Kita perlu re-definisi ulama. Apa makna ulama yang terkandung dalam hadits Nabi: "Al-Ulama' waratsatu al-Anbiya". sebab, belakangan ini kita sulit membedakan antara ulama yang betul2 ulama, ulama karbitan, ulama bikinan media, dan ulama-ulama-an. Pada akhirnya masyarakat bingung, mereka harus mengikut ke mana? Ini menurut saya penting. Ini juga bukan masalah siapa yang memiliki otoritas dalam berbicara soal agama. Upaya seperti ini dimaksudkan untuk menghindari orang yang berbicara agama tetapi tidak memiliki pengetahuan agama sama sekali. Celakanya, orang seperti ini lagi ngetrend di Indonesia.
Muhammad Muammar <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Hartono A. Jaiz adalah penulis buku "Faham dan aliran sesat di Indonesia", disana dia mengkafirkan lusinan orang diantaranya Gusdur, Caknun, dan golongan Liberal,. bukunya yang terbaru berjudul "Alqur'an dihina Gusdur". juga sebelumnya menulis artikel hujatan habis-habisan kepada gusdur pada situs www.swaramuslim.com. orang ini saya rasa sangat aneh yang tidak bermutu, dia merasa paling paham tentang agama, padahal sebenarnya pengetahuan agamanya sangat minim sekali, dan virus seperti ini dikhawatirkan juga menjangkit AFS juga. Maaf... menurut saya sekarang ini masyarakat dunia islam sedang haus akan jawaban : bagaimana sih islam yang sesungguhnya?..., bukan bagaimana Ahli Sunnah Waljama'ah itu?... sehingga mungkin bila ada orang yang cuma bisa pidato komunikatif, langsung laris seperti Aa Gym atau Zainuddin MZ itu, padahal tidak ada apa-apanya itu. Maka selayaknya mulai sekarang dan akan datang generasi kita jangan terpaku pada faktor individu seseorang saja tapi harus dilihat obyektif keilmuannya, kredibilitas wawasannya dan integrity aplikasi ilmunya, sehingga tidak akan terjadi Gus pesantren yang sebenarnya tidak bisa mengaji memimpin pesantren warisan Abahnya, ini sangat membahayakan. tapi hal ini Insya Allah belum ada sejarahnya... semua Gus-gus semuanya pinter baca kitab kuning semua... bahkan ada teman saya seorang Gus hafal Alfiyah Ibnu Malik, Uqudul Juman dan Qowaidul Fiqhiyyah dari belakang ke depan. Ada juga golongan yang kelihatan jurus Da'wahnya seolah-olah sangat lurus, ee orangnya bodoh setengah mati... seperti contoh ada seorang Muballigh di TV yang tidak bisa membedakan antara Kafir dan Kuffar, kalau ama kafir tidak boleh Azidda' (keras) tapi kalau Kuffar harus Azidda'... Sebuah layangan yang lumayan harus diperhatian dari AFS ini, dan kita punya prinsip Kritik membangun itu adalah sebuah keharusan, karena kritik itu lazim. Kita harus belajar tidak menjadi seorang fanatis yang menjadikan kita seorang fatalis, bukankah Siti 'Aisyah saat disuruh minta maaf kepada Nabi oleh Abu Bakar, beliau memilih diam? setelah turunnya ayat Baro'ah atas dirinya... karena saat itu sukma Siti 'Aisyah dipenuhi nur ma'rifat. Kita tidak usah mengganti istilah bahasa dari budaya kita, karena kita bukan orang Arab, biarkan kata Kiayi tetap Kiayi... sebab kiayi bukan Ulama... kalau betulan bisa dites dengan : INNAMAA YAKHSYALLAHA MIN 'IBADIHIL 'ULAMAA" Keunikan di Indonesia seorang informal leader, seorang informal leader itu Kiayi, di Mesir tidak ada pemimpin yang informal leader itu, artinya Syekh Alazhar pun ada gajinya, tapi kiayi di Indonesia tidak ada yang digaji dan siapa yang mau menggajinya?, tapi walaupun demikian kekayaannya banyak yang melebihi orang yang bergaji, ada juga sih kiayi yang miskin, tapi kalau kiayi TAPAL KUDA itu semua kaya itu he-he.. sedemian kayanya tapi masih tetap dikasih Zakat (termasuk Golongan fi sabilillah), di kasih sedekah, diberi hewan Qurban dan lain-lain. mengapa? karena kiayilah yang mengurus manusia yang mengakuinya sejak lahir, mengadzani kiayi, doa sunatan kiayi, buat rumah yang doa kiayi, kawinan ngundang kiayi sampai mati yang mentalqin dan mentahlili kiayi, makanya kalau orang Muhammadiyah kurang kerjaan, karena yang diurusi cuma Sekolah (kampus) dan rumah sakit saja, tapi kalau sudah terjun dimasyarakat Nahdhiyyin sibuknya bukan main. Apakah perlu kiayi komunikatif? Apakah perlu kiayi santun? Apakah perlu kiayi ramah? Apakah perlu kiayi terbuka? Apakah perlu kiayi Demokratis? Apakah perlu kiayi moderat? Apakah perlu kiayi akomodatif? Saya jawab sangat-sangat perlu.... --- Ahmad Fawaid Sjadzili wrote: *Masih ingatkah Anda dengan Hartono Ahmad Jaiz? Tokoh yang rajin menghujat itu pun menghujat kiai-kiai NU. Ini salah satu bagian dari bukunya yang lawas tapi masih merelevan untuk ditanggapi: **Bila Kiyai Menjadi Tuhan: **Membedah Faham Keagamaan NU & Islam Tradisional*. * * * * *Kiyai Itu Apa?* ------------------------------ Julukan Kiyai untuk Ulama Perlu Dihapus Julukan atau sebutan Kiyai atau Kiai atau Kiyahi ( ßíÇåí) ) sering menjadi pertanyaan orang. Apa sebenarnya makna Kiyai itu. Dari mana asal muasal nama Kiyai itu. Dan apa sebenarnya ciri-ciri serta hal-hal yang harus dilakukan oleh para Kiyai. Pertanyaan itu lebih mencuat lagi ketika orang-orang yang disebut Kiyai atau para Kiyai ada yang dinilai berbuat yang di luar jalur kebiasaan, misalnya ada yang patut diduga sebagai provokator, ada yang jadi pengipas-ngipas suasana dengan memanasi anak buah untuk melawan terhadap lawan-lawan politik, ada yang memanas-manasi untuk mendukung Presiden Gus Dur / Abdurrahman Wahid karena presidennya dari golongan sang Kiyai itu, yaitu Nahdlatul Ulama dengan partainya PKB (Partai Kebangkitan Bangsa). Tidak jarang pula ada Kiyai yang suka kumpul-kumpul sesamanya, hingga disebut Kiyai khos (khusus) yang kaitannya erat dengan soal dukung mendukung terhadap kursi presiden yang sedang diduduki oleh golongannya. Tetapi di balik itu ada Kiyai *dogdeng* (kebal) yang suka sesumbar bahwa wadyabalanya rata-rata *jadug* (sakti, tidak mempan senjata tajam). Ada juga Kiyai yang dari zaman Orde Baru pimpinan Presiden Soehartosukanya mendekat-dekat dengan penguasa, bahkan pernah bersama-sama puluhan Kiyai dipimpin Nur Iskandar SQ menghadiahi emas beberapa kilogram kepada Presiden Soeharto dengan dalih untuk mengatasi krisis ekonomi/ moneter. Setelah para Kiyai itu *sowan* (hadir dengan penuh ketundukan) ke tempat Presiden Soeharto, justru tak lama kemudian sang Presiden dipaksa turun dengan didemonstrasi oleh puluhan ribu mahasiswa selama dua minggu, hingga ia menyatakan turun dari kursi kepresidenan 1998. Ada juga Kiyai yang mempelopori untuk disahkannya asas tunggal pancasila hingga kumpulan para Kiyai itu berbangga diri bahwa pihak mereka dengan Jam'iyah NU-nya adalah orang-orang yang nomor satu dalam hal menggulkan (mensukseskan untuk dipaksakannya) asas tunggal pancasila terhadap Ummat Islam. Padahal, Ummat Islam pada umumnya sangat kesulitan menghadapi tekanan Soeharto yang semakin terasa berpihak kepada palangis atau kaum Salib yang makin menjadi tirani minoritas dengan pengaruh Jendral Leonardo Benny Murdani saat itu dan menekan Islam selama hampir 30-an tahun. Sedang asas tunggal pancasila itu dinilai oleh kalangan Islam non NU dan Golkar sebagai salah satu jenis tekanan Soeharto terhadap Islam. Kiyai-Kiyai NU yang menggulkan asas tunggal pancasila itu di antaranya dipimpin Kiyai Haji Ahmad Siddiq (mendiang yang dulunya suka musik rock barat, satu kebiasaan yang jauh dari adab orang alim Islam, yang kitab-kitabnya menyebut *sankres*alias musik itu haram). Kemudian "jasanya" itu dibawa mati. Dan mereka yang masih hidup, mereka tidak merasa malu apalagi minta maaf kepada umat ketika Umat Islam bersyukur dan merasa lega saat asas tunggal pancasila itu ditendang oleh MPR dalam sidangnya 1998, setelah pemerintahan Soeharto jatuh, dan pemerintahan diserahkan kepada wakilnya, Prof Ir Baharuddin Jusuf Habibie. Sikap para Kiyai itu kalau diperbandingkan, masih agak mending Amien Rais (Ketua MPR) yang walaupun tanpa menyandang gelar Kiyai namun secara jantan dia meminta maaf kepada bangsa Indonesia atas "ijtihad politiknya" (menurut istilah dia) yang salah ketika dulunya memprakarsai untuk memilih Gus Dur/ Abdurrahman Wahid sebagai calon presiden yang ternyata setelah dijalani, kepemimpinan Gus Dur menurut Amien Rais menyebabkan Amien minta maaf kepada bangsa atas salah pilihnya itu. Hingga Amien Rais pun tampak bertanggung jawab terhadap bangsa Indonesia untuk berupaya bagaimana agar Gus Dur turun dari jabatan presiden. Sekalipun sikap Amien Rais itu jelas sikap politik, namun di situ tampak terus terang mengaku bahkan minta maaf atas kesalahannya, dan pula mau berusaha untuk menambal kesalahannya. (Dalam hal ini para pembaca tidak usah buru-buru menyangka bahwa penulis pro Amien Rais, hingga membela-bela dia. Tidak. Karena, buku yang mengkritik Amien Rais berjudul *Kekeliruan Logika Amien Rais *pun telah penulis ujudkan dan cetak serta edarkan sebelum kami tulis buku *Bahaya Pemikiran Gus Dur*. Jadi tidak ada itu membela-bela Amien Rais segala. Kepentingan menampilkan sikap Amien Rais itu hanya untuk perbandingan antara sikap para Kiyai NU pendukung asas tunggal pancasila yang sampai dikenal sebagai nomor wahid, yang kemudian tidak mau mengakui kesalahan apalagi minta maaf, dan sikap Amien Rais yang terang-terangan secara jantan mengakui kesalahan dan minta maaf kepada bangsa Indonesia dalam kasus keterlanjurannya menjagokan Gus Dur sebagai presiden. Padahal resikonya jauh lebih berat bagi Amien Rais, sampai-sampai dihalalkan darahnya oleh Nur Iskandar SQ dan sering diboikot di Jawa Timur. Sementara itu, seandainya para Kiyai NU meminta maaf atas kengototannya menjadi pendukung pertama dipaksakannya asas tunggal pancasila, sebenarnya tidak ada resiko apa-apa, toh orang yang dijilati yaitu Presiden Soeharto sudah tidak berkuasa lagi. Itu saja persoalannya. Tapi Pak Amien Rais tidak usah bangga dengan perbandingan ini). * Pengertian Kiyai* * *Dalam buku *Kiai Penghulu Jawa, Peranannya di Masa Kolonial,* Drs H Ibnu Qoyim Isma'il MS menjelaskan sebagai berikut: Di tengah perkembangan masyarakat Indonesia pada umumnya dijumpai beberapa gelar sebutan yang diperuntukkan bagi ulama. Misalnya, di daerah Jawa Barat (Sunda) orang menyebutnya *Ajengan*, di wilayah Sumatera Barat disebut *Buya*, di daerah Aceh dikenal dengan panggilan *Teungku*, di Sulawesi Selatan dipanggil dengan nama *Tofanrita, *di daerah Madura disebut dengan *Nun *atau *Bendara* yang disingkat *Ra, *dan di Lombok atau seputar daerah wilayah Nusa Tenggara orang memanggilnya dengan* Tuan Guru.* * *Khusus bagi masyarakat Jawa, gelar yang diperuntukkan bagi ulama anatara lain *Wali. *Gelar ini biasanya diberikan kepada ulama yang sudah mencapai tingkat yang tinggi, memiliki kemampuan pribadi yang luar biasa.[1]<#_ftn1> Sering pula para wali ini dipanggil dengan *Sunan*[2] <#_ftn2> (Susuhunan), seperti halnya para raja. Gelar lainnya ialah *Panembahan, *yang diberikan kepada ulama yang lebih ditekankan pada aspek spiritual, juga menyangkut segi kesenioran, baik usia maupun *nasab* (keturunan). Hal ini untuk menunjukkan bahwa sang ulama tersebut mempunyai kekuatan __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com ______________________________________________________________________ http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links --------------------------------- Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs.Try it free. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Check out the new improvements in Yahoo! Groups email. http://us.click.yahoo.com/6pRQfA/fOaOAA/yQLSAA/.DlolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ______________________________________________________________________ http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
