Catatan di Meja Nusa Dua & Cafe Bandar:
   
   
   
  KEPASRAHAN SEBAGAI PEMBEBASAN  [3]
   
   
  Catatan Membaca kumpulan cerpen TKW: ‘Hongkong, Namaku Peri Cinta’
  Tebal: v-xvii + 1-172 hlm + xix-xxiii
  Penerbit: Lingkar Pena Publishing House, Hongkong & PT Lingkar Pena Kreativa, 
Depok, Indonesia, September 2005.
  Kata Pengantar: Asma Nadia
   
   
  Masalah nilai merupakan salah satu urusan langsung dari sastrawan dan 
seniman. Sistem nilai apakah gerangan yang menjelujuri 12 cerpen dalam 
bungarampai ‘Hongkong, Namaku Peri Cinta’?
   
  Untuk menjawab pertanyaan ini, tanpa membaca keduabelas cerpen di dalam 
bungarampai, pembaca sudah bisa menduganya dan dugaan tersebut tidak akan jauh 
dari kenyataan. Sejak kulit muka dengan lukisan seorang perempuan berwajah ayu, 
kedua mata tertutup khusyuk, kepala bertutupkan jilbab sutera putih terurai 
hingga punggung, dua belah tangan tengadah bagai orang sedang memanjatkan doa, 
melalui halaman kedua yang bertuliskan kalimat tunggal 
`’bismillahhirrahmanirrahim’, hingga halaman terakhir yaitu halaman belakang, 
berisikan sanjungan tinggi dari Taufiq Ismail, bahwa kucerpen ini ‘mendobrak 
sejarah penulisan cerpen Indonesia’,  halaman-halaman tersebut berisikan pujian 
akan kebesaran Allah dan melukiskan kedekatan para penulis dengan Allah serta 
peranan Allah dalam kehidupan mereka.  Tak ada capaian apapun yang lepas dari 
tangan dan berkat Allah. Tangan Allah tidak nampak campur Katinem, dalam cerita 
‘Blind Happiness’ karya Sifa Aulia [hlm.59-70],  dipecat oleh majikannya dan 
harus
 kembali ke agen, atau dalam cerita Fia Rosa yang bercerita tentang Lusia yang 
harus berpisah  dengan Ranjiv,  suaminya asal Pakistan. Ranjiv harus pulang ke 
negerinya karena tak bisa memperpanjang visa tinggal di Hongkong [‘Kabut Hitam 
Di Sepanjang Perjalananku’ hlm-hlm. 139-156]. 
   
  Terhadap kegagalan-kegagalan yang dialami oleh TKW , Tuhan nampak bebas 
tanggungjawab dan seakan hilang kebesaran. Juga tidak nampak uluran tangan dan 
kebesaranNYA di hadapan PHK, usaha pemerkosaan  atau pun ‘underpayment’. 
Pemerintah pun memberikan perhatian yang sangat minim sekalipun para TKW ini  
resmi pemegang paspor Republik Indonesia dan memberikan sumbangan devisa yang 
tidak kecil kepada bangsa dan negara. 
   
  Di hadapan masalah-masalah kongkret begini, tidak saya dapatkan secara 
menonjol dan ditonjolkan oleh dan  dari keduabelas cerpen ini solidaritas  di 
kalangan sesama TKW dan peran  organisasi BMI. Yang sangat nampak adalah 
ketergantungan para TKW pada belaskasihan para majikan. Diperlihatkan oleh 
keduabelas cerpen ini bahwa para TKW sewaktu-waktu bisa dipecat dan 
dikembalikan ke agen mereka lalu dikembalikan ke Indonesia. Dipecat dan 
dikembalikan ke Indonesia nampak merupakan ancaman bahaya yang mengerikan 
sehingga dari dasar sosial atau sifat kerja begini, di kalangan para TKW muncul 
suatu psikhologis ketakutan serta terhimpit dan mentalitas ‘membuat majikan 
senang’, ‘menarik perhatian majikan’ yang menyediakan ruang sangat kecil untuk 
kelegaan sebagai manusia yang bebas.  Sampai-sampai Lusia dan Ranjiv, sekalipun 
sudah menjadi suami-istri terpaksa merahasiakan hubungan ini bukan hanya kepada 
majikan Lusia.
   
  “Kisah percintaanku selama ini tak pernah diketahui oleh majikanku. Aku 
selalu menyembunyikkannya dengan baik karena majikanku tidak mengizinkan aku 
pacaran dengan siapa pun . Bahkan dia pernah mengancam jika aku ketahuan 
pacaran dan berani membawa laki-laki masuk ke rumahnya dia tak akan segan 
mem-PHK-ku dan memulangkanku ke Indonesia”, tutur Fia Rosa dalam cerpennya 
’Kabut Hitam Di Sepanjang Perjalananku’ [154-155]. 
   
  Keadaan sosial demikian membuat  hak kemanusiaan para TKW diciutkan atau 
sangat dimarjinalkan. Hak kemanusiaan yang relatif utuh mereka dapatkan hanya 
di hari libur yang dijamin oleh UU Hongkong saban akhir pekan.  Dibandingkan 
dengan keadaan para TKW di Timur Tengah, barangkali hak minimal ini, membuat 
para TKW Hongkong bisa sedikit tersenyum. 
   
  Dengan membeberkan permasalahan, saya menduga Fia Rosa secara tidak langsung 
telah melakukan protes keras, mengikuti teladan Mark Twain, Multatuli, Zola 
atau Cak Durasim. Dan Fia konsisten dengan protes-protesnya walaupun belum 
sampai pada tingkat solusi . 
   
  Di hadapan ancaman pemecatan secara tak semena-mena, tidak nampak bahwa para 
TKW mempunyai kemungkinan berlawan kecuali menerima. Pasrah. Menganggap apa 
yang dihadapi dan menimpa diri mereka sebagai takdir. Ketidakberdayaan dan 
pasrah  serta takdir diterima sebagai cara pembebasan diri secara psikhologis.  
Inilah yang saya maksudkan sebagai kepasrahan atau ‘nrimo’ atau ‘mupus’ [ jika 
menggunakan ungkapan Jawa] sebagai ‘pembebasan’. Apakah beda ‘pembebasan’ 
begini dengan ‘masturbasi psikhologis’, produk dari sistem Orba dan sistem yang 
tidak mengindahkan rakyatnya? ‘Pembebasan’ tipe ini dengan kata lain bisa juga 
disebut sebagai eskapisme atau pelarian dari masalah, sikap mental yang berbeda 
dengan sikap Graeng Galesong dari Tanah Bugis atau Trunojoyo dari  Jawa Timur 
atau  ‘rengan tingang nyanak jata’ [anak enggang putera-puteri naga] atau 
‘mamut-meteng pitar harati, mameh ureh’  manusia Dayak. 
   
  Membandingkan dua sikap mental ini dari sudut pandang antropologi mentalitas 
maka  nampak bahwa agaknya pola mental anak bangsa dan negeri kita hari ini 
tidak memperlihatkan kemajuan apalagi untuk disebut sebagai  ‘mendobrak sejarah 
penulisan cerpen Indonesia’.
   
  Melalui bungarampai cerpen ini juga karenanya saya juga melihat sosok mental 
bangsa kita yang tidak berdaya, yang berada pada status bangsa ‘koeli’ 
kekinian,  karena TKW adalah produk dari suatu sistem masyarakat yang menguasai 
bangsa dan negeri. Jasa antologi ini tidak terletak pada solusi ‘pembebasan’ 
‘mupus’ yang ditawarkannya tapi terletak pada narasi keadaan dengan 
dampak-dampak kongkret pada anak bangsa  dan negeri yang dijadikan ‘barang 
ekspor’ harga murah rendah kualitas.
   
  Dilihat dari segi TKW sendiri, mereka bisa dinilai juga sebagai kelenturan 
daya tahan anak negeri dan bangsa yang menolak menyerah, untuk tetap hidup 
dengan menghargai hak serta martabat kemanusiaan minimalnya secara mandiri. 
Adanya TKW serta segala permasalahannya, bisa dibaca secara lain,  sebagai 
bukti  ketertinggalan pemerintah menangani warganegaranya. 
   
  Buntut dari solusi ‘pembebasan semu’ di atas juga dicerminkan oleh 
cerpen-cerpen dalam bungarampai ini misalnya kesanggupan membiarkan teman mati 
jatuh ke jurang seperti yang dilukiskan oleh Wina Karnie dalam cerpennya ‘Beri 
Aku Kamboja’ [hlm.-hlm. 71-87], kegoncangan budaya [cultural schock] seperti 
yang dilukiskan oleh Syifa Aulia dalam cerpennya ‘Blind Happiness’ [hlm.-hlm. 
59-71],  juga tersirat dalam cerpennya berjudul ‘Pembantu’ [hlm.-hlm.103-114]. 
Hal lain yang diangkat oleh Syifa melalui ceritanya ‘Elegi Bunga Rantau’ 
[hlm.-hlm. 39-57] adalah terjadinya ‘samenliven’ yang di Indonesia secara 
munafik dihujat dan dikatakan sebagai ‘kumpul kebo’.  
   
  Terhadap ‘samenliven’ Syifa Aulia nampak kembali ke main-stream dan mundur 
teratur dari tuturannya yang mengemukakan bahwa antara Peter dan Wiwik selama 
hidup bersama tanpa nikah telah mengenyam kebahagiaan.  Berbaliknya Syifa ke 
mainstream menghentikan pemberontakannya tertuang dalam kata-kata:
   
  “Mereka tak pernah tahu bahwa diriku bukanlah Wiwik yang dulu mereka kenal. 
Aku telah berubah menjadi bunga liar yang tak lagi berseri dengan keharuman 
mewangi. Putik-putikku telah layu, bahkan luruh berguguran. Sariku telah 
membusuk . Terbalur aroma debu-debu nista yang menempel di jiwa dan ragaku” 
[hlm-hlm. 56-57].
   
  Dengan kembali ke main stream, Syifa Aulia  terkesan balikbelakang ke konsep 
‘keperawanan’ bagi seorang perempuan, seakan-akan seluruh harkat dan martabat 
serta kemanusiaan seorang perempuan terletak pada perawan tidaknya perempuan – 
nilai dominan kadaluwarsa yang turut menindas perempuan. Dengan bertahan dan 
membela nilai-nilai kadaluwarsa begini, dengan selubung dalih sakral atau non 
sakral apa pun, pqra perempuan sesungguhnya para perempuan turut menindas dan 
memenjarakan diri mereka sendiri. Kepada para yang menyebut diri feminis, saya 
ingin bertanya: Tidakkah ada  dalam praktek dan konsepsional para feminis 
negeri ini yang terutama mengacu ke Barat,  langsung tidak langsung turut 
menindas kaumnya sendiri atas nama kesetaraan?
   
   
  Polah ulah dan tingkah laku tokoh-tokoh yang ditampilkan oleh 12 cerpen di 
bungarampai ini jika dilihat dari segi keteladanan pencari seorang sastrawan 
dan nilai ke Tuhanan yang ingin ditegakkan, secara nyata mempunyai jarak besar 
bahkan sering bertolak belakang. Apalagi jika mencoba mendapatkan pesan yang 
bersifat avant-gardist atau pembidasan, kita akan sia-sia menemukannya. 
Kucerpen ini tentu bukan tempat mendapatkannya.   Tapi realita memang lebih 
polos dan selalu tidak sederhana.  Di kenyataan itulah kita hidup.Jika 
menggunakan kata-kata romansir [romancier] Perancis, Marcel Proust: ‘Eksistensi 
kita memang ada di dalam kenyataan’ [Nos existences sont en realite]. Apa yang 
ditampilkan dalam antologi cerpen ini saya kira merupakan sebagian dari 
kehidupan nyata paraTKW. Menggembirakan bahwa para TKW menulis tentang diri 
mereka. Berbicara tentang persoalan, perjuangan, kekecewaan,  kesepian, 
kegembiraan, kerinduan, kegagalan, ketakutan,  dan harapan-harapan mereka 
sehingga mereka
 mendapatkan sastra sebagai `’sahabat paling setia’ mereka seperti yang 
diucapkan oleh Wina Karnie [hlm.xx] .
   
  Hanya saja, saya sempat mengerenyitkan dahi ketika membaca cerita pertama 
karya Wina Karnie berjudul ‘Hujan Masih Menjanjikan Cinta’ [hlm.-hlm. 1-11]. 
Karena menjelang Natal beberapa hari lalu,,  di tivi Perancis, secara kebetulan 
saya menonton sebuah filem cerita, dengan alur 99 persen sama dengan cerpen 
Wina Karnie ini. Mudah-mudahan  suatu kebetulan belaka, sebab jika tidak, pasti 
‘jalan keserupaan 99 persen’ begini, bukanlah jalan terbaik untuk menjadi 
penulis yang serius.  Entah kalau jalan ini, juga bisa disebut sebagai 
‘mendobrak sejarah penulisan cerpen Indonesia’, jika menggunakan istilah Taufiq 
Ismail. 
   
   
  *****
  
 
   
  Dari panggung kau melirikku. Melihat aku  tersenyum sendiri, kau bergegas 
kembali datang ke meja kerjaku. 
   
  “Selesai?” tanyamu tanpa menunggu jawab sambil menghirup kopi yang sudah 
dingin dan duduk di kursiku menghadap laptop berisi draft catatan. Aku lalu 
bergabung dengan Jamal dan Henny , dua penyanyi romantik,  membiarkan kau 
membaca di meja Nusa Dua. 
   
  Seperti biasa, kau tahu bahwa giliranmulah sekarang yang bekerja keras: 
membaca, meneliti, mengkritik dan mengkoreksi yang sudah ditulis tanpa 
aling-aling – cara kerja yang sejak lama kita trapkan dalam tulis-menulis dan 
kehidupan, demi pemburuan makna tak punya usai , pencarian tak punya sampai 
bagaikan kalimat senantiasa tiba di koma. Tapi justru dari koma inilah kita 
mendapatkan tenaga ombak teluk gelombang samudera. ***
   
   
  Paris, Desember 2005. 
  JJ.Kusni


                
---------------------------------
 New and Improved Yahoo! Mail - 1GB of free storage!

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/f4eSOB/lbOLAA/E2hLAA/.DlolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke