Ass,
Selamt bergabung Mas! bagaimana kabarnya? berapa jumlah mahasiswa Nu 
disana? kapan Mas libur? ya main2 lah ke mesir, kita menunggu.

Wass,

M.L. Qodri
Bendahara PCI-NU Mesir


--- In [email protected], NU Libya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Nama ;
> Iwan Zainil Ghulam
> 
> Status: Mahasiswa S-2 Jur. Ulumul Al-Qur'an
> International Islamic Cal College
> Tripoli Libya
> 
> Alamat di  Libya:
> International Islamic Call College
> PO. BOX. 86072
> Tripoli Libya
> 
> Alamat di Indonsia:
> PP. Raudlatul Ulum 
> PO. BOX. 09
> Besuk Kejayan Pasuruan 
> Jawa Timur
> 
> 
> -GuN- <[EMAIL PROTECTED]> wrote:Salam,
> Pagi itu, usai menemui imam masjid Paris, Dr. Dalil
> Boubakeur di kantornya yang berada di dalam kawasan
> masjid Paris yang sangat antik dan indah, dengan
> arsitektur dan interior yang khas pada bangunan
> mediterianian dari abad-abada keemasan Islam, saya
> beruntung menemukan sebuah toko buku yang luar biasa
> kaya dengan koleksi-koleksi langka. Dikelola oleh
> seorang "pecinta ilmu" dari Libanon, Hachem Mouawieh,
> toko buku Avicenne Libariarie adalah semacam "taman
> pemikiran" yang tak kalah indahnya dengan "taman-taman
> kota" lain yang bertebaran di kota Paris (Kapan
> Jakarta mempunyai taman kota yang hijau, rindang,
> tempat untuk melepaskan penat dan "ngelamun"?). Toko
> ini mempunyai dua cabang, satu di 25, rue Jussieu,
> Paris dan yang lainnya di 30, rue des Fosses St
> Bernard, Paris. Yang pertama khusus menjual buku-buku
> pemikiran Islam dalam bahasa Perancis, yang kedua
> berbahasa Arab. Yang menarik minat saya tentu yang
> kedua ini.
> 
> Inilah adalah toko buku yang menjadi langganan para
> pemikir-pemikir Islam besar yang tinggal di Paris,
> seperti Mohamed Arkoun, Hachem Saleh, Malek Chebel,
> Youssef Seddik, Nasr Hamid Abu Zaid, Muhsin Mahdi
> (seorang sarjana penting setelah Rosenthal yang
> memperkenalkan Ibn Khaldun ke dunia Barat), dll.
> Barangsiapa ke Paris, dan mempunyai minat besar di
> dunia pemikiran Islam, maka mengunjungi toko buku ini
> hukumnya adalah fardlu 'ain. Koleksinya lengkap, meski
> ruag tokonya tak terlalu besar: mulai dari tafsir,
> hadis, kalam, filsafat, tasawwuf, sastra, sampai ke
> buku-buku para pemikir Islam kontemporer. Tampaknya
> pemilik toko buku ini mempunyai "passion" atau syahwat
> besar pada dunia pemikiran, sehingga ia hanya menjual
> buku-buku yang memang sangat dibutuhkan oleh kaum
> "khawashul khawash", kaum pemikir dan intelektual. Dia
> bisa menunjukkan buku-buku kepada saya sambil
> menerangkan isinya dengan cukup detil dan mendalam.
> 
> Traktak-traktak filsafat Islam klasik bisa kita
> temukan dengan cukup lengkap di sana, dan ditempatkan
> di bagian yang terpisah, berjejer dengan
> traktak-traktat tasawwuf. Saya sungguh terkejut karena
> di sana saya temukan traktat filsafat klasik yang
> dikarang oleh seorang teolog Yahudi, Musa ibn Maimun
> (1135-1205 M), atau lebih dikenal dengan Maimonides,
> "Dalalat al Hairin". Saya menjumpai pula edisi yang
> sudah diedit dengan kritis dari risalah klasik yang
> menyerupai sebuah novel, yaitu "Hayy ibn Yaqdzan".
> Risalah ini sebetulnya beredar di di mana-mana, tetapi
> yang unik pada edisi yang saya jumpai di sana adalah
> bahwa ia merangkum tiga versi dari risalah itu.
> Seperti kita tahu, risalah dengan judul itu dikarang
> oleh tiga tokoh yang berbeda, yaitu Ibn Thufail, Ibn
> Bajjah dan Al Suhrawardi al Maqtul. Naskah yang saya
> temukan itu merangkum ketiga versi itu, dan diedit
> dengan cukup bagus oleh Ahmad Amin.
> 
> Kejutan-kejutan lain terus bersusulan. Di sana,
> misalnya, saya menemukan pula sebuah buku yang ditulis
> oleh salah seorang ulama penting dari kalangan
> Mu'tazilah, yaitu Abul Husein al Khayyath al
> Mu'tazili. Buku itu adalah kritik atas salah seorang
> zindik (agnostik) besar Islam yang dulunya berada di
> kubu Mu'tazilah, tetapi kemudian "membangkang", yaitu
> Ibn Rawandi (yang ingin mengetahui sekilas
> pemikiran-pemikiran Ibn Rawandi, silahkan membaca buku
> yang ditulis oleh Ibn Warraq, "Leaving Islam"; ada di
> perpustakaan Freedom Institute). Bagi pengkaji
> pemikiran Mu'tazilah, buku itu tentu tak asing lagi,
> yaitu "Kitab al Intishar wa al Radd 'ala Ibn al
> Rawandi al Mulhid" (Kitab Kemenangan: Kritik atas Ibn
> al Rawandi yang Agnostik). Buku ini termasuk langka,
> dan selama berabad-abad hilang dari peredaran, karena,
> sebagaimana kita tahu, buku-buku kaum Mu'tazilah
> umumnya dibenci dan dijauhi sebagai "barang najis".
> Buku ini penting karena merekam dua hal sekaligus:
> pemikiran kaum Mu'tazilah yang jarang kita ketahui
> kecuali melalui karya-karya para musuhnya, dan tentu
> pemikiran Ibn Rawandi yang memang tidak mungkin dibaca
> oleh umat Islam karena seluruhnya karyanya disensor,
> sebab dianggap sebagai semacam "Nietzsche" yang
> menghancurkan fondasi doktrin Islam.
> 
> Mungkin menarik membaca kisah bagaimana buku ini bisa
> "lahir" kembali ke dunia. Terbitnya buku ini adalah
> berkat usaha seorang orientalis Swedia, H. S. Nyberg
> (Universitas Uppsala, Swedia), yang membongkar buku
> itu dari koleksi-koleksi manuskrip kuno di "Dar al
> Kutub al Mishriyyah". Menurut Nyberg, manuskrip buku
> karya Al Khayyath ini adalah manuskrip kedua paling
> kuno yang ditulis dalam bentuk kertas yang bisa kita
> miliki saat ini, setelah manuskrip Abi 'Ubaid, "Gharib
> al Hadis" yang selesai disalin pada 311 H (awal abad 4
> Hijriyyah atau 10 Masehi). Naskah manuskrip "Al
> Intishar" sendiri selesai disalin pada 347 H.
> 
> Buku ini, seperti saya katakan tadi, "tenggelam" lama
> dalam timbunan sejarah, hingga akhirnya ditemukan oleh
> orientalis Swedia itu dan diedit secara kritis
> sehingga bisa dibaca dengan enak oleh publik sekarang.
> Untuk memperlihatkan bagaimana buku itu sendiri
> sengaja "dihindarkan" dari publik agar tak dibaca,
> Nyberg mengutip kalimat yang berisi semacam
> "peringatan" yang ditulis oleh pemilik awal naskah
> itu. Inilah bunyi lengkap peringatan yang ditulis di
> sampul kitab itu:
> 
> "Puji bagi Allah yang Maha Hebat, Hebat sekali (Al
> 'Azhim, al 'Azhim), kitab ini telah dibaca oleh
> Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Abdurrahim ibn Al
> Shumaidiy, dan dia berkata: Sebaiknya kitab ini
> dihindari, tak usah dibaca".
> 
> Saya sungguh sangat beruntung mendapat buku yang
> sangat berharga itu.
> 
> Karya para intelektual Arab mutakhir yang mungkin bisa
> kita sebut sebagai "liberal", bisa kita jumpai dengan
> lengkap di toko ini. Salah satunya adalah seorang
> ulama, intelektual, dan sastrawan dari Libanon yang
> sangat prestisius dan baru saya kenal melalui pemilik
> toko itu, yaitu Syeikh Abdullah Al 'Alayili. Sungguh
> aneh, saya belum pernah mengenal tokoh ini. Bahkan
> teman-teman Indonesia yang kuliah di Mesir juga belum
> pernah menyebut nama ini. Pemilik toko itu
> memperlihatkan sejumlah buku yang dikarang oleh al
> 'Alayili. Karena keterbatasan finansial, saya hanya
> ambil dua saja. Salah satunya yang menarik, setelah
> saya baca sepulang di hotel, adalah bukunya yang
> berjudul "Aina al Khatha'?: Tash-hih Mafahim wa
> Nadzrah Tajdid...." (Dimana yang Salah?: Meluruskan
> Paham, dan Memperbaharui Jalan Pikiran).
> 
> Saya baru percaya bahwa tokoh ini memang istimewa
> setelah saya baca tuntas buku itu (tidak cukup tebal,
> hanya 136 hal.)Saya sungguh menyesal tidak mengetahui
> tokoh ini sejak lama. Al 'Alayili (saya kira dia sudah
> meninggal) mempunyai selera bahasa yang sangat
> "flamboyan", selain penguasaannya yang sangat mendalam
> dalam hampir seluruh cabang-cabang pengetahuan Islam
> klasik. Membaca buku dia sama dengan membaca esai-esai
> Goenawan Mohamad. Membaca buku dia, kita akan teringat
> langgam penulisan yang pernah dipertunjukkan dengan
> indah oleh penulis-penulis semacam Mushthafa Shadiq al
> Rafii. Membaca buku al 'Alayili, kita akan merasa
> kembali berada pada masa keagungan artikulasi bahasa
> Arab pada zaman sastrawan-sastrawan besar klasik
> seperti Al Buhturi, Abu Tammam, Al Ma'arri, dll.
> 
> Yang lebih istimewa lagi adalah bahwa al 'Alayili ini
> memperkenalkan sudut pandang yang "liberal" dalam
> memahami Islam. Bukunya yang sudah saya sebut itu bisa
> menjadi semacam model yang sangat baik bagaimana
> memahami warisan intelektual Islam yang sangat kaya
> dalam konteks tantangan modern, terutama warisan yang
> berkaitan dengan pemikiran hukum Islam, atau fiqh.
> 
> Dalam bukunya itu, misalnya, al 'Alayili dengan
> argumen yang cukup kokoh mengatakan bahwa hukum rajam
> sebetulnya tak ada dasarnya dalam Islam (saya bertemu
> dengan Mufti kota Marseille, Socheib Bencheikh [yang
> sangat ganteng, elegan dan tidak berjenggot!], sehari
> setelah saya mengunjungi toko buku Avicenna itu, dan
> mengatakan hal serupa). Argumen al 'Alayili adalah:
> hukum rajam hanyalah didasarkan pada sebuah hadis
> riwayat Umar. Hadis itu mengatakan bahwa dulu, pernah
> ada sebuah ayat dalam Qur'an yang sudah dihapus
> redaksinya (tilawatan), tetapi hukumnya masih berlaku.
> Ayat itu bunyinya: "Seorang tua lelaki dan perempuan
> jika melakukan zina, maka rajamlah mereka hingga mati,
> sebagai hukuman dari Allah." Hadis ini, dalam ushul
> fiqh, biasa dipakai sebagai contoh untuk salah satu
> dari tiga jenis "naskh" (penghapusan atau amandemen
> ayat Quran), yaitu naskh dari segi bacaan, tetapi
> tidak dari segi isi (naskh tilawatan, la hukman).
> Maksudnya, ayat tadi itu pernah ada dalam Qur'an,
> terus dihapuskan, tetapi isinya tetap dipertahankan.
> Bagi Al 'Alayili, naskh semacam ini aneh, dan tidak
> mungkin terjadi. Dia menolak naskh semacam itu. Dan
> dengan demikian, dia juga menolak hukum rajam yang
> dianggapnya berlawanan secara tegas dengan ayat Qur'an
> tentang hukum zina, yaitu jilid atau lontar batu
> hingga 100 kali. Bagi dia, tidak ada sama sekali hukum
> rajam dalam Qur'an. Melalui kritik teks yang sangat
> menarik, dia menolak hadis tentang sahabat Ma'iz yang
> meminta Nabi untuk dirajam; salah satu hadis yang
> dipakai untuk mendukung adanya hukum rajam. Hadis itu,
> bagi dia, adalah palsu. Taruhlah hadis itu bisa
> diterima dari segi sanad atau mata rantai periwayatan,
> tetap susdah diterima, karena jelas berlawanan dengan
> Qur'an. Menurutnya, tidak mungkin Qur'an diam dalam
> soal sepenting seperti "rajam", kalau benar hukuman
> itu dikehendaki oleh Qur'an.
> 
> Tetapi, tiada buku yang lebih membuat saya suka cita
> dan gembira luar biasa kecuali empat buku klasik
> karangan para ulama besar Islam, yang boleh kita sebut
> sebagai semacam "seni bercinta a la Islam", atau
> katakan saja "Islamic Kamasutra". Buku pertama adalah
> "Al Wisyah fi Fawaid al Nikah" karya ulama besar yang
> saya kira tak asing di Indonesia, yaitu Jalaluddin Al
> Suyuti, pengarang tafsir yang mungkin paling luas
> dibaca di dunia Islam, Tafsir Jalalain. Kedua, "Rusyd
> al Labib ila Mu'asyarah al Habib" karangan Ahmad ibn
> Muhammad ibn "Ali al Yamani. Ketiga, "Tuhfat al 'Arus
> wa Mut'at al Nufus" karya Muhammad ibn Ahmad al
> Tijani. Buku keempat adalah yang paling "sensual",
> dengan judul "Jawami' Al Lazzah" [Ensiklopedi
> Kenikmatan Seksual) karya 'Ali al Katibi Al Quzwini.
> Harap diingat, ini bukanlah buku "panduan seks" yang
> dikarang oleh penulis-penulis modern, tetapi oleh para
> ulama Islam di zaman pertengahan.
> 
> Buku-buku ini, sekali lagi, memperlihatkan bahwa
> "taman pemikiran" Islam sangatlah penuh nuansa dan
> pelangi warna-warni, tidak melulu karya-karya
> "ortodoks" yang hanya bicara soal pengkufuran dan
> pemurtadan. Yang lebih memikat perhatian saya
> sebetulnya adalah buku karya Al Suyuthi. Bagi mereka
> yang mempelajari tokoh besar ini, mungkin akan
> teringat para eksiklopedis besar Perancis dari zaman
> pencerahan, seperti Diderot dan Condorcet. Al Suyuthi
> mengarang ratusan buku, dengan cakupan tema yang
> dahsyat sekali, mulai dari tafsir, hadis, teologi,
> fiqh (dengan segala cabang-cabangnya), linguistik,
> sastra, folklore, etika perdebatan, nahwu, sharaf,
> balaghah, tarajum (semacam "who is who", misalnya
> "Bughyat al Wu'ah fi Thabaqat al Nuhah" tentang
> biografi para sarjana bahasa dalam Islam), dll. Hanya
> ada satu bidang saja yang tidak digeluti oleh Al
> Suyuthi, yaitu filsafat dan logika. Dia tak mempunyai
> satu karangan pun dalam dua bidang itu.
> 
> Dalam bidang "seni bercinta" sendiri, konon Al Suyuthi
> menulis tak kurang dari 4 buku. Selain buku yang sudah
> saya sebut tadi, ada dua buku lain, yaitu: "Al Ifshah
> fi Asma' al Nikah" dan "Al Yawaqit al Tsaminah fi
> Shifat al Saminah" (yang ini perlu saya terjemahkan:
> "Mutiara-Mutiara Berharga, Tentang Karakter-Karakter
> Perempuan Berbadan Montok") dan terakhir "Mabasim al
> Milah wa Mayasim al Shabah fi Mawasim al Nikah"
> (tentag musim-musim yang baik untuk melangsungkan
> pernikahan).
> 
> Buku-buku ini layak diulas tersendiri sebagai bidang
> yang cukup menarik, sebab literatur tentang
> "seksualitas" dalam Islam cukup kaya, dan
> memperlihatkan bahwa dalam Islam sebetulnya sikap
> terhadap "seks" tidaklah sarat kecurigaan, seperti
> yang dikira banyak orang. Dunia seks dipandang dengan
> rileks dan ringan, tanpa beban "Victorian" yang
> sekarang kita lihat di kalangan sebagian
> kelompok-kelompok Islam yang berpaham
> "fundamentalis-salafi-wahabi".
> 
> Lihatlah, misalnya, bagaimana Al Suyuthi dengan ringan
> berbicara tentang nama-nama vagina dan penis dalam
> bahasa Arab yang jumlahnya hampir lima puluhan.
> Nama-nama vagina dalam bahasa Arab, antara lain: al
> ajamm, al ajabb, al izb, al budh', al basha', al buh,
> al jar, al jahaz, al hir, al hajum, al hafasy, al
> hauz, al hauzah ("hauzah" juga berarti pesantren dalam
> tradisi Iran; saya tidak tahu, kenapa pesantren dan
> vagina mempunyai nama yang sama), al syarih, al
> 'adabah, al furq, al qahfaliz (saya suka nama ini), al
> qabqab (anda bisa bayangkan, kata ini sudah "menyaran"
> kepada obyek yang menjadi rujukannya), al masydakh,
> dll. (saya kutip dari "Al Wisyah fi Fawa'id al Nijah"
> ).
> 
> Banyak anekdot-anekdot seks yang dikisahkan oleh A
> Suyuthi. Contoh-contoh berikut ini sangat menarik.
> 
> Seorang linguis besar Arab dari abad pertengahan, Al
> Ashma'i, yang sering melakukan penelitian
> "etnolinguistis" ke suku-suku pedalaman Arab, pernah
> bertanya kepada seorang Arab badui, "Apakah sesuatu
> yang anda anggap paling lezat dalam hidup?" Jawab
> orang badui itu, "Makan daging, tidur di atas
> "daging", dan menancapkan "daging" ke dalam "daging""
> (hal. 143).
> 
> Al Suyuthi mengisahkan anekdot lain dari kitab "Al
> Jawahir", karya Al Biruni. Anekdot itu sangat
> ilustratif menggambarkan kehidupan seksual raja-raja
> Islam pada zaman pertengahan. Khalifah Al Mutawakkil,
> salah satu satu khalifah pada zaman dinasti Abbasiyah,
> adalah orang yang sangat suka melakukan hubungan seks.
> Saking seringnya khalifah ini berhubungan seks, dia
> "letoy", kehabisan tenaga. Tetapi, dalam keadaan yang
> demikian itu, toh dia masih terung ingin melakukan
> hubungan seks. Maka, dicarilah "teknik": dibuatlah
> semacam "bath up" atau kolam rendam yang dipenuhi
> dengan air "zi'baq" (semacam air raksa yang sangat
> licin seperti oli), kemudian di atas air itu
> ditaruhlah karpet. Al Mutawakkil kemudian terlentang
> di atas karpet itu (saya bayangkan, khalifah kita ini
> sedang melakukan seks "WOT" atau "woman on top") yang
> bergerak secara otomatis. Dia tinggal terlantang saja,
> tanpa perlu melakukan gerakan (karena sudah terlalu
> "letih"), (hal. 310).
> 
> Sebetulnya, ada buku lain yang juga cukup menarik,
> karangan Al Hafiz Maghalthay, dengan judul yang sangat
> mengusik, "Al Wadhih al Mubin, fi Dzikr Man Ustuyshida
> Min Al Muhibbin" (Penjelasan Yang Gamblang-Kentara,
> Tentang Orang-Orang yang Mati Gara-Gara Asmara).
> 
> Berada di dalam toko buku itu, saya seperti
> mengendarai "mesin waktu" dan kembali ke masa
> "pencerahan" Islam di masa klasik, ke zaman Al
> Zamakhsyari, Abu Bakr Al Razi, Al Farabi, Ibn Sina,
> Ibn Rushd, Ibn Khaldun, Ibn Bajjah, dll. Itulah masa
> ketika kebebasan berpikir berdaulat, dan perbedaan
> pendapat bisa berlangsung dalam segala lapangan
> keilmuan. Pada masa itulah, seorang penyair besar
> Arab, Abul Ala al Ma'arri (jangan dikacaukan dengan
> Abul Ala al Maududi yang sangat "cupet" pemikirannya
> itu), lahir, mengumandangkan nada yang kritis dan
> skeptis kepada ajaran-ajaran agama Islam, tanpa takut
> dituduh sebagai kafir dan murtad.
> 
> Sebelum saya pulang, Hachem, pemilik toko buku itu,
> melontarkan komentar, sambil berkelakar: kita butuh
> Islam sekuler seperti anda saksikan dalam karya-karya
> di toko ini. Ada tiga orang Arab yang sedang membeli
> buku saat itu, dan mereka beteriak setuju, "Oui, Oui."
> 
> Kunjungan ke Paris kali ini makin menguatkan keyakinan
> saya bahwa peradaban Barat adalah peradaban yang sama
> yang dulu pernah dibawa oleh generasi Abu Bakar Al
> Razi dan Ibn Rushd. Di sana, akal menjadi fondasi
> utama. Jika anda membaca buku karya Al Zammakhsyari,
> salah satu tokoh penting kaum rasional Mu'tazilah, "Al
> Mufashshal fi Shan'at al I'rab" (tentang ilmu nahwu
> atau sintaksis bahasa Arab), anda tiada lain kecuali
> berkesimpulan bahwa sarjana dari abad 12 M ini tak
> kurang jeniusnya dibanding Leonardo da Vindi atau
> Jacques-Louis David (m. 1825 M) dengan lukisannya yang
> kolosal itu, "Penahbisan Kaisar Napoleon dan Penobatan
> Kaisar Puteri Josepin."
> 
> Seperti saya katakan dalam surat yang pertama,
> "sejarah" dan "kesadaran sejarah" telah hacur di
> kalangan umat Islam sekarang seperti hancurnya patung
> Budha di Bamiyan, Afghanistan, di tangan kaum Taliban.
> Islam tinggal Quran dan Hadis yang dipahami di luar
> konteks sejarah yang panjang. Yang terjadi: pemiskinan
> spiritual, pemiskinan intelektual.
> 
> Beruntung sekali, saya bertemu (melalui
> karya-karyanya) dengan seorang alim besar Libanon di
> toko buku Avicenna itu: Syeikh Abdullah Al 'Alayili,
> "jenius" dari abad dua puluh yang layak dibaca oleh
> umat Islam sekarang. Nasehat indah yang dikemukakan
> oleh Al 'Alayili dalam bukunya yang amat penting,
> "Muqaddimah Lidars Lughat al 'Arab":
> 
> "Laisa muhafadzatan al taqlidu ma'a al khatha', wa
> laisa khurujan al tash-hihu al ladzi yuhaqqiq al
> ma'rifah" (sikap taklid dengan mempertahankan
> kesalahan yang diwariskan dari pendahulu bukanlah cara
> menjaga tradisi yang baik; sementara, melakukan
> koreksi atas tradisi yang membawa kita lebih dekat
> kepada kebenaran bukanlah sikap "membangkang").
> 
> Inilah jalan pencerahan ke depan; jalan yang membawa
> Islam kembali ke "Paris", "Louvre", Kordoba, Grenada,
> Andalusia, bukan ke tanah Nejd yang kering kerontang,
> tempat asal kaum Wahabi yang "ikonoklastis" itu.
> 
> Di Paris, di Acivenna librairie, taman pemikiran yang
> indah itu, saya temukan kembali Islam yang cerah, yang
> mencerahkan.
> 
> Paris, 18 Juni 2005
> 
> Ulil
> 
> 
> 
> 
> 
______________________________________________________________________
> http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU 
Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
> ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
> Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal 
Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
> [EMAIL PROTECTED] 
> 
> 
> 
> 
> ---------------------------------
> Yahoo! Groups Links
> 
>    To visit your group on the web, go to:
> http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/
>   
>    To unsubscribe from this group, send an email to:
> [EMAIL PROTECTED]
>   
>    Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of 
Service. 
> 
> 
> 
>               
> ---------------------------------
> Discover Yahoo!
>  Find restaurants, movies, travel & more fun for the weekend. Check 
it out!
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]




______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke