Mawar Merah Café Bandar: "SASTRA PERJALANAN"
Di Perancis, pekerjaan menulis, dilatih sejak usia masih sangat dini. Sejak anak-anak masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Demikian juga membaca.Dalam satu minggu, anak-anak diwajibkan oleh sekolah untuk membaca dan mengikhtisarkan hasil bacaannya dalam bentuk tulisan. Apabila mereka bepergian entah pada musim panas atau musim dingin, setelah kembali, mereka pun diminta oleh sang guru, untuk menuliskan kegiatan mereka selama liburan. Dengan cara ini maka kemudian, anak-anak didik terbiasa mengungkapkan diri baik secara lisan ataupun secara tulisan. Mereka tidak ada kecanggungan apa pun dalam mengungkapkan pikiran serta perasaan mereka dalam bentuk tulisan. Bahkan sebuah majalah milik Jawatan Kereta Api [SNCF], "A Nous Paris" pernah menulis bahwa mayoritas orang Perancis ingin menjadi penulis. Dan penulis di negeri ini mendapat kedudukan yang dihormati. Barangkali dengan latarbelakang pendidikan beginilah maka setelah mengunjungi beberapa negeri selama satu dua bulan, ketika kembali mereka sudah bisa menulis buku tentang negeri tersebut, misalnya tentang Indonesia, hingga beratus-ratus halaman. Mereka senang mencatat dan menulis segala sesuatu yang mereka alami dan mereka lihat. Saban pulang malam, ketika melalui Gedung Senat yang megah di Jalan Vaugirard, saya senantiasa bertemu dengan para gelandangan yang di tidur di emper luas gedung didepan Gedung Senat itu. Sambil berbaring, saya melihat para gelandangan itu membaca buku dan seorang perempuan setengah baya berwajah ayu, yang saya sebut "Mbakyu" selalu nampak asyik menulis sesuatu di notes kecil. Tentu saja , saya tidak tahu apa yang sedang ia tulis. Saya hanya bisa mereka-reka bahwa "Mbakyu" sedang menulis Catatan Hariannya. Dengan rekaan begini, saya membayangkan bahwa bukan tidak mungkin jika pada suatu hari kelak, Catatan Harian Mbakyu ini diterbitkan sebagai sebuah buku. Membaca, mencatat dengan tekun dan menulis sudah merupakan bagian dari kehidupan sebagai buah dari pendidikan semenjak usia dini. Kebiasaan inilah yang kukira memberi peluang baik bagi tokobuku-tokobuku yang bertaburan di seluruh kota, termasuk tokobuku-tokobuku yang khusus menjual buku-buku loakan [second hand] serta langka.Di Montmatre, kampung seniman di mana saya tinggal, entah berapa banyak tokobuku dari berbagai ukuran dan selalu ramai pengunjung. Menyaksikan keadaan begini, saya teringat keadaan lain, ketika saya bekerja sebagai guru di sebuah universitas di Kalimantan. Perpustakaan universitas sepi pengunjung, buku-bukunya pun ketinggalan entah berapa puluh tahun dibandingkan dengan kemajuan ilmu yang terus berkembang. Mendorong para pendengar kuliah untuk membaca teks wajib pun bukanlah hal gampang. Tidak terkesan pada saya bahwa membaca merupakan suatu keperluan, apalagi menjadi kebiasaan yang mendarah mendaging. Sedangkan kebiasaan mencatat dan menulis masih sangat, sangat jauh dari tuntutan. Jika membaca, mencatat dan menulis belum dirasakan sebagai keperluan, apalagi menjadi kebiasaan, maka tidak aneh jika masalah dokumentasi dan arsip pun turut tidak diindahkan.Akibatnya jika kita pada suatu saat memerlukan dokumentasi untuk keperluan ini dan itu, akhirnya kita terpaksa pergi mencarinya di perpustakaan-perpustakaan di luar negeri yang dengan tekun mengumpulkan apa saja dari negeri kita. Untuk mengkaji masalah Dayak misalnya, mau tidak mau kita harus pergi ke Belanda di mana terhimpun banyak bahan, lebih banyak daripada yang tersedia di perpustakaan dan museum di Tanah Dayak sendiri. Mengapa keadaan begini masih terjadi sampai sekarang? Apakah ada hubungannya dengan tradisi lisan, dengan kesadaran sejarah atau waktu, dengan pemanjaan alam yang mehyebabkan kita suka berleha-leha, main gampang-gampangan tidak memikirkan hal lebih jauh sehingga tidak menghiraukan ketepatan perhitungan relatif. Pertanyaan ini oleh kesukaan kita bergunjing, mencari kambing hitam, "dalang di balik layar"dan mengabaikan bukti atau data, apalagi argumen berdata seperti tercermin pada ungkapan yang sering kita dengar: "pokoknya", "tepa seliro", "senuwun dawuh", "duli tuanku', dan lain-lain ungkapan senafas.. Adakah hubungannya keadaan begini dengan kolonialisme, dengan feodalisme, militerisme dan paternalisme yang hanya menginginkan mayoritas yang didominasi hanya berkata "ya" serta jika berani berkata "tidak" atau "mengkritik" dipandang sebagai ulah tidak senonoh? Suatu sikap mental dan pola pikir yang saya kira tidak tanggap zaman serta merugikan serta mencerminkan diri dalam berbagai bidang sampai kepada sikap sehari-hari. Ketika memperhatikan beberapa milis seperti misalnya hksis, wahana-news, dalam soal catat-mencatat ini saya tertarik pada usaha yang dilakukan oleh Dr. Han Hwie Song. Saban kali melakukan lawatan ke mana saja, beliau selalu dengan rajin menulis catatan laporan yang teliti. Misalnya waktu berkunjung ke Republik Rakyat Tiongkok, ke Amerika Serikat, ia selalu memberikan kita catatan perjalanannya. Yang sekarang sedang disiarkannya adalah tulisan berseri "Perlawatan Saya Ke Jawa Januari-Februari 2006". Dalam tulisan-tulisannya, Dr. Han bukan saja menuturkan keadaan sekarang tapi juga mencoba semaksimal mungkin menoleh ke belakang yang jauh untuk melukiskan perkembangan yang terjadi hari ini atau paling tidak menjadikan masa lampau sebagai bandingan. Dalam hal ini Dr. Han berbeda dengan tidak sedikit tulisan-tulisan orang Barat yang menulis tentang Indonesia, setelah berkunjung beberapa bulan. Yang terakhir ini tidak jarang saya dapatkan lebih melukiskan hal-hal kekinian yang dilihat mata dan hal-hal sepotong yang didengarnya dari sana-sini tanpa dasar pengetahuan sejarah dan pengenalan situasi yang padan. Celakanya, bahan-bahan menyesatkan dan dangkal begini kemudian tidak jarang pula dijadikan acuan oleh sementara penulis yang berpretensi ilmiah.Dengan ini yang mau saya katakan bahwa selayaknya jika kita ingin menulis tentang suatu negeri yang akan kita kunjungi, sebelum dan sesudahnya ada semacam keniscayaan agar kita memperoleh semaksimal bahan tentang negeri itu dari berbagai segi sehingga ketika tiba di negeri tersebut, mata dan telinga kita menjadi lebih awas. Tanpa berbuat demikian, bukan tidak mungkin kita terperosok kedalam laporan yang menyesatkan pembaca atau hanya mampu menuliskan laporan-laporan dangkal. Kalau pun bahan-bahan acuan ini sangat sulit diperoleh maka saat sampai di tempat tujuan, kita memang diharapkan untuk semaksimal mungkin melakukan pengumpulan data dari berbagai sudut dan kalangan untuk meminimkan kesalahan tafsir. Laporan-laporan Dr. Han yang saya ikuti dari awal sampai sekarang, agaknya, entah sadar atau tidak, sudah memperhatikan masalah-masalah tersebut di atas. Untuk ilmu-ilmu sosial, khususnya sejarah, laporan-laporan begini akan sangat berguna. Untuk menghargainya, di Perancis, laporan-laporan perjalanan dikategorikan sebagai genre sastra tersendiri, apalagi secara jumlah, karya-karya begini, sejak masa para penjelajah dunia [voyageurs] asal Perancis, terutama dari kalangan agama Kristen, berlanjut pada Flaubert sampai angkatan sekarang, tak henti-hentinya ditulis. Seberapa jauh genre sastra ini, sastra perjalanan, berkembang di Republik Indonesia?**** Paris, Maret 2006. ----------------- JJ. Kusni LAMPIRAN: From: Han Hwie Song To: K. Prawira ; Tionghoa-net ; Nasional-list ; Jonathan Goeij ; C.T. Chan Sent: Saturday, March 04, 2006 7:09 PM Subject: [nasional-list] Re:Han Hwie-SongPerlawatan saya ke Jawa Jan-Febr. 2006 (bagian sepuluh) Perlawatan saya ke Jawa Jan-Febr. 2006 (bagian sepuluh) Pemerintah VOC membantah bahwa kejadian ini dilakukan atas perintah pemerintah, tetapi kenyataannya menunjukkan bahwa Gubernur Jendral Valckenier dengan persetujuan dari anggota-anggota pemerintah lainnya memandang perlu untuk memberi premi buat setiap kepala yang sudah dipanggal dan dilever pada kastil Belanda. Baru hari ketiga premi untuk setiap kepala dari orang Tionghoa yang dipotong di hapuskan, dan rakyat diminta hidup secara normal lagi. Pemerintah VOC mengirim surat kepada kaiser Qing, karena takut bahwa resesi ekonomi akibat ini akan berkepanjangan, tetapi oleh kaisar Qing tidak dibalas. Orang-orang Tionghoa lalu berdagang dengan Inggris di Malakka. Kejadian ini membuat malapetaka bagi VOC dan lama kelamaan karena bangkrut maka kekuasaan diberikan pada pemerintah Belanda pada tahun 1800. Sejak itu bagi Chinese burgerij, penduduk Tionghoa tidak boleh tinggal semaunya, mereka diberikan tempat didaerah selatan dari Batavia dan daerah ini dinamakan "De Chinese kamp", yang sekarang daerah ini dinamakan Glodok, suatu daerah terpenting dari de Chinese Kamp atau dalam bahasa Indonesia Petjinan! Mereka kalau mau keluar dari daerahnya harus minta surat ijin. Ini sangat menyusahkan bagi mereka yang mempunyai perusahan di luar Petjinan. Kejadian ini membawa buntut tidak saja dalam bidang ekonomi tetapi juga politik. Salah menyalahkan antara Direktur Jendral van Imhof disatu fihak dan bawahannya, Gubernur Jendral Valckenier dilain fihak. Van Imhof pulang dulu ke Belanda dan dengan tidak jujur, semua kesalahan di letakkan pada Valckenier. Valcknier, yang dituduh dan tidak semua benar, sewaktu dia akan kembali ke Nederland oleh Gubenur Jendral Kaapstad (Afrika Selatan) ditahan dan dikembalikan ke Batavia atas perintah Heeren XVII (VOC). Kemudian van Imhof kembali ke Batavia dan menjadi Gubernur Jendral, tetapi proses untuk menghukum Valckenier selalu di tunda, karena dia juga takut ketahuan peranan dia dalam Chinese moord terbuka umum. Valckenier meninggal dunia dalam tahanan yang tidak lama di jalani. Perdagangan antara Tiongkok dan Batavia tidak kembali lagi dalam periode kompanyi, meskipun pelahan-lahan perdagangan antara Tiongkok dan Batavia ada kemajuan tetapi tidak sampai level seperti sebelum tahun 1740. Perdagangan dengan koloni Inggris di Pinang mulai meningkat (Drs. J.R. van Diessen). Karena "bangkrut "VOC" Verenigde Oost-Indische Compagnie yang sebetulnya gabungan perusahan-perusahan dari provinsi Holland dan Zeeland, yang dipimpin oleh pusat di Belanda dengan nama Heeren XVII, membubarkan diri chusus dalam memerintah di Batavia (namanya dulu ialah "Bataafse Republiek") pada tahun 1798. Pada tahun 1800 kekuasaan dipegang oleh pemerintah Belanda dengan nama "Nederlands-Indië" atau Hindia Belanda. Baru pada tahun-tahun kemudian perdagangan dengan Tiongkok dan pedagang Tionghoa dengan jaringannya di Asia Tenggara membaik. Kesimpulan: Mempelajari sejarah penting untuk mengetahui perkembangan masyarakat tertentu. Pembicaraan begini mempunyai arti penting, karena memperluas pengertian nasional bagi interaksi dan hubungan baik antar segala etnis agar kita dapat mengintegrasikan diri dalam masyarakat yang multikulturil. Saya ulangi lagi bahwa untuk ini penting adanya musieum. Adanya satu musieum saya pandang penting karena berbagai faktor, dan salah satu faktor yang penting bagaimana kita dapat mencernahkan yang selalu diperbincangkan "masalah Tionghoa." Sayang sampai sekarang belum ada pikiran-pikiran yang serius menujuk ke situ, padahal sedikit sekali orang yang mengetahui kontribusi etnis Tionghoa dalam bidang ekonomi, politik, budaya, bahasa dan perjuangan kemerdekaan rakyat Indonesia. Bagi generasi muda penting mengetahui sejarah nenek moyangnya, tidak saja akan memberi kepercayaan pada mereka, seperti yang saya katakan diatas, tetapi agar kontribusi etnis Tionghoa bisa mendapatkan pengakuan yang luas; dan dengan ini saya artikan ialah tidak lain kehidupan masa depan yang damai dan persaudaraan antar berbagai etnis dan chususnya etnis Tionghoa dengan mayoritas. Pada satu hari saya berharap agar orang Tionghoa bisa dikatakan:"anda bangsa Indonesia, tanpa atribut tambahan lagi." [ [Han Hwie Song, "Perlawatan saya ke Jawa Jan-Febr. 2006 (bagian sepuluh)" in:nasionalist-list, Saturday, March 04, 2006 7:09 PM. [Non-text portions of this message have been removed] ______________________________________________________________________ http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
