Catatan Dari Meja Nusa Dua Dan Café Bandar [27]
 
 
KE KATINGAN!   
KATINGAN : PANGGILAN PULANG DARI SEORANG  IBU KEPADA ANAKNYA.  
 
9
 
"tempun petak batana saré
tempun uyah batawah belai
tempun kajang bisa puat"
[punya tanah berladang di tepi
punya garam hambar di rasa
punya atap basah muatan"

 
 
Bulan kampung masih mengantar perjalananku pulang. Cahayanya yang lembut jatuh 
di jalan dan pucuk-pucuk semak turut membantu menerangi kilometer demi 
kilometer yang kulalui serta mengungkit kenang dari waktu ke waktu.  Kabut 
halus mulai muncul dari permukaan jalan. Kabut begini pulalah dahulu di masa 
kanakku saban pagi menutup sungai pengasuhku Katingan sehingga tebing sebelah 
tak terjangkau pandang. Pada saat itu para nelayan yang mencari ikan kembali 
menepi dengan perahu mereka sarat muatan ditemani oleh sansana kayau mereka. 
Sansana kayau, bentuk puisi paling populer dan paling hidup di kalangan Dayak 
Katingan, memang menjadi teman akrab penduduk di kejauhan sungai dan rimba tak 
tertembus cahaya matahari, sahut-menyahut dengan suara siamang  atau nyanyi 
burung.  Hutan masih menabur bau wangi bunga-bunga. 
 
Pada musim bertelur, sungai beriak oleh rombongan ikan mencari hulu . 
Burung-burung mengintai dari dahan-dahan menyergap mereka. Dan aku, bersama 
kanak-kanak kampung  melepaskan tambatan perahu dengan "siap", alat penangkap 
ikan, guna menangguk sebanyak mungkin.   Hasil tangkapan kami bagi-bagi sesuai 
dengan jumlah orang yang berada di satu perahu. Jika sudah bosan, kami pun 
dengan telanjang bulat menerjuni sungai, kejar-mengejar dan simbur-siburan 
seakan mau melomba laju renang ikan yang kami tangkap seperlunya. Kabut seperti 
halnya gelombang kami rasakan sebagai tantangan yang harus kami taklukkan. 
Sesudah besar, baru kusadari bahwa menembus kabut dan gelombang kehidupan 
bukanlah hal sederhana. Terkadang terasa diri hampir tenggelam bahkan jatuh 
terhempas, dan lebih tidak sederhana lagi untuk bangkit dari kejatuhan. 
 
Bukit Tangkiling dan Danau  Tahai sudah jauh di belakang. Bayang-bayang Bukit 
Batu yang terletak di sebelah kanan mulai nampak.  Gundul sekarang Bukit di 
mana Mama Pang Enon dulu bertapa, bukit yang oleh orang Kasongan, terutama oleh 
keluargaku mempunyai arti khusus bahkan sakral. 
 
Kecil dahulu , sebelum jalan darat dibangun,  aku pernah ke Bukit ini dengan 
menggunakan sungai Sala dilanjutkan dengan jalan kaki. Hutan masih lebat, hutan 
tropis tak tertembus matahari. Yang masih teringat padaku sampai sekarang 
adalah rasa dingin perbukitan  yang menggigit tulang dan aku hanya bisa diam 
tak berdaya di hadapan dingin dan curahan hujan. Bertahan dengan tenaga 
bocahku.   Kemudian kutahu  bahwa angin dan hujan kehidupan serta kembara 
panjang,  jauh lebih dahsyat dari hujan dan dingin Bukit Batu. 
 
Bukit Batu sebagai tempat bertapa Mama Pang Enon [Tjilik Riwut], setelah ia 
"ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada tahun 1998" dijadikan sebagai 
"monumen Tjilik Riwut". Tapi sampai sekarang belum nampak ujud nyatanya 
bagaimana monumen itu akan dibangun, walaupun sejak lama bagannya sudah ada di 
kantor gubernur.
 
Andaikan keluarga Tjilik Riwut, terutama Tiyel Djelau tidak segera turun tangan 
memagari bukit, bisa dipastikan bukit ini akan hancur karena dibelah untuk 
dijadikan fondamen bangunan. 
 
Mendapatkan batu untuk fondamen bangun merupakan masalah tersendiri di Kalteng. 
Orang-orang lebih suka membuat rumah model Barat sedangkan rumah pangung 
seperti diabaikan. Padahal lahirnya rumah panggung, bentuk atap yang landai 
terjal bukanlah suatu kebetulan tapi dilahirkan sesuai kondisi alam Kalteng 
yang curah hujannya tinggi. Barangkali keadaan begini ada kaitannya dengan 
konsepsi modern, maju dan tradisional serta kolot. Aku khawatir ada anggapan 
budaya Dayak atau lokal dikategorikan sebagai kekolotan secara umum. Karena itu 
ketika mengetahui ada rumah yang meniru-niru model Barat lalu tak berapa lama 
kemudian tiris, tak mampu menampuh curah hujan, dalam hati aku tertawa. 
Begitulah kalau sok modern, pikirku.
 
Ketika Tiyel Djelau dengan beaya sendiri memagar Bukit Batu, ia dituduh oleh 
pemerintah Kotawaringin Timur di Sampit, pada waktu itu,  sebagai bersikap 
"anti pembangunaan".  Aku sempat membaca teks tuduhan tersebut di Kasongan. 
Alangkah sederhananya cara berpikir begini. Terkesan ada kesewenang-wenangan 
menggunakan dan mengatasnamai kekuasaan. Abuse of power, barangkali demikian 
kata menterengnya.  
 
Bagaimana Bukit Batu itu sekarang? Bukit  sakral orang Kasongan yang dulu 
ditutup hutan tropis tak tertembus matahari itu sekarang merupakah bukit gundul 
sama sekali.  Ribuan kilometer di belakangnya hanya ditumbuhi pohon-pohopedua 
yang kering.
 
Sedangkan di bagian depan berdiri sebuah pintu gerbang dengan dua patung 
belanga dengan gambar naga di badannya. Di Tanah Dayak, belanga di samping 
seperangkat gong, melambangkan kemakmuran dan sekaligus menunjukkan tingkat 
status seseorang atau keluarga dalam masyarakat.  Beberapa ratus meter dari 
gerbang ini,  terdapatlah Bukit Batu dengan bentuk yang aneh. Batu besusun dan 
gua-gua cukup dalam.  Pada batu-batu ini orang-orang menuliskan nama mereka, 
tanda mereka sudah pernah datang ke mari.
 
Adapun bangunan yang terdapat tidak lebih dari dua buah patahu [tempat 
persembahan makanan untuk leluhur]. Satu patahu khusus untuk Tjilik Riwut, 
sedangkan patahu yang lain untuk leluhur kami. Aku sendiri saban singgah kemari 
sesuai kebiasaan, selalu menaruhkan sesuatu, paling tidak baram [tuak dari 
beras atau tebu]. Kebiasaan ini tidak kucarikan dasar nalarnya tapi ia kupahami 
sebagai kekuatan kebudayaan yang menyusup ke bawah sadar. Bawah sadar inilah 
memang yang mau disasar oleh kebudayaan. Dan ia berpadu atau mengungkapkan diri 
pada yang disebut tradisi. Tradisi mempunyai kekuatan luar biasa dan sering 
berkembang lambat dari perobahan "bangunan atas".  Hal ini misal nampak pada 
sikap orang-orang di Tiongkok terhadap perempuan dan anak perempuan. 
 
Misalnya, pada zaman Komune Rakyat di RRT , upah perempuan untuk pekerjaan yang 
sama jauh lebih rendah dari lelaki. Kemudian keluarga-keluarga berusaha keras 
mendapatkan anak lelaki.
 
Dilihat dari segi kebiasaan dan bawah sadar ini, di tengah penyusupan 
tekhnologi baru ke Kalteng, aku menduga-duga barangkali manusia Dayak adalah 
manusia yang secara kebudayaan dan kejiwaan merupakan manusia yang 
terbelah.Apalagi ditambah oleh kerusakan alam lingkungan yang membuat manusia 
bingung oleh ketiba-tibaan itu. Mereka belum siap menghadapi perobahan 
mendadak. Mereka yang tadinya tergantung pada alam, sekarang alam itu tidak 
bisa lagi mereka gandoli. Dalam kebingungan begini beberapa kemungkinan 
terjadi: [1].ikut arus, seperti KKN; [2]. melakukan eskapisme , pelarian, pada 
perjudian, viagra, drug, mabuk-mabuk, dan lain-lain sejenisnya. Dalam keadaan 
tidak berdaya begini, orang pun senang atau gampang lari karena hilang 
kepercayaan diri pada mistisisme sebagai pegangan. Patahu bisa menjadi salah 
satu tempat mengharap.
 
Di samping kedua patahu terdapat sebuah pendopo yang di Katingan disebut balai.
Di balai ini diselengggarakan upacara-upacara adat dan upacara resmi pada 
peringatan-peringatan tertentu.  Pada  batu bagian depan dekat patahu, 
terpampang tulisan tangan besar berisikan kata-kata: "ela sampai tempun petak 
batana saré" [ jangan sampai punya tanah berladang di tepi]. Pesan ini kukira 
sampai sekarang bukan hanya  masih relevan tapi sangat aktual.
 
Bangunan lain,  terletak  jauh di belakang bukit berupa kamar kecil yang juga 
seperti Bukit Batu secara keseluruhan, sama sekali tidak terawat.  
 
Demikianlah nasib Monumen Tjilik Riwut di Bukit Batu. Barangkali Monumen itu 
memang bagian keadaan "tempun petak batana saré", "tempun uyah batawah belai" 
[punya garam haram di rasa].  
 
Kendaraanku terus melaju ke Kasongan yang sudah sangat dekat dengan Bukit Batu. 
Bukit Batu adalah bagian dari kabupaten Katingan yang baru dua tahun lalu 
terbentuk dalam rangka program pemekaran daerah.   Jalan makin larut. dan sepi. 
 Hanya sesekali kendaraan-kendaraan dari belakang dan depan mendengus kencang 
seperti dengus angin yang menampar jendela Nusa Dua dan ombak teluk menderu di 
pantaiCafé Bandar.  Kenangan jelas tertera di langit dan bulan***
 
Paris, Oktober 2005.
---------------------------
JJ. Kusni
 
 
 
 




                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 New and Improved Yahoo! Mail - 1GB free storage!

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/ons1pC/lbOLAA/E2hLAA/.DlolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke