ANGKASA ANGSA LIAR
[16] TEMU SASTRAWAN BORNEO- KALIMANTAN DI SANDAKAN [4]. Mau apa dan mau ke mana Temu Sastrawan Borneo-Kalimantan Ke-VIII di Sandakan? Kukira pertanyaan ini perlu jelas jawabannya kalau menginginkan pertemuan yang sudah menjelang dilakukan delapan kali ini mencapai hasil-hasil efektif, dalam pengertian memberikan hasil kongkret bagi perkembangan sastra di Borneo dan Kalimantan. Disebutkan bahwa pertemuan Sandakan adalah pertemuan para sastrawan, artinya tidak ayal lagi akan membicarakan masalah sastra. Apa bagaimanakah sastra yang ada di Borneo dan Kalimantan itu? Untuk menjawab pertanyaan ini, saya mulai dari sastra yang ada di Kalimantan, artinya bagian pulau raya itu yang menjadi wilayah Republik Indonesia. Bagi saya yang disebut sastra Indonesia adalah semua bentuk sastra yang ada di wilayah negara Indonesia, tidak perduli sastra itu diungkapkan dalam bahasa Indonesia atau pun bahasa daerah. Kalau kita berbicara masalah sastra lama, maka dengan ungkapan ini kita berbicara tentang periodisasi dan akar sastra. Karena itu kalau pun kita berbicara tentang "basis kegelisahan kita saat ini adalah soal kehidupan sastra terkini", kukira sastra terkini pun mencakup bukan hanya karya sastra yang ditulis dalam bahasa Indonesia, tapi juga karya sastra dalam bahasa-bahasa lokal. Saya tidak melihat alasan kuat dan hanya mlihat alasan yang lemah sekali pun dengan mengeluarkan sastra berbahasa daerah dari yang disebut "sastra terkini" di Kalimantan. Mengeluarkan sastra berbahasa daerah dari sastra terkini, saya kira suatu sikap sangat keliru dan asing dari kehidupan lokal walau pun orang tersebut secara fisik hidup di daerah tersebut. Suatu kecupetan dalam memandang yang disebut sastra yang hakekatnya jika ditarik lebih jauh akan merembet ke masalah apa yang disebut Indonesia. Saya akan ambil keadaan "sastra terkini" di Kalimantan Tengah sampai tahun 2003 misalnya. Di propinsi ini di samping sastra berbahasa Indonesia, perkembangan sastra berbahasa Dayak tidak mandeg tapi justru terus berkembang baik dalam bentuk tulisan atau pun dan lebih-lebih dalam bentuk lisan di kampung-kampung dari muara hingga ke hulu. Ia bisa berbentuk karungut, deder, sansana kayau atau mamanda dan balian --kalau balian kita anggap tuturan pisur sebagai karya sastra. Karya-karya ini dipentaskan dalam rupa-rupa kesempatan. Karena ia berasal dari orang lokal dan dipahami oleh penduduk, maka pembacaanya sangat mendapat perhatian dan tanggapan. Di Kalteng juga saya menyaksikan karungut ditulis dalam bahasa Indonesia dan diperbanyak secara fotokopie atau kaset. Jika kita menggunakan istilah "sastra terkini" berarti kita berbicara tentang kurun waktu. Apakah tahun 2003 di mana sastra berbahasa Dayak itu diciptakan dan dikembangkan dipandang sebagai masa silam dan tidak dimasukkan ke dalam "sastra terkini" sehingga tidak menjadi "basis kegelisahan kita saat ini"?. Siapakah kita itu? Orang lokal atau orang numpang tinggal di daerah tapi asing dari soal-soal hakiki daerah? Kenyataan memperlihatkan bahwa sastra berbahasa Dayak sangat akrab dengan kehidupan masyarakat, berbeda dengan sastra yang berbahasa Indonesia. Sastra berbahasa Dayak di Kalteng dalam berbagai bentuk atau genre, merupakan ungkapan pikiran dan perasaan hidup masyarakat setempat sampai hari ini. Harian Dayak Pos, Palangka Raya, merupakan harian utama yang menampilkan karya-karya dalam bahasa Dayak Ngaju dan memberikan ruyangan khusus untuk kepentingan ini. Apakah perkembangan dan kenyataan begini suatu masa silam dan bukan "sastra terkini"? Sastrawan yang serius dan bertemu atas nama Kalimatan dan Borneo , saya kira tidak layak mengabaikan apa yang pernah ada di masa silam dan masa kini. Apalagi untuk suatu pertemuan yang sudah dilakukan sampai delapan kali. Apakah mutu sastra berbahasa lokal jauh lebih rendah daripada sastra yang ditulis dalam bahasa Indonesia? Belum tentu. Sangat belum tentu. Ambil contoh karya Ronggorwarsito, di Jawa Tengah, apakah lebih rendah dari karya-karya dalam bahasa Indonesia? Serat Centini, sekarang bahkan diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis. Kaset karungut dijual di pasar internasional.Apakah "Sansana Bandar" lebih rendah dari karya-karya penulis sekarang yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai sarananya? Bandingkan saja! Sastra memang erat hubungannya dengan bahasa dan penguasaan bahasa. Adalah wajar jika orang Dayak lebih akrab dengan bahasa Dayak dibandingkan dengan bahasa Indonesia. Apakah karena mereka berbahasa Dayak sampai sekarang lalu tidak dianggap "sastra terkini"? Maka jika pertemuan Sandakan tidak memasukkan masalah ini sebagai mata acara, saya kira pertemuan para sastrawan demikian tidak lebih dari pertemuan orang asing dari daerah yang mereka gunakan namanya. Pertemuan para sastrawan yang menggelikan. Apalagi jika tidak ada samasekali wakil sastrawan yang berbahasa lokal.Memandang yang disebut sastrawan hanyalah para penulis berbahasa Indonesia, kukira ini suatu kecupetan dan kecupetan tidak pernah menguntungkan dan berharidepan. Delapan kali bertemu tapi masih saja tidak mengindahkan kenyataan ini, saya kira suatu keterlaluan yang sangat luarbiasa. Tidak mampu menangkap hakekat permasalahan sastra pulau. Benar bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa nasional, tapi sastra yang ada di Kalimantan bukan hanya sastra yang berbahasa Indonesia. Malah sastra yang berbahasa Indonesia sangat terpencil dalam masyarakat. Mengapa? Alasan pertama dan utama karena bahasa Indonesia sekali pun dipahami tapi bukan bahasa ibu orang lokal. Ia adalah bahasa baru. Orang Dayak lebih akrab dengan bahasa Dayak daripada dengan bahasa Indonesia. Tentu saja penghuni Kalimantan bukan hanya orang Dayak tapi juga dihuni oleh para pendatang baru dari berbagai etnik. Waktu bekerja di Kalteng, saya justru ingin mendorong agar kepada para etnik-etnik yang menghuni Kalteng disediakan kemungkinan untuk mengungkapkan diri dalam bahasa asal mereka, ada forum saling mengenal dan mempelajari budaya etnik-etnik penghuni propinsi sehingga mereka saling belajar dan mendapat masukan untuk menuju ke sesuatu yang baru lebih maju lagi. Untuk itu saya dan teman-teman mendirikan suatu forum budaya lintas etnik, tapi terpotong oleh kemestian saya meninggalkan daerah kelahiran saya ini ditambah oleh berkobarnya daerah oleh konflik berdarah. Alasan lain, pendukung sastra berbahasa Indonesia di Kalteng umumnya mereka yang berasal dari luar daerah dan mereka ini tidak mengintegrasikan diri dengan masyarakat lokal tapi menempati pos-pos elite. Atas nama daerah mereka mempromosi diri ke mana-mana.Dengan kedudukan demikian mereka mempunyai peluang untuk melakukan kontak ke berbagai penjuru, fasilitas yang tidak dimiliki penulis-penulis non elite, betapa pun produktifnya mereka. Dari keadaan demikian maka sastra berbahasa Indonesia di Kalteng menjadi sastra terasing atau terkucil dari masyarakat. Ambil sebagai contoh, antologi puisi "Negeri Bekantan" [ISASI, Ikatan Sastrawan Indonesia, Kalteng, Palangka Raya, 2003]. Puisi yang diterbitkan dalam antologi ini 98% ditulis oleh para penulis asal Jawa atau luar Kalteng. Orang-orang Jawa atau luar Kalteng, memang lebih akrab dengan bahasa Indonesia dibandingkan dengan orang Dayak. Pertanyaannya:Mengapa penulis berbahasa Dayak tidak diindahkan dalam temu sastra Borneo-Kalimantan? Apakah temu sastra Borneo-Kalimantan yang sudah berlangsung delapan kali, tidak memperhatikan masalah ini? Saya tidak ingin bersikap ekslusif dan serba Dayak, tapi kalau berbicara soal Borneo dan Kalimantan tanpa mengindahkan Dayak, saya kira ini bualan para sastrawan elite egois dan asing dari kehidupan belaka. Saya berani bertaruh, perkara kearifan belum dan kedalaman pikir, penulis berbahasa Dayak tidak tentu kalah dengan mereka yang menulis dalam bahasa Indonesia. Amien dari Kaltim menyebut tujuan Temu Sastra Sandakan sebagai: "i. mempertemukan sasterawan, penulis, seniman, budayawan dan juga sarjana dari sarawak, sabah, wilayah persekutuan labuan, brunei darussalam dan kalimantan; ii. membincangkan dan membicarakan hala tuju perkembangan bahasa, sastera dan budaya di wilayah borneo-kalimantan; iii. mengadakan forum antarbangsa bagi mencetuskan dan merealisasikan agenda pembangunan bahasa, sastera dan budaya di rantau sebelah sini; iv. menjalinkan kerjasama kebahasaan, kesusasteraan dan kebudayaan serumpun antara tiga negara yakni malaysia, brunei darussalam dan indonesia. semua matlamat itu mengesankan orientasi mereka yang lebih tertuju pada sastra sekarang, setidaknya itulah yang saya tangkap)". Baik! Apakah "sastera dan budaya" yang mau dibincangkan dan dibicarakan itu hanya sastra dan bahasa Indonesia dan Melayu tanpa mengindahkan bahasa-bahasa lokal yang ada dan hidup? Apakah gerangan bahasa nasional itu? Apakah Malaysia, Brunei dan Kalimantan itu? Pertemuan ini akan mempunyai guna efektif jika tidak terlepas dari realita dan tidak elitis. Tujuan-tujuan yang dicantumkan di atas hanya bualan besar jika jauh dari kenyataan dan mencuekkan kenyataan. Barangkali pada pertemuan berikutnya agenda akan jadi lebih membumi. Temu sastra ini patut disertai dengan konsep yang jelas dan bukan diselenggarakan dengan kekosongan wawasan. Pertanyaan utama menjadi: Quo Vadis?! *** Paris, Juni 2005. ---------------- JJ.KUSNI [Selesai]. [Non-text portions of this message have been removed] ______________________________________________________________________ http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
