Intelejen dan Islam Radikal



oleh : He-Man*



Pada masa awal ketika Soeharto memperoleh kekuasaan ia dihadapkan pada kondisi 
ideologi Nasakom hasil binaan rezim lama masih kuat dan masih dianggap sebagai 
sebuah ancaman besar bagi rezim Karena itulah rezim orba kemudian mengeluarkan 
kebijakan ideologis untuk menanganinya.Kebijakan ideologis dan politis pada 
masa awal orba yang ditempuh adalah menghancurkan kaum  komunis , menekan kaum 
nasionalis, dan mencegah naiknya kekuatan islam. Motor utama untuk melaksanakan 
semua kebijakan ideologis orba ini diserahkan kepada aparat intelejen

 

Setelah kekuatan komunis berhasil ditumpas habis ,maka kekuatan kaum nasionalis 
seperti PNI dilumpuhkan dengan menempatkan Hadisubeno menyingkirkan Hardi yang 
kritis pada pemerintah bahkan partai nasionalis kecil seperti IPKI pun tidak 
luput dari rekayasa intelejen. 


Dan setelah berhasil menuntaskan kebijakan terhadap kaum komunis dan 
nasionalis. Maka target selanjutnya diarahkan pada kelompok Islam. Kebijakan 
terhadap kelompok Islam terbilang unik dibandingkan dengan kebijakan terhadap 
kelompok komunis dan nasionalis.Walaupun tergabung dalam Nasakom tapi kelompok 
Islam memiliki peran dan jasa besar dalam menghancurkan kekuatan komunis dan 
meruntuhkan rezim Soekarno
selain karena kenyataan bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah penganut 
agama Islam.

Karena itu pemerintah memilih jalan yang lebih hati-hati untuk menghadapi 
kekuatan islam ini.Untuk mencegah naiknya kekuatan Islam maka pemerintah harus 
memiliki alasan dulu untuk menekankannya.Dan kemudian intelejen sebagai 
perpanjangan tangan pemerintah untuk melaksanakan ini akhirnya memilih 
pendekatan dengan menggunakan tangan kaum radikal Islam.


Kelompok radikal walaupun memang berbahaya tapi justru membuatnya menjadi 
sangat mudah dikendalikan.Psikologi kaum radikal adalah psikologi orang marah, 
seperti yang diketahui orang marah sangat kehilangan daya nalar kritis dan akal 
sehatnya , sehingga akan sangat tidak terkontrol bila dalam keadaan 'liar' 
sebaliknya juga mereka bisa menjadi 'hewan peliharaan' yang baik karena sangat 
mudah untuk dihasut dan dibohongi sehingga menjadikannya sebagai pion yang 
sangat ideal karena akan mengikuti apa saja kemauan dan arahan penyuruhnya 
sekaligus bisa dikorbankan dengan mudah tanpa menimbulkan kerugian yang berarti.

 

 

 


Dan inilah yang disadari oleh Ali Moertopo sehingga ia kemudian merekrut para 
mantan anggota DI/TII yang sedang dibina oleh Kodam Siliwangi.Aksinya ini 
ditolak oleh Kepala Bakin[1] pada masa itu Jenderal Sutopo Juwono juga petinggi 
Bakin lainnya seperti Jendral Nicklany[2].Akan tetapi Ali Moertopo tetap pada 
pendiriannya dengan tetap membawa para mantan DI/TII ini ke Jakarta 


Beberapa pentolan DI/TII yang dibawa antara lain putra dari Kartosuwiryo yaitu 
Dodo Muhammad Darda dan Tahmid Rahmad Basuki , juga Adah Djaelani Tirtapraja 
(Ma'had Al Zaitun) , Rahmat Basuki (pelaku pengeboman BCA) , Amir Fatah , H 
Ismail Pranoto, Danu Muhammad Hasan (Komando Jihad)  , Helmy Aminuddin (Gerakan 
Tarbiyah) , Prawoto alias Abu Toto (NII)  dll.[3]

 


Tebar , Pancing dan Jaring


Karena merasa tidak memperoleh dukungan dari para petinggi Bakin, Ali Moertopo 
pun membawa para mantan DI/TII ini dibawah pembinaan Opsus[4].Mereka kemudian 
mendapatkan fasilitas dan dukungan finansial yang sangat besar sehingga 
menimbulkan kemarahan sejumlah perwira ABRI pada masa itu terutama dari 
kalangan Siliwangi yang merasa berjasa menangkap mereka dengan susah payah 
bahkan bertaruh dengan nyawa.

Tapi berkat kedekatan Ali Moertopo pada Soeharto pada masa itu maka 
protes-protes itu berhasil diredam.Sejumlah perwira yang menentang proyek itu 
pun dengan segera dimutasi dan disingkirkan.


Ali Moertopo kemudian menugaskan Kolonel Pitut Soeharto anggota Opsus yang 
memegang Bidang Penggalangan Politik Islam untuk membina mereka dengan 
pelatihan-pelatihan intelejen, seperti pembentukan jaringan , teknik perekrutan 
anggota , penyamaran ,pembuatan propaganda, operasi cuci otak , teknik teror 
dan intimidasi dan lain sebagainya (ini yang menjelaskan kenapa kelompok 
radikal sangat ahli dalam melakukan ini semua) .Selain membina pada mantan 
DI/TII , Kol Pitut Soeharto juga diserahi tugas untuk menggarap 
kekuatan-kekuatan politik Islam seperti PPP , NU , Muhammadiyah dll, ia juga 
mengumpulkan para kader dakwah liar untuk masuk dalam organisasi islam tertentu 
binaan intel .Sementara pendanaan dan semua pembiayaan untuk para mantan 
tahanan DI/TII ini ditangani oleh Kolonel Giyanto.


Setelah dibina mereka pun diterjunkan ke tengah masyarakat untuk menerapkan 
ilmunya.Dan peritiwa-peristiwa teror pun terjadi , pemboman BCA[5] , penyerbuan 
kantor polisi di Cicendo , Wolya , Lampung , Borobudur dll, dimana semua 
peristiwa ini dilakukan oleh para mantan DI/TII binaan opsus.


Dan aparat pun kemudian menangkapi mereka lagi bahkan juga membunuh 
sebagiannya. Tapi setelah tertangkap mereka kemudian dilepas lagi untuk kembali 
melakukan aksi-aksi lainnya.Berkat peristiwa-peristiwa itu pemerintah mendapat 
legimitasi untuk menekan kelompok-kelompok Islam.Sejumlah aktivis masjid di 
Bandung ditangkapi bahkan organisasi remaja masjid di masjid Istiqamah[6] 
dibubarkan dengan tuduhan terlibat peristiwa Cicendo dan Wolya bahkan lebih 
jauh lagi banyak anggota masyarakat yang tidak tahu apa-apa hanya karena sering 
ikut sholat bejama'ah di masjid itu turut diciduk aparat.Peristiwa penyerangan 
pos polisi di Cicendo Bandung dan peristiwa Wolya dilakukan oleh jamaah Imron 
yang diprovokasi oleh agen intelejen binaan Opsus bernama Najamuddin[7], 
sejumlah kyai NU di Jawa Timur ditangkapi bahkan dilenyapkan dengan tuduhan 
terlibat Komando Jihad yang dikomandani oleh Haji Ismail Pranoto binaan Opsus. 
Keterlibatan intelejen dalam kasus-kasus tersebut semakin kentara ketika dalam 
kasus persidangan Danu Mohammad Hassan[8]  misalnya,  ia mengaku sebagai orang 
Bakin. "Saya bukan pedagang atau petani, saya pembantu Bakin." (Lihat Tempo, 24 
Desember 1983) .Belakangan Danu mati secara misterius, tak lebih dari 24 jam 
setelah ia keluar penjara, dan konon ia mati diracun


Intelejen pun bergerak lebih jauh lagi untuk memprovokasi sejumlah kelompok 
melakukan perlawanan bersenjata yang dengan segera ditumpas dengan kejam oleh 
militer. Peristiwa-peristiwa ini kemudian menjadi legimitasi bagi aparat untuk 
melakukan sensor dan pengawasan yang ketat pada aktivitas dakwah .Para da'i 
harus mempunyai surat izin untuk berceramah dan semua kegiatan dakwah harus 
dilaporkan dulu kepada aparat dengan alasan mencegah  penyebaran paham 
radikal.Lalu pemerintah pun menetapkan kebijakan asas tunggal Pancasila dengan 
alasan untuk menekan penyebaran ideologi-ideologi yang menyimpang.





 

Sejumlah kelompok Islam yang menentang kebijakan ini pun segera dibekukan, HMI 
kemudian terpecah menjadi dua dengan munculnya HMI MPO[9] yang menolak asas 
tunggal, Pelajar Islam Indonesia (PII) , BKPRMI dan beberapa ormas islam lain 
dibubarkan.Pemerintah juga mendirikan sejumlah organisasi islam baru pendukung 
asas tunggal yang rata-rata dibawah binaan Golkar.Dengan demikian semua 
kekuatan oposisi pemerintah dari kelompok Islam berhasil dilumpuhkan dengan 
metode tebar , pancing jaring hasil rekayasa Ali Moertopo.





Strategi Pecah Belah dan Kuasai


Paska turunnya L.B Moerdani strategi intelejen dalam menghadapi kekuatan Islam 
pun berubah.Teknik tebar , pancing , jaring ala Ali Moertopo mulai ditinggalkan 
karena justru malahan menambah instabilitas.Strategi yang kemudian dilakukan 
intelejen kemudian lebih soft bahkan dibuat seolah-olah pemerintah mendukung 
kekuatan Islam.

Pada masa itu gerakan-gerakan alternatif di luar ormas-ormas islam dan 
kepemudaan islam mulai marak.Sejumlah organisasi remaja masjid tumbuh pesat di 
masjid-masjid raya juga masjid-masjid kampus.Sebagian kalangan aktivis muda 
mulai mengubah konsep dakwah mereka menjadi dakwah kultural dan berusaha 
membaurkan diri dengan masyarakat.Misal saja organisasi remaja masjid waktu itu 
aktif bergerak dengan sistim jemput bola pada remaja-remaja bermasalah seperti 
anggota gank motor , pecandu narkoba dll


Dan ini dianggap pemerintah sebagai sebuah ancaman baru .Salah satu point 
penting untuk menunjang kekuasaan rezim Soeharto adalah memastikan semua 
organisasi yang ada dan hidup di Indonesia berada dalam cengkraman dan kendali 
pemerintah.Bukan saja organisasi keagamaan atau politik tapi juga organisasi 
profesi seperti IDI atau organisasi para hobbies seperti RAPI pun dibawah 
kendali pemerintah dimana para pimpinannya tidak bisa naik kalau tidak mendapat 
'restu' dari pemerintah.


Akan tetapi organisasi-organisasi remaja masjid juga majlis-majlis taklim yang 
tumbuh pada masa itu tidak demikian.Organisasi-organisasi itu bersifat 
indenpenden dengan struktur organisasi yang cair.Akan tetapi pertumbuhan 
anggotanya sangat luar biasa..



Karena itulah semua organisasi dakwah "liar" itu harus segera dikontrol. 
Pendekatan awal pemerintah adalah berusaha menyatukan semua organisasi dakwah 
tersebut dalam sebuah organisasi atau perhimpunan formal dimana kemudian 
pemerintah bisa mengontrolnya melalui organisasi tersebut. Dan pemerintah pun 
merestui organisasi tersebut bahkan memfasilitasinya dengan menempatkan 
organisasi-organisasi tersebut untuk berkantor di
masjid negara Istiqlal[10]. Akan tetapi eksperimen ini gagal, para aktivis yang 
berusaha menjaga jarak dengan pemerintah menolak mengikuti gagasan tersebut.


Dan intelejen pun kemudian menggunakan pendekatan lain yang intinya 
memamfaatkan potensi kekuatan dari kelompok-kelompok dakwah tersebut dimana 
kemudian mereka bisa dimamfaatkan untuk kepentingan rezim.Akan tetapi mereka 
harus dikebiri terlebih dahulu kekuatan untuk melumpuhkan potensi ancamannya.


Dan Bakin pun menugaskan Soeripto untuk menjalankan tugas ini dan mengangkatnya 
sebagai Ketua Tim  Penanganan  Masalah Khusus Kemahasiswaan DIKTI/Depdikbud  
pada tahun 1986-2000[11] .Tugas dan misi khusus yang diemban Soeripto adalah 
membentuk jaringan organisasi radikal Islam baru di kalangan remaja masjid dan 
gerakan kampus yang berada dibawah binaan dan pengawasan intelejen.Proyek ini 
sendiri pada dasarnya adalah kelanjutan proyek yang dikerjakan oleh Kol Pitut 
Soeharto atas perintah Ali Moertopo. Soeripto pria kelahiran 20 November 1936 
ini merupakan kader Partai Sosialis Indonesia (PSI) dengan masuknya ia dalam 
keanggotaan Gerakan Mahasiswa Sosialis (GMSos) pada tahun 1957. Ia kemudian 
bergabung oleh Kodam Siliwangi sebagai kader militer Sukarela pada tahun 1967 
dan dibawah pembinaan Kharis Shuhud.Soeripto kemudian menjadi kader intel 
binaan Pangkowilhan (Wijoyo Suyono, Soerono dan Wahono), dan secara struktur 
dibawah komando Yoga Sugama di Bakin yang waktu itu dipimpin Sutopo 
Juwono.Sempat menduduki jabatan sebagai Kepala Staff Bakin dan Sekretaris 
Lembaga Studi Strategis / Wanhankamnas dan menjadi utusan khusus Pemerintah RI 
untuk normalisasi hubungan dengan RRC pada tahun 1981.Saat ini Soeripto 
memegang jabatan di DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan menjadi anggota 
DPR-RI asal partai ini dari daerah pemilihan Sulawesi Selatan dengan nomor urut 
1. Untuk menjalankan misinya Soeripto merekrut Helmy Aminuddin putra dari Danu 
Muhammad Hasan.

 

Helmi Aminuddin sebelumnya menjabat sebagai Mentri Luar Negri NII sebelum 
akhirnya ditangkap oleh Kopkamtib pada tahun 1980 dan ditahan tanpa pengadilan 
di Rumah Tahanan Militer di Cimanggis dan dibebaskan antara tahun 
1983-1984[12]. Selepasnya dari penjara Helmy Aminuddin yang saat ini menjabat 
sebagai Ketua Majlis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS)[13]  berada di bawah 
binaan Soeripto lalu kemudian dikirim ke Timur Tengah untuk mempelajari 
mengadopsi  ajaran dan manhaj serta berhubungan langsung secara organisasional  
dengan gerakan Ikhwanul Muslimin faksi Qiyadah Syaikh Sa'id Hawwa  pimpinan 
Ikhwanul Muslimin cabang Suriah sekitar tahun 1985.Dimana sepulangnya dari sana 
dibawah dukungan Bakin dan arahan dari Soeripto dibentuklah Jamaah Tarbiyah 
pada antara tahun 1987-1988 dengan doktrin utama dari pemikiran Sa'id Hawwa 
yang diterjemahkan menjadi beberapa seri buku Allah, Ar Rasul , Al Islam dan 
Jundullah dan diterbitkan oleh Al Ishlahy Press yang menjadi bacaan wajib para 
kader inti gerakan.Helmy Aminuddin sendiri kemudian menjadi Mursyid 'Aam[14] 
Jama'ah Tarbiyah pada tahun 1991.


Tujuan pertama pembentukan kelompok ini adalah menyatukan semua 
kelompok-kelompok dakwah masjid dalam satu kelompok besar yang dikendalikan 
intelejen.Salah satu kesulitan utama pemerintah mengontrol 
organisasi-organisasi ini adalah karena mereka bersikap independen dimana 
masing-masing organisasi memiliki struktur , cara dan metode masing-masing yang 
berlainan antara satu dengan yang lain.Dengan metode penyeragaman yang 
dilaksanakan oleh jama'ah tarbiyah maka seluruh organisasi masjid tersebut bisa 
dikontrol dengan mudah dengan cukup memegang pucuk pimpinannya saja.

 

Tujuan kedua adalah mencegah kebangkitan kekuatan Islam. Dua unsur utama yang 
menjadi syarat bangkitnya kekuatan Islam adalah dukungan dari ummat dan 
persatuan antar komponen aktivis islam.Karena itu kekuatan organisasi masjid 
didesain untuk menjadi organisasi eksklusif dan elitis yang cuma terfokus ke 
dalam[15].Selain itu hubungan dengan kelompok dakwah lain didesain untuk selalu 
berada dalam suasana yang tidak harmonis bahkan dipenuhi prasangka dan 
kecurigaan bahkan kebencian yang akut.



Dengan pembinaan dengan metode cuci otak maka secara instan kader-kader  
kelompok ini bisa dicetak dengan cepat.Untuk menunjang penyebaran  ideologinya 
maka diterbitkanlah majalah Sabili[16] pada tahun 1987 kemudian  juga 
penerbitan Gema Insani Press yang menyebarluaskan paham radikal ini  melalui 
media dan penerbitan buku-buku ideologis dengan harga yang sangat  murah 
padahal dengan mutu cetakan yang cukup mewah karena mendapat  subsidi.Majalah 
Sabili sendiri beredar secara luas walaupun tidak dilengkapi  dengan SIUPP[17] 
dan dijual dengan harga hanya 600 rupiah padahal dengan  mutu kertas yang bagus 
plus nyaris tanpa iklan.Dan buku-buku terbitan GIP pada masa itu dijual dengan 
mulai harga 600-5500 rupiah saja (katalog tahun 1991) sehingga terjangkau oleh 
kantong pelajar dan mahasiswa bahkan akhirnya bersama penerbitan buku-buku 
sealiran yang lain , buku-buku harokah pun menggusur buku-buku islam yang lain.


Dan para aktivis dakwah masjid yang terbiasa dengan pola musyawarah dan 
penyeimbangan kekuatan tiba-tiba dikejutkan oleh aksi-aksi pengambil alihan 
khas intelejen dilakukan oleh aktivis jamaah taribyah seperti mobilisasi massa 
,  black propaganda , penculikan aktivis , teror dan intimidasi dll [18]

 


Dan ketika berhasil mengambil alih kekuasaan kelompok ini kemudian langsung 
melakukan aksi-aksi pembersihan dan penyeragaman.Seluruh aktivis yang tidak 
mengikuti kelompok mereka disingkirkan demikian juga semua hubungan dengan 
kelompok dakwah lain dibekukan bahkan akhirnya kelompok-kelompok ini digusur 
dari masjid.Seluruh aktivitas dakwah yang berhubungan dan/atau melibatkan 
partisipasi masyarakat dihentikan. Aktivitas masjid hanya diarahkan untuk 
pembinaan internal demi mencetak sebanyak-banyaknya kader militan dan radikal 
di masjid. Kelompok-kelompok diskusi dibubarkan dan metode pengkaderan 
digantikan dengan indoktrinisasi.


Aktivis masjid pun seketika itu menjadi sebuah komunitas yang asing bagi 
masyarakat Isu-isu kemasyarakatan tidak lagi menjadi perhatian. Isu masalah 
jenggot pun menjadi sangat pentingnya sampai akhirnya menggusur isu mengenai 
kenakalan remaja , isu jilbab menjadi agenda yang menjadi prioritas utama 
mengalahkan isu penyalahgunaan narkoba.
 
Maka dengan menggunakan tangan kelompok radikal akhirnya kekuatan aktivis 
masjid pun dilumpuhkan total. Dengan hilangnya potensi ancaman utama kelompok 
dakwah masjid maka aktivis dakwah masjid tidak lagi dianggap sebagai ancaman , 
dan tindakan represi terhadap kelompok ini pun dilonggarkan. Ketika sebuah 
masjid jatuh ke tangan radikal maka intelejen pun menghentikan operasi-operasi 
pengawasan yang ketat pada mereka.Itulah sebabnya aktivitas jama'ah tarbiyah 
tidak pernah mendapat gangguan dari aparat pada masa itu walaupun mereka 
menyebar paham radikal sementara kelompok-kelompok islam lainnya justru 
terpaksa tiarap.Dan dengan dikuasainya masjid-masjid oleh kelompok radikal maka 
peristiwa pendudukan gedung DPR RI oleh gabungan massa dari berbagai ormas 
pemuda dan remaja islam seperti pada waktu penolakan RUU Perkawinan pun tidak 
perlu dikuatirkan lagi[19].


Ketaatan yang kuat di kalangan jama'ah tarbiyah dan kelompok radikal islam 
lainnya pada pucuk pimpinannya memudahkan pemerintah untuk mengawasi dan 
mengendalikan kelompok-kelompok ini, karena dengan cukup memegang kepalanya 
saja maka seluruh anggotanya akan tunduk dan patuh.Paham eksklusif kelompok 
radikal menjadi penentu sukses penggunaan metode "pecah belah dan kuasai" 
kelompok-kelompok Islam melalui ideologi kaum harokah yang menolak perbedaan 
dan keberagaman serta paham dominasi terhadap kelompok lain maka hubungan antar 
organisasi dakwah pun berada dalam suasana yang tegang dan penuh kecurigaan 
antar sesama mereka bahkan lebih jauh lagi cenderung pada kondisi untuk saling 
menghancurkan dan menjatuhkan satu sama lain.

 

Tapi ada tujuan lain yang lebih penting dari pembentukan kelompok radikal ini 
yaitu menyediakan cukup banyak orang-orang bodoh yang bisa dimamfaatkan juga 
dikorbankan oleh intelejen.Kalangan intelejen adalah sebuah kelompok yang 
selalu bergerak di balik layar.Kerahasiaan adalah poin utama dalam semua 
operasi-operasi mereka, bahkan seringkali karena sangat rahasianya Presiden pun 
kadang tidak tau apa yang dikerjakan mereka.Itulah sebabnya di banyak negara 
intelejen kadangkala berubah menjadi negara dalam negara bahkan seorang 
Presiden pun bisa mereka bunuh bila dianggap membahayakan negara (berdasarkan 
versi mereka), contoh kasus adalah terbunuhnya John F Kennedy presiden Amerika 
Serikat yang dicurigai didalangi oleh agen-agen intelejen dari negrinya sendiri.

 

Karena itulah dalam setiap operasinya intelejen cenderung berusaha memamfaatkan 
dan menggunakan tangan orang lain.Personel yang terpilih menjadi anggota 
intelejen selalu merupakan kader terbaik di kesatuannya masing-masing karena 
intelejen hanya membutuhkan orang yang memiliki kecakapan dan kualifikasi 
terbaik.Oleh sebab itu sangatlah mahal kalau harus mengorbankan kader-kadernya 
sendiri.



Dan kandidat paling cocok untuk menjadi pelaksana lapangan tugas dan aksi 
rekayasa intelejen adalah orang fanatik.Orang-orang fanatik selalu siap secara 
sukarela untuk mengorbankan apa saja termasuk nyawanya sendiri demi tujuan atau 
cita-cita ideologisnya.Mereka juga tidak terlalu banyak bertanya atau 
menuntut.Karena itulah mereka menjadi pion yang cukup tepat karena mereka bisa 
dengan mudah dihasut dan diarahkan melakukan suatu tugas tanpa mereka sendiri 
menyadarinya sekaligus bisa dengan mudah untuk dikorbankan dan dihabisi dengan 
tanpa mendapatkan kerugian apa-apa.

 

Dan inilah yang menjawab keanehan fenomena kelompok radikal Islam di Indonesia 
dibanding kelompok serupa di luar negri.Di negara-negara lain kelompok radikal 
Islam selalu berada dalam posisi vis a vis dengan pemerintah yang didukung 
militer dan intelejen sementara di Indonesia malahan kebalikannya.Para tokoh 
radikal Islam Indonesia justru bermesraan dengan militer dan 
intelejen.Ditempatkannya mantan kepala staff Bakin menjadi pucuk pimpinan PKS 
sebuah partai yang didirikan jamaah tarbiyah dan kecenderungan pemihakan dari 
elite partai itu pada kandidat presiden dari militer memperlihatkan dengan 
jelas siapa sebenarnya mereka.Tapi sungguh disayangkan para pion ini tidak 
pernah sadar bahwa dirinya cuma pion, bahkan mereka merasa memamfaatkan bukan 
dimamfaatkan dalam meninjau hubungannya dengan militer dan intelejen.


Berhentikah Aktivitas Intelejen ?


Pertanyaan ini penting untuk dijawab mengingat pada masa reformasi seperti saat 
ini kalangan intelejen seakan-akan tiarap untuk cuci tangan.Tapi pada dasarnya 
operasi intelejen pada aktivis Islam tidak pernah berubah.

 

Terbunuhnya Tengku Fauzi Hasbi alias Abu Jihad bersama kawannya Edy Saputra dan 
Ahmad Syaridup setelah diculik dari hotel Nisma di Waihaong, Ambon pada 22 
Februari 2003 dimana pelakunya dipimpin oleh intel polisi bernama Mohamad 
Syarif Tarabubun memperlihatkan adanya kemungkinan perseteruan di tubuh 
intelejen RI.

 

Abu Jihad sebenarnya adalah anggota TNI dari satuan Infantri Kodam Bukit 
Barisan yang direkrut intelejen sejak tahun 1978 untuk menyusup ke 
GAM.Belakangan ia juga ditugaskan untuk menggarap NII diantaranya dengan 
mengatur rekonsiliasi NII antara fraksi Ajengan Masduki, fraksi Tahmid, fraksi 
Abu Toto, pada bulan Agustus 1999 di Cisarua Bogor.Ini tentu saja sesuat yang 
janggal karena GAM tidak pernah punya kaitan dan hubungan resmi dengan kelompok 
Islam radikal bahkan corak mereka condong padaideologi sosialis.

 

Kasus penangkapan Umar Al Faruq tersangka teroris JI yang kemudian di 
ekstradisi ke Amerika Serikat untuk kemudian ditahan ke Baghram, Afghanistan, 
setelah sebelumnya juga dipenjara di Guantanamo, Kuba mengungkapkan lagi 
keterlibatan agen intelejen di tubuh organisasi Islam Radikal.Umar al Faruq 
ditangkap bersama seseorang yang bernama Abdul Haris yang kemudian dilepas 
begitu saja.Dalam perkembangannya  terungkap bahwa ia sebenarnya adalah agen 
organik Bakin yang menyusup ke jaringan Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba'asyir 
di Malaysia sejak tahun 1986.

 

Yang lebih mengejutkan lagi adalah kedua nama ini (Abu Jihad dan Abdul Haris) 
di dalam struktur Jamaah Islamiyah (JI) merupakan atasan dari Hambali dan 
Zulkarnain alias Arif Sunarso koordinator JI.Jadi apakah intelejen juga 
berperan dalam kasus terorisme yang terjadi beberapa tahun belakangan ini, bisa 
jadi waktu pula yang akan menjawab.


 

* Penulis adalah mantan Sekretaris II Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid 
Indonesia (BKPRMI) Wilayah Jawa Barat dan moderator milis 
[email protected]


 

--------------------------------------------------------------

--------------------------------------------------------------------------------

[1] Singkatan dari Badan Administrasi dan Kordinasi Intelejen Negara , lembaga 
intelejen resmi pada masa Orde Baru yang membawahi semua lembaga intelejen 
lain.Saat ini BAKIN dirubah namanya menjadi BIN (Badan Intelejen Nasional)

[2] Jend Nicklany pada masa itu menjabat sebagai deputi intel luar dan dalam 
negeri BAKIN, akibat perseteruan kerasnya dengan Ali Moeropo dalam masalah 
penggunaan orang-orang DI/TII ia kemudian disingkirkan dengan diangkat sebagai 
Atase Militer RI untuk Amerika Serikat pada tahun 1972

[3] Sebagian besar dari orang-orang ini setelah dibina dan dibebaskan oleh Ali 
Moertopo kemudian membangun organisasi bawah tanah yang juga dikontrol 
intelejen yang dinamai NII (Negara Islam Indonesia)

[4] Singkatan dari Operasi Khusus, sebuah lembaga intelejen tidak resmi dibawah 
binaan LetJen Ali Moertopo yang didampingi oleh Kemal Idris dan L.B 
Moerdani.Pada awalnya Opsus didirikan untuk melakukan operasi rekonsiliasi 
mengakhiri konfrontasi dengan Malaysia tapi kemudian Ali Moertopo memamfaatkan 
posisinya sebagai Sekretaris Pribadi Presiden mengendalikan Opsus sebagai 
lembaga intelejen tidak resmi yang berada di luar struktur Bakin.

[5] Pelaku utama peristiwa pemboman BCA yang terjadi pada tanggal 4 Oktober 
1984 yaitu Rahmat Basuki  merupakan keponakan dari Wijoyo Nitisastro yang 
menjabat sebagai Menko Ekuin pada masa itu.Ia tidak pernah ditahan,  hanya 
sempat dibawa aparat untuk mampir dan menginap sebentar di kantor Bakin yang 
terletak di Jl Pattimura.Rahmat Basuki sendiri patut diduga adalah kader 
intelejen di bawah binaan perwira Bakin Kolonel Todo Sihombing

[6] Pada masa itu masjid Istiqamah Bandung menjadi pusat aktivis Islam , 
berbagai kelompok diskusi dan aktivitas keilmuan serta politik bagi kaum muda 
dan remaja dikembangkan disana sehingga menjadikan masjid ini sebagai pusat 
kaum intelektual muda dan aktivis dakwah . Oleh karena itulah pemerintah sangat 
mengkuatirkan aktivitas di masjid ini.Beberapa mantan aktivis muda Masjid 
Istiqamah pada masa itu antara lain H Toto Tasmara , Ir Bambang Pranggono MBA 
dan Prof Jimly Ashiddiqie (Ketua Majelis Konstitusi)

[7] Najamuddin adalah anggota intelejen yang direkrut dari kesatuan artileri 
medan (Armed) yang kemudian disusupkan ke Jamaah Imron dengan membawa setumpuk 
dokumen dan senjata lalu kemudian memprovokasi mereka untuk melakukan aksi 
penyerangan ke kantor polisi cicendo Bandung yang kemudian berlanjut dengan 
drama pembajakan pesawat Garuda (peristiwa Wolya).Kelompok ini kemudian 
ditumpas oleh L.B Moerdani perwira tinggi intelejen yang akhirnya kemudian 
diangkat menjadi Menhankam/Pangab menyingkirkan Jend M Yusuf

[8] Danu Muhammad Hassan adalah mantan komandan DI/TII yang menyerah pada Ali 
Moertopo di Jawa Tengah dan ia kemudian direkrut  untuk misi membunuh 
Soebandrio, dan pada akhirnya ditugaskan bergabung dengan Komando Jihad. 

[9] Himpunan Mahasiswa Islam - Majelis Penyelamat Organisasi , organisasi 
tandingan HMI resmi yang atas intervensi pemerintah melalui Abdul Ghafur , 
Cosmas Batubara dan Akbar Tanjung dipaksa untuk menerima asas tunggal Pancasila.

[10] Salah satu organisasi ini adalah Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid 
Indonesia (BKPRMI) , organisasi ini sebenarnya bukan organisasi baru melainkan 
kelanjutan dari organisasi lama yang didirikan oleh para aktivis remaja masjid 
dari beberapa masjid raya di Indonesia dan dideklerasikan di masjid Istiqamah 
Bandung.Organisasi ini sempat dibubarkan pemerintah pada tahun 1978 yang 
kemudian memaksa aktivisnya bergerak di bawah tanah , peristiwa Cicendo dan 
Wolya membuat banyak aktivisnya ikut ditangkap aparat.Pemerintah kemudian 
merehabilitasi organisasi ini pada tahun 1990 dan meletakkannya di bawah 
struktur Dewan Masjid Indonesia (DMI).  

[11] Adalah sesuatu hal yang tidak lazim seseorang memegang jabatan yang sama 
di birokrasi selama lebih kurang 13 tahun apalagi sampai jauh melampaui batas 
usia pensiun  kecuali ia memiliki tugas dan misi khusus dan jabatan yang 
dipegangnya adalah sebuah jabatan baru yang baru diadakan setelah Soeripto 
mendudukinya 

[12]Pada masa itu ada rumus utama untuk menentukan aktivis binaan intelejen 
yaitu semua anggota ekstrim kanan yang dipenjarakan dan dibebaskan antara tahun 
1970-1988 atau di masa kekuasaan Ali Moertopo dan L.B Moerdani dua jendral yang 
paling anti Islam dan gerakan Islam sudah pasti telah menjadi suruhan intel 
untuk menghancurkan gerakan Islam.

[13] Helmy Aminuddin yang menduduki jabatan Mursyid 'Aam Jamaah Tarbiyah dari 
tahun 1991-1998 tiba-tiba menghilang dari publik ketika Partai Keadilan 
(kemudian Partai Keadilan Sejahtera) dideklarasikan .Ia kemudian muncul lagi 
dan menjadi Ketua Majlis Syoro PKS pada kongres Mei 2005 kemarin.Saat ini ia 
juga mengelola pesantren dan Islamic village di kawasan Cinangka Banten yang 
mendapat pendanaan dari grup Bimantara

[14] Sebutan bagi pemimpin utama kelompok Ikhwanul Muslimin yang arti 
harfiahnya berarti Pengarah Umum.Walaupun Ikhwanul Muslimin berpusat di Mesir , 
akan tetapi Jama'ah Tarbiyah yang juga dikenal sebagai Ikhwanul Muslimin 
Indonesia  lebih melandasi aliran ideologinya pada Ikhwanul Muslimin cabang 
Suriah yang jauh lebih radikal.Kelompok Ikhwanul Muslimin sendiri mengalami 
represi di negara asalnya sehingga sungguh mengherankan kalau Jama'ah Tarbiyah 
punya dana yang berlimpah.

[15] Setelah kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus yang membatasi aktivitas 
politik dan organisasi mahasiswa , para aktivis muda Islam memindahkan pusat 
kegiatannya ke masjid-masjid raya dan masjid kampus . Organisasi remaja masjid 
yang umumnya bersikap netral karena tidak berafiliasi kepada satu kekuatan 
manapun kemudian berfungsi menjadi organisasi penghubung antar ormas-ormas 
kepemudaan dan kemahasiswaan Islam.Tapi setelah masjid-masjid ini dikuasai kaum 
harokah fungsi ini hilang dengan kebijakan harokah yang membatasi semua bentuk 
hubungan dengan kelompok yang tidak se'fikrah'.

[16] Majalah Sabili versi lama diterbitkan oleh Kelompok Telaah dan Amaliah 
Islami dengan Pemimpin Umum/redaksi Muhammad Ishaq.Majalah ini terbit dengan 
cover dan mutu kertas serta cetakan yang cukup mewah dan beredar cukup luas 
bahkan dijual secara terang-terangan walaupun tanpa SIUPP suatu hal yang tidak 
mungkin terjadi di masa Orba apalagi untuk majalah politik.Akan tetapi kemudian 
pemerintah kemudian "membredel" majalah ini pada tahun 1994 sampai kemudian 
lahir lagi di era Reformasi.

[17] Surat Izin Usaha Penerbitan Pers , sebuah taktik rezim Orba untuk 
mengontrol arus informasi.Di mana jayanya rezim orba tidak mungkin ada satu 
penerbitan media yang bisa beredar tanpa memiliki SIUPP.

[18] Salah satu contoh aksi ini adalah peristiwa perebutan kekuasaan di Masjid 
Salman ITB tahun 1994 yang dikenal sebagai perang Bhatara Yudha antara aktivis 
gaul dengan aktivis harokah.Peristiwa ini dicurigai didalangi oleh intelejen 
melalui kader-kader binaan mereka yang kemudian dikenal dengan julukan gerobak 
(Gerombolan Batak).Paska pengambil alihan ini terjadi pembersihan besar-besaran 
di Salman yang membuat jumlah anggotanya terjun bebas dari sekitar 2000 an 
menjadi tinggal 200 an orang saja.Organisasi remaja masjid di Salman pun 
menjadi organisasi tertutup sampai tahun 1997.

[19] Penolakan RUU Perkawinan bermula dari walk out nya fraksi PPP (Partai 
Persatuan Pembangunan) pada tahun 1973 dari pembahasan RUU ini karena dianggap 
menyalahi aturan syari'at Islam seperti dibolehkannya perkawinan antar agama, 
RUU ini sendiri disetujui oleh fraksi-fraksi DPR lainnya seperti Golkar dan 
PDI.Gabungan organisasi remaja dan pemuda islam seperti IRM (Ikatan remaja 
Muhammadiyah) , PII (Pelajar Islam Indonesia) , HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) 
, IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) dll kemudian bergerak menduduki gedung 
DPR RI pada saat anggota dewan hendak mengesahkan RUU tersebut.Peristiwa ini 
akhirnya menimbulkan krisis politik dimana kemudian Pangkopkamtib Jend Soemitro 
berusaha menyelesaikan krisis ini dengan membawa draft RUU Perkawinan versi PPP 
kepada Soeharto yang kemudian ditandatangi olehnya untuk disyahkan menjadi UU 
no 1/1974 seperti yang berlaku sekarang.



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Clean water saves lives.  Help make water safe for our children.
http://us.click.yahoo.com/CHhStB/VREMAA/E2hLAA/.DlolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke