Catatan Sastra Seorang Awam:
EPILOG CINTA, SANJAK-SANJAK CINTA KATHIRINA SUSANNA
Lukisan Lika-liku Perjalanan Batin Seorang Penyair
[Beberapa masalah masalah yang ingin kucatat setelah membaca puisi-puisi
cinta Kathirina Susanna di atas adalah: [1]. Tema cinta; [2]. Produktivitas;
[3]. Waktu penulisan sebagai indikator; [4]. Dilema: Penjara atau Dorongan?]
[3]. Waktu penulisan sebagai indikator
Puisi adalah ungkapan pikiran dan perasaan penyair menanggap kejadian dan
lingkungan pada waktu tertentu. Pikiran dan perasaan seorang penyair tidaklah
statis, ia selalu mengalir sesuai dengan penemuannya dalam perjalanan
pencarian. Atas dasar pandangan ini aku kira mengetahui waktu sebuah karya
ditulis akan membantu kita sebagai pembaca mengapresiasi secara tepat
perkembangan pikiran dan perasaan seorang penyair. Dengan mengetahui waktu
sebuah karya itu ditulis, kita sebagai pembaca memahami mengapa pada saat
tertentu si sastrawan berpendapat demikian, lalu pada saat lain berpendapat dan
bersikap lain pula. Perbedaan pendapat yang kadang-kadang bersifiat bertolak
belakang menunjukkan proses perjalanan pencarian dan kembara pemikiran seorang
sastrawan yang tidak punya ujung dan batas. Sebagai contoh: Jika kita memahami
mengapa dan bagaimana keadaan yang melatarbelakangilahirnya roman Keluarga
Gerilya Pramoedya A.Toer yang ketika itu berada di penjara Belanda dan banyak
berhubungan serta didekati oleh kaum sosial demokrat Belanda, maka kita tidak
heran jika mendapatkan dalam karya tersebut ketika berbicara tentang Provokasi
Madiun 1948 dengan nada kritik lalu dalam serie karya Pulau Buru bernada
lain lagi. Dari contoh ini dan contoh-contoh yang bisa kita deretkan menjadi
suatu jajaran panjang sangat panjang, kepada kita ditunjukkan bahwa suatu
apresiasi yang padan tidak mungkin bisa dilakukan tanpa pengetahuan sejarah,
politik dan sosial serta filsafat sebagai syarat minimal. Tanpa dilengkapi
akan hal-hal minimal demikian kiranya sulit dilakukan suatu apresiasi yang
padan.
Masalah ini pun kita dapatkan pada sanjak-sanjak Kathirina Epilog Cinta dan
puisi-puisi akhir tahun 2005 serta awal tahun 2006.
Dalam Epilog Cinta yang ditulisnya pada bulan Nopember 2005, Kathirina
melampiaskan kebencian dan ketidakpercayannya lagi pada yang disebut cinta.
Dua belas puisi dalam Epilog Cinta pada umumnya mengungkapkan kebencian
penyair kepada yang disebut cinta dan telah membuatnya sangat menderita. Salah
satu contoh adalah puisi Kathi berikut ini:
12. CINTA SAMPAI KEHUJUNG
Apakah kamu percaya
Ada cinta sampai ke hujung nyawa
Apakah kamu percaya janji yang di ikat akan dikotakan
Apakah kamu percaya sumpah setia akan di tunaikan
Apakah kamu percaya madah cinta itu seindah yang di ucapkan
Apakah kamu percaya cinta itu bererti kebahagian?
Aku tidak percaya
Kerana padaku
Cinta itu satu pergorbanan
Satu penderitaan
Demi kebahagian orang lain
Sikap ini lebih dipertegaskan lagi oleh Khati dalam puisi-puisi berikut:
5. BERKALI-KALIKU KATAKAN PADAMU
Berkali-kali kukatakan padamu
Jangan menaruh harapan padaku
Kerana aku sendiri sudah tidak berharap lagi
Cinta itu bakal membuahkan kebahagian!
Berkali-kali kukatakan padamu
Aku ingin bersendiri di dunia ini
Kerana aku sering di sakiti
Aku sudah tidak percaya lagi
Ada insan yang bakal memberiku kebahagian
Dan dapat memadamkan sejarah hitam itu.
Aku tidak lagi mengharap
Ada insan yang iklas menyayangiku
Aku tidak lagi pernah terfikir
Derita semalam adalah yang terakhir buatku
Aku tidak lagi terasa
Ada bahagia bakal menjelang
Semua itu kosong!
Kosong!
Bukan aku menyalahkan takdir
Atau percaya ini takdirku
Namun sering saja terluka
Membuatkan aku keras dan kaku
Dingin membeku!
Tiada bicara dapat menyejukkan rajukku
Tiada madah dapat mencairkan dinding benciku
Tiada pujukan yang dapat memadamkan
Dendam di jiwaku!
6. APA ADA PADA CINTA ITU!
Cinta???
Arrgghhhh!!!!
Apa ada pada ucapan cinta itu!
Apa cinta telah buat padaku???
Cinta membuatkan aku jadi penentang!
Cinta membuatkan aku jadi pendendam!
Cinta telah membuatkan aku jadi pembenci!
Cinta telah membuatkan aku jadi penakut!
Cinta membuatkan aku jadi pembunuh bahagiaku!
Tapi sebulan kemudian, setelah merenung dan menyimpulkan pengalaman pahitnya
selama ini, Kathi nampak berobah sikap seperti yang dituangkannya dalam puisi
berikut:
RINDU MENGETUK RASA
Sendirian di-sini
Aku merenung Sang Mentari mengundur diri
Mengucup pipi lautan mendada biru
Tenangnya riak-riak ombak memutih membelai pantai
Terasa sejuk dan segarnya jiwaku
Terhibur dengan keindahan dan ketenangan alam
Namun
Aku terasa ada kerinduan mengamit diri
Ada rindu mengetuk rasa.
Sendirian di-sini
Mendengar melodi ombak memujuk pantai
Merasakan lembutnya bayu membisik manja
Sayunya lambaian pepohon nyiur
Kakunya anggukkan si pohon Ru,
Aku dibaluti kerinduan mendatang
Terasa ada kehilangan dalam diri
Walau
Aku merenung Sang Mentari mengundur diri
Mengucup pipi lautan mendada biru
Tenangnya riak-riak ombak memutih membelai pantai
Terasa sejuk dan segarnya jiwaku
Terhibur dengan keindahan dan ketenangan alam
Namun
Aku terasa ada kerinduan mengamit diri
Ada rindu mengetuk rasa.
Sendirian di-sini
Mendengar melodi ombak memujuk pantai
Merasakan lembutnya bayu membisik manja
Sayunya lambaian pepohon nyiur
Kakunya anggukkan si pohon Ru,
Aku dibaluti kerinduan mendatang
Terasa ada kehilangan dalam diri
Walau
ku tidak dapat mencari apa yang hilang
Namun dalam jiwaku mengeluh resah
Hatiku nyilu dan merintih
Aku begitu kehilangan dan kesepian!
Lantas aku menoleh kebelakang
Berdiri kaku benteng benteng pertahanan
Yang telah aku dirikan dulu
Benteng pertahanan agar ia terus melindungi diriku
Jangan lagi diri ini di sakiti
Jangan lagi diri ini dipermainkan
Dan jangan lagi hati ini di lukai.
Sendirian di sini
Sayu bersama warna warna pelangi senja
Sedih di temani suara suara unggas pulang kesarang
Merindui belaian dan pujukan mesra
Dan bersama sama angkuhnya benteng benteng pertahanan diri
Menyedarkan aku.
Membuka mata dan mindaku
Bahawa aku lupa membina jembatan dan pintu
Untuk bertiti keluar menjenguk
Apa ada disebalik benteng pertahananku.
Seperti benteng-benteng itu
Aku masih kaku dan membeku
Angkuh dan keras membatu
Terasa aku telah kehilangan segala
Kini aku menyulam impian
Akan aku robohkan benteng itu
Akan ku bina jambatan kasih
Akan aku buka pintu hatiku
Biarlah.
Aku sedia di lukai
Aku tak jera di sakiti
Aku kuat dan nekad menerima hari hari mendatang.
Dari puisi ini nampak sekali adanya perobahan drastic pada sikap Kathi. Ia
menyatakan sanggup menghadapi kenyataan sebagaimana adanya lalu mengkoreksi
sikap masa silamnya yang mengurung diri dan memenjarakan hatinya sendiri.
Bagiku sikap ini selain memperlihatkan bahwa Kathi , sebagai umumnya para
penyair adalah seorang pemikir dan pencari nilai tanpa kenal lelah, juga
menunjukkan bahwa penyair adalah representatif anak manusia yang tak gampang
dikalahkan, bahwa jalan kehidupan betapa pun berlikunya selalu tidak
kehilangan cahaya. `Atau jika menggunakan kata-kata filosof Perancis, Blaise
Pascal [1623-1662] truth exist to all eternity, and finally triumphs over its
enemies, because it is eternal and powerful [Lihat: Julian Hawthorne, John
Russell Young, John Porter Lamberton [ed.], Literature of All Nations and All
Ages Vol. V., E.R. du Mont, Chicago, 1900, hlm. 271].
Jika mengingat sikap memenjarakan hati dan diri sendiri selama bertahun-tahun
yang dilakukan oleh penyair, maka keputusan di bulan Desember 2005 ini
merupakan suatu perobahan drastis melompat maju. Dengan pandangan dan sikap
ini , Kathi sekaligus menciptakan tokoh baru idolanya, tokoh yang realistis
dan optimistik sekaligus, tidak gentar pada kepahitan dan kekalahan tapi justru
mampu bangkit dari kejatuhan dan kekalahan itu. Hal yang sangat tidak gampang
dilakukan. Melalui sanjak RINDU MENGETUK RASA , Kathi menawarkan kepada para
pembacanya tokoh idola baru, tokoh yang berani hidup dan memenangkan hidup yang
kuasa menampik duka dan ajal sekali pun. Penawaran tokoh idola baru ini
mempunyai nilai tersendiri dalam perjalanan pencarian Kathi sebagai penyair,
apalagi kalau kita sepakat bahwa sastra bukanlah hanya berindah-indah kata
tetapi termasuk pemburuan nilai demi memanusiawikan manusia, kehidupan dan
masyarakat. Dengan kemampuan menampilkan tokoh idola baru optimistik ini,
aku melihat Kathi berhasil menjadi waktu sebagai suatu ruang belajar berbeaya
mahal berupa darah dan airmata tapi ia membuktikan bahwa ia tidak menghamburkan
beaya itu secara percuma. Walau pun aku menghormati pendapatnya tapi dalam hal
ini aku tidak sepakat dengan penyair Magelang, Dorothea Rosa Herliany yang
tidak memandang penting pencantuman waktu penulisan puisi seperti yang ia
lakukan dalam antologi puisinya Mimpi Gugur Daun Zaitun [Grasindo, Jakarta,
1999]. Bagiku waktu adalah suatu indikator pergumulan dan kembara pencarian
nilai untuk kian memperadabkan. Karena peradaban dan menjadi manusia yang
manusiawi bukanlah suatu kue tuangan melainkan suatu proses. Kathi
memperlihatkan proses ini. *
Paris, Januari 2006.
JJ. Kusni
---------------------------------
Yahoo! Mail - now with Autocomplete that helps fill email addresses.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Clean water saves lives. Help make water safe for our children.
http://us.click.yahoo.com/CHhStB/VREMAA/E2hLAA/.DlolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke:
[EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/