Surat Kembang Gunung Purei:
"UNTUK APA BELAJAR FILSAFAT?" 2. Bagaimana para pengajar memandang perlu tidaknya filsafat diajarkan di sekolah-sekolah sejak dini, pengajaran yang oleh tivi Perancis dikatakan sebagai merupakan keunikan SMA-SMA Perancis? Terhadap masalah pengajaran filsafat di tingkat akhir SMU [terminales] "apakah berguna", Alain Liégeon [43 tahun], pengajar filsafat di SMU Rodin, Paris 13, dengan Ttersenyum menjawab: "Dilihat dari jangka pendek, seperti pengajaran tentang kesenian, memang tidak bermanfaat. Hanya jika dilihat dari jangka panjang, nah, di sini baru nampak kegunaannya. Dari segi jangka panjang pengajaran filsafat akan sangat nyata [son utilité est évidente]. Dari segi jangka panjang merupakan dasar, landasan [le socle] bagi kebudayaan umum [la cuylture générale]. Dan "la culture générale" ini memungkinkan generas muda kita memasuki dengan mantap kehidupan profesional mereka". "Ambil sebagai contoh", ujar Liégeon melanjutkan keterangannya. "Di antara sekian calon yang melamar kedudukan sebagai pegawai negeri, dengan tingkat ketrampilan sama, yang lebih mendapat prioritas adalah mereka yang mempunyai sikap terbuka terhadap dunia luar. Demikian juga yang terjadi terhadap para penganggur ketika diwawancara untuk menduduki pos yang dikehendakinya. Yang diutamakan adalah mereka yang tahu benar posisi mereka dalam masyarakatndan tempat mereka di dunia". Artinya apa? Kesadaran begini mungkin diperoleh jika mereka belajar filsafat. Karena itu, Liégeon berpendapat bahwa pengajaran filsafat di "terminales" merupakan sesuatu keniscayaan [obligatoire] dan bukan sebagai mata pelajaran embel-embel di antara mata pelajaran sastra dan ilmu-ilmu eksakta. Hanya saja, guru filsafat SMA Rodin ini menganggap bahwa pengajaran sejarah filsafat tidak merupakan sebagai sesuatu yang perlu. "Sekolah bukanlah tempat menumpuk bahan-bahan mentah di lumbuh pengetahuan para siswa", ujarnya. Yang terpenting bahwa bagaimana melalui pengajaran filsafat, para siswa mempertajam pisau analisa mereka, dan menterapkannya dalam penuturan masalah serta mengetengahkan alasan-alasan alias argumentasi sehingga tidak ngawur dan asal-asalan. Jika hal begini bisa dicapai dan terujud, maka berarti pengajaran filsafat di "terminales" mempunyai guna nyata bagi kehidupan dan memecahkan masalah yang mengusik serta mencoba. Aku memandang apa yang diajukan oleh Liégeon ini sebagai masalah pembentukan manusia Perancis yang berpikir, mandiri dan mengenal tempat mereka di tengah masyarakat serta dunia. Waktu masih belajar di Universitas Gadjah Mada Yogya dahulu, ide ini dicoba dilaksanakan melalui yang disebut "studium général", kuliah khusus untuk semua mahasiswa segala jurusan. Aku tidak melihat kesamaan antara "studium général" dengan praktek apa yang disebut sebagai P4 zaman Orba. Untuk tingkat SMP-SMA "studium général" ini dilakukan melalui pengajaran civic dan sejarah sesuai dengan ide Bung Karno tentang 'national character building"[pembangunan watak bangsa]. Para siswa dan mahasiswa belum terkontaminasi oleh jalan pintas, pola pikir dan mentalitas "mie instant". Apakah Soekarno salah dalam hal ini? Soekarno yang juga mengkritik model "text book thinking". Sebagai kakak angkatanku, tentu Mas Boedi Darma, tentu masih ingat. Sejarah pada masa itu masih belum diputarbalikkan seperti yang dilakukan oleh Orba Soeharto dengan bantuan sastrawan Brigjen Prof. Dr. Noegroho Notosoesanto yang karena pemutarbalikan data tentang Soekarno tidak dimaafkan oleh keluarga Soekarno ketika Noegroho meninggal. Pemutarbalikkan sejarah oleh Orba Soeharto muncul dengan adanya ide yang disebut "pelurusan sejarah" sekarang, sekali pun ide "pelurusan sejarah" ini masih diperdebatkan dan menimbulkan persoalan ketepatannya sebagai "perumusan" dan istilah. Dari keadaan ini, aku melihat bahwa sering obyektivitas disamakan dengan kepentingan politik dan ekonomi. Obyektivitas dipandang sebagai "kejahatan" dan "subversif". Dengan menceritakan masalah pengajaran filsafat di tingkat SMU di Perancis, sebenarnya yang ingin aku capai sebenarnya adalah sebuah kaca untuk bercermin, bagaimana usaha kita membentuk manusia republiken dan berkeindonesiaan di negara yang memilih bentuk Republik dan di negeri yang menggunakan nama Indonesia. Bagaimana usaha kita membentuk manusia republiken dan berkindonesiaan melalui pendidikan. Apakah manusia "jalan pintas" yang bangga dengan "sabetan"nya benar-benar merupakan manusia dan warganegara republiken dan berkeindonesiaan? Apakah krisis multi dimensional yang mengancam tanahair dan negeri sekarang tidak ada hubungannya dengan pola pikir dan mentalitas yang dominan tinggalan Orba yang oleh sementara pihak sebagai berjasa? Arti penting pengajaran filsafat di "terminales", digarisbawahi oleh mantan menteri pendidikan, filosof dan pengajar di universitas, Luc Ferry dalam kata-kata: "Untuk memahami keunikan Perancis, kita harus menelusur keadaan ke kurun waktu sebelum meletusnya Revolusi Perancis 1879. Sejak tahun 1793", ujar Luc Ferry, "debat besar yang ramai dimunculkan ke permukaan adalah soal apa bagaimana menjadi syarat untuk menjadi warganegara yang baik dan mampu mewujudkan hak pilihnya". Dalam hal ini, Luc Ferry, yang telah menulis lebih dari 20 karya-karya filsafat, lebih lanjut berkata bahwa "filsafat dipandang sebagai satu cara untuk menyiapkan angkatan muda sadar guna mengejawantahkan kewarganegaraannya [la citoyenneté]. Sejak berdirinya Republik ke-III, filsafat dipandang sebagai ratu di antara semua disiplin ilmu. Tradisi begini masih berlangsung hingga sekarang". Karena itu guru-guru SMU, termasuk Liégeon secara tandas mengatakan bahwa pelajaran filsafat di "terminales" patut dipertahankan. Perancis jangan terperosok ke jurang pengetahuan tekhnis belaka, terkurung dalam kejuruan sempitnya sendiri, tapi hampa kepala dan jiwa. Biarkan manusia Perancis sebagai manusia sadar sebagai manusia dan juga berkerampilan tinggi. Pengajaran filsafat membantu manusia menjadi manusia. Atas dasar ide ini maka pengajaran filsafat dilakukan dengan segala keluwesan sesuai keadaan nyata, sejak Taman Kanak-kanak. Inilah yang antara lain dirintis oleh Sylvie Truc dari Taman Kanak-kanak Eliet-Santoni, di Gard [Var]. Sejak kanak, anak-anak diarahkan untuk menjadi manusia sadar dan warganegara Republik Perancis sehingga tidak mengherankan jika anak-anak usia 3-4 tahun tahu arti fasisme, rasialisme, tahu bagaimana membela diri dari kekerasan, dan lain-lain hal yang mendasar... Barangkali, ada baiknya pengalaman Sylvie Turc disimak secara singkat, kemudian juga secara sepintas apa isi mata pelajaran filsafat di "terminales" sebagai acuan bagi kita. Paris, Juli 2006. --------------------- JJ. Kusni [Bersambung....] [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Great things are happening at Yahoo! Groups. See the new email design. http://us.click.yahoo.com/TISQkA/hOaOAA/yQLSAA/.DlolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ______________________________________________________________________ http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
