Pikiran Rakyat , 8 September 2006

Mau ke Mana Aktivis Masjid Kampus?

Oleh SUDARMONO SASMONO

Bebebrapa tahun lalu, media ini pernah memuat pernyataan Gus Dur tentang
fenomena berislam di Indonesia yang semakin dipengaruhi oleh gaya berislam
Timur Tengah. Fenomena ini dipicu oleh masuknya pemikiran-pemikiran dan
ideologi pergerakan Islam seperti Ikhwanul Muslimin, Hizbuttahrir.

Gaya berislam Timur Tengah dikhawatirkan Gus Dur menimbulkan gaya berislam
yang cenderung keras, tidak kompromistis dan memahami agama sebatas apa yang
tertulis. Fenomena berislam yang oleh kolumnis Yudi Latif, kala itu disebut
sebagai fenomena "dipeluk" dan "memeluk" agama. Idiom dipeluk merujuk pada
fenomena beragama yang membuat pemeluknya tak bebas alih-alih terbebaskan
sesuatu yang justru menjadi dasar kehadiran sebuah agama.

Bagaimana wajah beragama umat, sekian tahun setelah pernyataan-pernyataan
tersebut diulas?

Di antara sekian fenomena beragama, ada satu hal yang menarik diamati dan
disimpulkan ketika fokus perhatian ditujukan kepada semesta kalangan urban
menengah. Simbol kebangkitan beragama di kalangan ini dijumpai pada
pengajian-pengajian mingguan, dan yang paling fenomenal adalah masjid
kampus. Bandung, adalah salah satu kota yang selalu dibicarakan manakala
masjid kampus dibahas. Bandung dalam sejarahnya adalah kota tempat
berdirinya masjid kampus pertama di Indonesia, Masjid Salman Institut
Teknologi Bandung. Kehadiran masjid ini kemudian menjadi inspirasi bagi
lahirnya masjid-masjid kampus lainnya di seluruh Indonesia.

Membaca fenomena beragama masyarakat urban menengah, saat ini dan di masa
yang akan datang tidak bisa terlepas dari membaca masjid kampus dan
aktivisnya. Bagaimanapun masjid kampus dan kiprahnya adalah simbol
keberagamaan masyarakat urban menengah. Ironisnya, harus diakui wajah masjid
kampus saat ini diwarnai oleh rivalitas dan kooptasi pergerakan-pergerakan
Islam baik lokal maupun yang berbasis Timur Tengah. Sesuatu yang sudah
dikhawatirkan Gus Dur sekian tahun silam.

Pergerakan-pergerakan Islam tersebut dengan berbagai metode melakukan
perekrutan anggota mahasiswa secara aktif bahkan ketika mereka masih
berstatus siswa sekolah menengah. Artinya perekrutan sudah dimulai dari
level yang paling rendah sebelum mereka menjadi anggota civitas academica
kampus. Mencari bukti ilmiah fenomena ini memerlukan kajian yang lebih
komprehensif dan integratif, meskipun beberapa peneliti sosiologi telah
mencoba membuka ruang penelitian. Hasil penelitian yang menyinggung kiprah
pergerakan Islam di kampus dapat dibaca salah satunya di buku Fenomena
Partai Keadilan yang berdasar pada studi Ali Damanik.

Ideologi kekuasaan dan kematian

Pergerakan Islam baik lokal seperti gerakan NII (Negara Islam Indonesia)
maupun yang berbasis Timur Tengah seperti Hizbuttahrir ataupun Ikhwanul
Muslimin adalah bentuk ijtihad umat merespons runtuhnya kekhalifahan Islam
terakhir di Turki pada tahun 1924. Dari titik ini saja dapat kita pahami
bahwa pergerakan Islam adalah bentuk ijtihad di wilayah siyasah (politik).
Dengan demikian pergerakan islam sejatinya tunduk pada fatsun-fatun politik
yang bermuara pada upaya meraih kekuasaan. Karena diyakini bahwa kekuasaan
yang dimiliki adalah alat untuk mengembalikan izzatul Islam wal muslimun
(kehormatan Islam dan orang Islam).

Pengambilan posisi ini menempatkan pergerakan Islam berhadapan vis a vis
dengan pemegang kekuasaan atau hegemoni di luar komunitas mereka. Posisi
oposisi ini bisa berbentuk pemerintahan yang tidak menjadikan Islam sebagai
ideologi, kekuatan Yahudi dan Amerika Serikat --tiga serangkai yang sering
disapa dengan sebutan thagut. Meskipun beberapa pergerakan Islam mengalami
evolusi strategi seperti yang dilakukan Partai Keadilan Sejahtera (baca
Ikhwanul Muslimin Indonesia), tetapi sejatinya kekuasaan dan respons
terhadap khilafah yang hilang tetap menjadi akar pergerakan-pergerakan
tersebut.

Ideologi kekuasaan yang dianut pergerakan Islam membawa pengaruh signifikan
pada nilai-nilai yang dianut. Meskipun slogan "itskariman au mutsyahidan"
atau "hidup mulia atau mati syahid" pada dasarnya adalah slogan
keseimbangan, dalam bawah sadar masyarakat pergerakan Islam mati syahid
ditempatkan pada posisi yang lebih agung dari hidup mulia. Dalam masyarakat
seperti ini, kisah-kisah kepahlawanan, epos dan pengorbanan jiwa menempati
posisi teratas. Kematian menjadi impian bahkan ideologi.

Kematian yang menjadi ideologi membawa pengaruh pada bagaimana agama
diekspresikan. Biasanya kematian yang dimuliakan selalu sebangun pada satu
sisi dengan pada kehidupan duniawi yang direndahkan. Kehidupan duniawi
sering dirancukan sebagai keserakahan, kesombongan dan cinta dunia. Hal ini
tampaknya dipengaruhi oleh kecenderungan spiritual untuk memprioritaskan
melawan kemungkaran (nahi munkar) dari pada menganjurkan kebajikan (amar
makruf). Akibatnya, peperangan (jihad) lebih mengemuka dan populer daripada
etos kerja (mujahadah), sedangkan menjadi martir (syahid) lebih diimpikan
daripada menjadi mulia (karim).

Selanjutnya dapat ditebak warna keberagamaan pun menjadi hitam putih
layaknya masyarakat yang bersiap menyongsong kematian. Fikh yang pada
dasarnya adalah pilihan bebas, dalam komunitas ini menjadi pilihan terikat
bahkan menjadi pilihan tunggal. Fikih yang salah satu kaidah ushulnya
menyatakan bahwa "fatwa jumhur ulama tidak dapat membatalkan fatwa ulama
lain yang minoritas" berubah menjadi "fatwa ulama yang otoritasnya diakui
pergerakan membatalkan fatwa seluruh ulama lain yang berbeda". Intoleransi,
rigiditas dalam kehidupan, kaku dalam berekspresi, sikap yang mudah
memfasikkan bahkan mengkafirkan orang lain yang berbeda menjadi sistem nilai
bawah sadar masyarakat ini.

Dapat dibayangkan bagaimana wajah aktivis masjid kampus yang dipengaruhi dan
menyatakan loyalitasnya melalui baiah kepada pergerakan Islam seperti ini.
Masjid kampus tampil dengan wajah yang rigid. Mereka yang akan aktif di
masjid kampus haruslah mereka yang memenuhi sekian kriteria, harus berjilbab
untuk perempuan, termasuk bisa membaca Alquran lancar dengan tajwid. Tidak
ada ruang tersisa sama sekali bagi mahasiswa muda yang datang ke masjid kamp
us dengan semangat ingin belajar membaca Alquran karena orang tua tidak
mengajarkannya. Atau sekelompok mahasiswi yang ingin aktif di masjid tapi
belum bisa berjilbab karena berbagai hambatan.

Intoleransi terjadi karena masjid kampus adalah wilayah yang harus
diperebutkan. Kelompok harus memegang kendali, karena dengan kendali fikrah
pergerakan yang dianggap dapat membawa tegaknya kembali izzatul Islam wal
muslimun mudah tersebar luas dan mengooptasi organisasi-organisasi Islam
berbasis kampus. Maka ide-ide bagaimanapun cemerlangnya bila tidak sejalan
dengan kebijakan gerakan tidak akan ditoleransi. Antar pergerakan saja bisa
timbul friksi.

Sebagai contoh di sebuah perguruan tinggi negeri favorit di Bandung,
mahasiswa yang berafiliasi pada sebuah pergerakan tertentu memutuskan
membuat unit kegiatan rohani mahasiswa sendiri karena aspirasi mereka selalu
tertolak pada unit kegiatan rohani mahasiswa yang telah ada. Padahal kedua
kelompok tersebut mengaku beragama Islam. Maka masjid kampus sebagai melting
pot hanya impian utopis. Ide-ide kreatif dan sangat manusiawi yang bisa
mengundang mahasiswa awam untuk menyandarkan dirinya di masjid kampus
seperti musik sore di beranda masjid adalah bid'ah dan dhalalah.

Pada tingkatan yang akut, masjid kampus menjadi entry point perekrutan
anggota baru kelompok-kelompok Islam garis keras sekaligus berpemikiran
sesat. Seperti yang pernah terjadi di salah satu perguruan tinggi di
Bandung. Ratusan mahasiswa terlibat, berselisih dengan orang tua dan
meninggalkan kegiatan akademik karena tuntutan loyalitasnya pada pergerakan
Islam. Semua ini dapat terjadi karena masjid kampus yang terkooptasi adalah
masjid yang tidak lagi menampilkan sisi manusiawi. Dia menjadi angker untuk
didatangi. Kalaupun ada yang datang, mereka adalah sosok yang siap jadi
malaikat. Sosok yang siap mati untuk kepentingan pergerakan.

Mungkin saja kekhawatiran ini terlampau berlebihan, tetapi sebuah kajian
investigatif menarik untuk dilakukan. Biar bagaimanapun masjid kampus adalah
aset umat dan bangsa. Sayang sekali jika tempat yang semestinya melahirkan
insan-insan yang cerdas, kreatif, toleran, berani hidup tapi tak takut mati,
cinta umat dan bangsa alih-alih melahirkan insan-insan yang rigid, kaku,
mengagungkan kematian, intoleran dan berpotensi memecah belah umat dan
bangsa. Sudah saatnya perhatian diberikan pada masjid kampus. Mau jadi apa
bangsa ini bila salah satu institusi pencetak pemimpinnya seperti itu.
Wallahu alam bissawab.***

Penulis, Direktur Eksekutif Lembaga Pemberdayaan Umat YPM Salman ITB,
Pengamat, tinggal di Sumedang.





______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke