NU dan Perebutan Ideologi Bangsa 

Khamami Zada 

Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama, 27-30 Juli 
2006 di Surabaya, bermakna penting saat ideologi bangsa sedang diperebutkan 
berbagai kalangan dan kelompok. 

Maraknya banyak kelompok dan golongan menjadikan Pancasila sebagai justifikasi 
atas apa yang mereka perjuangan membuktikan Pancasila hanya "tameng", tidak 
berarti apa-apa. 

Di sinilah NU memiliki arti penting karena NU-lah organisasi Islam yang pertama 
menerima Pancasila sebagai ideologi bangsa yang final (Martin van Bruinessen, 
1994). Berbagai masalah keagamaan, sosial, dan politik yang mengarah pada 
konflik kepentingan menyebabkan Pancasila sebagai ideologi bangsa diperebutkan 
untuk menjadi justifikasi tiap kelompok dan golongan guna menghadapi 
lawan-lawan politiknya. 

Meneguhkan kemajemukan 

Indonesia sebagai negara majemuk dengan banyak agama, suku, dan golongan 
dihadapkan tantangan serius, bagaimana merajut dan memperkukuh kemajemukan 
sebagai modal sosial. 

Robert W Hefner menyebut kemajemukan di Indonesia sebagai modal sosial, yang 
jika tidak dikelola dengan baik rentan konflik. Tak heran jika di Indonesia 
terus muncul aneka konflik, baik berlatar belakang agama, suku, maupun 
golongan. Di antara pemeluk agama pun rentan konflik akibat paham keagamaan dan 
keyakinan yang berbeda. 

Terjadinya konflik suku, agama, dan golongan adalah bukti pembentukan nation 
state yang semu. Potensi konflik yang sejak dulu ada dalam masyarakat dikubur 
oleh penguasa dengan alasan stabilitas keamanan. 

Oleh Phillipe C Schmitter (1993), model ini dirancang untuk meniadakan konflik, 
menciptakan hubungan harmonis antara negara dan masyarakat, serasi, penuh 
solidaritas, dan kerja sama. Sayang, integrasi sosial yang melibatkan beberapa 
etnis dan agama sifatnya semu (coercion and force). Nation building yang telah 
dirintis founding fathers tidak dapat dipertahankan dalam dinamika negara 
multikultural. 

Itu sebabnya Pancasila seakan kehilangan jati diri setelah diperalat Orde Baru 
untuk mempertahankan kekuasaannya. Kini, Pancasila menemukan kembali jati 
dirinya dalam konteks berbangsa dan bernegara. Pancasila tidak lagi menjadi 
alat kepentingan kekuasaan. Sayang, Pancasila justru dijadikan alat untuk 
mempertahankan diri atau menyerang kelompok yang berbeda paham dan pendapat. 

Di sinilah NU sebagai organisasi Islam yang memiliki paham moderat sudah 
saatnya mengembalikan jati diri Pancasila dalam iklim keagamaan yang moderat. 
Pancasila bukan lagi sekadar paham pemersatu bangsa, tetapi memberi kesempatan 
pada perbedaan pandangan keagamaan, yang pada gilirannya paham keagamaan yang 
dibangun atas dasar Pancasila menghasilkan pemikiran dan perilaku keagamaan 
yang moderat. 

Inti dasar Pancasila adalah kemajemukan, dibingkai dalam persatuan dan 
kebersamaan, bukan perpecahan, konflik. Karena itu, semangat Pancasila sebagai 
ideologi kemajemukan harus tetap dilestarikan dalam NU agar tidak kehilangan 
orientasinya yang mengusung paham kebangsaan dan keagamaan yang moderat. 

Islam keindonesiaan 

Dalam konteks inilah, NU sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia sudah 
saatnya kembali menampilkan karakter Islam yang keindonesiaannya seperti telah 
dipraktikkan oleh para pendiri, seperti Hadratus Syaikh Hasyim As'ari dan KH A 
Wahab Hasbullah. Bukankah selama ini NU dikenal sebagai ormas Islam yang paling 
dekat dengan tradisi, budaya, dan kearifan lokal? 

Berbagai tradisi yang masih dipertahankan Nahdliyin, meski dianggap kelompok 
lain sebagai bid'ah dan khurafat, itulah karakter dasar Islam keindonesiaan 
yang hingga kini dibangun dan dikembangkan NU. 

Cara berpikir NU untuk mempertahankan tradisi tak lain adalah menjaga warisan 
leluhur yang telah mengembangkan Islam sambil terus melakukan perubahan yang 
lebih baik. Kaidah yang akrab di kalangan Nahdliyyin adalah "mempertahankan 
warisan lama yang baik dan mengambil sesuatu yang baru yang lebih baik" 
(al-muhafazhah 'ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah). 
Inilah yang menjadi fondasi NU tetap mempertahankan tradisi meski tetap 
melahirkan sesuatu yang baru. 

Karena itu, Islam keindonesiaan yang dibangun NU tidak lain mengadopsi cara 
pandang, pola pikir, dan perilaku yang sudah berkembang di masyarakat 
Indonesia, bukan di Arab. 

Maka, munas dan konferensi besar NU ini diharapkan dapat menjadi pijakan untuk 
melandasi kemajemukan sebagai sunnatullah yang menghargai perbedaan dalam 
praktik dan perilaku beragama. 

Penyeragaman dalam beragama jelas tidak dibenarkan dalam lanskap beragama 
kalangan Nahdliyyin yang memiliki paham Aswaja (Ahlussunnah Waljamaah) dengan 
fondasi tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), musawah 
(setara), dan al-adl (adil). 

Rumusan Aswaja seperti ini telah membingkai karakter Islam keindonesiaan yang 
dikembangkan NU untuk bergaul dan bersikap dalam sekian banyak perbedaan 
beragama dan berkeyakinan. 

Inilah fikrah nahdliyyah yang sedang dirajut kembali di tengah maraknya aliran 
keagamaan yang ada di Indonesia. NU sebagai ormas Islam terbesar tetap eksis 
dengan pemikiran dan perilaku keberagamaan yang moderat, tanpa harus dipaksakan 
kepada kelompok lain. Karakter keislaman yang dibangun NU tidak lain untuk 
membingkai Islam keindonesiaan yang terus berkembang di tengah perubahan sosial 
yang berjalan begitu cepat. 

Maka, di forum munas dan konferensi besar inilah NU perlu meneguhkan 
karakternya yang paling dasar, yakni merajut Islam keindonesiaan yang berwatak 
moderat, toleran, dan damai. 

Khamami Zada Panitia Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar NU; Manajer Program 
Kajian Agama dan Kebudayaan PP Lakpesdam NU 



[Non-text portions of this message have been removed]



______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke