Sekedarnya saya ingin memberikan realita dari apa yang terjadi dalam 
tubuh PKS di Mesir, mungkin lebih tepat dikatakan sebuah 
keprihatinan terhadap dominasi kekuasaan yang amat berlebihan, 
sehingga akibatnya terjadi pencampur adukkan antara wilayah publik 
dan wilayah privasi bagi komunitas mahasiswa yang berdomisili di 
Mesir.
Akhir-akhir ini semarak gaung PKS dalam mengkampanyekan slogan 
partai dakwahnya di tanah seribu menara menjadi sangat merisaukan, 
dikarenakan apa yang digagas dan dibidangi oleh para kader PKS Mesir 
telah berusaha memasuki daerah preogratif setiap personal mahasiswa. 
Misal, ketika para antek (Saya membahasakan kader sama dengan antek) 
PKS -garis bawah para antek, bukan atas nama organisasinya- pada 
bulan april 2006 silam mendirikan sebuah institusi yang 
bernama, "Tim Pemerhati Interaksi Mahasiswa (TPIM)" yang lebih saya 
sama dengankan dengan polisi syariah mahasiswa, terlihat jelas apa 
yang menjadi misi utama mereka adalah mengatur soal hubungan antara 
mahasiswa putra putri, sekaligus menegaskan di muka umum untuk 
menerapkan sistem model interaksi yang ideal dimata mereka bagi 
lingkungan para Mahasiswa Indonesia Mesir (Masisir). 
Disini terlihat hegemoni kekuasaan yang sangat tidak perlu dan 
adanya pemaksaan kaum imperialis kepada orang lain yang bersebelahan 
pendapat dengan mereka. Apalagi institusi ini didukung sepenuhnya 
oleh partai yang mengatasnamakan dakwah dan memiliki anggota paling 
banyak di Mesir. Kejadian ini seolah mengingatkan saya ketika di 
jaman orde baru dimana bangsa Indonesia digiring kepada satu 
ideologi dan asas tunggal yang berkedok nasionalisme serta dibayangi 
oleh aktifitas spionase, mata-mata, informan, premanisme, penculik 
gelap, dan sebagainya. Begitu juga dengan lembaga `anak bawang' PKS 
ini (TPIM), yang mulai sedikit demi sedikit menyebarkan informan 
untuk menanyai mahasiswa yang terlihat sedang berjalan dengan 
mahasiswi. Ditanyai status pernikahannya, atau apalah.
Kadang saya mempertanyakan perlakuan mereka para orang iseng ini, 
apa hak mereka bertanya seperti itu, toh kalaupun mereka tahu status 
orang-orang yang ditanyai sudah menikah atau belum, maka tidak patut 
mereka langsung menyeret ke lembaga hukum atau pihak berwenang 
setempat, dalam hal ini Kedutaan Besar Republik Indonesia, sebab 
jika memang sampai mereka melakukan itu, tak pelak sebuah chaos akan 
muncul di ranah mahasiswa Indonesia Mesir.
Teman saya yang biasa memberikan bimbingan belajar bagi para pelajar 
baru yang belum terbiasa membaca literatur-literatur berbahasa arab, 
makin heran dengan sikap antek PKS membentuk  tim tersebut. Karena 
bisa jadi nanti kalau otoritas tim ini makin membesar, maka akan ada 
sebutan Bimbingan illegal dan bimbingan legal, lantas akan muncul 
birokrasi baru yang mengharuskan bagi siapa saja yang hendak 
membimbing pelajaran harus melapor pada lembaga itu tadi.
Sedangkan dilain sisi, organisasi pusat Persatuan Pelajar Mahasiswa 
Indonesia (PPMI) seperti tidak mau mendengar protes dan kritikan 
dari mahasiswa lain yang berbeda pendapat mengenai TPIM tersebut. 
Ibarat masuk lewat telinga kanan, dan keluar jadi congek dari 
telinga kiri. Hal ini mungkin dapat saya maklumkan, karena dalam 
tubuh struktural PPMI  sendiri pun, dari mulai Majelis 
Permusyawaratan Anggotanya hingga pengurus hariannya sudah 
tersusupi, bahkan dikuasai oleh para antek PKS. Lalu sampai dimana 
arti kebebasan berpikir dan sikap bagi para mahasiswa Mesir? Kalau 
saudari mahasiswi teman saya bilang, "Memangnya kita anak SMA yang 
sedang diajari tentang pacaran? Kita sudah melewati masa pubertas 
dan interaksi antara lawan jenis adalah persoalan biasa dalam hidup 
kita."
Sikap antek PKS di tubuh PPMI Mesir semakin jelas antipatinya 
terhadap kebebasan aktifitas dan berpikir ketika melaksanakan aksi 
diam terhadap program Kedutaan Besar Republik Indonesia yang hendak 
mengadakan lomba festival band untuk memeriahkan acara hari tujuh 
belas agustus 2006 nanti. Karena sudah menjadi rahasia umum bahwa 
doktrin mereka terhadap musik secara garis besar adalah haram. 
Walaupun ada persepsi lain yang mengatakan soal jenis musik yang 
diperbolehkan adalah memakai gendang dan suara vokal manusia saja, 
akan tetapi kejumudan (kekakuan) para aktifis PKS yang sekarang 
telah berkuasa ini sangat mengundang kontroversi dalam pergaulan 
mahasiswa Indonesia Mesir itu sendiri.
Kemudian ketika saya sering mendengarkan simbolisasi Arabian yang 
digunakan para kader PKS dalam berbicara dan bergaul dengan 
lingkungan sekitarnya, adalah menurut saya lebih menunjukkan 
ekslusifitas ketimbang maksud dan tujuan mereka yang menyuarakan 
suatu pergualan bernuansa Islami, padahal pengertian Islami sendiri 
bagi saya adalah bukan kita harus mengganti setiap kata bahasa baku 
kita sebagai bangsa Indonesia menjadi bahasa Arab. Kalau kita memang 
mempunyai bahasa sendiri kenapa tidak gunakan bahasa saya, aku, 
nyong, beta, abdi untuk berbicara, daripada mengubahnya menjadi ana, 
toh kita bukan berbincang-bincang dengan orang asing.
Fenomena semacam ini tak lepas dalam kehidupan budaya sehari-hari 
para kader PKS di tanah kinanah. Sehingga dengan efek samping sebuah 
hierarki basa-basi dapat menyelimuti seluruh tatanan pergaulan 
mahasiswa Mesir menjadi terdoktrinisasi. Dogma-dogma semacam itu 
juga dapat dibuktikan pada liqa dan halaqah yang sering diadakan 
oleh PKS. Mungkin saya setuju dengan tujuan praktis diadakan 
perkumpulan semacam itu adalah agar sesama umat muslim dapat saling 
menguatkan dan bermuhasabah serta saling berbagi pengetahuan 
mengenai Islam, agama yang benar. Namun ketika saya dihadapkan 
kepada adanya tingkatan pangkat dalam perkumpulan semisal; Murabbi, 
mursyid, musrif, dan sebagainya, maka saya lebih menolak untuk masuk 
kedalamnya. Karena bagi saya agama itu bukan doktrin, agama itu 
adalah sebuah kesadaran batin.
Tingkatan pangkat ini mengingatkan saya akan istilah jabatan dalam 
kemiliteran. Sudah pasti dimana ketika satu orang saja mempunyai 
jabatan tertinggi, maka ia dapat menguasai yang lainnya, bahkan 
memerintahkan, atau memarahi orang lain yang berpangkat rendah 
dibawahnya. Fenomena dogma dan militerisme dalam tubuh kader PKS 
dapat terlihat pada permasalahan seperti pernikahan. Para kaderawati 
PKS atau lebih dikenal di Indonesia dengan Mujahidah, didoktrin 
dalam perkumpulan yang mereka hadiri untuk menjadi seorang wanita 
yang harus patuh dan mengikuti apa kata suami, kalau tidak taat, 
jelas hukumannya neraka. Premis akhir berupa `masuk neraka' 
sebenarnya adalah sebuah hak absolut yang dimiliki Allah SWT, tetapi 
ketika memasuki kancah pergaulan dalam tubuh PKS hal tersebut 
menjadi keputusan biasa untuk menjustifikasi siapa saja yang 
bertentangan dengan mereka. Sewaktu saya memperlihatkan sebuah novel 
karangan Djenar Maesa Ayu yang mendapatkan penghargaan Khatulistiwa 
dalam bidang sastra kepada seorang teman kader PKS, maka ia langsung 
mengoceh tanpa membaca terlebih dahulu buku tersebut dengan kata-
kata, "Buku setan.". Sebagai orang yang sangat menaruh perhatian 
khusus dalam sastra, saya menjadi takjub, sedemikian kuatkah 
penanaman doktrin mereka dalam dirinya, yang menurut saya lebih 
mudah disebut sikap sradak-sruduk. 
Ajaran `kalau tidak patuh pada suami akan masuk neraka' diatas 
seakan menjadi semacam cengkraman menakutkan bagi para mahasiswi 
Mesir yang mempunyai pemikiran bahwa sebuah pernikahan harus 
dijalani bersama-sama dalam suka dan duka, tanpa harus mengedepankan 
ego dan mau mengalah untuk menjalin sebuah keharmonisan berumah 
tangga. Maka dari itu tak jarang keluhan mereka secara samar muncul 
ditengah-tengah diskusi kusir mengenai pernikahan. 
Siasat antek PKS Mesir untuk menguasai lini pernikahan juga terwujud 
dalam dukungan mereka yang menukangi sebuah lembaga fasilitator yang 
telah berdiri beberapa tahun sebelum TPIM, dengan nama Ruhama. Biro 
jodoh bernuansa agamis tersebut mulai sering digunakan oleh banyak 
murabbi PKS untuk menawarkan para anggota wanitanya demi meraih 
sebuah pernikahan, apalagi yang paling miris saya dapatkan, adanya 
statement bahwa dengan cara pernikahan melalui model Ruhama tersebut 
adalah pernikahan yang mawaddah wa rahmah dan telah mengikuti sunnah 
Rasul. Padahal jika ditilik lebih dalam, nampak adanya kepentingan 
dari para atasan untuk memasang-masangkan atau menjodoh-jodohkan 
antara si A dan si B. 
Sebut saja misal si A adalah seorang wanita, ketika ia mengajukan 
diri kepada murabbinya tentang pernikahan, maka si murabbi tadi akan 
meminta lembaga Ruhama untuk mencarikan pasangan yang sesuai, 
ironisnya dari fasilitator itu sendiri kadang muncul ungkapan telah 
mahjuzah, atau telah dipesan. Padahal kalau memang Ruhama adalah 
sebuah lembaga yang adil dan fair seharusnya mengerti jika yang 
namanya proses ta'aruf adalah bukan sudah pasti akan menikahi si 
wanitanya. Dalam proses ta'aruf ada yang dinamakan Atsar, atau 
menolak untuk menikah, terserah dari pihak wanita atau prianya. Maka 
dari itu tidak sepantasnya ada kata telah dipesan tadi. Kalau memang 
bertujuan menjunjung tinggi keadilan dan kejujuran, seharusnya 
ketika si wanita tadi telah siap untuk menikah, dan ternyata ada 
beberapa pria yang ingin berta'aruf dengannya, maka beritahu saja 
secara terus terang, dan biarkan si wanita berkesempatan untuk 
berta'aruf dan menentukan diantara pria-pria tadi, salah satu siapa 
yang ia pilih.
Praktek ketidak jelasan non sportif dalam tubuh Ruhama ini adalah 
adanya ikut andil dari orang yang berpangkat murabbi. Sengaja ia 
membisikkan kepada Ruhama untuk berkata telah dipesan, karena 
murabbi itu telah menjodohkan wanita anak bimbingannya dengan pria 
lain yang menurutnya sesuai dan cocok. Ketika menemukan peristiwa 
ini saya sempat berkomentar bahwa hak-hak murabbi tadi telah jauh 
melewati batas orang tua wanita itu sendiri. Namun tidak dapat 
dipungkiri jika hal ini memang ada dan terjadi dalam dunia mahasiswa 
Indonesia Mesir.
Usaha PKS Mesir untuk mencampur adukkan wilayah publik dan privasi 
makin gencar, menguasai lini setiap pergaulan mungkin menjadi tujuan 
utama mereka. Yang jelas ketika sebuah ideologi ditungkangi oleh 
berbagai politisasi kepentingan, maka tak pelak lagi saya katakan 
dalam puisi saya, Takut Bukan Sama Tai Kucing.
 
Takut bukan Sama Tai Kucing
 
Kita tidak mungkin bisa hidup bebas kalau bukan karena melawan. 
Kredo kritis kita nyatanya masih terbelenggu dalam aral.
Ketakutan yang hanya bisa menyeru tabu di mulut 
Bersembunyi di keliaran hati,  di sela keberanian tolol yang basa-
basi.    
Disaat para manusia waras dan mengaku berTuhan berhasil membalas 
dendam kusumat atas sejarah, 
Maka ideologi akan menjadi kambing hitam untuk sebuah penyembelihan 
besar-besaran. 
 
Kupret El Kazhiem
Mahasiswa Al-Azhar Mesir, Fakultas Syariah Islam.
Url: http://kupretist.multiply.com









______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke