Term of Reference Nurcholish Madjid Memorial Lecture Kerjasama Pusat Studi
Islam dan Kenegaraan Universitas Paramadina (PSIK) dan Lembaga Studi Agama dan
Filsafat (LSAF) Jakarta dengan Community for Religion and Social engineering
(CRSe), Jogjakarta. Senin, 18 September 2006
=====================================
Tema : "MASA DEPAN KEBEBASAN BERAGAMA DI INDONESIA"
Indonesia pasca Soeharto ditandai dengan melemahnya legitimasi negara,
sekaligus diikuti dengan melemahnya masyarakat sipil sebagai penyanggah
demokrasi. Fenomena melemahnya legitimasi negara tersebut seiring dengan
runtuhnya legitimasi politik Orde Baru yang dibangun berdasarkan ideologi
stabilitas politik yang menutup seluruh kemungkinan warna-warni aspirasi
politik masyarakat sipil untuk berkembang dan mengemuka di arena civil society.
Tetapi, implikasi yang paling berat dari runtuhnya legitimasi negara Orde Baru
tersebut ternyata tidak dibarengi dengan kemampuan rakyat untuk mengorganisasi
diri dalam sebuah iklim yang demokratis. Miskinnya pengalaman berdemokrasi
menyebabkan semua kelompok di negeri ini mengabaikan rambu-rambu hukum dan
jalan negosisasi, serta kompromi sebagai karakter penting demokrasi modern.
Hingga hari ini, kita masih menyaksikan Indonesia yang didera oleh
disintegrasi bangsa, ketidakpastian hukum, pertengkaran antaretnis dan agama
yang mengarah pada progrom dan genocide. Suasana yang serba tidak pasti ini
sekurang-kurangnya disebabkan oleh dua hal; pertama, negara yang konservatif,
yaitu ketika negara kehilangan kapasitas sebagai pemecah masalah dalam arena
masyarakat sipil. Kedua, miskinnya pengalaman masyarakat sipil Indonesia dalam
berdemokrasi. Negara yang konservatif dan lemahnya masyarakat sipil kemudian
melahirkan apa yang disebut dengan radikalisme, baik itu berbasiskan pada etnis
maupun agama. Sedangkan gejala radikalisme yang berbasiskan agama sering
disebut dengan gerakan ekstrim keagamaan.
Keberadaan gerakan kelompok Islam radikal ini mengancam demokrasi, apalagi
disokong oleh negara yang konservatif terhadap radikalisme, yaitu memberi
peluang pada gerakan Islam radikal untuk mengkonsolidasikan diri, membangun
jaringan, membentuk mass media, opini publik, memperluas konstituennya di
masyarakat sipil, dan melakukan aksi-aksi yang mengabaikan kenyataan bahwa
Indonesia merupakan sebuah masyarakat yang kompleks, majemuk, dan beraneka
ragam. Masyarakat sipil yang kompleks menghajatkan optimisme pada kemajemukan
etnik, agama, adat, dan latar belakang kepercayaan di mana negara demokratis
konstitusional berdiri tegak di atasnya.
Wacana tentang kemajemukan di kalangan umat beragama mestinya mendapatkan
apresiasi yang cukup tinggi untuk membangun fondasi kerukunan umat beragama di
Indonesia. Sudah barang tentu wacana ini dibangun tidak hanya dalam level
teologis, tapi lebih pada sosiologis-politis, paralel dengan ikhtiar untuk
menyokong proses demokratisasi di dalam masyarakat yang kompleks dan
multikultural. Hal ini pernah diisyaratkan oleh Soedjatmoko ketika memberikan
ceramah dalam upaya membangun semangat kemajemukan antaragama di Universitas
PBB di Tokyo. Ia menyatakan, kini saatnya umat beragama bersatu dan bekerja
sama untuk kesejahteraan; mengentaskan kemiskinan, kebodohan dan
keterbelakangan. Kerja sama ini tidak akan terbangun jika saja di antara
pemeluk agama masih mencurigai aktivitas masing-masing umat beragama. Atau
lebih parahnya lagi masih menganggap agamanya sebagai yang paling benar.
Semangat toleransi dan sikap saling menghormati kemajemukan mesti dibangun
untuk menata kembali struktur sosial yang sempat cerai-berai akibat konflik
antarumat beragama. Tanpa semangat kemajemukan keberagamaan yang komprehensif,
cita-cita tersebut tentu akan sia-sia. Untuk itu semangat kemajemukan tetap
signifikan sebagai salah satu unsur perekat kerukunan bangsa Indonesia yang
begitu majemuk. Apalagi di tengah keterpurukan sosial-ekonomi saat ini, agama
mesti mengambil peran strategis membawa bangsa Indonesia kepada kehidupan yang
lebih bermartabat di masa yang akan datang.
Wacana Islam dan kemajemukan harus menemukan konteks sosial-empirisnya dalam
sejarah Indonesia kontemporer. Inilah alasan mengapa diskusi publik ini
diadakan. Diseminasi wacana Kemajemukan bagaimanapun tetaplah strategis untuk
meredam segar-bugarnya radikalisme keberagamaan yang sangat mungkin terjadi di
kalangan pemeluk agama A.N. Wilson antara lain meyatakan bahwa fanatisme dapat
bergerak menjadi "mesin pembunuh" yang begitu efektif karena mengatasnamakan
panji-panji Tuhan. Pluralitas keberagamaan di Indonesia, pada satu sisi
merupakan khazanah yang tak ternilai harganya. Namun itu bisa berubah menjadi
bom waktu yang sewaktu-waktu meledak jika tak diantisipasi. Selanjutnya,
kemajemukan tetap menjadi wacana yang relevan bagi pluralitas keberagamaan
bangsa Indonesia dalam upaya membangun semangat inklusivisme dan sikap
keberagamaan yang ditujukan hanya demi kokohnya nilai-nilai kemanusiaan.
II. MAKSUD DAN TUJUAN
Secara umum diskusi publik ini bertujuan menciptakan pemahaman tentang
kerukunan hidup umat beragama di Indonesia, penuh dengan semangat toleransi,
saling menghargai dan egalitarianisme dalam bingkai semangat kemajemukan.
Sementara itu, secara khusus diskusi publik ini bertujuan:
Tersebarluasnya pemahaman dan kesadaran akan pentingnya kemajemukan;
Segar-bugarnya sikap optimis terhadap kemajemukan sebagai penyokong
demokrasi;
Diseminasi wacana kemajemukan yang bertolak dari pesan-pesan dasar Islam;
Tumbuhnya sikap keberagamaan yang inklusif di kalangan masyarakat Indonesia
terutama di kampus-kampus nasional di Indonesia.
III. HASIL YANG DIHARAPKAN Hasil yang hendak dicapai dari kegiatan ini:
Penguatan dan perluasan diskursus tentang Islam dan kemajemukan;
Terciptanya kesadaran akan pentingnya kemajemukan di kalangan masyarakat
di kampus-kampus nasional di berbagai daerah di Indonesia;
Dokumentasi dan publikasi di sekitar persoalan Islam dan kemajemukan di
Indonesia.
IV. TEMA, PEMBICARA, DAN TEMPAT
NO
WAKTU
NARASUMBER
TEMPAT
I
18 September 2006
Sesi I
09.00-13.00
Prof. Dr. M. Dawam Raharjo (Keynot Speech)
Prof. Dr. Kaustar Azhari Noer
Prof. Dr. Machasin, MA
Prof. Dr. Munir Mulkan
Auditorium Fak. Filsafat (Lt. 3)
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
II
18 September 2006
Sesi II
14.00-17.00
Dr. Abdul Hadi WM
Ayang Utriza, MA
Dr. Zainal Abidin Baqir.
IV. PANITIA
Kegiatan ini dilaksanakan atas kerjasama Pusat Studi Islam dan Kenegaraan
(PSIK) Universitas Paramadina Jakarta dan Lembaga Studi Agama dan Filsafat
(LSAF) dengan Community for Religion and Social engineering (CRSe) Jogajakarta.
Contact Person : 08174121513 (Hatim Gazali).
Email : [EMAIL PROTECTED]
---------------------------------
Yahoo! Messenger with Voice. Make PC-to-Phone Calls to the US (and 30+
countries) for 2ยข/min or less.
[Non-text portions of this message have been removed]
______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke:
[EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/