Dear All

  Saya sangat heran dengan member milist ini yang notebenenya keluarga NU
semua,
  ketika diajak diskusi untuk pemberdayaan NU atau merencanakan kegiatan
bagaimana membesarkan NU,
  bagaimana "do something for NU" dengan jalan yang mungkin agak
konvensional dan tidak melalui jalur struktural
  Sepertinya pada agak susah bagaimana begitu untuk mengeluarkan ide-idenya
untuk memberikan sesuatu.

  Tetapi begitu ada diskusi untuk menggosipkan tulisan sihartono walaupun
itu tulisan sudah usang, uzur dan sama sekali kagak ada ilmiahnya langsung
dech pada berkerubut memberi komentar dan berwacana.

  Apakah memang begini watak asli orang NU, yang cenderung reaktif...????
  Apakah nggak bisa bertindak aktif dan nggak cuman berwacana saja
...........
  Apakah nggak ada bahan diskusi lain selain ngomongin tulisannya si "Jaiz"
ini yang
  besar karena menjelek-jelekkan orang lain......
  Jaiz ini mah kagak usah diurusin juga tenggelam sendiri, anggap saja nggak
waras nich orang :)

  Best regards


  Nur Rochman
   -----Original Message-----
  From: lakpesdam [mailto:[EMAIL PROTECTED]
  Sent: Saturday, July 01, 2006 4:42 AM
  To: [email protected]
  Subject: Re: [kmnu2000] Kiai Pun Dihina Hartono Ahmad Jaiz


  Kalau hal ini dibiarkan, maka kondisi semakin runyam. Maka perlu diadakan
  gerakan total untuk mendudukkan masalah pada proporsinya. Istilah-istilah
  yang tidak jelas, seperti halnya Kiyai, perlu dibersihkan, dan kalau perlu
  dienyahkan dari terminologi Islam, supaya Islam tidak dikotori dengan
  pemahaman-pemahaman yang tidak jelas. Tetapi, maukah mereka? Dan maukah
  masyarakatnya? Justru hal-hal yang tidak jelas itulah yang mereka cari,
  kadang-kadang. Itulah persoalannya pula

  Kutipan di atas saya ambil dari Hartono Ahmad Jaiz. Jelas sekali kalau
kita
  baca paragraf demi paragraf, dia sedang mengejek Kyai NU sama dengan
dukun,
  kerbau, keris, dsb. Sebagai orang NU, saya harus militan melawan dia yang
  mengejek para kyai. Orang seperti dia halal darahnya, karena sudah
  memprovokasi dengan kebencian sehingga semua bukunya berjudul "Bahaya".
Ada
  bahaya pemikiran Gus Dur, ada bahaya pemikiran Amien Rais, ada Bahaya
  pemikiran Cak Nur", Kesannya hanya dia yang tidak berbahaya. Kalau ada
1000
  orang seperti di di Indonesia, sudah hancur bangsa ini.Sayangnya, masih
  banyak orang NU yang tidak tahu kelakuan Hartono yang suka mengejek para
  kyai NU. Padahal, dia ini sedang "jualan", bisnis melalaui bukunya. Ya
  itulah pedagang yang buas dengan menjelek-jelekna, mengkafirkan, dan
  menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang.

  Khamami Zada
  Lakpesdam NU

  ----- Original Message -----
  From: "Ahmad Fawaid Sjadzili" <[EMAIL PROTECTED]>
  To: <[email protected]>
  Sent: Friday, June 30, 2006 3:11 PM
  Subject: [kmnu2000] Kiai Pun Dihina Hartono Ahmad Jaiz

  *Masih ingatkah Anda dengan Hartono Ahmad Jaiz? Tokoh yang rajin menghujat
  itu pun menghujat kiai-kiai NU. Ini salah satu bagian dari bukunya yang
  lawas tapi masih merelevan untuk ditanggapi: **Bila Kiyai Menjadi
  Tuhan: **Membedah
  Faham Keagamaan NU & Islam Tradisional*.
  *
  *

  *
  *

  *Kiyai Itu Apa?*
  ------------------------------

  Julukan Kiyai untuk Ulama Perlu Dihapus

  Julukan atau sebutan Kiyai atau Kiai atau Kiyahi ( ßíÇåí) ) sering
  menjadi pertanyaan orang. Apa sebenarnya makna Kiyai itu. Dari mana asal
  muasal nama Kiyai itu. Dan apa sebenarnya ciri-ciri serta hal-hal yang
harus
  dilakukan oleh para Kiyai.

  Pertanyaan itu lebih mencuat lagi ketika orang-orang yang disebut Kiyai
  atau para Kiyai ada yang dinilai berbuat yang di luar jalur kebiasaan,
  misalnya ada yang patut diduga sebagai provokator, ada yang jadi
  pengipas-ngipas suasana dengan memanasi anak buah untuk melawan terhadap
  lawan-lawan politik, ada yang memanas-manasi untuk mendukung Presiden Gus
  Dur / Abdurrahman Wahid karena presidennya dari golongan sang Kiyai itu,
  yaitu Nahdlatul Ulama dengan partainya PKB (Partai Kebangkitan Bangsa).
  Tidak jarang pula ada Kiyai yang suka kumpul-kumpul sesamanya, hingga
  disebut Kiyai khos (khusus) yang kaitannya erat dengan soal dukung
mendukung
  terhadap kursi presiden yang sedang diduduki oleh golongannya.

  Tetapi di balik itu ada Kiyai *dogdeng* (kebal) yang suka sesumbar bahwa
  wadyabalanya rata-rata *jadug* (sakti, tidak mempan senjata tajam). Ada
juga
  Kiyai yang dari zaman Orde Baru pimpinan Presiden Soehartosukanya
  mendekat-dekat dengan penguasa, bahkan pernah bersama-sama puluhan Kiyai
  dipimpin Nur Iskandar SQ menghadiahi emas beberapa kilogram kepada
Presiden
  Soeharto dengan dalih untuk mengatasi krisis ekonomi/ moneter. Setelah
para
  Kiyai itu *sowan* (hadir dengan penuh ketundukan) ke tempat Presiden
  Soeharto, justru tak lama kemudian sang Presiden dipaksa turun dengan
  didemonstrasi oleh puluhan ribu mahasiswa selama dua minggu, hingga ia
  menyatakan turun dari kursi kepresidenan 1998.

  Ada juga Kiyai yang mempelopori untuk disahkannya asas tunggal pancasila
  hingga kumpulan para Kiyai itu berbangga diri bahwa pihak mereka dengan
  Jam'iyah NU-nya adalah orang-orang yang nomor satu dalam hal menggulkan
  (mensukseskan untuk dipaksakannya) asas tunggal pancasila terhadap Ummat
  Islam. Padahal, Ummat Islam pada umumnya sangat kesulitan menghadapi
tekanan
  Soeharto yang semakin terasa berpihak kepada palangis atau kaum Salib yang
  makin menjadi tirani minoritas dengan pengaruh Jendral Leonardo Benny
  Murdani saat itu dan menekan Islam selama hampir 30-an tahun. Sedang asas
  tunggal pancasila itu dinilai oleh kalangan Islam non NU dan Golkar
sebagai
  salah satu jenis tekanan Soeharto terhadap Islam. Kiyai-Kiyai NU yang
  menggulkan asas tunggal pancasila itu di antaranya dipimpin Kiyai Haji
Ahmad
  Siddiq (mendiang yang dulunya suka musik rock barat, satu kebiasaan yang
  jauh dari adab orang alim Islam, yang kitab-kitabnya menyebut
  *sankres*alias musik itu haram). Kemudian "jasanya" itu dibawa mati.
  Dan mereka yang
  masih hidup, mereka tidak merasa malu apalagi minta maaf kepada umat
ketika
  Umat Islam bersyukur dan merasa lega saat asas tunggal pancasila itu
  ditendang oleh MPR dalam sidangnya 1998, setelah pemerintahan Soeharto
  jatuh, dan pemerintahan diserahkan kepada wakilnya, Prof Ir Baharuddin
Jusuf
  Habibie. Sikap para Kiyai itu kalau diperbandingkan, masih agak mending
  Amien Rais (Ketua MPR) yang walaupun tanpa menyandang gelar Kiyai namun
  secara jantan dia meminta maaf kepada bangsa Indonesia atas "ijtihad
  politiknya" (menurut istilah dia) yang salah ketika dulunya memprakarsai
  untuk memilih Gus Dur/ Abdurrahman Wahid sebagai calon presiden yang
  ternyata setelah dijalani, kepemimpinan Gus Dur menurut Amien Rais
  menyebabkan Amien minta maaf kepada bangsa atas salah pilihnya itu. Hingga
  Amien Rais pun tampak bertanggung jawab terhadap bangsa Indonesia untuk
  berupaya bagaimana agar Gus Dur turun dari jabatan presiden. Sekalipun
sikap
  Amien Rais itu jelas sikap politik, namun di situ tampak terus terang
  mengaku bahkan minta maaf atas kesalahannya, dan pula mau berusaha untuk
  menambal kesalahannya.

  (Dalam hal ini para pembaca tidak usah buru-buru menyangka bahwa penulis
pro
  Amien Rais, hingga membela-bela dia. Tidak. Karena, buku yang mengkritik
  Amien Rais berjudul *Kekeliruan Logika Amien Rais *pun telah penulis
ujudkan
  dan cetak serta edarkan sebelum kami tulis buku *Bahaya Pemikiran Gus
Dur*.
  Jadi tidak ada itu membela-bela Amien Rais segala. Kepentingan menampilkan
  sikap Amien Rais itu hanya untuk perbandingan antara sikap para Kiyai NU
  pendukung asas tunggal pancasila yang sampai dikenal sebagai nomor wahid,
  yang kemudian tidak mau mengakui kesalahan apalagi minta maaf, dan sikap
  Amien Rais yang terang-terangan secara jantan mengakui kesalahan dan minta
  maaf kepada bangsa Indonesia dalam kasus keterlanjurannya menjagokan Gus
  Dur sebagai presiden. Padahal resikonya jauh lebih berat bagi Amien Rais,
  sampai-sampai dihalalkan darahnya oleh Nur Iskandar SQ dan sering diboikot
  di Jawa Timur. Sementara itu, seandainya para Kiyai NU meminta maaf atas
  kengototannya menjadi pendukung pertama dipaksakannya asas tunggal
  pancasila, sebenarnya tidak ada resiko apa-apa, toh orang yang dijilati
  yaitu Presiden Soeharto sudah tidak berkuasa lagi. Itu saja persoalannya.
  Tapi Pak Amien Rais tidak usah bangga dengan perbandingan ini).

  * Pengertian Kiyai*

  * *Dalam buku *Kiai Penghulu Jawa, Peranannya di Masa Kolonial,* Drs H
  Ibnu Qoyim Isma'il MS menjelaskan sebagai berikut:

  Di tengah perkembangan masyarakat Indonesia pada umumnya dijumpai
  beberapa gelar sebutan yang diperuntukkan bagi ulama. Misalnya, di daerah
  Jawa Barat (Sunda) orang menyebutnya *Ajengan*, di wilayah Sumatera Barat
  disebut *Buya*, di daerah Aceh dikenal dengan panggilan *Teungku*, di
  Sulawesi Selatan dipanggil dengan nama *Tofanrita, *di daerah Madura
disebut
  dengan *Nun *atau *Bendara* yang disingkat *Ra, *dan di Lombok atau
seputar
  daerah wilayah Nusa Tenggara orang memanggilnya dengan* Tuan Guru.*

  * *Khusus bagi masyarakat Jawa, gelar yang diperuntukkan bagi ulama
  anatara lain *Wali. *Gelar ini biasanya diberikan kepada ulama yang sudah
  mencapai tingkat yang tinggi, memiliki kemampuan pribadi yang luar
  biasa.[1]<#_ftn1>
  Sering pula para wali ini dipanggil dengan *Sunan*[2] <#_ftn2>
(Susuhunan),
  seperti halnya para raja. Gelar lainnya ialah *Panembahan, *yang diberikan
  kepada ulama yang lebih ditekankan pada aspek spiritual, juga menyangkut
  segi kesenioran, baik usia maupun *nasab* (keturunan). Hal ini untuk
  menunjukkan bahwa sang ulama tersebut mempunyai kekuatan spiritual yang
  tinggi.[3] <#_ftn3>

  Selain itu, terdapat sebutan *Kiai*, yang merupakan gelar kehormatan bagi
  para ulama pada umumnya. Oleh karena itu, sering dijumpai di pedesaan Jawa
  panggilan *Ki Ageng* atau *Ki Ageng/ Ki Gede,* juga *Kiai Haji*.[4]
<#_ftn4>

  Gelar Kiai sebenarnya cukup terhormat. Namun di zaman kini, di saat buku
  ini ditulis, Maret 2001M/ Dzulhijjah 1421H, banyak para Kiai yang terjun
ke
  dunia politik praktis, serta tersebar di masyarakat berbagai ucapan bahkan
  lakon Kiyai yang sebenarnya kurang sesuai dengan gelar kehormatan itu.
Maka
  akibatnya timbul pertanyaan, apa sebenarnya Kiyai itu, dan apa pula
  kriterianya.

  Untuk menjawab pertanyaan semacam itu, di samping sudah kita ketahui
  uraian di atas, perlu pula kita simak jawaban yang muncul dari kalangan
  ulama sendiri tentang julukan Kiai itu. Di antaranya apa yang dikemukakan
  oleh Prof Dr Hamka dalam menjawab pertanyaan orang tentang Kiyai Dukun. Di
  dalam hal ini Hamka menulis:

  "...kami menyerukan kepada penanya dan saudara-saudara yang berminat
  supaya dicarilah Kiyai-kiyai yang benar-benar mengerti soalnya (soal agama
  Islam dengan aneka rangkaian ajarannya, di antaranya tentang ayat-ayat
yang
  boleh dijadikan do'a-doa untuk menolak penyakit, pen) lalu pelajari
  sehingga bisa jadi tabib untuk diri sendiri. Karena kalimat Kiyai itu
  bukanlah artinya semata-mata untuk orang yang benar-benar telah mengerti
  Agama Islam dengan segala cabangnya.

  Ada Kiyai berarti Guru Agama Islam yang telah luas pandangannya.

  Ada Kiyai berarti pendidik, walaupun pendidik Nasional. (Kalau yang
  dimaksud Hamka itu misanya Hajar Dewantara, maka biasanya disebut Ki,
bukan
  Kiyai; tetapi sebutan Ki itu kadang juga sama dengan Kiyai, seperti Ki
  Dalang itu sama dengan Kiyai Dalang, pen).

  Ada Kiyai berarti Pak Dukun.

  Di Kalimantan, Kiyai (sebelum perang) berarti *District-hoofd *(Wedana).

  Di Padang (sebelum perang), Kiyai artinya "Cino Tuo" (Orang Tionghoa yang
  telah berumur).

  Gamelan Sekaten di Yogya bernama Kiyai Sekati dan Nyi Sekati.

  Dalang yang ahli disebut Ki Dalang, atau Kiyai Dalang.

  Bendera Keramat yang dikeluarkan setiap ada bala bencana mengancam dalam
  negeri Yogyakarta bernama Kiyai Tunggul Wulung.[5] <#_ftn5>

  Meskipun Hamka mampu menjelaskan kegunaan kata Kiyai seperti tersebut,
  namun dia terus terang mengungkapkan, "kami tidak tahu dari Bahasa apa
  asalnya kata Kiyai. Tetapi kami dapat memastikan bahwa kata itu menyatakan
*
  Hormat* kepada seseorang. Cuma kepada siapa penghormatan Kiyai itu harus
  diberikan, itulah yang berbeda-beda menurut kebiasaan satu-satu negeri.

  A. Di seluruh pulau Jawa yang terdiri dari tiga suku besar, yaitu Jawa,
  Sunda, dan Madura ditambah dengan Palembang, kata Kiyai digunakan untuk
  menghormati seseorang yang dianggap Alim, Ahli Agama dan disegani.

  B. Di Kalimantan Selatan (Banjarmasin dan sekitarnya) sebelum perang,
  gelar Kiyai adalah pangkat yang tertinggi bagi Ambtenaar Bumiputera. Sama
  dengan pangkat Demang di Sumatera. Ada Kiyai kelas I, kelas II dan ada
yang
  disebut Asisten Kiyai yang sama dengan Asisten Demang.

  Bertahun-tahun lamanya Almarhum Bapak Kiyai Haji Hasan Corong jadi ketua
  Wilayah (Consul) Muhammadiyah daerah Kalimantan Selatan; umumnya orang di
  Jawa menyangka bahwa beliau adalah seorang Ulama besar, sebab di pangkal
  namanya ada titel "Kiyai", padahal beliau adalah pensiunan Kiyai
  (District-hoofd), yaitu pangkat Bumiputera yang tertinggi di Kalimantan
  Selatan (Banjarmasin dan sekitarnya) pada masa sebelum perang.

  C. Tetapi di Sumatera Barat, yaitu di kota-kota yang banyak didiami
  orang Cina (Padang, Pariaman, Padang Panjang, Bukittinggi, Payakumbuh) dan
  pesisir Selatan, gelar Kiyai diberikan kepada Cina yang telah tua dan
  dihormati. Biasanya janggut beliau dipanjangi. Di tahun 1916 kami masih
  mendapati seorang Cina tua di kampung Cina Padang Panjang disebut orang
  Kiyai Makh Thong.

  D. Rupanya kata-kata ini terdapat juga di Thailand (Siam), Ulama yang
  besar-besar dihormati di sana dalam kalangan orang Islam dalam menyebutnya
  (Guru Kriyai).[6] <#_ftn6>

  Setelah kita mengetahui penjelasan Hamka itu, perlu disebutkan pula di
sini
  bahwa masih ada pula sebutan Kiyai untuk hal-hal lain, di antaranya adalah
  keris atau tombak di Kraton Solo, bahkan Kiyai itu untuk menjuluki kerbau.
  Di Kraton Solo Jawa Tengah ada kerbau yang disebut Kiyai Slamet, yaitu
  kerbau yang dianggap keramat oleh orang-orang (yang tentu saja batil
menurut
  Islam). Kebo (kerbau) yang dijuluki Kiyai Slamet itu dilepaskan secara
bebas
  ke mana-mana setiap malam 1 Muharram, yang disebut tanggal satu Syuro.
  (Bulan Muharram di Jawa disebut Syuro, mungkin karena di dalam bulan
  Muharram itu ada hari yang penting pada hari kesepuluh, namanya '*Asyuro*,
  hari kesepuluh Muharram, yang dalam Islam termasuk hari disunnahkannya
  puasa). Hingga kerbau yang dinamai Kiyai Slamet itu ke mana saja tidak
  diusik, bahkan sampai memakan dagangan sayuran dan sebagainya pun tidak
  diapa-apakan, karena menurut kepercayaan *takhayul* (yang menyimpang dari
  Islam), kerbau itu ketika makan dagangan tersebut dianggap justru akan *
  ngrejekeni* (memberi rizki atau memberkahi). Jadi Kiyai yang berupa kerbau
  itu telah dianggap sebagai makhluk keramat, yang tentu saja hal itu
  merupakan satu jenis penyimpangan yang nyerempet-nyerempet kemusyrikan.

  Sementara itu upacara di Solo pula pada malam satu Syuro itu adalah
"thawaf"
  mengelilingi benteng Mangkunegaran, Jalan raya melingkar di sekeliling
  benteng Mangkunegaran (kira-kira kelilingnya sepanjang 1,5 KM) itu berubah
  jadi tempat orang berjalan kaki mengitari benteng dengan mulut membisu.
Jadi
  bagai thawaf di Ka'bah, tetapi membisu. Hanya saja kalau thawaf itu
waktunya
  kapan saja, dan yang dikelilingi adalah Ka'bah Baitulllah di Makkah, 7
kali
  keliling, dalam keadaan suci dari hadats sebagaimana sucinya orang yang
mau
  shalat. Sedang "thawaf" di Mangkunegaran ini mengelilingi benteng, dan
  bentengnya itu di sebelah kanan (kalau Thawaf, Ka'bahnya di sebelah kiri,
  berputarnya berlawanan dengan jarum jam) dan berputarnya searah dengan
jarum
  jam, waktunya hanya malam satu Syuro., dan harus "puasa" bisu, tidak
  berkata-kata. Kesempatan berdesakan di tengah malam itu konon digunakan
pula
  oleh muda-mudi untuk main senggol. Antara upacara mengelilingi benteng dan
  dilepasnya Kerbau Kiyai Slamet ini waktunya sama, yaitu malam satu Syuro.

  Jadi ada kerbau yang dikeramatkan dengan dijuluki Kiyai Slamet, dan ada
  acara bid'ah menthawafi (mengelilingi) benteng dengan mulut membisu pada
  malam satu Syuro. Demikianlah menurut pengamatan penulis.

  Lantas, siapa yang menjuluki Kiyai itu?

  Hamka pun tidak menentukan, siapa yang berhak menjuluki Kiyai terhadap
aneka
  macam tersebut di atas. Hamka menjawab pertanyaan orang yang ingin tahu,
  siapa yang berwenang menjuluki Kiyai, sebagai berikut:

  "Nampaknya tidak ada suatu ketentuan tentang siapa yang berwenang
memberikan
  gelar Kiyai. Nampaknya apabila telah bisa disebut Kiyai, lekat sajalah
gelar
  itu. Lantikannya yang tertentu tidak ada. Oleh sebab memberi gelar Kiyai
itu
  tidak ada peraturannya yang tertentu dan hanya menurut kesukuan orang saja
  dan diterima masyarakat, maka dipanggil orang Kiyai juga menurut kebiasaan
  orang Jawa."[7] <#_ftn7>

  Jawaban Hamka itu dikemukakan pada tahun 1963. Pada tahun-tahun itu dan
  sebelumnya, ulama Jakarta atau Betawi biasanya disebut dengan Guru,
misalnya
  Guru Mughni di Kuningan Jakarta, Guru Marzuki di Jatinegara, Guru Udin
  (Zainuddin) di Kalibata Pulo, Guru Amin di Kalibata dan sebagainya. Baru
  belakangan terbiasa menyebut ulama dengan nama Kiyai yang kadang-kadang
  disingkat jadi Kaha (KH, Kiyai Haji) di antaranya Kiyai Abdullah Syafi'i,
  menurut orang kampung Bali (Matraman) sebutannya Kiyai Duloh., yang
  kemudian terkenal lewat radionya-As-Syafi'iyah, demikian pula Kiyai Thahir
  Rahili dengan radionya At-Thahiriyah di Kampung Melayu, kedua-duanya
  memiliki pesantren dan perguruan Islam. Selanjutnya ulama Betawi juga
  disebut Kiyai, di antaranya Kiyai Syafi'i Hazami, yang memang ulama
  terkemuka di kalangan masyarakat Betawi. Hanya saja sebutan Kiyai belum
  tentu lekat pula pada ulama Betawi. Contohnya, seorang ulama alumni Timur
  Tengah, yang kitab-kitabnya di antaranya tentang Madzhab Imam Syafi'i
  menjadi rujukan di Universitas Al-Azhar Mesir, yaitu Dr HA Nahrawi Abdus
  Salam (rumahnya dekat Masjid Al-Munawar Jl Raya Pasr Mingu Pancoran
Jakarta
  Selatan) jarang disebut Kiyai. Bahkan lebih sering dipanggil Doktor saja.
  Sebagaimana penulis kawakan dan budayawan Betawi H Ridwan Saidi tidak
  mengembel-embeli titel Kiyai dalam mengisahkan DR HA Nahrawi Absus Salam
  pada buku *Orang Betawi dan Modernisasi Jakarta, *1994. Justru gelar
Syaikh
  lah yang dikenakan pada ulama Betawi, walaupun memang adanya di Makkah,
  sebagaimana dipaparkan oleh Ridwan Saidi:

  "Jika seluruh bangsa Indonesia yang tinggal merantau di Jakarta di zaman
  penjajahan itu berkejar mencari kemegahan di sisi bangsa Belanda yang
  menjajah, mengembara ke negari Belanda, namun si anak Betawi
berduyun-duyun
  pergi ke Mekah. Bukan berduyun ke negeri Belanda. Sampai di Mekah mereka
  bukan semata-mata jadi babu atau *khadam* yang duduk di tingkat bawah,
  melainkan --sekurang-kurangnya-menjadi orang menengah (*middenstand)* yang
  berpengaruh. Saya teringat ketika perjanjian penyerahan Raja Ali anak Raja
  Husin, raja negeri Mekah yang diserang oleh Raja Ibnu Saud tahun 1925,
  ketika kota Jeddah sudah dikepung lama sekali, akhirnya Raja Ali mengaku
  kalah dan diadakan delegasi pendamai kedua belah pihak. Setengah dari
  syarat-syarat yang dikemukakan oleh Raja Ali ialah supaya beberapa orang
  besar dan ternama yang jadi hidup bertalian erat dengan Baginda (Raja Ali,
  pen) dibebasakan. Di antaranya ialah beberapa nama yang di ujung nama itu
  disebut ":Betawi": Syaikh Abdullah Betawi, Syaikh Ahmad Betawi, Syaikh
Sa'id
  Betawi. Keturunan keluarga Betawi itu masih ada sampai sekarang (1994,
pen)
  dalam perlindungan Kerajaan Saudi Arabi, baik di Mekah maupun
  Jeddah.[8]<#_ftn8>
  Dari sini bisa difahami bahwa sebutan Kiyai untuk ulama sebenarnya di
  kalangan kaum Betawi kurang membudaya. Hanya saja dalam perkembangannya
  sebutan Kiyai itu memasyarakat pula sejak pemerintahan Soeharto yang sejak
  awal tampak menonjolkan budaya Jawa terutama yang berbau Kejawen, hingga
  nama ruangan-ruangan di gedung DPR/MPR pun diganti dengan nama dari bahasa
  Jawa Kuno atau bahkan Sansekerta dari India atau Hindu. Misalnya ruang
  Wirashaba dan sebagainya yang sulit dimengerti oleh masyarakat. Maka
istilah
  Kiyai untuk sebutan ulama pun yang asalnya hanya dipakai di Jawa lalu
  dinasionalkan atau menjadi istilah nasional. Dan tampaknya budaya *
  munduk-munduk* (sangat hormat bahkan takut) terhadap Kiyai yang budaya itu
  merata di Jawa rupanya menular pula kepada masyarakat selain Jawa,
termasuk
  Betawi, sehingga julukan Kiyai itu tidak ditolak oleh ulama yang
  dijulukinya.

  Setelah julukan Kiyai itu memasyarakat pula di masyarakat selain Jawa,
  termasuk pula Betawi, lalu tumbuh gejala, keturunan Kiyai yang kemudian
  mengimami masjid atau apalagi memimpin pesantren maka disebut Kiyai pula,
  walaupun ketika bapaknya dulu masih hidup, si anak Kiyai itu tidak pernah
  disebut Kiyai muda, tetapi begitu bapaknya wafat, maka dia langsung
  dipanggil atau suka dipanggil dengan sebutan Kiyai, walaupun dari segi
  keilmuan maupun kegiatannya berjama'ah ke masjid tidak sebanding dengan
  bapaknya.

  Adapun ulama ataupun da'i yang dari keturunan Arab dan menisbatkan diri
  sebagai keturunan Nabi saw maka mereka bukan disebut Kiyai, tetapi Habib
  yang sering dijamakkan (bentuk banyak, plural) menjadi habaib. Sehingga
ada
  istilah "ulama dan habaib". Ulama dalam hal ini untuk para alim, guru
agama
  yang ilmunya cukup tinggi (termasuk di dalamnya, Kiyai), namun bukan orang
  Arab "keturunan" Nabi saw. Sedang habib atau bentuk jamaknya (plural)
Habaib
  adalah guru agama atau alim agama atau bahkan ulama dan "keturunan" Nabi
  saw. Hanya saja di kampung-kampung, asal dia bisa membaca sepotong do'a,
  maka sudah bisa disebut Kiyai atau kalau "keturunan" Nabi saw maka disebut
  Habib, dan kalau bersalaman dengan mereka maka masyarakat Betawi/ Jakarta
  pun menciumi tangannya.

  (Menurut Habib Abdurrahman Bukit Duri Manggarai Jakarta Selatan, untuk
  diciumi tangannya itu juga pakai modal, yaitu minyak wangi. Dan kadang
rugi
  juga, kalau yang mencium tangannya itu kebetulan ingusan. Jadi sang Habi
itu
  sudah mengeluarkan modal berupa minyak wangi, masih kena ingus pula, ucap
  Habib Abdurrahman Assegaf di depan para Ulama, Habaib, Kiyai, dan tokoh
  Islam. Ucapan itu dalam rangka marah terhadap pidato Pak Prof Dr HM
Rasjidi
  (almarhum, wafat Januari 2001) yang menguraikan sesatnya Syi'ah, dalam
  pertemuan di Pesantren As-Syafi'iyah (belakangan disebut Pesantren
Al-Qur'an
  Kiyai Haji Abdullah Syafi'i) di Pulo Air Sukabumi, Jawa Barat, 1989.
  Kemarahan Habib Abdurrahman itu mengagetkan para ulama yang hadir, karena
  tampaknya Sang Habib itu mengira bahwa Prof Rasjidi membidik para habaib
  dengan cara menghantam Syi'ah. Kesalah fahaman itu bermula dari pidato
  singkat Dr HA Nahrawi Abdus Salam yang mengira Prof Rasjidi menghantam
  Syi'ah itu untuk menyindir orang yang mengukuhi madzhab, dalam hal ini
  Syafi'iyah. Akibatnya pertemuan itu jadi kacau balau suasananya secara
  persaaan. Wajah-wajah para ulama itu tampak saling kikuk, dan sampai
  menjelang wafatnya pun Prof Rasjidi masih terkenang dan mengaku kepada
  penulis bahwa dirinya *diplengosi* (dihadapi dengan berpaling) oleh tuan
  rumah saat itu, setelah adanya pidato-pidato yang salah faham itu).

  Tampaknya tradisi *munduk-munduk *(sangat hormat dan sangat patuh)
  terhadap Kiyai di Jawa tidak jauh berbeda dengan yang terjadi terhadap
guru
  / ulama dan habib/ habaib di Betawi/ Jakarta. Maka orang Betawi yang
tadinya
  tidak mengenal atau masyarakat kurang kenal dengan istilah Kiyai, kemudian
  sejak tahun 1970-an sebagian ulamanya tampaknya ridho' untuk disebut
Kiyai.
  Sementara itu untuk para habaib tetap bernama habib, sebagai pembeda
antara
  yang "keturunan" Nabi saw dan yang 'ajam (non Arab). Sedang tradisi cium
  tangan dan *munduk-munduk*nya tetap "dikukuhkan".

  Kini, setelah muncul Kiyai-kiyai yang dipandang oleh masyarakat sebagai
  provokator dan sebagainya, bahkan ada yang kena skandal, apakah julukan
  Kiyai yang tadinya tidak melekat di kalangan Ulama Betawi/ Jakarta itu
harus
  mereka kembalikan ke asalnya yaitu Guru atau bahkan Ulama atau Alim saja?
  Istilah "Ulama Betawi" sebenarnya sudah melekat dalam bahasa masyarakat.
  Sedang istilah Kiyai sebenarnya selalu jadi tanda tanya. Karena, di
samping
  munculnya itu dari Jawa (biasanya di Jakarta, yang disebut Jawa itu tidak
  termasuk Jakarta), juga istilah Kiyai itu mengandung aneka macam makna,
dari
  kerbau yang dianggap keramat sampai bendera yang dikeramatkan, atau bahkan
  dukun santet ataupun tukang sihir. Walaupun memang masih diakui pula
istilah
  Kiyai itu ada yang untuk ulama betulan.

  * **Sebutan Kiyai mungkin lebih diminati dan ni'mati*

  Kalau ditilik dari segi praktis dan pragmatisnya, bahwa Kiyai itu yang
  di-*munduk-munduki atau* sangat dihormati dan ditaati serta ditakuti, maka
  tampaknya justru sebutan Kiyai itulah yang lebih mereka minati. Di samping
  masyarakat sudah bisa diharapkan akan tunduk lagi hormat kepada Sang
Kiyai,
  toh pada masa akhir-akhir ini sosok-sosok Kiyai itu seolah telah bebas
  berbuat, termasuk dalam berbuat cabul dan berbohong sana sini atau
  berakhlaq tidak *nggenah*. (Kadang keburukan-keburukannya itu bahkan ada
  pihak-pihak yang membelanya dengan dalih maqomnya/ tingkatnya sudah
mencapai
  derajat wali, yang menurut faham sesat mereka adalah terbebas dari segala
  hukum dan hukuman). Sehingga Kiyai model itu walaupun sudah sedemikian
  buruknya menurut agama, namun penghormatan tetap didapat, sedang penjagaan
  diri sebagai orang yang *wara'* (sangat hati-hati terhadap yang makruh,
  apalagi yang haram) sudah tercabut dari "keharusan". Kan malah lebih
  gampang. Kenapa repot-repot harus mengembalikan Istilah Kiyai kepada
istilah
  yang berat-berat yaitu "Guru" apalagi Ulama/ Alim ataupun Syaikh. Kan itu
  bikin capek (payah) saja.

  Begitulah kira-kira, kalau kita mau ber-*suud dhon* (buruk sangka)
  kepada mereka*. *Walaupun tentu saja hal itu hanya berlaku bagi
Kiyai-kiyai
  gadungan, yang istilah terkenalnya dalam terminologi Islam adalah *ulama
  suu' *(yaitu ulama yang jahat), yang banyak dikecam oleh ulama salaf
  (terdahulu). Ulama *Suu'* itu di antaranya adalah ulama-ulama yang suka
  masuk keluar ke istana atau pintu penguasa, bahkan ulama seperti itu
mereka
  sebut sebagai maling (*lisshun **-* áÕ *).* Tetapi rupanya kini jumlahnya
  makin banyak, padahal kitab-kitab yang mengecam tingkah polah itu masih
  berada pada tangan-tangan mereka pula, sekalipun tidak lagi diajarkan
kepada
  para santrinya, karena ulama tersebut cukup mengajari berdemo bersama
  antek-antek komunis untuk merusak dan menghancurkan masjid, madrasah,
panti
  asuhan milik Muslimin yang dulunya ketika memberantas Bid'ah, Khurofat,
dan
  syirik yang jadi "kareman" (kegemaran) si perusak ini, dulu tidak punya
  alasan untuk menolak pemberantasan bid'ah itu dengan cara menghancurkan
  masjid-masjid pemberantas bid'ah. Nah sekarang mumpung kelompok perusak
ini
  sedang ada setitik alasan yang dibuat-buat, yakni membela Kiyainya yang
jadi
  presiden namun ingin didongkel oleh orang-orang yang di antaranya adalah
  kelompok anti Bid'ah, maka masjid ataupun sarana da'wah Islam yang
dimiliki
  kelompok anti Bid'ah pun kesempatan untuk dihancurkan oleh mereka yang
  "karem" (gemar) bid'ah itu bersama kelompok anti Islam bahkan anti Tuhan.
  Lalu mereka ramai-ramai cuci tangan dengan ucapan-ucapan yang mereka
  bikin-bikin. Padahal sebelumnya, santer terdengar, kalau Gus Dur
diturunkan
  dari jabatan Presiden maka mereka mau mengerahkan massa. Namun setelah Gus
  Dur benar-benar digoyang oleh DPR, lalu massa benar-benar terkerahkan dan
  sampai mengadakan perusakan di mana-mana, lalu secepatnya mereka cuci
tangan
  dengan ucapan. Misalnya ucapan, Kami bersedia membantu satu miliar Rupiah
  kepada gedung-gedung atau sarana milik Muhammadiyah apabila benar-benar
  terbukti bahwa yang merusaknya itu dari kalangan NU kami. Keruan saja
pihak
  Muhammadiyah menolak sumbangan yang bersyarat itu. Karena, menurut
  Muhammadiyah, kalau memang mau menyumbang ya tidak usah bersyarat seperti
  itu. Karena yang namanya pembuktian itu harus lewat pengadilan.

  Tidak puas hanya merusak masjid dan sebagainya, mereka juga
  beramai-ramai menebangi ratusan pohon pinggir jalan untuk ditaruh di
  jalan-jalan guna menghalangi orang lewat, agar para santri-santri dan
  masyarakat yang dikerahkan untuk menghalangi jalan itu imannya habis
punah,
  Tidak cukup hanya dicekoki bid'ah, khurofat, dan takhayul, tapi imannya
  perlu dikikis benar-benar. Soalnya dalam Islam, justru bagian dari iman
itu
  di antaranya adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, namun kini di
antara
  ulama *suu'* atau orang-orang yang belajarnya kepada ulama *suu'*, mereka
  ramai-ramai menebangi ratusan pohon di Jawa Timur untuk ditlalangkan guna
  menghalangi jalan-jalan raya. Peristiwa yang merusak dan merugikan bagi
umum
  itu terjadi di Jawa Timur dalam rangka '*ashobiyah* (fanatik buta), yaitu
  membela Presiden Gus Dur, agar tidak diturunkan dari jabatannya, Februari
  2001M. Dalam Islam, membuang gangguan yang ada di jalan adalah termasuk
  bagian dari iman. Lantas perlu ditanyakan kepada para Kiyai pendukung Gus
  Dur terutama di Jawa Timur, bukankah membuat halangan besar-besaran di
jalan
  raya serta merusak pohon dengan menebanginya; itu berarti membuang iman?
  Bukankah demikian?

  * * Antara ajaran Islam dan kepentingan orang-orang yang mengerti Islam
  yaitu ulama atau Kiyai yang berkendaraan hawa nafsu, memang kadang ada
  jaraknya yang sangat jauh, bahkan kadang sangat berbalikan. Selama
  kepentingan-kepentingan nafsu bahkan *ashobiyah*/ fanatik golongan itu
masih
  lebih diunggulkan dibanding ajaran Islam itu sendiri, maka apa saja bisa
  dikorbankan demi kepentingan, demi golongan, demi perintah syetan, bukan
  demi Islam. Termasuk di dalamnya, kalau hanya masalah nama, yaitu ulama
atau
  guru agama atau da'i, yang ketiga-tiganya tidak mendatangkan "manfaat"
dari
  segi kepentingan untuk "*dimunduk-munduki*", maka tentu saja mereka lebih
  pilih julukan Kiyai, yang walaupun sebutan itu juga dipakai untuk kerbau
  namun mengandung unsur adanya "kebiasaan *munduk-munduk*" dari santri dan
  masyarakat terhadap Kiyai. Maka bisa diperkirakan, mereka tidak rela
apabila
  julukan Kiyai itu diganti dengan Guru atau bahkan Ulama atau Syaikh
  sekalipun. Walaupun mereka sering menonjol-nonjolkan Hadits *Al-'Ulamaau
  warotsatul Anbiyaa'*. Ulama itu pewaris para Nabi.

  Kenapa lebih pilih julukan Kiyai?

  Karena, di samping hal tersebut di atas yaitu di*munduk-munduki*
  *(*sangat
  dihormati dan ditaati serta ditakuti), masih ada alasan lain pula. Dalam
  kitab-kitab cukup banyak kecaman terhadap ulama' *suu'* (ulama jahat).
Namun
  tidak tercantum dalam kitab-kitab adanya keterangan mengenai kecaman
  terhadap Kiyai *suu'* (jahat). Bahkan kerbau yang dijuluki Kiyai Slamet
  dipersilakan secara bebas dan merdeka untuk berkeliaran ke mana saja dan
  makan apa saja serta menginjak-injak apa saja boleh, dan tidak dijuluki
  Kiyai *suu'* (jahat). Malahan yang diinjak-injak ataupun hartanya dimakan
  itu justru senang, karena mereka percaya (dalam kondisi kepercayaan batil)
  akan mendapatkan berkah dan rejeki. Itulah kurang lebihnya.

  *Julukan Kiyai untuk ulama perlu dihapus*

  Kalau hal ini dibiarkan, maka kondisi semakin runyam. Maka perlu diadakan
  gerakan total untuk mendudukkan masalah pada proporsinya. Istilah-istilah
  yang tidak jelas, seperti halnya Kiyai, perlu dibersihkan, dan kalau perlu
  dienyahkan dari terminologi Islam, supaya Islam tidak dikotori dengan
  pemahaman-pemahaman yang tidak jelas. Tetapi, maukah mereka? Dan maukah
  masyarakatnya? Justru hal-hal yang tidak jelas itulah yang mereka cari,
  kadang-kadang. Itulah persoalannya pula.

  Dari kenyataan itu, maka sangat baguslah orang-orang yang konsisten, dan
  tidak mau disebut atau menyebut dirinya Kiyai. Sebagaimana Hamka, Ptof Dr
H
  Mahmud Yunus dan lain-lain, mereka adalah ulama terkemuka dan menulis
tafsir
  serta kitab-kitab Islam namun tidak disebut Kiyai, serta tidak menyebut
  dirinya Kiyai. Walaupun secara keilmuan maupun akhlaqnya, mereka adalah
  ulama, alim agama.

  Seandainya para ulama yang kini digelari Kiyai itu ikhlas mencopot gelar
  Kiyainya dan tak mau lagi disebut Kiyai, maka biar sekalian ketahuan bahwa
  Kiyai yang masih rela disebut Kiyai adalah Kiyai Dukun saja. Itu mungkin
  lebih baik, karena memang di dalam Islam tidak ada istilah Kiyai itu,
  demikian pula adat-adat yang lekat dengan kekiyaian kalau dicocokkan
dengan
  Islam tampaknya memang sering berjauhan. Contoh paling kecil saja, setiap
  kongres para Kiyai NU, (namanya bukan kongres Kiyai, tapi biasanya kongres
  Ulama), hampir bisa dipastikan mesti di*kintil* (disertai) oleh sponsor
dari
  pabrik rokok. Asbak tempat puntung rokok lengkap dengan cap pabrik rokok
  mesti berjajar berderet-deret di hadapan para Kiyai. Apakah merokok itu
  menjadi salah satu perbuatan yang di*afdhol*kan (diutamakan) dalam Islam?
  Paling kurang, mesti hukumnya makruh, perlu ditinggalkan. Tetapi kenapa
  justru para Kiyai menjadi contoh buruk dalam masalah ini? Sehingga kalau
  orang yang suka bercanda akan bisa bilang, yang terpilih dalam jam'iyah
itu
  tentunya yang paling jago dalam merokok. Lho kenapa? Karena setiap kongres
  apalagi muktamar, mesti di*kintil* / diikuti oleh sponsor yaitu pabrik
  rokok.

  Antara "harus" membuang julukan Kiyai dengan memperbaiki mental dan polah
  tingkah Kiyai, semuanya adalah hal yang rumit. Sebenarnya pada mulanya
hanya
  ada pertanyaan-pertanyaan seperti yang diajukan kepada Hamka tentang makna
  Kiyai itu sendiri. Namun setelah para Kiyai terjun ke politik bahkan
  ucapan-ucapannya ada yang kurang pas, baik secara politik itu sendiri
maupun
  bahkan secara Islam, maka pertanyaan itu muncul lagi serta lebih sarat
  makna, dalam arti Kiyai menjadi sosok yang tidak jelas lagi di mata
  masyarakat. Dan dikhawatirkan, sebutan Kiyai justru jadi tempat
perlindungan
  bagi orang-orang yang sebenarnya hanya mementingkan kepentingan diri
mereka,
  keluarga mereka, dan golongan mereka. Yang hal itu tidak mudah digugat,
  karena belum ada kitab rujukan yang baku (istilah NU-nya *mu'tabaroh)
*yang
  mengecam busuknya tingkah Kiyai. Sementara itu kalau sebutan ulama maka
  sudah banyak kitab baku yang bisa dijadikan panduan untuk mengecam tingkah
  buruk ulama *suu'*.

  Dikhawatirkan akan muncul pandangan: "Saya kan hanya Kiyai, bukan ulama.
  Yang tergolong ada yang *suu'* (jahat) itu kan ulama. Jangan disamakan
dong,
  Kiyai dengan ulama. Kalau ulama sih, tak boleh berbuat begini dan begitu.
  Kalau Kiyai, boleh-boleh saja..."

  Sekali pintu kejahatan itu terbuka, maka akan terbuka pula
  kejahatan-kejahatan lain yang bervariasi dan bisa lebih besar lagi.
Sebutan
  Kiyai di sini sudah ada gejala terbukanya kejahatan-kejahatan, baik
tersamar
  maupun bisa terasakan secara umum. Oleh karena itu, perlu ditutup pintu
  kejahatan itu. Di antara jalan yang praktis adalah membuang sebutan Kiyai
  itu sendiri, dari khazanah istilah Islam, kemudian dikembalikan kepada
  istilah Islam, yaitu ulama atau alim atau 'allamah, atau syaikh seperti
yang
  berlaku di dunia Islam. Hingga ulama yang benar bisa ditiru atau
diteladani,
  sedang yang jahat atau *suu'* bisa disingkiri, karena kriterianya sudah
  jelas.

  Adapun sebutan Kiyai yang bisa disejajarkan dengan doktor oleh Departemen
  Agama sehingga bisa menduduki jabatan rektor suatu perguruan tinggi,
  contohnya KH Abdul Qadir Jaelani yang memimpin perguruan tinggi di Tanjung
  Priok Jakarta, hendaknya diganti dengan istilah yang pas pula, misalnya
  syaikh atau alim, atau 'allamah. Dan tentunya perlu sesuai pula dengan
kadar
  keilmuan, tentang siapa yang bisa dijuluki syaikh atau 'alim atau
'allamah.
  Bukan sekadar hafal syair *ya Robbi bil Mushthofa* ( íÇ ÑÈ ÈÇáãÕØÝì ÈáÛ
  ãÞÇÕÏäÇ yang syair itu sendiri mengandung persoalan secara aqidah karena
  mengandung *tawassul*/ perantara dengan orang yang sudah wafat, yang hal
itu
  sama sekali tidak syar'i) lalu diberi gelar 'alim atau 'ulama atau
'allamah,
  sebagaimana sekarang bisa digelari Kiyai.

  Apakah para Kiyai akan ikhlas dengan usulan semacam ini? *Wallahu a'lam.
  * Itu urusan mereka. Hal yang baik dan yang benar dalam Islam tidak perlu
  persetujuan para Kiyai. Justru para Kiyai mestinya yang harus tunduk
kepada
  kebenaran, kalau memang mereka *istiqomah* / konsisten dalam ber-Islam.
Ini
  hanya mengingatkan, perlunya dibuang istilah Kiyai dari julukan keulamaan
  itu karena mengikuti kaidah *saddudz dzarooi'* yaitu menutup jalan yang
  menuju bahaya. Kaidah itu diakui oleh para ulama dalam Ushul Fiqh.
  Bukti-bukti dan gejalanya telah nampak, maka sebelum kondisinya akan lebih
  parah, sebaiknya ditempuh jalan *saddudz dzaroi' * itu.

  Demikianlah. Apabila hal ini menyinggung perasaan para Kiyai, maka dengan
  sepenuh hati kami minta maaf. Walaupun demikian, pendapat ini tetap kami
  sengaja untuk dikemukakan.* *
  ------------------------------

  [1] <#_ftnref1> Drs H Ibnu Qoyim Isma'il MA, *Kiai penghulu Jawa
Peranannya
  di Masa Kolonial, *Gema Insani Press, Jakarta, cetakan I, 1977, halaman
62,
  mengutip Ahmad Adaby Darban,* Ulama di Jawa: Perspektif Sejarah,
  *Yogyakarta,
  1988, halaman 6, juga mengutip FA Sutjipto,* Pemimpin-pemimpin Agama di
  Wilayah Kerajaan Mataram Sekitar Abad 18, *Yogyakarta 1971*.*

  [2] <#_ftnref2> Sunan di sini bukan bentuk jama' (plural) dari kata Arab
  Sunnah (hadits ataupun tradisi) tetapi dari kata Susuhunan sebagai gelar
  untuk wali/ ulama ataupun pejabat di mahkamah yang bahasa Arabnya Qodhi
  yaitu hakim di kerajaan Islam di Jawa pada masa itu, sedang rajanya
bergelar
  Sultan dari kata Arab Sulthon.

  [3] <#_ftnref3> Ibnu Qoyim Isma'i, ibid, halaman 62.

  [4] <#_ftnref4> Ibid, halaman 63.

  [5] <#_ftnref5> Majalah *Gema Islam *No. 30 tahun II, 15 April 1963,
  kemudian dikumpulkan menjadi: *Hamka* *Membahas Soal-soal Islam *oleh H
  Rusydi dan Afif, Pustaka Panjimas, Jakarta, cetakan IV, 1985, halaman
  397-398.

  [6] <#_ftnref6> Ibid, halaman 400

  [7] <#_ftnref7> Ibid, halaman 401.

  [8] <#_ftnref8> Ridwan Saidi, *Orang Betawi dan Modernisasi Jakarta,
*LSIP,
  Jakarta, cetakan pertama 1994, halaman 212.

  [Non-text portions of this message have been removed]

  __________________________________________________________
  http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir
dan
  KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
  ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
  Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda
  harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke:
  [EMAIL PROTECTED]

  Yahoo! Groups Links

  --
  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition.
  Version: 7.1.394 / Virus Database: 268.9.7/379 - Release Date: 6/29/2006



  


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Check out the new improvements in Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/6pRQfA/fOaOAA/yQLSAA/.DlolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke