Lama saya gak buka email, eh tiba2 ada Yuli
Hi Yul, apa kabar? Kok baru nongol..

Munculnya wacana nikah misyar ini menunjukkan bahawa
bidang fiqh mempunyai spektrum yang luas, sampai2 ada
masalah nikah yang memberikan kebebasan bagi
suami untuk tidak memberikan nafkah (dhahir) bagi
wanita (istri). Bagi saya model nikah misyar ini
bukanlah isu baru, tetapi istilahnya yang baru. Nikah
model begini memang sah2 aja asalkan karena beberapa
sebab/alasan yang memungkinkan dan haerus ada
kesepakatan dari kedua pihak. Tetapi harus
diingat bahwa nikah model begini adalah hanya terbatas
untuk kondisi tertentu! Dan saya tidak membahas yang
dalam pengecualiaan ini. seperti yang sudah
dicontohkan oleh sahabat2 di sini, karena itu tak
membawa masalah.

Namun, yang saya sangsikan adalah prakteknya! saya
khawatir ia akan disalahgunakan (entah karena
misunderstanding atau kesengajaan) oleh
masyarakat luas. Ini berbahaya karena ia akan membawa
dampak kepada penindasan wanita tersebut (terlebih
jika mereka mempunyai aanak), siapa yang nangung?

Bagi saya suatu hukum itu harus tetap mementingkan
kemaslahatan dan mempunyai penekanan pentingnya
konteks sosial. Ingat umat Islam hari ini
masih mewarisi banyak pemikiran Islam yang bias
gender. Kalau zaman dulu no problem lelaki tidak
memberi nafkah kepada isteri karena sistem masyarakat
dahulu lebih bersifat kolektif, pada umumnya hidpu
berkelompok dalam satu keluarga besar (extended
family). Jadi barangkali tugas dan tanggungjawab
bisa dipikul bersama dalam keluarga besar itu. Tetapi
zaman sekarang? meskipun wanita karir, apakah ia tidak
malah memberatkan kepada wanita tersebut untuk
menanggung "beban ganda". Sekali lagi ini bukan pasal
zaman modern dan emansiapasi wanita.

Justeru jika demikian halnya, saya ingin bertanya
tentang konsep "qawwam (tanggungjawab)" dalam
"al-rijalu qawwamuna ala al-nisa". Bagaimana
penjabaran ayat tersebut, jika nikah misyar
disalahgunakan?

Salam,
Fath (bukan el-wafi)

--- rony_bjn <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Makasih saya ucapkan kepada Ibu/mbak Yuli Yasin yang
> ikut serta dalam 
> menanggapi Nikah Misyar : Praktek Perzinahan , Sex
> bebas , dan 
> Prostitusi ala Harokah. Aku terus terang apresiatif
> dengan yang mbak 
> Yuli katakan, ternyata di zaman yang serba harus
> demokrasi ini
> (termasuk kesetaraan gender) masih ada yang masih
> bersifat "apapun 
> permaslahannya kalau hukum syariat islam yang
> bicara, maka itulah 
> yang harus ditegakkan dan dilaksanakan".
> Saya (mahasiswa Al-Azhar) masih akan tetap menunggu
> dari tanggapan-
> tanggapan atau sanggahan atau mengangkat
> problematika kontemporer...
> 
> --- In [email protected], Yuli Yasin
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > yang saya tau -mungkin pengetahuan saya yang
> dangkal-
> > yang dimaksud dengan nikah misyar adalah
> pernikahan
> > yang cukup syarat dan rukunnya (ijab
> qabul,saksi,tidak
> > ada pembatasan waktu seperti yg terjadi dlm nikah
> > mut'ah, dan mahar)antara laki-laki dan perempuan
> > dengan membebaskan kewajiban nafkah dari
> > suami.pembebasan nafkah ini bisa karena berbagai
> > sebab, di antaranya; kemapanan pihak perempuan,
> > seperti wanita karir misalnya sehingga dia ridho
> tidak
> > diberi nafkah oleh suaminya.. Bisa juga karena
> kondisi
> > materi suami yang belum memungkinkan, seperti
> kasus
> > pernikahan antar mahasiswa n makasiswi, nafkah
> > keduanya masih menjadi tanggungan ortu
> masing-masing,
> > tentu saja atas kelegowoan ortu perempuan. Tidak
> semua
> > perempuan atau ortu yang setuju putrinya menikah
> > dengan cara seperti ini tapi tidak sedikit tuh
> ortu
> > yang mendukung putrinya untuk segera ke pelaminan
> atas
> > tanggungan mereka daripada hatinya was-was
> memikirkan
> > putrinya berada di negeri orang tanpa muhrim. Jadi
> > intinya saya setuju dengan pendapatnya mas/pak
> rony
> > bahwa nikah misyar selama memenuhi syarat n rukun
> di
> > atas ya boleh-boleh saja. Tapi tidak berarti saya
> > sebagai perempuan mendukung n menganjurkan nikah
> > misyar loh, karena walau bagaimana ini bukan model
> > ideal yang dianjurkan agama. Saya pribadi ndak mau
> > melakukan nikah misyar (klo yang laki2 welcome
> banget
> > kali ya??) namun ada kondisi-kondisi tertentu yang
> > menjadikan nikah misyar sebagai solusi, sebagai
> misal
> > 2 contoh di atas. Jadi mba enah justru nikah
> misyar
> > adalah tawaran solusi bagi perempuan yang tidak
> > berkesempatan menikah ideal (suami yang memberi
> > nafkah) sekarang tinggal para perempuan yang
> bertanya
> > pada nuraninya masing-masing? siapkan anda menikah
> ala
> > misyar? sekali lagi ini tidak merupakan paksaan
> hanya
> > tawaran...yang mau silahkan, yang nggak mau, nggak
> > dipaksa..
> > Untuk mas/pak He-man, saya kok ndak nyambung
> dengan
> > statemen sampeyan bahwa nikah misyar merupakan
> bentuk
> > prostitusi ala harokah, dilihat dari mananya ya
> > mas/pak?
> > 
> > --- rony_bjn <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > 
> > >  Apa yg di utarakan Ibu/Mbak (maaf klo salah
> sebut)
> > > Ena Nakiah memang
> > > benar, akan tetapi itu hanya sebatas wacana
> kalau
> > > menurut saya. Sebab
> > > itu bukan memecahkan masalah melainkan menambah
> > > beban yang sedemikian
> > > beratnya yang harus di tanggung oleh salahsatu
> > > pasutri ketika diantara
> > > keduanya ada dalam jarak yang berjauhan. karena
> > > tidak dapat di
> > > pungkiri bahwa kemmpuan seseorang dalam menahan
> > > kebutuhan biologisnya
> > >   itu ada batas maksimalnya, bahkan Syariat
> dalam
> > > hal ini telah
> > > membatasi wanita blh mengajukan banding bilamana
> > > sang suami sdh lebih
> > > dari 4 bulan tidak mau menggumulinya
> > >  Diatas telah kita ketahui betapa islam
> sangatlah
> > > memperhatikan
> > > ummatnya, sampai suatu hal yang bersifat
> obyektif
> > > pun di bahas, saya
> > > katakan obyektif karena sebagian orang memang
> bisa
> > > manahan hal itu, tp
> > > sebagian yang lain tidak.
> > >  Jadi menurut hemat saya, kita harus kembali
> pada
> > > hukum fiqh yang
> > > telah mengatur hal ini. Sebagaimana telah kita
> > > ketahui bersama
> > > bahwasanya nikah mut'ah itu telah di
> nusakh(hapus
> > > hukumnya) setelah
> > > sebelumnya di halalkan, maka akan sangat sia-sia
> > > sekali kalau masih
> > > mengkaji ulang diperbolehkankah nikah mut'ah
> itu?
> > > karena ulama' dalam
> > > hal ini sudah ijma' "di haramkannya nikah
> mut'ah".
> > >  Adapun yang jadi perdebatab hangat adalah nikah
> > > misyar ini, karena
> > > memang ini merupakan problematika kontemporer
> yang
> > > menjadi pr kita.
> > >  Nikah misyar pada dasarnya sama dengan praktek
> > > nikah pada umumnya
> > > yang tentunya sudah benar menurut syariat, cuma
> yang
> > > membedakan ialah
> > > nikah misyar tidak di landasi tujuan utama dari
> > > membina rumah tangga
> > > (sang suami yang harus bertanggung jawab
> sepenuhnya
> > > akan segala
> > > sesuatunya terhadap sang istri meliputi nafaqah
> > > zahir&batin) karena
> > > dalam praktek nikah misyar ini sang suami sudah
> > > menyatakan
> > > ketidaksanggupannya dalam menafaqah zahir
> terhadap
> > > sang istri. oleh
> > > sebab itu kalau di tinjau dari segi asas hukum
> fiqh
> > > yang bersifat pada
> > > hukum zahir, maka saya mengatakan kalau nikah
> misyar
> > > adalah mubah,
> > > karena di tinjau dari rukun syaratnya sudah
> > > terlaksana semua, dan
> > > ketidaksanggupan suami yang sudah
> diridlai(setujui)
> > > sang istri adalah
> > > jawaz. Silahkan cek kefalidan pendapat saya ini
> di
> > > kutubulfiqh
> > > mu'tabarah.....
> > > 
> > > --- In [email protected], Ena Nakiah
> > > <ena_nakiah@> wrote:
> > > >
> > > > 
> > > > 
> > > >           Saya ingin menulis tentang maraknya
> > > nikah kontrak, nikah
> > > poligami dan jenis nikah yang lain. Argumentasi
> saya
> > > tidak berdasar
> > > ada nash tertentu, tetapi pada segi nilai
> keadilan.
> > > Menurut saya,
> > > Islam memang memberikan aturan memperbolehkan
> nikah
> > > poligami pada
> > > kasus laki-laki yang hiperseks. Demikian juga,
> bagi
> > > istri yang tidak
> > > setuju dengan poligami, istri berhak dan bisa
> > > meminta cerai dengan
> > > suaminya dan diperbolehkan memilih pasangan lain
> > > yang mereka
> > > kehendaki. Sedangkan pada laki-laki normal
> menurut
> > > saya Islam
> > > memberikan aturan menikah bagi satu istri.
> > > > 
> > > > Apabila ada persoalan yang dihadapi oleh para
> > > turis asing, yang
> > > karena alasan jauh dari istrinya kemudian mereka
> > > melakukan nikah
> > > misyar atau nikah mut'ah? Bagaimana
> penyeselesaian
> 
=== message truncated ===


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke