita butuh > Islam sekuler seperti anda saksikan dalam karya-karya > di toko ini. Ada tiga orang Arab yang sedang membeli > buku saat itu, dan mereka beteriak setuju, "Oui, Oui." > > Kunjungan ke Paris kali ini makin menguatkan keyakinan > saya bahwa peradaban Barat adalah peradaban yang sama > yang dulu pernah dibawa oleh generasi Abu Bakar Al > Razi dan Ibn Rushd. Di sana, akal menjadi fondasi > utama. Jika anda membaca buku karya Al Zammakhsyari, > salah satu tokoh penting kaum rasional Mu'tazilah, "Al > Mufashshal fi Shan'at al I'rab" (tentang ilmu nahwu > atau sintaksis bahasa Arab), anda tiada lain kecuali > berkesimpulan bahwa sarjana dari abad 12 M ini tak > kurang jeniusnya dibanding Leonardo da Vindi atau > Jacques-Louis David (m. 1825 M) dengan lukisannya yang > kolosal itu, "Penahbisan Kaisar Napoleon dan Penobatan > Kaisar Puteri Josepin." > > Seperti saya katakan dalam surat yang pertama, > "sejarah" dan "kesadaran sejarah" telah hacur di > kalangan umat Islam sekarang seperti hancurnya patung > Budha di Bamiyan, Afghanistan, di tangan kaum Taliban. > Islam tinggal Quran dan Hadis yang dipahami di luar > konteks sejarah yang panjang. Yang terjadi: pemiskinan > spiritual, pemiskinan intelektual. > > Beruntung sekali, saya bertemu (melalui > karya-karyanya) dengan seorang alim besar Libanon di > toko buku Avicenna itu: Syeikh Abdullah Al 'Alayili, > "jenius" dari abad dua puluh yang layak dibaca oleh > umat Islam sekarang. Nasehat indah yang dikemukakan > oleh Al 'Alayili dalam bukunya yang amat penting, > "Muqaddimah Lidars Lughat al 'Arab": > > "Laisa muhafadzatan al taqlidu ma'a al khatha', wa > laisa khurujan al tash-hihu al ladzi yuhaqqiq al > ma'rifah" (sikap taklid dengan mempertahankan > kesalahan yang diwariskan dari pendahulu bukanlah cara > menjaga tradisi yang baik; sementara, melakukan > koreksi atas tradisi yang membawa kita lebih dekat > kepada kebenaran bukanlah sikap "membangkang"). > > Inilah jalan pencerahan ke depan; jalan yang membawa > Islam kembali ke "Paris", "Louvre", Kordoba, Grenada, > Andalusia, bukan ke tanah Nejd yang kering kerontang, > tempat asal kaum Wahabi yang "ikonoklastis" itu. > > Di Paris, di Acivenna librairie, taman pemikiran yang > indah itu, saya temukan kembali Islam yang cerah, yang > mencerahkan. > > Paris, 18 Juni 2005 > > Ulil > > > > > ______________________________________________________________________ > http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. > ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ > Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: > [EMAIL PROTECTED] > > > > > --------------------------------- > Yahoo! Groups Links > > To visit your group on the web, go to: > http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/ > > To unsubscribe from this group, send an email to: > [EMAIL PROTECTED] > > Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. > > > > > --------------------------------- > Discover Yahoo! > Find restaurants, movies, travel & more fun for the weekend. Check it out! > > [Non-text portions of this message have been removed] ______________________________________________________________________ http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
