http://www.korantempo.com/korantempo/2006/09/03/Ide/krn,20060903,37.id.html

Minggu, 03 September 2006

Ide

Naguib Mahfouz dan Dialog Peradaban


Mohamad Guntur Romli

Aktivis Jaringan Islam Liberal

Saat fajar menyingsing di Kota Kairo, 30 Agustus lalu, sastrawan
Mesir, Naguib Mahfouz, mengembuskan napas yang terakhir. Naguib
Mahfouz didaulat sebagai penghulu novel modern dunia Arab (râ'id
al-riwâyah al-'arabiyyah al-hadîtsah). Hingga saat ini, Mahfouz adalah
satu-satunya sastrawan Arab yang pernah mendapat Hadiah Nobel, pada
1988. Ia meninggal pada usia 95 tahun. Lahir di Gamaleyah, Kairo, pada
11 Desember 1911. Karyanya lebih dari 50 novel dan kumpulan ceritanya
telah diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa di dunia. Salah satu
karyanya yang terkenal, Awlâd Hârâtinâ (Anak-anak Kampung Kami),
akhirnya terbit di Mesir pada awal 2006 ini setelah dilarang
penerbitannya sejak 47 tahun lalu karena dituduh bertentangan dengan
doktrin Islam. 


Keunggulan karya-karya Mahfouz terletak pada kepiawaiannya menyerap
ide-ide peradaban manusia dan menuangkannya kembali dalam kisah
sastra. Mahfouz sangat beruntung lahir di Mesir sebagai tempat
pertemuan peradaban-peradaban besar dunia. Sebuah negeri yang tercipta
dari akumulasi serpihan peradaban (tarâkumât min raqâ'iq al-hadlârât).
Dan Mahfouz telah mengisahkan kembali materi sejarah yang panjang itu
dalam bentuk novel-novelnya sejak zaman Firaun hingga zaman modern.


Karya-karya Mahfouz adalah kisah tentang peradaban-peradaban itu
sendiri. Peradaban yang senantiasa bergumul dan berdialog. Menurut
pengakuan Mahfouz yang disampaikan dalam upacara penerimaan hadiah
Nobel pada 1998, ia adalah anak yang lahir dari pernikahan yang
sakinah antara dua peradaban: peradaban Firaun yang telah berusia
7.000 tahun dengan peradaban Islam yang berusia 1.400 tahun. 


Tentu saja, hubungan peradaban-peradaban itu tidak selalu harmonis,
ada konflik dan juga kekerasan. Mahfouz lahir dalam suasana Perang
Dunia, yang membawa kolonialisme Barat terhadap negeri-negeri di
Timur. Negerinya sendiri, Mesir, adalah jajahan Prancis, Turki, dan
Inggris. Bagi Mahfouz, kemerdekaan dan kebebasan rakyat untuk memimpin
negerinya sendiri adalah keniscayaan. Mahfouz menulis sebuah novel
yang terinspirasi dari kisah Firaun Kifâh Thîbah (Pejuang dari
Thebes), yang sebenarnya kisah perjuangan rakyat Mesir melawan
kolonialisme Inggris di Mesir. 


Namun, bukan berarti Mahfouz membenci peradaban Barat yang melahirkan
watak kolonialisme itu. Khazanah filsafat dan sastra Eropa banyak
mempengaruhi novel-novel Mahfouz, baik sisi genre maupun ide.
Keyakinan Mahfouz terhadap ilmu pengetahuan, sosialisme, kebebasan,
serta berakhirnya era agama dan mitos merupakan ide-ide yang dipetik
Mahfouz dari peradaban modern Eropa. Ide-ide itu ditokohkan oleh
Mahfouz dalam novel-novelnya. Demikian juga era realisme sastra di
Eropa sebagai bentuk perlawanan terhadap romantisisme sastra ikut
andil mempengaruhi Mahfouz menulis novel-novelnya dalam ranah realisme
sastra, setelah menulis novel-novel historis yang romantis. 


Hingga saat ini hubungan antara Barat dan Timur semakin memburuk.
Peristiwa 11 September 2001 adalah peristiwa yang menyakitkan bagi
hubungan antarperadaban. Tidak sedikit anggapan bahwa peristiwa itu
merupakan bukti kebenaran tesis benturan antarperadaban. Sebuah
maklumat tentang kematian dialog antarperadaban. Bagi Mahfouz sendiri,
peristiwa 11 September tidak bisa menafikan hubungan erat antara dunia
Barat dan Islam dalam lintas sejarah. Seperti halnya kolonialisme yang
pernah menjadi babak yang sangat menyakitkan bagi hubungan Barat dan
Timur, tapi bukan berarti kita harus berkubang dalam jurang kekerasan
dan peperangan. 


Dalam konteks ini, saya diingatkan kembali pada pidato pembukaan
Naguib Mahfouz dalam Frankfurt Book Fair Oktober 2004 di Jerman. Kala
itu dunia Arab mendapat kehormatan pertama kali menjadi tamu istimewa
dalam pameran buku terbesar di dunia. Namun, peristiwa 11 September,
invasi Amerika terhadap Afganistan dan Irak, membekukan hubungan
antara dunia Barat dan Islam. 


Mahfouz menyerukan dan menegaskan kembali pada urgensi dialog
peradaban ini. Dalam pidatonya seolah-olah Mahfouz mendaulat dirinya
sebagai wakil peradaban Timur yang sedang berbicara pada peradaban
Barat. Ia sengaja menggunakan istilah nahnu (kami: masyarakat
Islam-Arab) dan antum (kalian: masyarakat Barat) untuk menggambarkan
terjadinya dialog antara Timur dan Barat. Mahfouz mengakui bahwa yang
disebut sumber peradaban Arab modern tidak lepas dari tiga sumber.
Pertama, peradaban-peradaban kuno yang pernah dikenal dalam wilayah
Arab, mulai peradaban Firaun kuno di Mesir, peradaban Babilonia yang
biasa disebut Peradaban Antara Dua Sungai di Irak, dan peradaban kuno
di Yaman. Gutenberg dari Jerman menemukan mesin cetak pada abad ke-15,
tapi kata Mahfouz, abjad-abjadnya sudah ditemukan oleh Peradaban
Antara Dua Sungai di Irak ribuan tahun sebelum Masehi. 


Sumber kedua, menurut Mahfouz, adalah peradaban Islam sebagai agama
yang toleran dan menjadikan kebebasan sebagai identitas orang Islam.
Mahfouz mengambil filosofi dari syahadat lâ ilâha illa Allâh (tiada
Tuhan selain Allah) bahwa tidak ada pengabdian kecuali kepada Tuhan,
bukan kepada manusia. Islam juga menjamin kesetaraan umat manusia
tanpa memandang ras. Dalam sejarah dinasti Islam di Andalusia,
Spanyol, dikisahkan golongan terdidik dan masyarakat awam, baik
Yahudi, Kristen, maupun Islam, hidup berdampingan secara damai. 


Adapun sumber ketiga budaya Arab modern dalam susunan kalimat Mahfouz
sendiri adalah, "Peradaban kalian, peradaban Barat, sangat berpengaruh
terhadap peradaban kami, tidak hanya dalam ranah politik dan keilmuan,
tapi juga dalam ranah sastra dan seni" (hadlâratukum al-gharbiyah
ahammu mu'atstsirât fi hadhâratinâ laysa faqad fi al-siyâsah wa fi
al-'ulûm, wa innamâ aydlan fi al-âdâb wa al-funûn).


Pidato itu bukanlah sekadar basa-basi, tapi sebaliknya, sebagai
kesaksian dari seorang sastrawan besar, Naguib Mahfouz. Tiga sumber
agung dari peradaban itu telah diwujudkan dalam karya-karyanya.
Awalnya Mahfouz menulis novel yang berkisah tentang sejarah Mesir
kuno. Novel-novel sejarahnya yang terkenal adalah Kifâh Thibah
(Pejuang dari Thebes), Radûbîs (Rhadopis dari Nubia), dan 'Abats
al-Aqdâr (Permainan Takdir). Pembacaan yang optimistis dan progresif
terhadap sejarah kuno Mesir yang memberi semangat dan impian bagi
rakyat Mesir modern. 


Adapun tema-tema kebebasan, kesenjangan sosial, kesetaraan, soal
perempuan, dan fundamentalisme agama banyak mempengaruhi babak kedua
karya-karya Mahfouz yang masuk dalam kategori realisme sastra. Seperti
dalam karya trilogi: Cairo: Bayna al-Qashrayn (Jalan Dua Istana),
Qashr al-Syauq (Istana Rindu), dan Al-Sukkariyah (Jalan Gula).
Persoalan perempuan dikisahkan dalam Zuqâq al-Midaq--sudah
diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi Lorong Midaq. Novel ini
telah diangkat ke layar lebar dengan judul Midaq Alley pada 1994, dan
artis jelita Salma Hayek memerankan tokoh utamanya. 


Dalam karya lainnya yang berjudul Al-Qâhirah al-Jadîdah (Kairo Baru),
Mahfouz mengisahkan pergumulan fundamentalisme agama, komunisme,
liberalisme, dan nasionalisme dalam dialog tokoh-tokoh novel itu yang
sangat apik. Sementara itu, Awlâd Hâratinâ bagi saya adalah puncak
karya sastra Mahfouz yang sangat indah dan piawai melalui permainan
simbol dan metafor. Novel itu mengisahkan kembali perjalanan umat
manusia yang bergumul dengan agama dan diakhiri oleh kemenangan ilmu
pengetahuan. 


Walhasil, dialog peradaban adalah keniscayaan bagi Naguib Mahfouz. Pun
karya-karyanya yang bermutu tinggi itu lahir dari dialog
antarperadaban. Tanpa dialog, tidak akan pernah lahir peradaban
manusia yang baru dan mumpuni.


koran 







______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke