Bismillah Ar Rahmaan Ar Rahiim
Allahumma Sholli A'laa Sayyidina Muhammad, Wa A'laa Aali Sayyidina 
Muhammadin Wa Sallim


Karikatur Cinta


PERGOLAKAN tingkat dunia yang diawali karikatur Jyllands-Posten 
mungkin akan berlangsung lebih lama,jauh dan mendalam dibandingkan 
dengan yang kita bayangkan, kita analisis dan perhitungkan. Ia bukan 
sekadar ''lagu pop'' tentang Islamofobia, ''iman'', demokrasi dan 
hegemoni tafsir atas term terorisme.

Mungkin juga lebih dari sekadar asumsi tentang rasa seteru dolar 
terhadap euro, desain global penguasaan atas bumi yang sedang tiba 
pada ''bantingan kartu'' tertentu di samping tahap-tahap scheduling 
kartu-kartu lain sejak glasnost dan perestroika yang 
''mendemokratiskan'' Uni Sovyet, kemudian Afghanistan, Irak, mendung 
berarak sekilas-sekilas di angkasa Suriah dan Iran, kemudian juga 
Indonesia: yang pilihan kartunya lain dari yang lain.

Lebih dari sekadar peristiwa politik, ideologi, dan kebudayaan: bisa 
jadi skala waktu yang melatarbelakangi karikatur itu adalah peradaban 
yang cukup panjang. Denmark bukan Britain yang punya pengalaman 
pergaulan dan apresiasi terhadap Islam berabad-abad lamanya. Denmark 
adalah salah satu bagian dari wajah gemerlap Skandinavia yang sangat 
percaya pada tingkat tinggi kedewasaan demokrasi yang telah 
dicapainya. Salah satu ''ayat'' utama demokrasi, yakni ebebasan 
ekspresi, yang secara khusus dimanifestasikan oleh kebebasan pers 
sehari-hari, dijunjung sedemikian rupa sehingga! tidak bisa 
dibayangkan bahwa agama, nabi, kitab suci, atau Tuhan akan dihormati 
melebihi kebebasan ekspresi.

Dan di puncak keindahan bebasnya ekspresi itu, jika seseorang harus 
menyusun kalimat, enggubah lagu, menggoreskan lukisan, atau 
menggambar karikatur --maka tema primernya, untuk situasi mutakhir 
dunia yang sangat direpotkan oleh terorisme, dan itu diidentikkan 
dengan Islam-- tak ada lain kecuali ungkapan kejengkelan, rasa sebel, 
mungkin sampai ke tingkat benci, kepada Islam. "For the sake of 
freedom of _expression," kata Jyllands-Posten, "the only thing 
expressed by the cartoons, however, was contempt for Muslims."




Ludah


Dalam sebuah peperangan, menantu Muhammad SAW, yakni Ali ibn Abi 
Thalib Kw --yang di samping seorang teolog, spiritualis, budayawan, 
ahli strategi sosial, pendekar
bela diri yang tak terkalahkan dalam olah pedang, juga seorang 
ilmuwan yang disepakati oleh semua ulama sebagai pemilik ''puncak 
kefasihan'' atau nahjul-balaghah-- berhasil mengalahkan lawannya. Ali 
berhasil memukul pedang lawannya hingga terlempar, kemudian 
menjatuhkannya dan menudingkan ujung pedang itu di leher lawannya. Ia 
tinggal menusukkannya, dan itu tidak melanggar HAM atau disebut 
pelaku kekerasan, sebagaimana ribuan tentara Belanda dulu mati di 
tanah air kita sama sekali bukan karena menjadi korban gerakan 
kekerasan bangsa Indonesia.

Namun tiba-tiba lawannya yang tergeletak itu meludahi wajah Ali Kw. 
Ali kaget, mengusap lelehan air ludah di wajahnya, terdiam sesaat, 
kemudian menarik pedangnya dan beranjak pergi meninggalkan lawan yang 
dengan satu gerakan kecil bisa dibunuhnya. Tatkala seseorang
bertanya kepadanya kenapa ia malah pergi dan bukan membunuh musuhnya 
padahal diludahi segala, Ali menjawab: "Karena aku diludahi, maka 
timbul amarah dan rasa benci di dalam hati saya kepadanya. Karena 
itu, saya meninggalkannya, karena betapa marahnya Tuhan kepada saya 
kalau saya membunuh lawan saya itu disebabkan oleh amarah dan kebencian."

Tidak perlu ada pameran tentang kearifan, kebesaran jiwa, atau 
kemurnian nilai dari peristiwa Ali itu, karena setiap manusia dalam 
sejarah masing-masing sudah dibekali Tuhan akal, kecerdasan, kepekaan 
rohani, dan pemetaan nilai-nilai. Tetapi mungkin perlu ada transfer 
fakta bahwa Ali adalah menantu seorang yang setiap kali dipaksa 
melakukan peperangan: ia selalu  menyusun strategi yang tujuan 
utamanya adalah meminimalkan korban di kedua pihak. Sehingga, pada 
seluruh peperangan yang pernah Muhammad SAW alami, keseluruhan korban 
di bawah 500 orang.





Jika Engkau Memaafkan


Ada seorang teman bernama Abdullah ibn Ubay, yang kerjanya tiap hari 
--benar-benar tiap hari: mengejek Muhammad SAW, menyindir-nyindir, 
melecehkan, dan menghinanya. Itu berlangsung sepanjang hidup Muhammad 
SAW. Atas keadaan ini, bikinlah sayembara: siapa pun yang bisa 
menemukan satu kata saja balasan ejekan atau hinaan dari Muhammad 
SAW, apalagi kemarahan dan tindakan kekerasan --boleh diambil dari 
bahan sejarah yang mana pun, dari buku hadis, sunah Rasul maupun 
sirah Rasul-- mari kita urunan untuk memberi hadiah kepada yang bisa 
menemukannya. Termasuk tak ada satu kata buruk pun dari mulut 
Muhammad SAW atas orang-orang kampung Thaif yang mengusirnya dan 
melemparinya dengan batu hingga berdarah.

Allah sendiri memberikan acuan moral yang jelas kepada setiap orang 
yang dianiaya. Ia secara yuridis berhak melakukan hal yang sama, tak 
boleh lebih, kemudian dikunci oleh-Nya dengan keindahan: "Jika engkau 
memaafkannya, itu lebih baik di hadapan-Ku."

Muhammad SAW adalah manusia jelata (ia menolak menjadi mulkan-nabiyya 
atau nabi yang raja, dan memilih menjadi 'abdan-nabiyya, yakni nabi 
yang rakyat jelata) yang amat sengsara selama hidupnya, juga 
disengsarakan sesudah matinya, bahkan sampai berabad-abad sesudah 
itu. Fitnah dan kesalahanpahaman publik adalah menu utamanya. Panjang 
rumahnya 4,80 m, lebarnya 4,62 m.
Allah tak mengizinkannya sekadar untuk punya satu anak lelaki, 
kecuali si Qosim (Sayyidina Qosim bin Muhammad Ra) yang diambil 
oleh-Nya kembali di masa kanak-kanaknya. Menantunya dibunuh orang. 
Kedua cucunya juga. Cucu pertamanya diracun oleh istrinya sendiri, 
ketahuan olehnya, ia memaafkannya, kemudian besok paginya diracun 
lagi dan meninggal. Cucu yang kedua bukan hanya dibunuh, tapi 
kepalanya diseret dengan kuda sejauh ratusan kilometer, sehingga 
kuburannya di dua tempat.

Muhammad SAW amat suka kambing bakar, khususnya kaki depan sebelah 
kiri. Dan kaki itulah yang dipanggang oleh Zaenab, seorang wanita 
Yahudi, dilumuri racun dan disuguhkan kepada beliau. Tubuh Muhammad 
SAW panas parah karena itu, dirawat di rumah Maimunah, tapi kemudian 
beliau meminta pindah opname di rumah Aisyah. Sebab Maimunah masih 
familinya sendiri, sehingga orang-orang yang bukan keluarganya tidak 
bebas membesuk beliau. Dengan pindah ke rumah Aisyah, maka semua 
golongan, parpol, ormas, lain agama dan aliran, punya peluang yang 
sama untuk menjenguk beliau.





Mencicipi Kesengsaraannya


Ini orang menjahit pakaiannya sendiri, menambal sepatunya sendiri, 
selama hidupnya tidak pernah makan kenyang tiga hari berturut-turut 
kecuali selalu ada hari-hari kelaparan. Istrinya tidak pernah bisa 
seminggu penuh menyuguhkan makanan secara sempurna kecuali selalu ada 
saat-saat panjang yang tak ada apa pun yang bisa disiapkan di meja 
makan rumah tangga mereka.

Jika di malam hari salat tahajud terlalu lama di masjid sehingga 
pulang terlambat, suami yang kalau
bersuara selalu lirih dan kalau berjalan selalu menundukkan muka ini 
merasa pekewuh untuk membangunkan istrinya, sehingga tidur beralaskan 
kayu di depan pintu rumahnya.

Tentu semua gambaran kemelaratan itu bukanlah melankoli kesengsaraan. 
Tapi fitnah yang menimpanya sepanjang sejarah mungkin takkan 
tertanggungkan oleh siapa pun lainnya. Salah satu puncak kesengsaraan 
Muhammad SAW terkandung di balik salah satu statemennya yang penuh 
kedalaman duka: "Al-Islamu mahjubun bil-Muslimin." Islam ditutupi 
oleh kaum muslimin. Entah sedikit, entah sejumlah, entah banyak, 
entah kebanyakan --perilaku kaum muslimin bukan hanya tidak 
merepresentasikan Islam, lebih dari itu bahkan menutupi Islam. 
Menutupi itu melenyapkan, meniadakan.

Beribu kali saya terlibat dalam forum massa, umum maupun kaum 
muslimin, dan yang terindah adalah tatkala forum itu diberi judul 
"Memetik Kesengsaraan Rasulullah".

Beberapa kawan menanyakan, apakah saya tidak tersinggung atau marah 
atas karikatur di Denmark itu. Dengan sangat hati-hati saya 
memberikan beberapa jawaban: dengan segala keburukan dan kehinaan, 
saya ini amat amat amat mencintai Rasulullah Muhammad SAW.
Ia manusia yang paling mencintai Allah dan paling dicintai Allah: 
bagaimana mungkin ada satu molekul dari hidup saya yang tak berisi 
cinta kepadanya. Kadar cinta saya kepada beliau membawa saya naik 
mabuk di atas mabuk, melayang lebih dari segala melayang, meringkuk 
lebih dari segala meringkuk, bahkan jauh melebihi kehidupan dan kematian saya.

Segala hinaan, ejekan, lecehan, dan cercaan, sampai tingkat sebrutal 
apa pun, tak akan mengurangi kadar cinta saya, 1 cc-pun. Cinta kepada 
Rasulullah memenuhi jiwa dan hidup saya, sehingga cinta saya kepada 
keluarga, khalayak, bangsa, negara, dan umat manusia: menjadi lebih 
indah, bercahaya, dan penuh kedamaian, di kandungan cinta kepada 
beliau. Sedahsyat-dahsyat penghinaan tak bisa menandingi kedahsyatan 
dan mutlaknya kematian, padahal cinta saya kepada beliau 
mengatasi/melebihi hidup dan mati. Dan kalau Rasulullah tidak pernah 
marah, bahkan bersikap lembut dan selalu memaafkan orang yang 
menghinanya: bagaimana mungkin orang yang mencintai Rasulullah berani 
melakukan yang bukan kelembutan dan permaafan?

Juga titipan Allah melalui Muhammad SAW yang bernama Islam sangat 
memberi saya kecerdasan, kecerahan, kekuatan, dan ketenteraman --yang 
tak akan bisa seserpihkan dikurangi kadarnya oleh segala jenis 
penghinaan. Islam sangat memberi perlindungan dan sandaran. Islam 
sendiri tidak memerlukan saya, saya yang membutuhkan Islam. Bahkan, 
kalau boleh berterus terang, segala macam cercaan itu tidak berakibat 
apa-apa selain menambah senyuman saya dalam Islam dan memupuk cinta 
saya kepada Muhammad SAW. Penghinaan itu bahkan membantu dan 
menambahi tingkat tinggi maqam surga beliau.

Adapun tentang teman-teman Denmark itu, apakah engkau tidak 
mempelajari sejarah mereka, alam pikiran mereka, pengalaman peradaban 
mereka: sehingga engkau kaget oleh jenis ekspresi mereka? Atas dasar 
kenyataan ke-Denmark-an yang mana dan dimensi apa pada realitas alam 
pandang mereka sehingga engkau mengharapkan sesuatu yang bukan 
seperti karikatur itu? Kenapa engkau mengharapkan ayam mengembik atau 
mengharuskan kambing berkokok?

Pun tentang kaum muslimin yang berang, marah, naik pitam, mengamuk: 
kenapa engkau heran atau mengharapkan mereka tak berbuat seperti itu? 
Apa engkau kira mereka adalah Ali bin Abi Thalib? Berdasarkan tradisi 
pendidikan Islam yang mana, kebudayaan keagamaan kaum muslimin yang 
mana, kedewasaan, kearifan, dan kematangan kemanusiaan yang mana 
--sehingga engkau memprihatinkan amuk mereka?

Saya tidak akan meludahi muka anda, sebab aku tidak yakin anda akan 
tidak marah juga seperti itu, bahkan dendammu mungkin akan tak pernah 
lenyap sepanjang hidupmu. Saya juga tak akan pernah membuat karikatur 
menggambar wajah anda seperti kera atau tokek, karena yang amat 
tersinggung pasti bukan hanya engkau, melainkan juga keluargamu, 
familimu, orang segolonganmu, masyarakatmu, mungkin juga bangsa dan 
negaramu. Kalau aku meludahi wajahmu karena demikianlah kebebasan 
ekspresiku, maka engkau pun menempeleng kepalaku sebab demikian 
jugalah kebebasan ekspresimu.

Kita gambar bersama-sama saja karikatur-karikatur cinta.

Emha Ainun Nadjib
Budayawan
[Kolom, Gatra Nomor 15 Beredar Senin, 20 Februari 2006]
(Buat Mas Emha, Semoga Allah semakin meninggikan maqam spiritual Mas, 
karena kecintaan kepada Rosulullah Saw dan ahlul baitnya)



[Non-text portions of this message have been removed]



______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke