SURAT JEMBATAN SEMBILAN:
     
   
  9.
   
   
  SEHARI DI NEGERI  BELANDA
   
   
   
  "Pesta  rakyat" yang berlangsung di halaman Wisma Duta Wasenaar, diikutsertai 
oleh ribuan orang [bisa mencapai 10.000 orang menurut dugaan Oratmangun],   
berlangsung sampai malam. Di samping bazar makanan, berbagai  acara kesenian 
berbagai daerah tanahair digelarkan di dua panggung di bawah rindang pohon 
berdaun hijau diusik oleh semilir angin yang sejuk dari laut.  Acara dangdut 
makin menghangatkan suasana "pesta rakyat" HUT 61 ini. 
   
   
  Ketika menceritakan hal ini ke Dubes RI dan Athan KBRI Paris, dua tokoh kunci 
KBRI ini pun menjelaskan suasana meriah begini juga berlangsung di Paris. Sejak 
Adian Silalahi menjadi Dubes di Perancis, seiring dengan perkembangan politik  
serta imbangan kekuatan politik di Indonesia, aku melihat usaha KBRI Paris 
terutama -- karena memang di kota ini aku tinggal -- untuk menjadikan KBRI 
sebagai "betang [ rumah panjang, dalam bahasa Dayak Kalteng]  rakyat". Sejak 
A.Silalahi dan timnya, nampak benar usaha  KBRI keluar dari "getho", mendekat 
dengan masyarakat dan menjalankan diplomasi bersandar pada massa atau 
kerakyatan. 
   
   
   
  Menyesuaikan diri dengan kebijakan ini serta untuk memberi ruang padan untuk 
mengejawantahkan kebijakan diplomasi ini, maka Dubes RI yang sekarang untuk 
Perancis telah mengubah tataruang Wisma Duta di Paris  dan membangun ruang yang 
dinamakan "Balai Rakyat".  Kukira dalam konteks begini jugalah maka Djauhari 
Oratmangun mengatakan yang dinamakan orang Indonesia itu adalah semua mereka 
yang mempunyai darah Indonesia dan mencintai Indonesia tanpa mengindahkan hijau 
dan biru paspor. Karena keindonesiaan tidak ditandai oleh warna paspor. 
Perumusan begini, jika dilaksanakan dengan konsekwen akan mampu memobilisasi 
seluruh potensi "duta bangsa" di berbagai negeri demi kepentingan republik dan 
Indonesia. Sekali pun layak diikuti dengan hati-hati, terutama  dalam 
pelaksanaan kongkretnya, maka himbauan pulang pada para mereka yang dicabut 
paspornya oleh Orba dulu, bisa dimaknakan sebagai usaha mobilisasi seluruh 
cinta Indonesia demi kepentingan republik dan Indonesia yang sejajar
 dengan kemanusiaan. Dalam sejarah, terutama dalam menentang Orba, potensi 
orang klayaban dalam lobby dan diplomasi tidak bisa diremehkan. Juga dari segi 
ketrampilan tekhnis berbagai bidang ilmu. Mengapa kita mendorong mereka mejadi 
bagian dari arus "brain drain" dan mengapa tidak tenaga dan kebolehan mereka 
digunakan oleh RI sendiri? Mendidik tenaga ahli bukanlah sesuatu usaha berbeaya 
murah. Sadar akan hal ini maka pemerintah Perancis di bawah Jacques Chirac, cq. 
Menteri Dalam Negeri, Sarkozy, sekarang melakukan apa yang disebutnya "imigrasi 
selektif". Betapa pun terlambatnya perhatian pada orang klayaban ini, tapi 
lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Keterlambatan lebih 
memperlihatkan rumitnya pertarungan politik di tanahair, beratnya melakukan 
perobahan demokratis yang republiken dan berkeindonesiaan. Betapa tidak 
mudahnya keluar dari diktaturialisme dan militerisme. Berbicara tentang 
republik dan berkeindonesiaan sebagai rangkaian nilai, kukira, pada
 tempatnya jika TAP MPR yang melarang Marxisme itu dicabut. Tanpa mencabutnya, 
maka prasangka yang mengendalakan proses kerukunan republiken dan 
berkeindonesiaan serta himbauan pulang terhadap "kaum klayaban" hanya berhenti 
pada retorika dan kepentingan politik, terutama pemilu. Tidak menukik ke 
hakekat.
     
   
  "Pesta rakyat" begini kulihat merupakan suatu kesempatan bertemu antar  
orang-orang Indonesia dari berbagai kalangan dan tempat yang di Negeri Belanda 
jumlahnya sangat berarti. Berada di tengah "pesta" ini, aku merasa berada di 
Indonesia. Tak lagi kurasakan saling curiga atau harus pasang "kuda-kuda"  
saban bertemu dengan orang Indonesia, apalagi yang disebut dari KBRI. Pada masa 
Orba, KBRI oleh sementara kalangan dirasakan sebagai pihak yang bisa 
menimbulkan petaka serius sehingga tidak sedikit orang Indonesia yang berada di 
negeri orang, tidak mau atau dengan enggan melapor atau datang ke KBRI. Aku 
hanya bisa berharap bahwa semangat serta kebijakan diplomasi massa dan 
kerakyatan begini bisa bertahan dan berlangsung seterusnya seiring dengan 
terwujudnya rangkaian nilai republiken dan berkeindonesiaan. Berharap juga 
bahwa petinggi tidak memandang diri "dewa penentu hidup mati " warga tapi 
adalah pertama-tama sebagai sesama warga Republik dan manusia Indonesia sehingga
 dialog terbuka  yang berlangsung seperti dengan panglima AURI  baru-baru ini  
di Koperasi Restoran Indonesia atau dengan Dubes A.Silalahi, Dubes M. Ichsan,  
Dubes Rizal, Oratmangun, Lucia Rustam, Andreas Sitepu, Yuli Mumpuni, Athan 
Paris sekarang atau Jendral Drs. Gories Mere dari "Criminal investigation Board 
Directorate of Drug Enforcement & Organinized Crime.  Kukira, kita tidak usah 
ndakik-ndakik syok ngintelek mencari perekat baru antara kita, karena Republik 
dan Indonesia sebagai rangkaian nilai saja belum kita laksanakan, padahal 
rangkaian nilai ini masih aktual dan relevan. Yang kita lakukan justru 
kecenderungan mengkhianati rangkaian nilai ini. Memerosotkan republik menjadi 
kerajaan dan membawa  Indonesia ke arah sektarianisme agama atau etnik.
   
   
  Di tengah keramaian bertemu sesama Indonesia,  Radio Nederland Wereldomroep, 
yang juga kita kenal sebagai Radio Hilversum, berbahasa Indonesia, melakukan 
siaran hidup dengan Tossi sebagai moderatornya, membahas berbagai soal [Lihat: 
Lampiran]. Siaran langsung dilakukan dari Wisma Duta di Wasenaar.
   
   
  Paris-Amsterdam, Agustus 2006
  --------------------------------------------
  JJ. Kusni
   
   
  Catatan:  
   
  * Foto terlampir, slogan HUT 61 Proklamasi Kemerdekaan RI yang terpampang di 
halaman Wisma Duta di Wassenaar Negeri Belanda [dari: Dokumentasi JJK].
   
  * Nomor 9 tulisan ini yang terdahulu, semestinya nomor 8.
   
   
  LAMPIRAN:
    Republik Betang

Baru baru ini saya mengundang sohib lama, Bung Emil, menjadi tamu Radio 
Nederland Wereldomroep dalam siaran langsung perayaan HUT RI ke 61 di Wisma 
Duta di Wassenaar, Belanda. Emil datang dari Paris. Nama resminya asyik: 
Jean-Jacques Kusni. Kusni, tentu saja, sangat Melayu dan Jean-Jacques amat 
Prancis. Kombinasi yang bagus. Anehnya, Emil mengaku merasa "malu" dengan nama 
Prancisnya itu. "Wah, perasaan keIndonesiaan saya tidak tergantikan oleh nama 
baru itu, Bung!" jelasnya.

Bagi saya, imbuhan "Jean-Jacques" itu menjanjikan oleh-oleh dari Prancis. Dan, 
betul, Emil membawa oleh-oleh sebuah wacana. Indonesia yang berulangtahun ke 61 
ini, katanya, harus memenuhi janji kemerdekaan untuk menjadi republik sekaligus 
menjadi Indonesia. 

Maknanya: menjadi wadah publik, bagi aneka ragam warga dan orang asal 
Indonesia, tak peduli kewarganegaraannya, suku, dsb, dengan begitu, 
bersama-sama menciptakan sebuah republik dan sebuah Indonesia. Menarik, Emil 
mengkiaskan republik seperti ini dengan rumah adat Kalimantan dari mana dia 
berasal, yaitu Budaya Betang. 

Namun kenyataan di bumi seringkali amat berbeda. Dengan kata lain, imajinasi 
dan cita-cita seperti oleh-oleh Bung Emil itu perlu dibenturkan, ditembuskan, 
diteroboskan, dan diolah menjadi kenyataan di bumi itu - betapa pun lambat, 
perlahan atau sulit.

Nah, ketika carut-marut, pemberontakan dan sengketa antar daerah, etnik dan 
agama selama tahun-tahun belakangan, berkemelut terus di tanah air, kebalikan 
dari kebersamaan betang, maka pantaslah media seperti Mingguan TEMPO menyambut 
HUT RI ke-61 dengan bertanya, "Bisakah Kita Hidup Bersama?" 

Pertanyaan ini jelas bermaksud memacu pendapat agar mawas diri dan berikhtiar 
membangun republik, suatu wadah bersama, seperti pernah dicita-citakan oleh 
para Bapak Pendiri republik. Menanggapi ini, Emil berkomentar, "Soal hidup 
bersama sebenarnya bukan perkara baru bagi orang Dayak." Budaya betang itulah 
bukti kebersamaan Kalimantan Tengah ketika ikut memperjuangkan kemerdekaan, 
seperti yang dipimpin oleh Tjilik Riwut, yang kebetulan juga merupakan paman 
langsung Bung Emil.

Bagi saya, upaya hidup bersama, yaitu cita-cita kemajemukan yang disiratkan 
TEMPO dan dikiaskan oleh Bung Emil sebagai "Budaya Betang" itu, adalah proyek: 
sebuah proyek ke depan yang perlu dirintis dan dibangun kembali bersama setelah 
dilanda zaman, dirusak oleh sepak terjang Orde Baru selama tiga dasawarsa. 

Sepanjang delapan tahun sejak mundurnya Soeharto dan tampilnya 
"Orde-Baru-cum-Reformasi" - atau "Orde-Baru Baru" dalam istilah Pramoedya 
–semangat Orde Barunya Soeharto itu masih menyala-nyala. Setiap suara lokal 
dicurigai, setiap tuntutan daerah diawasi, dan setiap pemberontakan separatis 
harus dilibas habis. Ada yang menyebut predisposisi sentralistis itu "suara 
NKRI-is". 

Dengan perspektif dari pusat itu, kita tidak menyadari lagi bahwa akar masalah 
sebenarnya lebih terletak di pusat ketimbang di daerah. Bahkan, Kuasa Usaha 
KBRI Den Haag berkomentar "saya lebih suka menyebut NKRI itu `Negara Kita 
Republik Indonesia'". 

Anehnya, spektrum politik di dalam negeri mau pun diaspora sering 
ber-predisposisi sangat sentralistis (NKRI-is), ketimbang memandangnya sebagai 
bagian dari dinamika mencari suatu format bangsa yang lebih adil. Orang lupa 
bahwa "kesatuan" (dari konsep militer "unit") seharusnya bukan 
militaristis,melainkan "persatoean" yang oleh Bung Hatta pernah diimpikan 
sebagai suatu kemampuan untuk menangkal "persatean". Celakanya, ini gagal, 
terbukti dari rangkaian pembantaian sejak 1965-66, TimTim sampai Aceh. 
  
Walhasil, orang sesungguhnya telah terlena, tak menyadari bahwa nasionalisme 
kita telah berubah dari yang humanistis (nasionalisme sebagai "bunga di tengah 
taman internasionalisme" dalam wacana Soekarno, Hatta, Yamin) menjadi agresif, 
yang oleh seorang teman Aceh, Otto Syamsuddin Ishak, disebut "Nasionalisme 
Hitam", yaitu nasionalisme negara atau nasionalisme pusat (dalam istilah 
sosiolog Thamrin Tomagola) yang melahap semangat apa pun yang datang dari 
daerah. Nasionalisme Hitam yang berdalih kesatuan tapi tak peduli nilai-nilai 
kemanusiaan itu melahap unsur dan sesama warga dan unsur bangsa, hingga 
menimbulkan berbagai musibah HAM. 

Soal nasionalisme sebenarnya tak perlu bersitegang dengan azas demokrasi dan 
kemajemukan (pluralisme), tetapi berkat nasionalisme-negara yang "hitam" atau 
pun "kelabu", yang meledak sejak Orde Baru itu, masalah ini menjadi batu ujian 
bangsa. 

Berkat Nasionalisme Hitam Orde Baru yang masih terwariskan, ihwal persatoean 
menjadi ujian bagi azas demokrasi dan pluralisme. Juga sebaliknya: yang 
tersebut terakhir itu, menjadi ujian bagi persatoean. Sampai Gunawan Mohamad 
pernah mengatakan "bagi saya, kalau kita sampai kehilangan Aceh atau Papua tak 
apa, asalkan kita tetap menjadikan indonesia ini sebagai proyek pluralis". 

Hanya tsunami (Des. 2004) melalui Perdamaian Helsinki (15 Agustus 2005), 
berhasil menangkal lahapan Nasionalisme Hitam. Andaikata tak ada tsunami, 
dilema Gunawan Mohammad tsb bisa menjadi isu nyata – terlepas dari suka atau 
tidak akan opsi opsi tsb. Cuma, celakanya, barisan Nasionalisme Hitam pasti 
dengan cepatakan melahap wacana demokratis dan pluralis itu dan mencapnya 
sebagai "separatis" dsb.

Soal kekejian "lahap melahap" yang dimungkinkan oleh "Nasionalisme Hitam" itu 
adalah persis kebalikan dari "upaya hidup bersama" (TEMPO) atau Republik Betang 
(Emil). Tampaknya ini terjadi karena dia dikendarai dan digalakkan oleh aparat 
bersenjata. 

Oleh karena itu, menyambut perayaan HUT republik ini, saya juga menghubungi 
sohib satu lagi, yaitu pengamat militer Indro Tjahjono di Jakarta, dengan 
menanyakan tentang balans reformasi TNI pada HUT ke-61 ini. 

Menurut Indro, TNI adalah institusi yang pertama sejak Soeharto mundur, yang 
menyerukan perlunya reformasi negara, termasuk reformasi aparat bersenjata. 
Namun kenyataannya reformasi TNI merupakan yang paling lamban, terlambat dan 
terkendala. 

Contoh menarik adalah kasus penimbunan 600an senjata oleh alm. Brigjen 
Koesmayadi baru baru ini. Boleh jadi ini adalah bagian dari bisnis gelap 
senjata dengan dalih perang di Aceh 2003, tetapi karena ini menyangkut prosedur 
pembelian senjata, maka jelas di sini terjadi kesalahan sistim, artinya, suatu 
kesalahan institusi yang tidak bisa hanya ditumpukan kepada oknum. Tapi, lagi 
lagi TNI mengisyaratkan ada kesalahan oknum dengan berdalih bahwa Koesmayadi 
bermaksud mendirikan museum senjata.

Sepanjang sejarahnya, ABRI atau TNI tak pernah menyebut terjadi kesalahan 
institusinya – juga ketika sejumlah komandannya terlibat pemberontakan (PRRI), 
terlibat penculikan (Wiji Thukul dan sejumlah aktivis 1997-98), kekerasan di 
TimTim, pembunuhan Theys Eluay di Papua, dsb. Setiap isu dan insiden selalu 
berakhir sebagai "kesalahan oknum" (perorangan aktivis, prajurit, milisi, 
separatis). Apa yang terjadi, tampaknya, nyaris selalu merupakan prestasi 
institusi, kecuali kesalahan-kesalahan, yang selalu dinyatakan sebagai 
"kesalahan oknum." 

Sebaliknya, kalau ada "kesalahan" dari tengah masyarakat, ini selalu dinyatakan 
sebagai "kesalahan institusi", bukan oknum. Lihat saja partai-partai yang 
terlarang (PSI, Masyumi, PKI), mereka dibubarkan dan tidak termaafkan karena 
selalu institusinya, bukan oknum-oknumnya, yang dianggap bersalah. Walhasil, 
alangkah mengagumkan bahwa ketika republik ini menginjak usia 61 tahun, kita 
seolah selalu memiliki militer sebagai "the corps that can do no wrong". (Saya 
ingat pernah menyimpulkan ini sekembali dari Papua, Des. 2000).

Menuju Republik Betang dengan kebersamaan yang majemuk, memang, tak mudah. 
Masih ada Republik Oknum di depan mata … 
  
Sumber: Kolom Ahad Radio Nederland Wereldomroep, 27 Agustus 2006. Lihat juga: 
From: tossi20 To: [EMAIL PROTECTED] Sent: Tuesday, August 22, 2006 11:55 PM 
Subject: [temu_eropa] Indonesia's True Digest - Republik Betang
  [Bersambung...]

   
   





                
---------------------------------
 
 Real people. Real questions. Real answers. Share what you know.

[Non-text portions of this message have been removed]



______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke