Surat Kembang Kemuning: KETIKA SOROT SINARNYA MEMUDAR
Mencatat Setiakawan Kepada Maroeli Simbolon Kesulitan finansil sering memburu dan menghantui para seniman, lebih-lebih bagi mereka yang belum bernama atau sedang membangun nama. Hal ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga dialami oleh para seniman di luar negeri. Kalau kita datang ke Montmartre, sebuah kampung seniman yang terletak di kawasan tertinggi Paris, kita akan mendapatkan sebuah rumah bernama Le Bateau Lavoir di mana Pablo Picasso melakukan kegiatan-kegiatan berkeseniannya bersama seniman-seniman lain yang kemudian tersohor. Di Le Bateau Lavoir ini tercatat kisah laparnya Picasso walau pun tidak sehebat derita Modigliani yang kemudian menghembuskan nafas penghabisan dalam keadaan serba kekurangan. Sedangkan waktu di Yogya, ibu-ibu sederhana pemilik warung di sekitar ASRI Gampingan, jika mereka masih hidup, akan bisa bercerita bagaimana para pelukis muda dan mereka yang sedang membangun nama berhutang lebih dulu untuk bisa makan dan membayarnya ketika ada karya-karya mereka yang laku. Dan tentu saja saat pembayaran hutang dilakukan, jumlahnya jauh melampaui jumlah hutang, sehingga antara para seniman dan ibu-ibu sederhana pemilik warung, terjalin rasa saling mengerti dan saling tolong. Karena itu apakah terlalu salah mengatakan bahwa para ibu-ibu warung ini pun sebenarnya punya andil dalam kehidupan seni lukis di Yogya? Aku hanya mengenang jasa dan sikap mereka yang tak terlupakan di mana justru pada manusia-manusia sederhana begini kudapatkan rasa kemanusiaan dan pengertian yang besar.Sikap yang nyata tanpa diberi dasar teori apa pun tapi telah menghangati kehidupan sedangkan kelompok masyarakat yang lain dan merasa diri barangkali lebih elite atau tinggi, justru gampang menohok kawan sendiri didorong oleh individualisme yang mengangkangi jiwa mereka. Contoh lain adalah apa yang dialami oleh Rendra ketika terpaksa makan nasi dan berlauk garam saja bersama Mbak Soenarti, istrinya. Melalui praktek Rendra, Teguh Karya, Arifin C. Noer dan entah berapa nama lagi kusimpulkan bahwa menjadi seniman akhirnya adalah suatu pilihan total yang benar-benar dikahayati. Seorang jurumasak ikan Jepang pun pernah mengatakan demikian di depan tivi Perancis. "Kau tak bisa mendapat kemajuan dan nilai jika kau tidak mencintai pekerjaanmu. Masak bagiku adalah suatu totalitas". Perancis menghargai jurumasak mereka dengan memberikan bintang jasa nasional yang disebut bintang "Legion d'Honneur". Sedangkan kita di Indonesia? Sering yang terdengar "sekolah tinggi-tinggi sampai jadi sarjana S1 khoq hanya jadi jurumasak". Tentang kelaparan, kekurangan uang, sanggar-sanggar dan rumah yang didiami seniman, Yogya tidak kekurangan kisah. Kisah-kisah kekurangan uang, dikejar segala rupa kekurangan sampai sekarang agaknya masih saja belum berakhir. Di hadapan keadaan begini maka pertanyaan yang muncul adalah bagaimana mengatasinya? Yang jelas individualisme tidak akan kuasa menjawabnya secara tanggap. Individualisme dalam pemahamanku hanyalah meruntuhkan, memadamkan nilai manusiawi dan membuat kita kadang menjadi sangat tidak perduli, pembohong bahkan sanggup kejam tanpa nurani. Karena itu bagiku, kasus Maroeli Simbolon yang sekarang masih terbaring di rumah sakit dan sikap para seniman menanggapi keadaan sastrawan ini menjadi cukup menarik. Pada saat "uang sebagai raja" merupakan nilai dominan dan meredupkan makna setiakawan, para seniman justru secara kongkrit ingin mengobarkannya. Maroeli mendapat kesulitan menangani beaya rumahsakit dan pengobatannya. Pada saat begini, Manik Sinaga dari Komunitas budaya Matabambu mengambil prakarsa bersama teman-temannya menghimbau para seniman dari komunitas-komunitas lain seperti "mejabudaya, "TUK", "Forum Apresiasi Sastra", "Majalah Aksara", "Masyarakat Sastra Jakarta", "Komunitas Generasi Batak (GenB)", "Senat Mahasiswa FFTV IKJ", "Penerbit Jalasutra" untuk turun tangan secara kongkret. Untuk kepentingan ini pada 18 Nopember 2005 mendatang akan diselenggarakan pentas "Sepasang Luka Cinta" dan lelang buku karya Maroeli, lelang Lukisan, baca puisi, musikalisasi puisi, baca cerpen mini karya Maroeli,happening art, pemutaran film, baca puisi karya kawan-kawan untuk Maroeli, sambutan dari semua komunitas penyelenggara dan tarian (Tor-tor) Batak. Berapa pun hasil yang diproleh dari kegiatan ini kelak, kukira ia tetap mempunyai nilai tinggi, lebih-lebih pada saat setiakawan memudar di negeri ini.Saat nilai manusiawi ini memudar para seniman justru mengangkat dan mengobarkan nyalanya. Apakah ini isyarat bahwa para seniman mulai mengambil tempatnya kembali "berada selangkah di depan" dari keadaan dan kenyataan? Tanda bahwa para seniman masih warga republik berdaulat sastra-seni dan pemimpi setia kemanusiaan? Menangani kesulitan ekonomi seniman beginilah yang justru merupakan salah satu program Komunitas Matabambu yang masih sangat muda sehingga seniman tidak identik dengan hidup awut-awutan melalui pengembangan sistem kerja jaringan baik dalam dan luar negeri.Sedangkan untuk meningkatkan taraf diri sebagai kreator, Komunitas Matabambu mencantumkan program pendidikan. Barangkali yang ide terakhir ini berangkat dari hasrat memberikan yang terbaik, terindah kepada kemanusiaan. Karena mutu karya tidak terpisahkan dari tingkat penciptanya. Aku hanya bisa sekali lagi menyatakan hormat atas pengobaran kembali nilai setiakawan ini pada saat ia memudar di negeri ini. Aku sedang melihat para seniman sedang memanusiawikan diri, ingin jadi manusia manusiawi dan mencari manusia yang memang masih tersisa di negeri kita. Usaha ini mengingatkan aku pada kisah seorang filosof Yunani Kuno yang menhyalakan kandil di tengah hari . Ketika ditanya: "Kau sedang mencari apa gerangan?". Jawabnya: "Aku mencari manusia!". Manusia inilah yang kukira selayaknya mengatur negeri bukan para bandit. Tapi tidak adakah bandit yang menyamar sebagai seniman? Bagiku kesenian tidak terpisah dari kebenaran, setiakawan, kemanusiaan dan keindahan. Nilai-nilai inilah yang secara singkat kusebut keindahan. Apakah sesuatu itu indah jika tidak benar, tidak manusiawi, tidak bersetiakawan sementara kita adalah mahluk sosial?! **** Paris, Oktober 2005. ------------------ JJ.Kusni [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/.DlolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ______________________________________________________________________ http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
