INTISARI KITAB
Mau'izhatul Mu'minin min
"IHYA' ULUMIDDIN"
==Hujjatul Islam Al Imam Al Ghazali==
(Bimbingan Mu'min dari Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama)
--------------------------------------------------------------------------------
Bismillah, Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu
`Ala Rasulillah, Wa'ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah
amma ba'du...
KITAB ADAB PERGAULAN, PERSAUDARAAN DAN PERSAHABATAN (6/15)
Hak persaudaraan dan persahabatan
Ketahuilah bahwasanya saudaramu itu mempunyai bermacam-macam hak iaitu:
(1) Hak di bidang harta
(2) Hak memberikan bantuan dengan jiwa dan raga.
(3) Hak memelihara lidah dan hati
(4) Hak memelihara ucapan
(5) Hak pengampunan
(6) Hak mendoakan
(7) Hak menepati janji dan ikhlas diri
(8) Hak memberi kemudahan, meninggalkan bersusah payah atau
menyusahkan.
Hak-hak saudara ini berjumlah delapan kesemuanya. Berikut keterangan satu
persatu:
(3) HAK MEMELIHARA LIDAH
Dalam menunaikan hak sahabat dalam memelihara lidah ialah dengan berdiam
diri suatu kala dan berbicara di kala yang lain.
Cara berdiam diri itu ialah tiada menyebut-nyebut keburukan-keburukan
kawan di masa dia hadir di hadapan kita ataupun dia tiada. Malah jika
kita
tahu ada keburukannya, kita buat-buat tidak tahu saja, dan kalau ada
orang
yang menyebutnya, kita harus pura-pura tidak tahu, dan jangan sampai kita
menambah-nambah pula atau membuka pintu perdebatan mengenai keburukan
kawan itu. Dan jangan pula kita merisik-risik tentang kekurangannya atau
menungkit-ungkit perihalnya.
Andaikata kita lihat ia sedang menuju ke suatu usaha, atau sedang
menunaikan sesuatu keperluan, maka janganlah kita bertanyakan tentang
maksud dari usahanya itu, dari mana puncanya dan datangnya. Mungkin
sekali
dia tidak ingin memberitahu kita tentang rahasia perusahaannya itu,
sehingga ia terpaksa berbohong kerananya.
Apabila diberitahukan kepada kita sesuatu rahasia, maka hendaklah kita
menyimpannya baik-baik, jangan sampai kita bocorkan rahasia itu kepada
sesiapa pun, meskipun kepada salah seorang sahabat yang paling rapat
dengannya. Rahasia itu mestilah disimpan baik-baik, walaupun sesudah itu
berlaku pergeseran atau perselisihan-faham antaranya dengan kita, namun
rahasia mestilah dijaga. Jika kita bocorkan juga, maka itu adalah sikap
orang yang tercela tabiatnya dan kotor batinya.
Seterusnya, hendaklah kita tidak mencela rakan-rakan yang disayanginya,
begitu pula dengan isteri dan anak-anaknya. Andaikata kita mengetahui ada
orang lain yang mencacinya, maka janganlah pula kita menyampaikan
caci-cela itu kepadanya. Kerana ada kata pepatah: Orang mencacimu itu
ialah orang yang menyampaikan cacian orang lain, Sebaik-baiknya, bila
mendengar ada orang yang memuji sahabat kita, kita sampaikan kepadanya,
kerana yang demikian itu akan menimbulkan rasa gembira dalam hatinya, dan
dia pula akan berterima kasih kepada kita kerana kita sampaikan berita
itu, kemudian itu akan menimbulkan rasa gembira dalam hatinya, dan dia
pula akan berterima kasih kepada kita kerana kita sampaikan berita itu,
kemudian dia akan merasa senang dengan orang yang memujinya itu.
Menyimpan
berita itu, samalah seperti orang yang busuk hati dan hasad.
Pendek kata, hendaklah kita tiada menyebut-nyebut kata-kata yang boleh
menimbulkan kemarahan atau perasaan benci dalam hatinya, melainkan bila
wajib kita berkata terus terang kepadanya dan tidak ada jalan lain lagi
untuk menahannya; iaitu seperti mengingatkan kepada suruhan agama yang
mesti ditunaikan atau larangan yang patut dijauhi. Dalam hal serupa ini,
tidak boleh berdiam diri, malah berdosa jika menutup mulut. Meskipun
berkata terus terang begitu akan menimbulkan kemarahannya, namun kita
harus tiada mengendahkan yang demikian itu. Sebab itu sebenarnya serupa
dengan melakukan suatu kebajikan bagi faedahnya, walaupun dianggap
sebagai
suatu perkara buruk pada zahirnya.
Adapun menyebut-nyebut tentang keburukan-keburukannya, aib-aibnya serta
aib-aib anak-anaknya, maka itulah yang dikatakan ghibah atau mengumpat
dan
hukumnya adalah haram atas setiap orang Muslim.
Anda dilarang dari perkara ini ialah disebabkan dua perkara:
Pertama: Cuba anda perhatikan terlebih dulu perihal diri anda sendiri.
Kiranya anda dapati dirimu ada satu saja dari perkara yang tercela itu,
maka sudah cukuplah bagi anda untuk menahan diri daripada mencela orang
lain. Memadailah anda fahamkan, bahwa dia tiada berdaya untuk menahan
dirinya dari melakukan perkara yang tercela itu, sepertimana anda juga
tidak berkuasa untuk mengekang diri dari perkara-perkara bala yang
menimpa
atas diri sendiri. Janganlah anda memandang terlalu berat suatu kelakuan
yang tercela daripadanya, kerana siapakah orangnya yang boleh dikatakan
terlepas dari celaan dan cemuhan?!
Kedua: Ketahuilah, kiranya anda ingin mencari kawan seorang yang bersih
dari segala aib dan keburukan, anda akan terpaksa mengasingkan diri dari
sekalian manusia, sedangkan anda masih belum ketemui orang itu lagi.
Sebab
tiada seorang pun di dalam dunia ini, melainkan ada padanya
perkara-perkara yang baik dan perkara-perkara yang buruk. Kiranya
kebaikannya itu lebih banyak dari keburukannya, maka itulah sebaik-sebaik
kawan yang dicari dan tidak ada lebih baik dari itu.
Ingatlah bahwa sifat seorang Mu'min yang mulia itu, hatinya sentiasa
mengenang-ngenangkan kebaikan kawan agar timbul dalam hati kawan itu
perasaan saling hormat-menghormati, sayang-menyangi dan perasaan suka
memuliakan kawan yang lain. Sebaliknya sifat seorang munafik pula,
pekertinya buruk, hatinya selamanya akan memendam segala macam keburukan
orang lain dan keaibannya.
Berkata Ibnul-Mubarak: Orang Mu'min itu selalu menerima keuzuran (jika
ada
orang membuat salah - pent) dan orang munafik selalu mencari-cari
kesalahan orang lain.
Al-Fudhail berkata pula: Kepahlawanan itu ialah memaafkan segala
kekhilafan kawan-kawan.
Oleh kerana itulah maka Rasulullah s.a.w telah bersabda:
"Berlindunglah dari jiran yang jahat pekertinya; bila melihat kebaikan
ditutupnya, dan bila melihat keburukan diheboh-hebohkannya."
Sebagaimana kita wajib memelihara lidah dari menyebut-nyebut segala
keburukan kawan, begitu juga kita wajib memelihara hati dari segala
sangkaan buruk terhadapnya. Sebab sangkaan buruk di dalam hati iti dikira
ghibah juga. Dan ghibah atau mencaci di dalam hati adalah dilarang keras
oleh agama. Dan batasannya supaya kita tidak mengira semua amalan kawan
itu buruk, tetapi sekadar yang boleh kita kira semuanya bertujuan baik.
Tetapi jika sudah terang, bahwa amalan itu sememangnya buruk dengan penuh
keyakinan dan penyaksian mata, sebaik-baiknya dikira saja bahwa perkara
itu berlaku daripadanya kerana terlalai atau terlupa, supaya kita terjauh
dari buruk sangka, Sebab yang demikian itu akan menarik kita untuk
mengintip rahasia orang dan mencari-mencari kesalahan orang lain. Nabi
s.a.w. telah bersabda:
"Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, jangan mengintip-intip
rahasia mereka, janganlah memutuskan perhubungan, jangan bermusuh-musuhan
dan jadilah kamu sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara."
Jadi menutup keburukan-keburukan orang lain dan pura-pura tidak nampak
atau tidak tahu mengenai keburukannya itu, adalah sikap yang patut
dilengkapi oleh ahli agama. Dan ketahuilah, bahwasanya tidak akan
sempurna
iman seseorang Muslim itu, selagi ia tidak mencintai diri saudaranya
sepertimana ia mencintai dirinya sendiri. Dan sekurang-kurangnya,
hendaklah ia memperlakukan terhadap saudaranya, sebagaimana ia berharap
orang lain memperlakukan terhadap dirinya sendiri.
Adapun punca segala kecuaian dalam soal menutup keaiban orang lain, atau
suka membocorkan rahasia kawan, ialah bersumber dari penyakit yang
terpendam di dalam hati; iaitu kedengkian (hasad). Barangsiapa yang
menyimpan perasaan dendam di dalam hatinya terhadap seseorang Muslim,
maka
imannya masih lemah dan tumpul, dan perkara ini amat membahayakan diri
manakala hatinya dikira busuk, tiada sesuai untuk bertemu dengan Allah
s.w.t.
Di antara hak-hak kawan yang lain yang harus dipelihara ialah: Tidak
membocorkan rahasia yang dipercayakannya kepada kita. Kita boleh
mengingkarinya, jika perkara yang dilakukannya itu tidak baik meskipun
dengan berbohong, kerana bercakap benar itu bukanlah wajib pada semua
keadaan. Sayugialah, sebagaimana seseorang itu harus menutup keaiban
dirinya dan rahasia-rahasianya yang buruk, sekalipun ia terpaksa
berbohong
kerananya, maka terhadap keaiban dan rahasia saudaranya, itu dikira satu
kedudukan dengannya; kedua-duanya laksana orang yang satu, tiada beda
antara keduanya melainkan dalam tubuh badan saja. Inilah yang dikatakan
persaudaraan atau persahabatan yang hakiki dan tulen.
Sabda Rasulullah s.a.w.:
"Barangsiapa menutup rahasia saudaranya, niscaya Allah akan menutup
rahasianya di dunia dan di akhirat."
Sabdanya lagi:
"Apabila seseorang itu menyampaikan sesuatu berita, kemudian ia berpaling
(pergi dari situ), maka ketahuilah bahwa berita itu adalah amanat."
Lagi sabda baginda:
"Majlis-majlis (perbicaraan dalam perkumpulan) adalah amanat."
"Hanyasanya dua orang yang berbicara dalam suatu majlis itu adalah
amanat,
dan tiadalah boleh bagi seseorang dari keduanya membocorkannya apa-apa
rahasia yang tiada disenananginya."
Pernah ditanyakan kepada seseorang: Bagaimana anda memelihara rahasia?
Jawabnya: Aku menjadi kuburnya. Sesungguhnya dada orang yang merdeka itu
merupakan kuburnya segala rahasia.
Pernah diceritakan, ada seseorang menyatakan rahasia hatinya pada seorang
kawan, kemudian ia bertanya kepada kawan itu: Ingatkah anda apa yang aku
bicarakan tadi? Jawabnya: Entahlah, aku sudah lupa.
Al-Abbas, bapa saudar Nabi s.a.w. pernah memesan kepada puteranya
Abdullah, katanya: Aku lihat orang ini (maksudnya) saiyidina umar
Ibnul-Khattab r.a.) sering mengkedepankan engkau dari banyak orang-orang
yang tua, maka peliharalah nasihatku yang lima ini:
(1) Janganlah engkau bocorkan rahasianya sama sekali
(2) Janganlah engkau mencaci orang lain dihadapannya
(3) Janganlah engkau membiasakan bohong kepadanya
(4) Janganlah engkau melanggar perintahnya
(5) Janganlah sampai ia melihat sesuatu pengkhianatan
berlaku daripadamu.
Asy-Sya'bi memberi komennya terhadap ucapan di atas, katanya: Setiap satu
dari mutiara kata lima ini, lebih berharga daripada seribu kata.
Di antara hak kawan lagi ialah: Meninggalkan perbantahan atau
pertengkaran
terhadap segala yang diucapkan oleh saudaramu.
Berkata Ibnu Abbas: Jangan ajak bertengkar pada orang yang kurang akal,
nanti ia akan membahayakan kamu. Jangan pada orang yang bersabar, nanti
kamu dibencinya pula.
Rasullullah s.a.w telah bersabda:
"Barangsiapa meninggalkan pertengkaran sedang ia bersalah, akan dibina
baginya sebuah rumah di dalam halaman syurga. Dan barangsiapa
meninggalkan
pertengkaran sedang ia benar (tidak salah), akan dibina baginya sebuah
rumah di tempat tertinggi dalam syurga."
Hadis tersebut menunjukkan betapa toleransi Agama Islam, padahal
meniggalkan yang salah itu adalah wajib hukumnya. Tetapi Hadis itu telah
menjadikan pahala melakukan sunnat di sini lebih besar. Sebab berdiam
diri
ketika dalam kebenaran itu lebih berat tekanannya atas diri daripada
berdiam diri ketika dalam kesalahan atau kebatilan, dan sebenarnya pahala
itu dikira atas kadar tanggungan.
Ingatlah, bahwa sebab yang paling berat sekali untuk menyalakan api
kedengkian dalam hati sesama saudara, ialah dengan menimbulkan
pertengkaran dan perbantahan. Kedua-dua sifat ini merupakan punca utama
kepada permusuhan dan putus perhubungan. Bukanlah berputus hubungan itu
mula-mulanya berlaku dengan timbulnya pendapat-pendapat yang
berbeda-beda,
kemudian dengan kata-kata yang tak senang didengar oleh telinga, kemudian
dengan beradu kekuatan atau berpukul-pukulan.
Nabi s.a.w. telah bersabda:
"Janganlah kamu bermusuh-musuhan, jangan benci-membenci, jangan
dengki-mendengki, jangan berputus hubungan antara satu dengan yang lain
dan jadilah kamu sekalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara-mara."
Baginda bersabda lagi:
"Seseorang Muslim adalah saudara kepada Muslim yang lain, tiada boleh
menganiyainya, atau menghalangi keperluannya, atau menghinanya.
Memadailah
seseorang itu dikira jahat, apabila ia menghina saudaranya Muslim yang
lain."
Ketahuilah, bahwa seberat-berat penghinaan terhadap kawan telah melakukan
perbantahan terhadapnya, sebab orang yang membantah kata-kata kawannya
itu
mungkin menganggap kawan itu bodoh, atau lalai, atau cuai dari memahami
sesuatu perkara menurut semestinya. Itulah yang dikatakan penghinaan yang
menyempitkan dada dan mengacau jiwa.
Abu Umamah meriwayatkan sebuah Hadis katanya: Pada suatu ketika
Rasulullah
s.a.w datang ke tempat kami, sedang kami lagi berbantah-bantahan, maka
baginda pun murka lalu bersabda:
"Tinggalkanlah pertengkaran dan berbantah-bantahan, sebab amat sedikit
sekali kebaikannya. Hindarkanlah pertengkaran dan berbantah-bantahan
sebab
tidak seberapa manfaatnya, malah ia akan menarik kepada permusuhan dan
perselisihan antara sesama saudara."
Setengah para salaf berkata: Orang yang mengata-nista saudaranya atau
membantah-bantahnya, adalah orang yang rendah pekertinya dan yang telah
lenyap penghormatanya dirinya.
Yang lain pula berkata: Awas! Jangan sekali-kali berbantah-bantahan
dengan
orang ramai. Sebab anda takkan berdaya menolak tipu daya seorang
penyabar,
atau menahan bencana seorang jahat.
Al-Hasan berkata pula: Tiada akan terbeli permusuhan seorang dengan
kasih-sayang seribu orang.
Pendek kata tidak ada gunanya berbantah-bantahan, selain dari ingin
menampakkan diri sebagai orang yang banyak akal dan lebih utama, serta
menampakkan diri kawannya sebagai orang yang rendah dan masih bodoh.
Bukannkah itu menandakan takabbur dalam diri, menyimpan perasaan sombong,
suka menghina dan mencaci orang lain sebagai kurang akal, bodoh dan
jahil.
Tidak ada pengertian lain yang lebih tepat dari yang tersebut itu, maka
bagaimana dapat dibentuk persaudaraan yang sejati dan bersefahaman.
Ibnu abbas pernah meriwayatkan dari Rasulullah s.a.w katanya, sabda
baginda:
"Janganlah anda membantah saudaramu, dan janganlah pula bersenda gurau
dengannya (yakni yang berlebih-lebihan), dan bila berjanji suatu
perjanjian, maka janganlah anda memungkirinya."
Sabda baginda lagi:
"Kamu tidak mungkin akan menguasai orang ramai dengan harta kekayaan
kamu,
tetapi kuasailah mereka dengan wajah yang berseri-seri dan budi pekerti
yang luhur."
Adapun sifat berbantah-bantahan itu adalah berlawanan dengan sifat budi
pekerti yang luhur. Dan ketahuilah, bahawasanya asasnya persaudaraan itu
ialah permuafakatan dalam perbicaraan, perlakuan dan sayang-menyayangi
antara sesama saudara.
(Bersambung)
[Non-text portions of this message have been removed]
______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke:
[EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/