Salam,

saya senang membaca diskusi ini, tapi kenapa ya kok terasa sulit sekali untuk
berkomentar. Yach, intinya ya begitulah, semua itu liku-likune dunia. Semua
itu liku-likune NU. Sejak dulu, saya bayang-bayangkan, NU memang begitu.
Banyak person yang potensial merasa tidak hutang jasa sama NU, alias NU tak
pernah memberikan sesuatu kepada mereka. Lha saya pikir, jauh sebelum NU,
sudah banyak kiai yang "jadi" tanpa harus ada NU. Mbah Hasyim Asy'ari menjadi
seperti itu sebelum ada NU. Mestinya, setelah ada NU ya kita lebih dari sekedar
jadi Mbah Hasyim Asy'ari :-))

Ya, benar sekali NU masih lemah dalam networking. Sepertinya terlalu sulit
untuk menampung potensi-potensi kawula muda yang menyebar dalam berbagai
bidang. Tapi, apa sih sebenarnya kriteria "berperan dalam membesarkan NU"? Apa
kudu masuk dlm kepengurusan? Ini jelas tidak. Mbuh ding, aku lagi bingung,
soale saya kemarin diobrak-obrak Gus Ghofur agar-supaya-mbok yao aktif di NU.

Gus yang satu ini mungkin belum sadar, kalau dikampung kita-kita ini dari
berbagai sisi kalah keramat sama para kiai. Gus yang satu ini juga belum
mungkin belum sadar bahwa konsisten ngurusi madrasah-pesantren dan tempat-
tempat yang mangfaat lainnya kuwi yo bagian dari cita-cita NU. Satu cita-cita
saja yang kita urusi, jangan terlalu banyak. Kalau kita sibuk, nanti malah
tidak ada waktu untuk mikir wayoh...

Itu saja.

Luthfi

ps : Mbah Ntis, tanggal 1 Syuro ditunggu di Padusan Boyolali, ngalap berkah
sambil lihat oknum-oknum pada mandi dan tentu mereka pakai pakean minim...







______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke:
[EMAIL PROTECTED]




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke