Koran Tempo, Sabtu 4 Pebruari 2006
    
  NU di Tengah Arus Radikalisme Islam 
            
  
            Oleh Abd  Moqsith Ghazali
            [Peneliti The Religious Reform Project (RePro) Jakarta]
             
             
             
             
            Nahdhatul  Ulama adalah salah satu ormas keagamaan paling tua di 
negeri ini. Pada tanggal  31 Januari 2006, ia telah memasuki usia ke 80. Dalam 
tempo yang panjang tersebut,  NU telah menorehkan banyak kontribusi bagi 
kelangsungan bangsa dan negara ini. Tak  ada keraguan, NU adalah ormas 
keagamaan yang memiliki komitmen tinggi bagi  tegaknya Negara Kesatuan Republik 
Indonesia (NKRI) di bawah tenda besar bernama  Pancasila. Di tengah resistensi 
yang kuat dari sebagian umat Islam terhadap  Pancasila, melalui muktamarnya 
yang ke-27 tahun 1984 di Situbondo Jawa Timur,  NU melakukan terobosan dengan 
menerima asas tunggal Pancasila dan menyatakan  bahwa bentuk negara kesatuan 
republik Indonesia adalah keputusan final. Dalam  konteks ini, bisa dikatakan 
bahwa NU bukan sekadar punya komitmen melainkan  sangat fanatik terhadap 
Indonesia  dengan Pancasilanya ini. 
            Berbeda  dengan ormas keislaman lain, NU misalnya tak pernah 
mengajukan klausul khilafah  islamiyah. Begitu juga dalam hal formalisasi 
syari'at Islam. Baik dalam  periode kepemimpinan Abdurrahman Wahid maupun 
Hasyim Muzadi, NU terus menyatakan  penolakannya terhadap formalisasi syari'at 
Islam. NU berjuang untuk tegaknya  maksud-maksud syari'at (maqasid 
al-syari\'at) berupa keadilan,\nkemaslahatan, hak asasi manusia dan bukan untuk 
diformalisasikannya ketentuan-ketentuan\nharfiah syari\'at Islam. Dalam acara 
halaqah LDNU (lembaga Dakwah Nahdhatul\nUlama) di gedung PBNU tanggal 21 
Desember 2005, KH Hasyim Muzadi sebagai Ketua\nUmum PBNU dengan tegas 
menyatakan bahwa NU tak antusias dengan perjuangan\nformalisasi syari\'at 
Islam. NU hanya mendukung tegaknya maqashid al-syari\'at.\nDengan informasi ini 
kita akan maklum, kenapa NU misalnya tak mengajukan hukum\nrajam, potong 
tangan, dan lain-lain agar dimasukkan dalam sanksi-sanksi hukum\npositif kita.
\n\n\n\n\nPandangan\nkeagamaan progresif seperti ini kiranya tak lepas dari 
penguasaan luas para\nkiai NU terhadap sumber-sumber keislaman yang otentik, 
sehingga mereka bisa\ndengan mudah menyelamatkan diri dari jebakan 
skripturalisme dan fundamentalisme\nIslam. Coba perhatikan, melalui halaqah di 
PP Watucongol, Muntilan, Magelang, 15-17\nDesember 1988 dengan tema "Telaah 
Kitab Kuning Secara Kontekstual", para kiai\nNU memutuskan tentang pentingnya 
memahami\nkitab kuning secara kontekstual, yaitu pemahaman yang didasarkan pada 
konteks yang\nmelatarbelakangi kehadiran sebuah teks. Pemaknaan secara 
harafiah, menurut para\nkiai, tak cukup menolong bagi usaha menangkap makna 
terdalam dari sebuah teks. Tidak\ncukup dengan pemahaman secara kontekstual, 
para kiai NU melalui Munas Alim\nUlama NU di Bandar Lampung, tanggal 21-25 
Januari 1992 mengintroduksi upaya\nijtihad atau istinbath terutama untuk 
memecahkan sejumlah masalah keislaman\nkontemporer.       
\n\n\n\n\nNamun, pemahaman keislaman a la NU itu mulai mendapatkan tantangan 
yang\ntidak ringan. Adanya grafik fundamentalisme dan radikalisme Islam 
yang\ncenderung naik. Jalan kekerasan kerap ditempuh untuk tujuan 
memperjuangkan dan\nmendakwahkan Islam. Pelbagai ormas keagamaan belia--karena 
rata-rata baru muncul\npada era reformasi--tak ragu untuk melakukan penutupan 
terhadap rumah ibadat\numat agama lain, pengrusakan demi pengrusakan terhadap 
tempat-tempat yang dinilai\nberbau maksiat. Bahkan, pemboman sengaja dilakukan 
dengan alasan ",1]  );    //-->maqasid al-syari'at) berupa keadilan,  
kemaslahatan, hak asasi manusia dan bukan untuk diformalisasikannya 
ketentuan-ketentuan  harfiah syari'at Islam. Dalam acara halaqah LDNU (lembaga 
Dakwah Nahdhatul  Ulama) di gedung PBNU tanggal 21 Desember 2005, KH Hasyim 
Muzadi sebagai Ketua  Umum PBNU dengan tegas menyatakan bahwa NU tak antusias 
dengan perjuangan  formalisasi syari'at Islam. NU hanya mendukung tegaknya 
maqashid al-syari'at. 
 Dengan informasi ini kita akan maklum, kenapa NU misalnya tak mengajukan hukum 
 rajam, potong tangan, dan lain-lain agar dimasukkan dalam sanksi-sanksi hukum  
positif kita.
            Pandangan  keagamaan progresif seperti ini kiranya tak lepas dari 
penguasaan luas para  kiai NU terhadap sumber-sumber keislaman yang otentik, 
sehingga mereka bisa  dengan mudah menyelamatkan diri dari jebakan 
skripturalisme dan fundamentalisme  Islam. Coba perhatikan, melalui halaqah di 
PP Watucongol, Muntilan, Magelang, 15-17  Desember 1988 dengan tema "Telaah 
Kitab Kuning Secara Kontekstual", para kiai  NU memutuskan tentang pentingnya 
memahami  kitab kuning secara kontekstual, yaitu pemahaman yang didasarkan pada 
konteks yang  melatarbelakangi kehadiran sebuah teks. Pemaknaan secara 
harafiah, menurut para  kiai, tak cukup menolong bagi usaha menangkap makna 
terdalam dari sebuah teks. Tidak  cukup dengan pemahaman secara kontekstual, 
para kiai NU melalui Munas Alim  Ulama NU di Bandar Lampung, tanggal 21-25 
Januari 1992 mengintroduksi upaya  ijtihad atau istinbath terutama untuk 
memecahkan sejumlah masalah keislaman  kontemporer.       
            Namun, pemahaman keislaman a la NU itu mulai mendapatkan tantangan 
yang  tidak ringan. Adanya grafik fundamentalisme dan radikalisme Islam yang  
cenderung naik. Jalan kekerasan kerap ditempuh untuk tujuan memperjuangkan dan  
mendakwahkan Islam. Pelbagai ormas keagamaan belia--karena rata-rata baru 
muncul  pada era reformasi--tak ragu untuk melakukan penutupan terhadap rumah 
ibadat  umat agama lain, pengrusakan demi pengrusakan terhadap tempat-tempat 
yang dinilai  berbau maksiat. Bahkan, pemboman sengaja dilakukan dengan alasan 
jihad fiy\nsabilillah. Sementara, sebagian yang lain terus berkoar untuk 
merancang\nulang Indonesia menjadi negara Islam, khilafah islamiyah, 
formalisasi syari\'at\nIslam, dan lain sebagainya. Mereka berpendirian bahwa 
Pancasila adalah hasil\nbikinan manusia yang relatif sehingga harus digantikan 
dengan dasar Islam. Mereka\npun menolak demokrasi hanya karena ia berasal dari 
Barat.  
\n\n\n\n\nPertanyaannya, bagaimana NU harus bersikap dan memposisikan diri di 
tengah\nkecenderungan baru itu? Di sinilah pada hemat saya, NU harus bekerja di 
dua\nlevel secara sekaligus. Pertama, sosialisasi internal. Ke dalam, NU\nharus 
mensosialisasikan gagasan-gagasan moderatnya hingga ke level paling\nbawah. 
Sebab, saya berkali-kali dikagetkan oleh sejumlah keadaaan dimana 
sebagian\norang NU mulai menyuarakan tentang pentingnya mendirikan negara 
Islam. Mereka\ntidak setuju terhadap konsep Indonesia sebagai negara bangsa 
yang didasarkan\npada Pancasila. Sebagaimana banyak disuarakan kelompok Islam 
fundamentalis, warga\nNU itu pun setuju terhadap formalisasi syari\'at Islam, 
sebuah sikap ideologis yang\njelas berseberangan dengan apa yang pernah 
diputuskan NU. Apakah NU\nmulai--meminjam bahasa yang rajin dipakai oleh para 
penyangga rezim\nOrba--"kesusupan" ajaran Wahabi yang dahulu ditampiknya secara 
bertubi-tubi? Apakah\npara kiai NU begitu terpukau dengan pikiran Taqiyuddin
 al-Nabhani tentang khilafah\nislamiyah yang gencar didakwahkan teman-teman 
Hizbut Tahrir. Wallahu a\'lam.\n
\n\n\n\n\nSaya hanya ingin mengatakan bahwa fenomena itu menunjukkan satu hal. 
Yaitu,\nkurang intensifnya pengurus NU di dalam mensosialisasikan 
keputusan-keputusan\npenting yang pernah diambilnya, sehingga 
pandangan-pandangan keagamaan NU belum\nmerembes hingga ke tingkat bawah. Untuk 
itu, sosialisasi internal ini menjadi relevan.\nHarapannya, apa yang 
dikemukakan para kiai NU mulai dari tingkat pusat hingga\nranting sejauh 
menyangkut hal-hal yang strategis kiranya berada dalam nada\ndasar yang sama, 
padu dan kompak. Tanpa ada sosialisasi internal yang gencar,\nmaka tidak 
tertutup kemungkinan warga NU akan berada dalam pelukan ideologi\normas lain. 
NU akan mengalami proses metamorfosa; dari moderatisme-progresifisme\nke 
fundamentalisme-ekstrimisme, dari inklusifisme ke eksklusifisme. 
Sangat\nmengkhawatirkan. ",1]  );    //-->jihad fiy  sabilillah. Sementara, 
sebagian yang lain terus berkoar untuk merancang  ulang Indonesia menjadi 
negara Islam, khilafah islamiyah, formalisasi
 syari'at  Islam, dan lain sebagainya. Mereka berpendirian bahwa Pancasila 
adalah hasil  bikinan manusia yang relatif sehingga harus digantikan dengan 
dasar Islam. Mereka  pun menolak demokrasi hanya karena ia berasal dari Barat.  
            Pertanyaannya, bagaimana NU harus bersikap dan memposisikan diri di 
tengah  kecenderungan baru itu? Di sinilah pada hemat saya, NU harus bekerja di 
dua  level secara sekaligus. Pertama, sosialisasi internal. Ke dalam, NU  harus 
mensosialisasikan gagasan-gagasan moderatnya hingga ke level paling  bawah. 
Sebab, saya berkali-kali dikagetkan oleh sejumlah keadaaan dimana sebagian  
orang NU mulai menyuarakan tentang pentingnya mendirikan negara Islam. Mereka  
tidak setuju terhadap konsep Indonesia sebagai negara bangsa yang didasarkan  
pada Pancasila. Sebagaimana banyak disuarakan kelompok Islam fundamentalis, 
warga  NU itu pun setuju terhadap formalisasi syari'at Islam, sebuah sikap 
ideologis yang  jelas berseberangan dengan apa yang pernah diputuskan NU. 
Apakah NU  mulai--meminjam bahasa yang rajin dipakai oleh para penyangga rezim  
Orba--"kesusupan" ajaran Wahabi yang dahulu ditampiknya secara bertubi-tubi? 
Apakah  para kiai NU begitu terpukau dengan pikiran Taqiyuddin
 al-Nabhani tentang khilafah  islamiyah yang gencar didakwahkan teman-teman 
Hizbut Tahrir. Wallahu a'lam.  
            Saya hanya ingin mengatakan bahwa fenomena itu menunjukkan satu 
hal. Yaitu,  kurang intensifnya pengurus NU di dalam mensosialisasikan 
keputusan-keputusan  penting yang pernah diambilnya, sehingga 
pandangan-pandangan keagamaan NU belum  merembes hingga ke tingkat bawah. Untuk 
itu, sosialisasi internal ini menjadi relevan.  Harapannya, apa yang 
dikemukakan para kiai NU mulai dari tingkat pusat hingga  ranting sejauh 
menyangkut hal-hal yang strategis kiranya berada dalam nada  dasar yang sama, 
padu dan kompak. Tanpa ada sosialisasi internal yang gencar,  maka tidak 
tertutup kemungkinan warga NU akan berada dalam pelukan ideologi  ormas lain. 
NU akan mengalami proses metamorfosa; dari moderatisme-progresifisme  ke 
fundamentalisme-ekstrimisme, dari inklusifisme ke eksklusifisme. Sangat  
mengkhawatirkan. 
\n\n\n\n\nKedua, sosialisasi eksternal.\nDengan jama\'ahnya yang konon 40-an 
juta NU mestinya bisa menggarami semesta umat\nIslam di pelbagai kawasan dunia. 
Anggota yang demikian gegantik--dan saya kira\ntak ada ormas keislaman  di 
dunia ini\nyang memiliki anggota sebanyak itu--adalah aset yang berpotensial 
dalam\nmenentukan pigmen keislaman dunia. Namun, kampanye NU tentang 
moderatisme Islam\ndi fora internasional tampaknya belum digarap secara lebih 
optimal. Sehingga\nwarna keislaman yang cukup pekat menonjol di publik dunia 
masih warna keislaman\nyang keras dan bengis, sejenis Islam yang dikampanyekan 
secara militan dan\ngegap gempita oleh tokoh-tokoh fundamentalis Islam Timur 
Tengah. Tak ayal lagi,\nbanyak orang yang mengidentikkan Islam dengan 
terorisme. Sebagian umat Islam\nmulai tidak nyaman dengan agama yang dianutnya. 
 
\n\n\n\n\nSekarang adalah momentum yang tepat bagi NU untuk sosialisasi ke 
luar,\ntentu dengan meniscayakan adanya stok salesman yang mampu\nmemasarkan 
gagasan moderat NU hingga menembus level dunia. Sosialisasi jelas bukan\nhanya 
untuk tujuan mengerem laju stigmatisasi Islam yang terus berjalan,\nmelainkan 
juga untuk menggantikan model keislaman Timur Tengah yang dominan dan\nkeras. 
Model keislaman NU yang santun dan toleran harus bisa menggantikan 
model\nkeislaman Al-Qaedah yang ekstrim dan radikal. Pola keislaman moderat 
seperti\nyang dikembangkan NU kiranya yang paling mungkin untuk diajak serta 
dalam\nmembangun tata kehidupan dunia yang damai dan demokratis. Sekiranya 
Muhammadiyah\ndengan kalkulasi anggotanya kurang lebih 30-an juta orang itu 
juga melakukan\nhal yang sama, maka semakin kukuhlah posisi Islam moderat pada 
tingkat dunia. Dengan\nini pula publik pun segera tahu bahwa pandangan 
keislaman ekstrim seperti yang\nditunjukkan oleh kelompok fundamentalis Islam 
hanya lapis
 terkecil dari samudera\npopulasi umat Islam dunia []. ",1]  );    //-->
            Kedua, sosialisasi eksternal.  Dengan jama'ahnya yang konon 40-an 
juta NU mestinya bisa menggarami semesta umat  Islam di pelbagai kawasan dunia. 
Anggota yang demikian gegantik--dan saya kira  tak ada ormas keislaman  di 
dunia ini  yang memiliki anggota sebanyak itu--adalah aset yang berpotensial 
dalam  menentukan pigmen keislaman dunia. Namun, kampanye NU tentang 
moderatisme Islam  di fora internasional tampaknya belum digarap secara lebih 
optimal. Sehingga  warna keislaman yang cukup pekat menonjol di publik dunia 
masih warna keislaman  yang keras dan bengis, sejenis Islam yang dikampanyekan 
secara militan dan  gegap gempita oleh tokoh-tokoh fundamentalis Islam Timur 
Tengah. Tak ayal lagi,  banyak orang yang mengidentikkan Islam dengan 
terorisme. Sebagian umat Islam  mulai tidak nyaman dengan agama yang dianutnya. 
 
            Sekarang adalah momentum yang tepat bagi NU untuk sosialisasi ke 
luar,  tentu dengan meniscayakan adanya stok salesman yang mampu  memasarkan 
gagasan moderat NU hingga menembus level dunia. Sosialisasi jelas bukan  hanya 
untuk tujuan mengerem laju stigmatisasi Islam yang terus berjalan,  melainkan 
juga untuk menggantikan model keislaman Timur Tengah yang dominan dan  keras. 
Model keislaman NU yang santun dan toleran harus bisa menggantikan model  
keislaman Al-Qaedah yang ekstrim dan radikal. Pola keislaman moderat seperti  
yang dikembangkan NU kiranya yang paling mungkin untuk diajak serta dalam  
membangun tata kehidupan dunia yang damai dan demokratis. Sekiranya 
Muhammadiyah  dengan kalkulasi anggotanya kurang lebih 30-an juta orang itu 
juga melakukan  hal yang sama, maka semakin kukuhlah posisi Islam moderat pada 
tingkat dunia. Dengan  ini pula publik pun segera tahu bahwa pandangan 
keislaman ekstrim seperti yang  ditunjukkan oleh kelompok fundamentalis Islam 
hanya
 lapis terkecil dari samudera  populasi umat Islam dunia []. 
\n
\n\n",0]  );  D(["ce"]);    //-->
  
                
---------------------------------
Brings words and photos together (easily) with
 PhotoMail  - it's free and works with Yahoo! Mail.

[Non-text portions of this message have been removed]



______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke