Imam Ibn Taymiyya Tentang Awliya
Imam Ibn Taymiyyah menyebutkan dalam jilid yang telah disebut sebelumnya
(Majmu'a Fatawa jilid 10), halaman 190: "Seorang hamba Allah Subhanahu wa
Ta'ala, tak dapat disebut sebagai seorang wali, kecuali ia adalah seorang
mu'min yang benar. Allah menyebutkan dalam Qur'an, Surat Yunus (10), ayat
62-63: 'Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran
terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati; mereka yang beriman dan
selalu bertaqwa.'"
Beliau kemudian mengutip suatu hadits terkenal dari Bukhari: "Hamba-Ku
mendekat pada-Ku dengan amalan yang tak ada yang lebih Ku-sukai selain darinya,
yaitu kewajiban-kewajiban fardhu yang telah Ku-wajibkan atasnya, kemudian
hamba-Ku terus berusaha mendekati-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku
mencintainya. Saat Aku mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang dengannya
ia mendengar, penglihatannya yang dengannya ia melihat, tangannya yang
dengannya ia memukul dan kakinya yang dengannya ia berjalan. Jika ia meminta
(sesuatu) pada-Ku, tentu Aku akan berikan padanya, dan jika Ia memohon
perlindungan pada-Ku, tentu akan Ku-berikan padanya. Tak ada yang lebih
Ku-ragukan untuk melakukannya daripada mencabut nyawa seorang hamba-Ku yang
setia: dia membenci kematian dan Aku membenci melukainya."
Beliau menjelaskan frasa: "Barangsiapa memerangi seorang Wali-Ku berarti ia
telah menentang-Ku untuk berperang", dengan: "Itu berarti bahwa Allah tengah
menjelaskan: 'Aku akan membalas siapa pun yang menentang dan memerangi
wali-wali-Ku bagaikan seekor singa yang ganas.'" (halaman 314).
Imam Ibn Taymiyyah tentang Karamah dari Para Wali
"Dikatakan bahwa setelah Penutup para Nabi (sall-Allahu 'alayhi wasallam),
wahyu tidak lagi turun pada seorang pun. Kenapa tidak? Kenyataannya, ia tetap
turun, sekalipun ia tidak lagi dinamakan 'wahyu'. Ini adalah apa yang dimaksud
oleh Nabi sall-Allahu 'alaihi wasallam ketika beliau bersabda, 'Seseorang yang
beriman melihat dengan Cahaya dari Allah.' Saat seorang beriman memandang
dengan Cahaya Ilahiah Allah, ia melihat segala hal: yang awal dan yang akhir,
yang hadir dan yang absen. Karena bagaimana mungkin sesuatu tersembunyi dari
Cahaya Allah? Dan jika sesuatu itu tersembunyi, maka itu bukanlah Cahaya
dari-Nya. Karena itulah, makna dari wahyu itu tetap ada, sekalipun ia tidak
lagi disebut sebagai wahyu."
Fihi ma fihi.
Ibn Taymiyah melanjutkan dalam kitab yang sama, Majmu'a Fatawi Ibn Taymiyyah:
"Apa yang dianggap sebagai suatu karamah bagi seorang wali adalah kadang-kadang
sang wali mampu mendengar sesuatu yang orang lain tak mampu mendengar atau
melihat sesuatu yang orang lain tak mampu melihatnya, dan ini dilakukannya
tidak dalam keadaan tidur, tapi dalam keadaan terjaga. Ia dapat mengetahui
hal-hal yang orang lain tak mampu mengetahuinya, melalui wahyu atau ilham
(inspirasi)."
Dalam kitab lain, Mukhtasar al-Fatawa al-Masriyya, diterbitkan oleh al-Madani
Publishing House, 1980, halaman 603, beliau menulis: "Karamah (keajaiban) dari
para wali adalah sepenuhnya benar dan nyata, dan diakui oleh seluruh
ulama-ulama Muslim. Qur'an telah menunjukkan keberadaannya di berbagai tempat,
dan begitu pula Hadits Nabi sallallahu 'alahi wasallam telah menyebutnya, dan
siapa yang menyangkal adanya kekuatan karamah para wali adalah para mubtadi',
pembuat bid'ah atau mengikuti para pembuat bid'ah." Beliau melanjutkan dengan
mengutip perkataan Nabi tentang para Wali: "Kalian adalah para saksi Allah di
muka bumi."
Imam Ibn Taymiyyah tentang Kasyf (Penyingkapan Hijab) atas
Penampakan-penampakan Ghaib
Beliau berkata (volume 11, halaman 313): "Allah Ta'ala akan menyingkapkan
bagi para wali-Nya keadaan-keadaan (maqam-maqam) yang belum pernah disingkapkan
sebelumnya dan Ia akan memberikan dukungan-Nya pada mereka tanpa perhitungan.
Jika seorang wali mulai berbicara tentang hal-hal ghaib, di masa lalu atau masa
kini atau masa depan, maka pembicaraan tersebut bisa ditinjau dari sudut
pandang Bab al-'ilm al-khariq, pengetahuan yang ajaib (tidak biasa). Apapun
yang dilakukan seorang wali yang berasal dari dunia ghaib, bagi manusia atau
bagi pendengarnya, tentang pengobatan atau pengajaran ilmu, maka itu bisa
diterima dan kita mesti bersyukur pada Allah akan hal tersebut."
Imam Ibn Taymiyyah Menyebutkan Beberapa Syaikh Besar di Dunia Tasawwuf
Dalam suatu volume buku berjudul 'Ilm as-Suluk ("Ilmu tentang Perjalanan
Menuju Allah"), yang terdiri atas 775 halaman dari jilid 10 Majmu'a al-Fatawa,
beliau berkata (halaman 516): "Para syaikh Tasawuf besar sudah banyak dikenal
dan diterima, seperti: Bayazid al-Bisthami, Syaikh 'Abdul Qadir Al-Jailani,
Junaid ibn Muhammad, Hasan al-Basri, al Fudayl ibn al-Ayyad, Ibrahim bin
al-Adham, Abi Sulayman ad-Daarani, Ma'ruf al-Karkhi, Siri as-Saqati, Shaikh
Hammad, Shaikh Abul Bayan.
"Para Sufi besar tersebut adalah pemimpin-pemimpin kemanusiaan, dan mereka
menyeru pada apa yang benar dan melarang apa yang salah."
Silsilah Qadiri dari Ibn Taymiyyah sebagai seorang Syaikh Sufi
Kini, kita berada dalam suatu posisi yang lebih jauh dari sekedar mengatakan
bahwa Ibn Taimiyyah sekedar memuji Tasawuf. Kita dapat mengatakan dengan pasti
bahwa beliau pun adalah seorang aspiran dari Jalan Sufi yang menjadi anggota
dari lebih dari satu tariqat, utamanya adalah pada Tariqat Qadiri, dari Syaikh
'Abdul Qadir al-Jailani.
Dalam suatu naskah unik dari Hanbali Yusuf ibn 'Abd al-Hadi (wafat 909H/ 1503
M), yang berjudul Bad' al-'ulqa bi labs al-khirqa, yang ditemukan di
Perpustakaan Universitas Princeton, Ibn Taymiyyah dituliskan dalam suatu
silsilah spiritual Tasawuf bersama ulama-ulama (mazhab) Hambali terkenal
lainnya. Mata rantai dalam silsilah ini, dalam urutan menurun dari 'Abdul Qadir
Jailani adalah sebagai berikut:
Syaikh 'Abdul Qadir Jilani (wafat 561 H/1165 M)
Abu 'Umar bin Qudama (wafat 607 H/1210 M)
Muwaffaq ad-Din bin Qudama (wafat 620 H/1223 M)
Ibn 'Ali bin Qudama (d. 682 H./1283 CE)
Ibn Taymiyya (d. 728 H./1328 CE)
Ibn Qayyim al-Jawziyya (d. 751 H./1350 CE)
Ibn Rajab (d. 795 H./1393 CE)
Lebih jauh lagi, telah pula ditemukan sebuah naskah unik, juga di
Perpusatkaan Princeton, karya dari Ibn Taymiyah sendiri, dalam sebuah kitab
berjudul "Targhib al-Mutahabbin fi labs Khirqat al-Mutammayyazan oleh Jamal
ad-Din al-Talyani. Di sini terdapat kata-kata Ibn Taymiyah sendiri, sebagaimana
dikutip dari sebuah karya tulisnya, al-Mas'ala at-Tabraziyya: "Aku memakai
jubah Sufi yang barakah dari Syaikh 'Abdul Qadir al-Jailani, di mana antara
beliau dan aku ada dua orang Syaikh Sufi."
Dalam suatu naskah lain, beliau berkata pula, "Aku telah memakai jubah Sufi
dari beberapa Syaikh Sufi, yang termasuk dalam beberapa tariqat, di antara
mereka adalah 'Abdul Qadir al-Jailani, yang tariqatnya adalah yang terbesar di
antara tariqat-tariqat terkenal (mu'tabarah), semoga Allah merahmatinya."
Setelah Ibn Taymiyah, silsilahnya berlanjut pada muridnya, Ibn Qayyim
al-Jawziyya, dan muridnya Ibn Rajab.
Note : Referensi-referensi yang telah kami sebutkan adalah: "al-Hadi" vol.
154a, 169b, 171b-172a; "at-Talyani," manuscript
Wa min Allah at taufiq
wassalam, arief hamdani
www.mevlanasufi.blogspot.com
---------------------------------
Get your own web address for just $1.99/1st yr. We'll help. Yahoo! Small
Business.
[Non-text portions of this message have been removed]
______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke:
[EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/