----- Original Message -----
From: Ulil Abshar-Abdalla
To: Lakpesdam-NU ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; Mohamad Guntur Romli
; Abd. Moqsith Gazali ; Abdul Moqsith Ghazali ; Anick ; Farid Wajidi ; Hairus
Salim ; Ienas Tsuroiya ; MG Romli ; Anick Hamim Tohari ; [EMAIL PROTECTED] ;
Muntajid Billah ; Robin Bush ; Toni Pangcu ; Zuhairi Misrawi ; Zuhaeri Misrawi
; [EMAIL PROTECTED] ; Umdah el Baroroh ; Trisno Sutanto ; Syafiq Hasyim ;
Sukidi Mulyadi ; Maria Ulfah Ansor ; Hasyim Wahid
Sent: Saturday, December 31, 2005 5:02 AM
Subject: Kenangan untuk Pak Masykur
In Memoriam
Masykur Maskub: Penggerak "Silent Transformation" di NU
Tokoh yang pendiam itu telah meninggal dalam insiden kendaraan bermotor di
kawasan Pancoran, pada 30 Desember 2005. Pak Masykur, guru, teman, dan sahabat
yang sangat saya hormati dan cintai itu telah meninggalkan kita untuk
selamanya. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.....
Masykur Maskub, atau Pak Masykur --begitu kawan-kawan muda NU kerap
menyapanya-- bukanlah tokoh yang "cemlorot" dan terkenal. Dia nyaris tak pernah
muncul di TV, pernyataan-pernyataannya jarang dikutip media, dan kehadirannya
mungkin hanyalah dirasakan "bermakna" buat kalangan terbatas yang mengenalnya
dari dekat. Dia bukanlah Gus Dur yang kehadirannya nyaris "pervasive" dan ada
di mana-mana. Pak Masykur mung tampak hadir hanya buat segelintir orang,
tetapi, believe me, kehadirannya yang terbatas itu mempunyai makna yang
mendalam, bukan saja buat teman-temannya, tetapi lebih besar lagi buat NU.
Dialah orang yang, di mata saya, melakukan "silent transformation" (perubahan
diam-diam). Jika tak khawatir menimbulkan efek berlebihan, saya hampir saja
mengatakan "revolusi diam-diam".
Usahanya, tentu bersama kawan-kawannya yang lain, untuk menegakkan institusi
lembaga riset, kajian dan pengembangan sumber daya manusia NU, yakni
Lakpesdam-NU, serta membangun sistem yang kredibel dan bermartabat dalam
lembaga itu, jarang dikenal oleh banyak orang, bahkan di lingkungan NU sendiri.
Tetapi, berkat usahanya itu, Pak Masykur telah menjadikan Lakpesdam-NU sebagai
salah satu lembaga NU yang berjalan normal sebagaimana laiknya sebuah institusi
modern. Dia bekerja dari balik layar, wajahnya jarang, atau nyaris tak pernah,
disorot oleh kamera, dan sosoknya hanya disadari oleh sejumlah orang di NU
dalam kesempatan yang terbatas. Tentu dia hadir dalam setiap event besar NU,
tetapi jarang orang menyadari bahwa dia telah melakukan hal yang "besar" buat
NU. Dan saya kira, figur-figur yang bekerja dengan diam-diam untuk NU semacam
ini bertebaran di seluruh daerah, dari mulai Pengurus Besar NU hingga ke
Pengurus Ranting NU. Orang jarang mengenal mereka, dan mereka tentu tak risau
jika tak banyak orang mengetahui apa yang telah mereka kerjakan untuk institusi
yang mereka cintai lahir-batin, Nahdlatul Ulama. Saya kira, umur NU bisa
panjang karena "tangan dingin" dan keikhlasan yang nyaris tanpa pamrih dari
orang-orang semacam Pak Masykur ini.
Di kalangan anak-anak muda NU, terutama teman-teman yang sering mendefinisikan
diri mereka sebagai "NU kultural", Pak Masykur dianggap sebagai pelindung dan
pengayom. Meskipun jarang atau tidak banyak bicara, tetapi kehadiran Pak
Masykur sangat berarti buat teman-teman itu. Dia, mungkin seperti garam: tidak
terlihat di mangkuk waktu anda menyantap bakso, tetapi jika bahan itu tak ada
di sana, anda merasa ada sesuatu yang hilang. Tak berlebihan, jika saya
mengatakan bahwa Pak Masykur adalah semacam "mursyid" untuk teman-teman muda NU
yang bergerak di jalur kultural.
Perkenalan saya dengan Pak Masykur berlangsung secara pelan-pelan, dan itu
terjadi mula-mula pada 1983 di Madrasah Mathali'ul Falah, Kajen, Pati. Madrasah
ini dipimpin oleh KH. Muhammad Ahmad Sahal Mahfudz, atau Kiai Sahal,
sebagaimana kami dulu sering menyebut beliau. Saat itu, saya duduk di kelas 3
Tsanawiyah. Pada pandangan pertama, penampilan Pak Masykur sebagai seorang guru
tak begitu meyakinkan. Pembawaannya terlalu "lembut" untuk mata pelajaran yang
dia pegang saat itu, yakni "Kewarganegaraan Indonesia". Kami dulu menyebutnya
"pelajaran civic". Dia mempunyai sifat yang agak unik, yaitu sulit mengatakan
sesuatu yang ada dalam pikirannya. Dia kerap kali tampak seperti terengah-engah
untuk melontarkan sesuatu yang berkecamuk di benaknya. Saat menerangkan sesuatu
di kelas, Pak Masykur kelihatan seperti tergagap-gagap. Tak aneh, jika pada
bulan-bulan pertama mengikuti kelas dia, saya tak terlalu terkesan.
Tetapi, pelan-pelan, kesan saya berubah total saat pelajaran sudah berjalan
jauh. Meskipun Pak Masykur bukanlah seorang guru yang pandai berbicara, tetapi
cara dia membangkitkan rasa ingin tahu di kalangan murid luar biasa. Salah satu
momen yang paling tidak saya lupa adalah saat dia menjelaskan secara detil,
walaupun dengan terengah-engah, sejarah sekitar kemerdekaan Indonesia. Tentu,
keterangan tentang peristiwa di sekitar proklamasi sudah kerap saya dengar di
kelas dari guru-guru lain.Tetapi, keterangan Pak Masykur sangat tidak
"konvensional". Dia banyak menjelaskan detil-detil peristiwa penculikan Sukarno
oleh Sukarni dan anak-anak muda "revolusioner" saat itu ke Rengasdengklok.
Tentu, detil-detil itu tidak ada dalam buku teks pelajaran. Dia juga
menjelaskan dengan menarik sekali rumitnya perdebatan dalam sidang-sidang
persiapan kemerdekaan RI, serta debat di konstituante yang berakhir dengan
dead-lock. Sejarah, di tangan dia, menjadi begitu hidup buat saya saat itu.
Yang menarik adalah, dia juga menyebutkan sumber-sumber yang dia rujuk. Ketika
membahas soal debat di konstituante tentang dasar negara itu, dia menyebut buku
karangan Syafii Maarif terbitan LP3Es yang, belakangan saya ketahui, ternyata
menjadi bahan pembicaraan luas, yaitu "Islam dan Masalah Kenegaraan". Dia
antara lain menyebut jurnal Prisma sebagai salah satu sumber rujukannya.
Seperti kita tahu, dekade 80-an awal adalah masa-masa kejayaan jurnal yang
diterbitkan oleh LP3ES itu. Di sana, saya tahu ini belakangan, ada rubrik
"tokoh" yang selalu memuat biografi sejumlah tokoh terkenal dalam sejarah
Indonesia. Pak Masykur, saya kira, satu-satunya guru di madrasah saya yang
membaca jurnal itu, bahkan berlangganan. Buat saya sebagai seorang santri dusun
saat itu, nama-nama buku dan jurnal yang datang nun jauh dari kota tampak
seperti barang "luks" yang nyaris tak terjangkau. Tetapi, believe me or not,
Pak Masykur lah yang membuat barang-barang mewah itu bisa saya sentuh.
Belakangan saya kemudian tahu bahwa Pak Masykur rupanya bekerja sebagai seorang
"social volunteer" untuk program pengembangan pesantren yang dilakukan oleh
LP3ES, dan karena itulah dia mendapat kiriman rutin jurnal Prisma dan buku-buku
terbitan LP3ES yang lain. Dari segi bacaan, Pak Masykur saat itu mendahului
ratusan langkah dari guru-guru lain di madrasah saya. Karena cara dia mengajar
yang hidup inilah saya menjadi tertarik dengan kelas dia. Setiap masuk kelas,
selalu ada hal baru yang dia bawa yang tak ada dalam buku teks pelajaran. Dia
selalu membawa hal-hal baru yang segar. Dunia saya sebagai seorang murid
madrasah kampung yang sempit saat itu seperti diperluas cakrawalanya oleh
penjelasan-penjelasan dia yang bersumber dari bahan bacaan yang kaya. Ada salah
satu kebiasaan mengajar pada dia yang unik. Dia akan selalu mengakhiri kelas
dengan mendaftar sejumlah bahan bacaan yang menjadi bahan rujukan dia. Tentu
dia tak menuntut kami untuk membaca buku-buku itu. Sebab, semua bahan bacaan
yang dia sebutkan itu tak ada di perpustakaan madrasah saya yang isinya
sebagian besar adalah kitab kuning dan sejumlah buku "drop-dropan" (istilah
yang dikenal waktu itu) dari pemerintah. Tetapi, ini uniknya, dia selalu
mempersilahkan murid-muridnya untuk datang ke rumahnya untuk meminjam buku-buku
bacaan yang dia anjurkan. Dia hanya ingin memperlakukan kami, murid madrasah
Tsanawiyah, seperti seorang mahasiswa.
Udangan ini langsung saya sambut dengan suka cita. Jarak antara rumah saya dan
rumah Pak Masykur yang berada di Desa Sumerak (sekitar 7 kilo ke arah selatan
dari kota Kawedanan Tayu) sekitar 5 kilo. Saya selalu naik sepeda "onthel"
(istilah yang lazim dipakai di desa saya) ke rumah dia; sekitar 45 menit.
Pertama kali saya berkunjung ke rumahnya, saya terkesima. Untuk pertama kali
saya melihat koleksi jurnal Prisma yang dibundel dengan rapi dan bagus.
Buku-buku terbitan LP3ES juga ada di sana, dengan beragam topik dan tema:
politik, ekonomi, sosial-budaya, agama, dll. Saya tak pernah menyaksikan bahan
bacaan seperti itu sebelumnya, bahkan di perpustakaan madrasah pun tidak. Dalam
hati, saya berkata, "Pantesan kelas Pak Masykur kaya dengan informasi-informasi
baru, abis bacaannya keren kayak gini." Saya masih ingat, buku pertama kali
yang saya pinjam dari koleksi pribadi Pak Masykur adalah dua buku bunga rampai
tulisan seorang intelektual Indonesia yang paling dihormati saat itu,
Soedjatmoko. Dua buku itu adalah: Dimensi Manusia dalam Pembangunan dan Etika
Pembebasan. Tidak seluruh tulisan Soedjatmoko yang rumit itu bisa saya cerna.
Tetapi, membaca buku-buku itu, saya merasa ada sesuatu yang "lain" di luar
pelajaran keagamaan ala pesantren yang saya terima selama ini. Saya juga mulai
meminjam beberapa edisi jurnal Prisma. Dari sanalah saya mulai mengenai
sejumlah inetelektual Indonesia yang terkenal pada saat itu: Abdurrahman Wahid,
Ignas Kleden. Ismid Hadad, Dawam Rahardjo, Fachry Ali, Juwono Sudarsono, Daniel
Dhakidae, Aswab Mahasin, Lukman Sutrisno, Prof. Sajogjo (yang ahli pergizian
itu), Sediono Tjondronegoro, Rahman Tolleng, Burhan D Magenad, YB Mangunwijaya,
Soetjipto Wirosardjono, Nurcholish Madjid, Syafii Maarif, Amien Rais,
Jalaluddin Rakhmat, dll. Tentu perkenalan saya dengan tokoh-tokoh ini tidak
terjadi sekaligus. Dalam rentang waktu empat tahun, sejak kelas 3 Tsanawiyah
hingga 3 Aliyah, saya tak pernah henti-hentinya diajar oleh Pak Masykur, dan
tak henti-hentinya pula saya melahap koleksi pribadi dia. Belakangan, setelah
terbit majalah Pesantren oleh P3M, lembaga yang sekarang dipimpin oleh Masdar F
Masudi, daftar pinjaman saya tentu mencakup jurnal itu. Majalah lain yang saya
pinjam adalah Pesan yang juga diterbitkan oleh LP3ES dan dikhususkan sebagai
bacaan untuk para santri ('Pesan' adalah kependekan dari 'Pesantren').
Di samping mengajar di madrasah asuhan Kiai Sahal itu, Pak Masykur juga
terlibat dalam sebuah LSM yang berada di bawah naungan Pesantren Maslakul Huda,
asuhan Kiai Sahal. Nama LSM itu adalah BPPM, Badan Pengembangan Pesantren dan
Masyarakat. BPPM adalah salah satu mitra kerja LP3ES, dan belakangan P3M, dalam
program pengembangan pesantren dan masyarakat. Dekade 80-an adalah periode
"romantis" LSM di Indonesia. Saat itu, banyak kalangan kritis yang merintis
sejumlah LSM di Jakarta percaya bahwa perubahan sosial bisa terjadi lewat jalur
yang non-developmentalis, yakni di luar jalur pembangunan yang ditempuh oleh
pemerintah dengan ciri utamanya adalah pendekatan "top down": pemerintah
memutuskan, rakyat tinggal manut saja. Pendekatan itu dikritik sebagai sumber
kegagalan pembangunan saat itu. Oleh karena itu, harus dicari alternatif
perubahan sosial yang lain. Timbullah gagasan tentang perubahan yang
"bottom-up", dari bawah ke atas, dengan pendekatan yang saat itu dikenal
sebagai metode partisipatoris. Karena pesantren dianggap sebagai lembaga
pribumi yang berkembang dari bawah, maka banyak kalangan percaya bahwa
perubahan sosial alternatif bisa ditempuh lewat peran pesantren. Ramailah orang
menoleh ke pesantren, dan disertasi Zamakhsyari Dhofier yang diterbitkan oleh
LP3ES saat itu dengan judul "Tradisi Pesantren" menjadi bacaan yang populer.
Ada optimisme bahwa pesantren menjadi semacam "jalan ketiga" dalam melaksanakan
perubahan sosial. Romantis memang.
Sebagai seorang santri madrasah, saya tak sepenuhnya memahami konsep-konsep
yang rumit itu. Saya membacai banyak buletin dan terbitan-terbitan yang
dikelola baik oleh LP3ES atau P3M yang dikirim ke BPPM. Semuanya mungkin karena
kedekatan saya dengan Pak Masykur. Saat itu, saya bukan santri Maslakul Huda,
sebab saya mondok di pesantren yang dikelola oleh ayah saya sendiri, Pesantren
Mansajul Ulum di desa Cebolek. Tetapi, kedekatan saya dengan Pak Masykur
memungkinkan saya untuk mengakses sumber-sumber bacaan yang dimiliki oleh BPPM
yang berafiliasi dengan Pesantren Maslakul Huda itu.
Buat saya, dan saya kira juga buat murid-murid lain yang seangkatan dengan saya
di Madrasah Mathali'ul Falah saat itu, Pak Masykur adalah layaknya sebuah
"jendela" dari mana kami bisa menjenguk ke dunia luar. Bagi kami, Pak Masykur
persis menempati posisi yang pada dekae 80-an dikenal sebagai "cultural broker"
-- istilah yang dikenalkan oleh antropolog Amerika, Clifford Geertz, dan sangat
populer di kalangan sarjana yang mengamati pesantren saat itu. Pak Masykur
adalah "jembatan budaya" yang menghubungkan kami di madrasah dengan dunia luar
yang tak kami kenal dengan baik saat itu.
Tahun 1987, kalau tak salah, Pak Masykur pindah ke Jakarta, karena diminta oleh
Gus Dur untuk bergabung dengan teman-teman di Lakpesdam NU Pusat di Jakarta.
Pertama kali saya bertemu dengan dia adalah pada 1988, di kantor Lakpesdam di
Jl. Supomo, Pancoran. Sejak itu, saya makin dekat dengan dia, dan akhirnya,
pelan-pelan, terlibat secara tak langsung dalam kegiatan di Lakpesdam yang saat
itu di bawah kepemimpinan Pak Sadi Budairi, salah satu wartawan NU senior yang
pernah terlibat di koran Duta Masyarakat milik NU dan masih hidup hingga
sekarang. Sifat Pak Masykur tidak pernah berubah: dia tetap seorang pendiam,
murah senyum, dan mengayomi. Tentu, interaksi saya dengan Pak Masykur sekarang
berubah sifatnya: saya tak lagi menjadi murid dia, tetapi sebagai sesama teman
di sebuah kantor; sebagai kolega. Meskipun, hingga akhir hayatnya, saya selalu
menganggap Pak Masykur sebagai guru yang saya hormati. Ada kualitas-kualitas
pribadi Pak Masykur yang mulai terkuak setelah saya bergaul dengan dia bukan
semata-mata sebagai seorang murid, tetapi juag kolega. Dia adalah tipe orang
yang "get-thing-done", yang selalu berusaha berpikir bagaimana segala sesuatu
bisa terlaksana. Pak Masykur bukanlah seorang "idealis-pemimpi" yang suka
berbicara tentang konsep-konsep besar dan gigantik, tetapi dia adalah orang
yang sadar, bahwa bagaimanapun konsep besar harus bisa jalan di bumi. Dia juga
orang yang sadar tentang pentingnya organisasi modern bagi NU. Oleh karena itu,
sistem dan aturan main adalah faktor penting yang di mata dia sangat menentukan
mati-hidupnya sebuah lembaga modern.
Sebagai orang yang tumbuh dalam kultur NU, tentu Pak Masykur sangat menghormati
figur kiai. Bahkan, sebagaimana ia kisahkan secara pribadi pada saya, beberapa
keputusan penting dalam hidupnya selalu ia ambil setelah berkonsultasi dengan
seorang kiai sepuh yang sangat dia hormati, yakni Allah yarham KH. Abdullah
Salam, Kajen, yang di daerah kami dikenal dengan Mbah Dullah. Pak Masykur
menaruh hormat yang dalam dan tulus pada kiai-kiai sepuh di NU. Tetapi, dia
juga sadar bahwa NU harus ditegakkan bukan semata-mata atas dasar kharisma kiai
sepuh. Sebagai lembaga modern, NU harus membangun sistem dan manajemen
organisasi yang baik dan berjalan dengan normal. Dalam hal ini, Pak Masykur
mengagumi figur lain dalam NU yang, secara kebetulan, mempunyai sifat-sifat
yang sama dengan dia: yakni kesederhanaan serta kesadaran yang tinggi tentang
pentingnya sistem dan manajemen. Tokoh itu tak lain adalah almarhum Fahmi
Saifuddin, putera dari mantan Menteri Agama Saifuddin Zuhri. Dalam istilah yang
dikenal selama ini di kalangan NU, Pak Masykur menghendaki agar NU tidak
berhenti sebagai 'jama'ah' atau kumpulan biasa, tetapi juga meningkat sebagai
'jam'iyyah', yakni organisasi yang ditegakkan atas dasar aturan main dan sistem
yang kokoh. Dedikasi Pak Masykur yang berlangsung lebih dari 15 tahun di
Lakpesdam dikerahkan, antara lain, untuk membangun "jam'iyyah" itu, lewat
institusi Lakpesdam. Bersama teman-teman lain seperti Lukman Saifuddin, Mufid
A. Busyairi, Helmi Ali, Muntajid Billah, Yahya Ma'shum, Pangcu Driantoro,
Masrur Ainun Najih, Lilis N. Husna, dan senior-senior lain sepeti MM Billah dan
Said Budairi, Pak Masykur telah menjadi bagian dari arus penting untuk
men-jam'iyyahkan NU.
Saya tahu, cinta pertama dan terakhir Pak Masykur adalah NU dan kiai. Oleh
karena itu, seluruh orbit kehidupan dia berputar di sekiar pesantren, NU dan
kiai. Dia tak pernah lepas dari dunia para kiai itu. Salah satu etos yang
begitu menonjol dan dilihat secara mencolok oleh teman-teman NU pada figur Pak
Masykur, dan terutama di Lakpesdam, adalah etos kesederhanaan dan kejujuran --
salah satu etos yang diajarkan di pesantren. Pertama kali saya bertemu dengan
dia di luar kantor adalah di rumahnya yang sangat sederhana di kawasan
Pancoran. Rumah kontrakan itu hanya mempunyai dua kamar yang sempit, dengan
keadaan bangunan yang sangat sederhana. Lokasi rumah agak menjorok ke dalam,
dinaungi oleh pohon sawo yang rimbun. Selama bertahun-tahun Pak Masykur tinggal
di rumah sederhana itu. Baru beberapa tahun belakangan, Pak Masykur memutuskan
untuk membeli rumah sendiri --rumah kecil yang terletak tak jauh dari rumah
kontrakannya yang lama. Rumah yang ia beli sendiri ini jauh dari kesan mewah,
dan letaknya agak jauh dari jalan utama. Untuk mencapai ke sana kita harus
melewai gang kelinci yang agak menikang-nikung. Selama hidupnya, Pak Masykur
tidak memiliki mobil. Sejak pertama kali saya melihat dia di madrasah
Mathali'ul Falah hingga akhir hayatnya, dia hanya memakai sepeda motor. Kami,
muridnya itu, selalu mengenali dia lewat sepeda motor Yamaha bebek merah
keluaran tahun 70-an. Saat di Jakarta, dia mempunyai sepeda motor yang agak
sedikit lebih baik, yaitu Honda seri lebih baru (saya sudah lupa). Tetapi,
hingga akhir hayatnya, dia selalu "istiqamah" memakai sepeda motor. Bahkan,
tragisnya, dia harus meninggal dalam insiden sepeda motor.
Tentu, kesederhanaan hidup seperti ini kontras dengan perubahan pola kehidupan
di kalangan NU, terutama setelah era reformasi politik. Sudah menjadi rahasia
umum bahwa saat ini, pola hidup tokoh-tokoh NU mulai berubah, mulai lebih
kelihatan sedikit "mewah". Meskipun tak ada sesuatu yang sepenuhnya salah dalam
perkembangan seperti ini, tetapi perubahan gaya hidup di kalangan tokoh-tokoh
agama semacam itu tentu menimbulkan "gunjingan" di kalangan masyarakat. Pak
Masykur tentu ikut risau dengan keadaan semacam ini. Dalam pembicaraan pribadi,
dia selalu mengingatkan saya pada kesederhanaan hidup yang diteladankan oleh
Mbah Dullah di Kajen. Dalam salah satu momen pembicaraan via telp yang sangat
menyentuh, bahkan dia nyaris menangis menceritakan kembali teladan kehidupan
Mbah Dullah kepada saya. Saat dia menjabat sebagai Direktur Lakpesdam selama 10
tahun, dia sempat menikmati fasilitas mobil kantor. Tetapi, dia tak pernah
membawa mobil itu ke rumah, karena tentu hal itu tak mungkin. Dia sendiri tak
mempunyai areal parkir. Rumahnya berada di kawasan yang "crowded" dan berhimpit
dengan rumah-rumah lain. Setelah usai menjadi Direktur Lakpesdam beberapa bulan
sebelum dia meninggal, dia kembali "istiqamah" dengan kendaraan lamanya: sepeda
motor. Dia tak pernah berubah: hidup dengan sederhana.
Ada satu hal yang selalu dia kisahkan kepada saya dengan penuh kebanggaan dan
rasa puas, yaitu pendidikan putera-puteranya. Dia selalu bilang bahwa dia
bersyukur pada Allah karena sebagai orang yang berpenghasilan tak terlalu
besar, dia berhasil menyekolahkan putera-puteranya ke UGM, UI, dan ITB. Ini
karunia besar yang selalu dia syukuri. Dia selalu mengatakan pada saya bahwa
ini semua terjadi bukan semata-mata karena usaha keras dia dan isterinya,
tetapi juga berkat restu kiai sepuh yang tak lain adalah Mbah Dullah. Dia
mengisahkan bahwa keberangkatan dia ke Jakarta bukanlah tanpa suatu dilema. Dia
akhirnya bisa memecahkan dilema itu setelah mendapat restu dari Mbah Dullah.
Dia berangkat dengan hati yang tenang dan mantap setelah mendapat izin dari
kiai yang dia sangat hormati.
Setelah usai menjabat sebagai Direktur Lakpesdam, dia aktif di lembaga baru
yang didirikan oleh sejumlah anak-anak muda NU, di bawah asuhan Kiai A Mustofa
Bisri, atau lebih dikenal dengan Gus Mus, yaitu "Mata Air" yang kantornya
terletal di kawasan Tebet. Lagi-lagi, Pak Masykur tidak bisa bergerak jauh dari
dunia kiai. Kantor lembaga itu memang tak terlalu jauh dari rumah dia,
kira-kira 15 menit. Dia sering berangkat, pulang-pergi, ke kantor baru itu
dengan mengendarai sepeda motor. Dia tampaknya menjadi salah satu tumpuan Gus
Mus untuk menjalankan lembaga baru itu. Kesederhanan dan kejujuran Pak Masykur
nyaris seperti "mata air" di NU.
Walau nama dia tak hingar-bingar dikenal oleh kalangan luas, baik di NU atau di
luarnya, tetapi Pak Masykur telah menjaid ilham untuk beberapa anak muda di
NU, sekurang-kurangnya buat saya dan teman-teman saya sekelas di Mathali'ul
Falah dan teman-teman muda lain di Lakpesdam. Dengan caranya sendiri, dan
dengan pembawaannya yang sangat halus, dia telah melakukan transformasi
diam-diam dalam tubuh pesantren dan NU.
Mari kita bacakan al-Fatihah untuk arwahnya. Semoga segala amalnya diterima
oleh Allah dan segala kekhilafannya diampuni olehNya.
Boston, 30/12/2005
__________ NOD32 1.1339 (20051224) Information __________
This message was checked by NOD32 antivirus system.
http://www.eset.com
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/t7dfYD/FpQLAA/E2hLAA/.DlolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke:
[EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/