http://www.gatra.com/artikel.php?id=92148

Memecah Kebekuan Regenerasi Ulama

RUANG dosen jurusan Aqidah Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan 
Kalijaga Yogyakarta, siang itu dipadati mahasiswa. Mereka antri untuk 
mengikuti praktikum qira’ah (membaca al- Qur’an, red). ”Dua tahun 
terakhir, praktikum qira’ah menjadi kegiatan wajib, terutama bagi 
mahasiswa semester awal,” kata Presiden DEMA UIN Sunan Kalijaga 
Yogyakarta, Kaisar Abu Hanifah kepada Subhi Azhari dari the WAHID Institute.

Banyak orang prihatin atas menurunnya kemampuan membaca kitab suci di 
kalangan mahasiswa Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI). Padahal dalam 
rangking keahlian agama, itu adalah kemampuan terendah. ”Mereka harusnya 
mampu membaca dan memahami literatur-literatur klasik Islam, yang lazim 
disebut kitab kuning. Ilmu-ilmu penopang seperti nahw, sharf, balaghah, 
mantiq dan ma’ani, penting dikuasai,” kata Guru Besar Fakultas Syariah 
dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr. Hj. Chuzaimah Tahido 
Yanggo.

Tapi kenyataan lain diungkap Kama Rusdiana, dosen di universitas yang 
sama. ”Praktikum qira’ah saja banyak yang tidak lulus kok,” kata 
Sekretaris Jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum Fakultas Syari’ah ini.
Pandangan sama datang dari Direktur Pekapontren Depag Amin Haedari. 
Bahkan ia menilai, PTAI telah mengalami disorientasi. ”Harusnya PTAI 
dipersiapkan untuk melahirkan ulama, tapi dalam kenyataannya tidak,” 
katanya (baca: Semua Ma’had Aly Bisa Diakui Pemerintah).

Kebuntuan regenerasi ulama itu juga pernah meresahkan para tokoh muslim. 
Untuk mengatasi masalah itu, organisasi massa Islam seperti Nahdlatul 
Ulama (NU) dan Muhammadiyah pun bergegas mendirikan lembaga pendidikan 
tinggi Islam ’alternatif ’. Seperti kisah KH As’ad Syamsul Arifin di 
penghujung tahun 80-an. Pengasuh Ponpes Sukorejo, Situbondo itu gundah 
melihat banyak kiai sepuh NU meninggal dunia. Sedang generasi baru yang 
mampu mengemban missi keagamaan dan kemasyarakatan organisasi Islam 
terbesar itu, belum kunjung tampak.

Menurut Abdul Moqsith Ghazali dalam penelitiannya berjudul Proses 
Pembelajaran di Ma’had Aly Sukorejo, Asembagus, Situbondo, Jawa Timur, 
dari kegundahan itu KH As’ad berencana membentuk lembaga pendidikan yang 
secara khusus mempersiapkan lahirnya ahli fikih. Untuk itu, pada 1989, 
Kiai As’ad menggelar halaqah (forum diskusi, red) dengan mengundang tak 
kurang dari 100 kiai.

Mereka diantaranya KH Ali Yafie, KH Abdul Muchith Muzadi, KH Sahal 
Mahfudz, KH Abdul Wahid Zaini (alm.), KH Fahmi Saifuddin (alm.), KH 
Tolhah Hasan, KH Yusuf Muhammad (alm.) dan KH Masdar F. Mas’udi. Maka 
pada tahun 1990 berdiri Ma’had Aly Situbondo, bernama al- Ma’had al-Aly 
li al-’Ulum al-Islamiyah Qism al-Fiqh, dengan spesialisasi fikih dan 
ushul fikih.

Mulai tahun 2000, Ma’had Aly Situbondo telah membuka kelas perempuan, 
sehingga kemungkinan bagi hadirnya sosok perempuan yang ahli di bidang 
fikih semakin terbuka. Sejum-lah buku hasil kreasi santri Ma’had Aly 
Situbondo telah diter-bitkan, seperti Fikih Rakyat: Pertautan Fikih dan 
Kekuasaan (LKiS 2002) dan lain-lain.

Layaknya perguruan tinggi, Ma’had Aly -selanjutnya disingkat MA, juga 
memiliki kurikulum, penjejangan, masa studi, rekruitmen, proses 
pembelajaran dan evaluasi pembe-lajaran. Tapi sesuai watak pondok 
pesantren yang beragam, wujud MA pun berbeda-beda. “Pendidikan di MA 
Salafiyah Syafi’iyah Situbondo ditempuh selama tiga tahun. Sistem SKS 
juga diterapkan di sana,” ujar Hendra Tirtana, alumni MA Situbondo 2002.

Dijelaskannya, dengan menambah beberapa prasyarat, santri MA Situbondo 
setara dengan lulusan Strata 2 (S2). Kendati fikih dan ushul fikih 
diutamakan, namun pelajaran lain tak dikesampingkan. “Malah sekarang ada 
al-fikr al-hadits (pemikiran kontemporer),” imbuh mahasiswa Pascasarjana 
UIN Jakarta ini.

Jika MA Situbondo mengambil spesialisasi fikih-ushul fikih, maka Ma’had 
Darus-Sunnah al-‘Aly li ‘Ulum al-Hadits Ciputat, Banten mengedepankan 
disiplin hadis dan ilmu hadis. “Malah kurikulum hadis dan ilmu hadis di 
sini lebih tinggi ketimbang S2 IIQ (Institut Ilmu Quran) maupun UIN,” 
terang Abdullah Syafi’i Damanhuri, musyrif (asisten dosen) MA Darus-Sunnah.

Kitab-kitab yang diajarkan, imbuhnya, adalah kitab utama dalam hadis dan 
ilmu hadis, seperti al-kutub alsittah, Tadrib al-Rawi, al-Takhrij wa 
Dirasah al-Asanid, juga Taysir Mushthalah al-Hadits.
“Tapi bukan berarti kitab fikih seperti Bidayah al-Mujtahid atau kitab 
ushul fikih seperti al-Asybah wa al-Nadhair dilupakan begitu saja. 
Keduanya turut dikaji di sini,” jelasnya. Sistem SKS juga diterapkan di 
MA yang didirikan KH Ali Mustafa Yaqub pada 1997 ini. Pada akhir 
semester, mahasantri juga diwajibkan membuat risalah (skripsi). “Santri 
menempuh pendidikan di sini selama delapan semester,” terangnya.

Ada juga MA yang diorientasikan mencetak ahli tafsir dan hadis, seperti 
MA al- Hikmah Sirampog, Brebes yang didirikan oleh KH Masruri Mughni. 
Mulanya, sejak 1984 ia berbentuk Takhashshush Qira’atil Kutub yang 
dibangun untuk mengintensifkan kajian kitab kuning. Pada 1997 lembaga 
itu diubah menjadi MA dengan spesialisasi tafsir-hadis.

Mahasantrinya juga diwajibkan menulis risalah di akhir semester. “MA ini 
bekerja sama dengan STAISA (Sekolah Tinggi Agama Islam Sholahuddin 
al-Ayyubi) Jakarta untuk memperoleh ijazah S1,” tulis Marzuki Wahid 
dalam artikel berjudul Ma’had Aly: Nestapa Tradisionalisme dan Tradisi 
Akademik yang Hilang (Tashwirul Afkar XI/2001). Lain lagi MA Pesantren 
Miftahul Huda Manonjaya, Tasikmalaya yang didirikan KH Choer Affandi, 
pada 1980. Seiring keahlian pendirinya, MA dengan masa studi tiga tahun 
ini difokuskan pada bidang akidah. Kitabkitab yang diajarkan misalnya, 
Ghayah al- Wushul, Uqud al-Juman, Fath al-Wahhab, dan sebagainya.

Karena masih menerapkan sistem salaf seperti halaqah (diskusi), 
bandongan (kiai membaca kitab dan santri-santri mencatat keterangannya) 
dan sorogan (santri satu persatu membaca kitab di hadapan kiai), MA 
Miftahul Huda dinilai masih kental sistem pendidikan tradisionalnya. “Di 
sana tidak dikenal SKS,” jelas Dudung Abdurrahman dalam penelitiannya 
Membangun Konsep Pendidikan Ma’had Aly (Istiqro Vol 3 No. 1/ 2004).

Sedang MA Islam al-Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, yang didirikan pada 1988, 
menanamkan keahlian dakwah. Lembaga di bawah naungan Yayasan Pendidikan 
Islam dan Asuhan Yatim Muslim al-Mukmin yang dibidani Abdullah Sungkar, 
Abu Bakar Baasyir dan Abdullah Baraja’ ini, memformulasi ilmu-ilmu 
keislaman dan modern. “Selain mengajarkan tafsir, ilmu tafsir, ilmu 
hadis, hadis, akhlak, juga mengajarkan psikologi, sosiologi, hukum, 
metodologi riset dan sebagainya, dengan sistem SKS,” ungkap Dudung.

Terlepas dari perbedaan-perbedaan corak itu, tujuan awal didirikannya MA 
adalah untuk mengantisipasi krisis ulama, sama halnya dengan pendirian 
pesantren tinggi di lingkungan Muhammadiyah (baca: Candra-dimuka Kader 
Unggulan). “MA merupakan institusi pencetak ulama yang mampu menguasai 
berbagai disiplin ilmu keislaman, terutama penguasaan kitabkitab klasik 
yang menjadi referensi para ulama. Dalam beberapa unsur, ia setingkat 
dengan perguruan tinggi, tapi lebih fokus pada pendidikan tinggi 
bertradisi pesantren,” jelas Dudung.

Namun demikian, MA tidak bisa disamakan dengan perguruan tinggi Islam 
yang lain seperti Institut Agama Islam (IAI) atau Sekolah Tinggi Agama 
Islam (STAI) baik negeri maupun swasta. Ijazah formal dan ujian 
persamaan untuk memperoleh ijazah negara, juga tidak pernah dikeluarkan 
MA kepada santri yang telah lulus.

“Secara hardware dan software, pendidikannya seperti pondok pesantren, 
dengan berbagai kultur dan tradisi yang melingkupinya. Tapi karena 
kekhususannya, MA di berbagai pesantren diberi fasilitas khusus seperti 
asrama, ruang kelas, perpustakaan dan sarana aktualisasi seperti 
penerbitan atau ceramah di luar ponpes,” jelas Marzuki Wahid.

“Hal lainnya, adalah metode pembelajarannya yang melibatkan santri 
sebagai subyek belajar, kitab yang dikaji relatif tinggi dan cara 
mengkaji yang lebih kritis,” imbuhnya.

Kepala Seksi Pendidikan Keagamaan Departemen Agama Imam Syafe’i 
mengungkap, sebanyak 25 MA telah mendaftar ke instansi-nya. 
Lembagalembaga itu antara lain berada di Sulawesi Selatan, Kali-mantan 
Selatan, Suma-tera Selatan, Lampung, Jawa dan Nusa Tenggara Barat.

“Tapi baru satu MA yang diakui pemerintah yaitu MA Salafiyah Syafi’iyah, 
Situbondo. Sisanya masih mengikuti standarisasi kurikulum,” kata Imam 
Syafe’i kepada Rumadi dari the WAHID Institute.

Saat ini sebagian besar MA dan pesantren tinggi yang ada tampak masih 
dalam perjuangan antara hidup dan mati. Ada dugaan kuat, kendala-kendala 
teknis seperti persediaan dana yang relatif minim karena hanya 
mengandalkan cadangan uang pesantren, menyebabkan MA kurang lincah dalam 
bergerak. Menurut Abdul Moqsith Ghazali, sebagian besar MA tak ditunjang 
oleh fasilitas yang memadai. Bukubuku yang tersedia dalam rak-rak 
perpustakaan MA juga sangat terbatas.

“Ini artinya mengelola lembaga pendidikan dengan tuntutan yang demikian 
tinggi tak cukup hanya dengan bermodal semangat dan niat baik. Ada yang 
harus dipenuhi seperti perpustakaan yang lengkap, di samping dosen yang 
bagus dan lingkungan belajar yang kondusif,” kata kandidat doktor UIN 
Syarif Hidayatullah, Jakarta ini.

Terlepas dari produk yang belum maksimal itu, apresiasi terhadap para 
pendiri MA dan pesantren tinggi tetap harus diberikan. Komitmen para 
kiai dan ulama untuk turut memberikan kontribusi bagi peningkatan 
kualitas santri dan mengatasi kelangkaan ulama yang bermutu di negeri 
ini patut dipuji. Itulah upaya menghindari kedangkalan pemahaman ilmu 
keislaman, yang menurut KH Abdurrahman Wahid sebagai sumber 
konservatisme, bahkan terorisme.

Kita tak pernah bisa membayangkan, apa jadinya sebuah negeri yang hanya 
dimuati oleh taburan fatwa para ulama ‘karbitan’ yang berkualifikasi 
rendah. Kata Rasulullah SAW, mereka akan berfatwa tak berdasarkan ilmu, 
sehingga mereka berada dalam ketersesatan dan akan menyesatkan.



______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke