ustad ini masalah order, kok bisa2nya lari ke sana dan ke mari, kemarin kita bicara world order yakni tentang peranan iran dalam kancah global, eh ama ustad dilarikan pada maharijul huruf bahwa rasulullah adalah mahluk yang paling fasih, itu kayaknya orang NU terutama anak2 muda NU udah tahu dan mungkin mereka tahu bahwa itu sama sekali tidak kaitan gitu lho..
Machfudz Noor <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Subhanallah wa bihamdihi, Nampaknya sudah sedemikian dalamnya analis agama, menurun kebawah, menyepelekan agama dan mengutamakan Hadlari, tamaddun (civilisation). "Bukan sekedar...tutup aurat, tapi baju itu hiasan (yg lebih utama)" Agama itu SEPELE, Shahdat, Shalat, puasa, zakat, ibadah haji, itu tidak penting. Misi agama bukan meng-Esakan Allah, bukan ibadah. Misi sebenarnya adalah civilisation dan moderenisasi. Inilah akibatnya apabila agama (ibadah, taqarrub, mengejar FADLUR RAHMAN, WA RIDLWANUHU) di masukkan kedalam curriculum academy. Menurunkan derajat Lima waktu Fardlu dari tingkt setinggi Mi'raj ke Sidratul Muntaha, menurun sampai ke Afghanistan, Iraq, Qana (Lebanon) dan masih akan jauh maju lagi... Wallahu a'alam, M.Noor -MGR- <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Mbak Fath, Mau nambah diskusi tentang Islam Hadhari... http://www.korantempo.com/korantempo/2006/07/30/Ide/krn,20060730,33.i d.html Minggu, 30 Juli 2006 Ide Hadirnya Islam Hadhari Mohamad Guntur Romli Aktivis Jaringan Islam Liberal "Indeed, Islam is more than just a religion. It is a civilization." Demikian sebaris kalimat dari pidato yang disampaikan oleh Perdana Menteri Malaysia Abdullah Ahmad Badawi ketika dianugerahi gelar doctor horis causa dalam bidang pemikiran Islam oleh Universitas Negeri Islam, Jakarta, Senin lalu. Pada kesempatan itu, Badawi mengenalkan Islam Hadhari, yang berasal dari gagasannya. Saat ini konsep Islam Hadhari tersebut menjadi tema berita, diskusi, dan perbincangan di negerinya. Berita itu dilengkapi dengan tudingan bahwa Badawi hendak membangun sebuah mazhab, sekte, bahkan agama baru. Makna sederhana dari Islam Hadhari adalah Islam Peradaban, seperti yang saya kutip dari pidatonya di atas. Badawi menandaskan bahwa Islam lebih dari sekadar sebuah agama, tapi juga sebuah peradaban. Dalam ranah ini, Badawi sebagai pemimpin Islam di negeri berpenduduk mayoritas muslim telah membuka pendekatan dan pemahaman tersendiri tentang Islam. Ini berbeda dengan kalangan Islam Politik, yang memahami Islam sebagai alat kekuasaan. Bagi mereka, Islam adalah agama dan negara (al-Islam din wa dawlah). Karena itu, dalam keyakinan mereka, setiap muslim yang taat dan saleh tidak hanya cukup menjalankan ritus-ritus keagamaan, tapi juga harus berjihad mendirikan sebuah negara Islam. Inilah cita-cita yang juga diusung oleh Partai Islam Se-Malaysia (PAS) ataupun semua kelompok Islam Politik di dunia, yang berujung-pangkal pada ideologi kekuasaan kelompok Ikhwanul Muslimin di Mesir. Perdebatan dan perebutan wacana keislaman akan terus bergulir di Malaysia, antara Islam Peradabannya Badawi dan Islam Kekuasaannya PAS. Hemat saya, merambah Islam melalui jalur lain, selain jalur kekuasaan dan negara, amatlah penting. Soalnya, menyangkut segala keonaran dan kekerasan, yang kita jumpai saat ini di pelbagai tempat yang mengatasnamakan agama, hakikatnya mereka hanya mengendarai Islam di jalur kekuasaan. Bagi mereka, Islam hanyalah tunggangan yang akan menghantarkan mereka menuju kepentingan dan tujuan mereka sendiri. Tujuan ini pun ditempuh dengan menghalalkan segala cara (al-ghâyah tubarrir al-wasîlah), misalnya aksi-aksi kekerasan dan terorisme, pengafiran terhadap pihak-pihak yang mereka anggap sebagai musuh, sekaligus ancaman pembunuhan. Semua itu mereka halalkan karena untuk membangun negara Tuhan di bumi ini. Untuk itu, slogan Islam sebagai agama dan sebuah negara ataupun khilafah bukanlah pemahaman yang baku dan sakral. Dalam konteks ini, seperti yang juga disampaikan oleh Badawi berkali-kali, kemaslahatan Islam bertujuan untuk penguatan umat (al-ummah). Di sinilah seorang pemikir Mesir, Gamal al-Banna, menorehkan gagasan-gagasannya dalam sebuah buku yang berjudul Al-Islâm Dîn wa Ummah, Laysa Dîn wa Dawlah (Islam Adalah Agama dan Keumatan, Bukan Agama dan Negara). Gamal ingin membuka pendekatan lain tentang Islam, yang berbeda dengan pendekatan kakak kandungnya sendiri, Hasan al-Banna, pendiri Ikhwanul Muslimin. Untuk itu, slogan Islam Dîn wa Dawlah yang berasal dari gagasan kakaknya itu, dan saat ini menjadi ideologi utama kelompok Islam Politik di segala penjuru, ia kritik dan ia bantah. Dalam wawancara dengan harian Utusan Malaysia, 12 Februari 2005, Badawi menjelaskan bahwa melalui Islam Hadhari, ia tidak sedang membangun sebuah agama baru, yang selama ini dituduhkan oleh kelompok fundamentalis Islam di Malaysia. Islam Hadhari adalah sebuah pendekatan saja. Sebuah penafsiran dan pemahaman. Ia bukan mazhab baru, ideologi baru, apalagi sebuah agama baru. Semisal tudingan yang dialamatkan kepada Badawi ini, banyak dijumpai juga di negeri jirannya, Indonesia. Seseorang ataupun sekelompok orang yang berusaha menafsirkan ajaran agamanya akan dengan cepat dituduh telah membangun sebuah agama baru. Dalam wawancara itu juga Badawi menanggapi perdebatan mengenai syariat Islam di negerinya, yang dipahami secara parsial. Syariah Islam yang dipahami hanya sebagai peranti hukum pidana. Penegakan syariat Islam adalah penerapan hukum cambuk, rajam, dan pancung, tidak lebih dari itu. Untuk itu, Badawi memaparkan prinsip-prinsip dari maqâshid al-syarî'ah sebagai religio etik dari syariat Islam. Baginya syariat Islam adalah jalan untuk menghampiri lima tujuan primer (al- dlaruriyat wa al-kulliyat al-khamsah), yaitu hifdz al-dîn (menjaga agama), hifdz al-'aql (menjaga akal), hifdz al-'irdl (menjaga kehormatan), hifdz al-nasl (menjaga keturunan), dan hifzd al-mal (menjaga harta). Dan Islam Hadhari ini memiliki sepuluh prinsip, yang tidak hanya menjadi saripati konsep Islam Hadhari tersebut, tapi juga menjadi agenda pemerintah Badawi sejak ia menjabat sebagai Perdana Menteri Malaysia mulai 2003. Sepuluh prinsip tersebut, pertama, keimanan dan ketakwaan kepada Ilahi. Kedua, pemerintah yang adil dan beramanah. Ketiga, kebebasan dan kemerdekaan rakyat. Keempat, penguasaan ilmu pengetahuan. Kelima, pembangunan ekonomi yang seimbang dan komprehensif. Keenam, kehidupan yang berkualitas. Ketujuh, pembelaan terhadap hak kaum minoritas dan perempuan. Kedelapan, keutuhan budaya dan moral. Kesembilan, pelestarian sumber daya alam dan lingkungan. Kesepuluh, penguatan persatuan dan pertahanan. Jika kita amati secara jeli sepuluh prinsip tadi, Islam Hadhari tidak berbeda dengan prinsip-prinsip masyarakat dan negara modern. Di sinilah Islam dipahami sebagai sumber inspirasi lain, yang ikut melengkapi dan memperkaya nilai-nilai keunggulan peradaban, yang telah ditemukan dalam sepanjang sejarah manusia. Keunggulan tersebut tidak bersumber dari agama, tapi dari pergulatan pengalaman manusia. Islam bukan untuk menghancurkan sebuah peradaban yang telah ada, tapi untuk melestarikan dan mengukuhkannya. Jika kita mau jujur terhadap sejarah, sebutan peradaban Islam yang pernah berjaya di abad pertengahan, dengan munculnya kota-kota besar, seperti Damaskus, Bagdad, dan Kairo, merupakan kelanjutan dari peradaban-peradaban besar sebelumnya. Islam sebagai agama dan peradaban adalah proses dari penyempurnaan penemuan dan kemajuan yang telah mendahuluinya. Jika demikian halnya, Islam Hadhari pun tidak perlu ditanggapi secara berlebihan. Sebagai sebuah gagasan, Islam Hadhari tidaklah terlalu maju dan baru. Konsep yang hampir sama di Malaysia sendiri pernah dicetuskan oleh Mahathir Mohamad dengan Tamadun Islami dan Anwar Ibrahim dengan Islam Madani. Saya kira di sinilah setiap pemimpin di Malaysia perlu memiliki wacana khusus untuk menyebut keislaman yang mereka pahami. Secara langsung atau tidak, wacana tersebut akan bertarung dengan wacana keislaman yang diusung oleh kelompok fundamentalis Islam Malaysia. Dalam konteks ini, wacana-wacana keislaman tersebut rentan juga dengan kepentingan dan kekuasaan. Baik Mahathir, Anwar, Badawi, maupun PAS memiliki kepentingan di balik wacana keislaman tersebut. Namun, yang perlu secara sadar dipahami adalah proses penggunaan wacana Islam itu, bukan tujuannya. Terlalu naif jika sebagai insan politik, baik Mahathir, Anwar, maupun Badawi serta tokoh-tokoh PAS tidak memiliki kepentingan politik. Tapi bagi saya, Mahathir, Anwar, dan Badawi sebagai pemimpin yang beragama Islam telah berani melakukan penggalian dan pemahaman tersendiri terhadap Islam. Wacana keislaman yang mereka gunakan, meskipun rentan kekuasaan, adalah bentuk dari pemahaman dan penafsiran tersendiri terhadap Islam. Jikapun mereka gagal dengan konsep dan gagasan itu, kesalahan berpulang pada gagasan dan pemahaman tentang Islam, bukan Islam sebagai agama. Sementara itu, di tepi lain, wacana keislaman yang dipakai PAS dan kelompok fundamentalis Islam Malaysia lainnya bukan pemahaman dan penafsiran terhadap Islam, tapi sungguh, Islam sebagai sebuah agama. Dalam pertarungan kekuasaan, mereka tidak menyisihkan sedikit pun jarak, antara Islam sebagai sebuah pemahaman dan Islam sebagai agama. Bukti yang paling nyata adalah tidak ada keragaman pemahaman dan pendekatan lain terhadap Islam. Inilah ciri khas yang mudah dijumpai dalam kelompok-kelompok Islam fundamentalis dan radikal, yang mematikan segala penafsiran baru dan pendekatan lain terhadap Islam. Bagi mereka, pemahaman Islam hanyalah satu, berkelindan dengan kesakralan dan kebenaran mutlak agama itu sendiri. Hemat saya, tantangan terbesar bagi keberhasilan Islam Hadhari bukan pada penerapan prinsip-prinsip keislaman, tapi prinsip-prinsip peradaban dan kemodernan itu sendiri. Karena itu, secara sadar, sikap Badawi terhadap globalisasi dan modernisasi bukan menolak, tapi memahaminya sebagai kesempatan dan peluang. Sulit memang jika ada penawaran alternatif lain pada periode ini untuk membangun sebuah peradaban lain, selain peradaban modern. Untuk itu, melalui konsep Islam Hadhari ini, Badawi menjadikan Islam sebagai pelengkap saja dari kemajuan modern. Dan, seperti keyakinannya, menjadi modern tidak perlu menjadi Barat. Sebab, kemajuan dan modernitas bukanlah hak milik sepihak dari ras, kawasan, bangsa, dan periode sejarah tertentu. --- In [email protected], "Fathonah K. Daud" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Prediksi saya bahwa "Islam Hadhari" yang tengah digelindingkan oleh Pak Lah > kalau tidak akan mati prematur, akan mati secara perlahan atau hanya tinggal > wacana. Karena kontribusi orang Melayu kurang, mereka tak kreatif, tak mau > bersaing, mudah lupa dan kelompok konservatif sangat dominan. Membuat > pemikiran Islam di Malaysia statis, nyaris beku. Jadi jangan diharap ia akan > langgeng. > > Kejayaan Malaysia sekarang ini adalah bukan pencapaian dari penduduk pribumi > (kalaupun ada itu hanya sedikit) tapi dimajukan oleh non-pribumi dan > pendatang asing. > > Memang kita patut memuji dan mencontohi perpaduan kaum di Malaysia yang > hidup rukun dan penuh tolerans, hak-hak individu begitu diperhatikan, > elemen-elemen sosial semakin diambil kira dan representasi berdasarkan > kelompok agama sangat susah diwujudkan. Atau barangkali yang terakhir inilah > sebagai "spirit" untuk membangun Islam Hadlari di sana??? > > Salam, > Fath > ----- Original Message ----- > From: "Anis Masduki" <[EMAIL PROTECTED]> > To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>; > <[email protected]> > Sent: Tuesday, August 01, 2006 2:05 AM > Subject: [kmnu2000] Tantangan "Islam Hadhari" > > > > Tantangan "Islam Hadhari" > > > > By Luthfi Assyaukanie > > Source: Media Indonesia, 28/07/2006 > > > > Perdana Menteri Malaysia, Abdullah Ahmad Badawi, pada Senin kemarin > > (24/7) dianugerahi gelar doktor honoris causa oleh Universitas Islam > > Negeri (UIN), Jakarta, karena kontribusinya dalam menyebarluaskan > > gagasan kemajuan Islam. Badawi memang dikenal sebagai tokoh nomor > > satu > > di Malaysia yang sangat peduli dengan wacana kemajuan Islam di > > negeri > > jiran itu. Dia tercatat sebagai orang yang memperkenalkan > > istilah "Islam Hadhari." > > > > Lebih lanjut: > > http://www.assyaukanie.com/articles/tantangan-islam-hadhari > > > > Salam, > > Luthfi > > http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir > dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. > > ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ > > > > Yahoo! Groups Links > > > > > > > > > > > > > > > > > --------------------------------- Try the all-new Yahoo! Mail . "The New Version is radically easier to use" The Wall Street Journal [Non-text portions of this message have been removed] --------------------------------- See the all-new, redesigned Yahoo.com. Check it out. [Non-text portions of this message have been removed] ______________________________________________________________________ http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
