Menarik sekali tulisan sampean kang agus. Saya membayangkan, saat orang-orang baghdad sudah mengenal pemandian umum sementara di istana perancis hanya ada satu kamar mandi, peh.. antri no...
Pertama-tama saya ingin info lebih lanjut soal perjalanan kata pondokheyon, menjadi funduk, terus menjadi pondok itu gimana. Paling tidak ini bisa membantu untuk meraba-raba hubungan antar peradaban yang sat itu sedang berlangsung. Atau jangan-jangan cuma otak-atik gatuk saja. Akan hal pesantren saat ini tidak mampu pembikin jam tangan superhebat untuk disumbangkan ke raja perancis atau ke 007 james bon, saya kira menjadi diskusi panjang yang sangat menarik. Di eropa sana, "ilmu pengetahuan" itu dimulai dari sekolah-sekolah keagamaan atau sekolah gereja, kalau di kita mungkin pesantren. Kalau tidak salah, hanya ada satu perbedaan menyolok. Di Eropa, kecuali yang khusus dipersiapan menjadi pastor atau suster, para murid mula-mula diajak berfantasi di dunia teologis-filosofis, prinsip umum tata dunia, hingga runutannya menjadi ilmu pengetahuan terapan yang kemudian menjelma menjadi produk konsumtif yang canggih. Atau, misalnya lagi, rununannya menjadi ilmu ekonomi terapan, ekonomi neoliberal, yang saat ini menguasai dunia. Perlu diingat ilmu ekonomi itu berawal dari "filsafat moral" persis seperti pada bab jual beli di kitab-kitab fikih pesantren. Sementara di pesantren para santri dalam berbagai disiplin keilmuan lebih sering hanya debenturkan dengan persoalan hukum agama bahkan lebih banyak pada hukum yang sudah jadi bukan pada proses pembentukannya. Soal bagaimana, misalnya, ada sekte-sekte yang saling membid'ahkan atau para murid yang berlaku hormat dan tunduk kepada sang romo, sekolah-sekolah kristen dan pesantren sama saja. On 9/21/06, agussyafii <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Budaya Kosmopolitan di Pesantren > > Pada saat memuncaknya peradaban Islam yang berpusat di Bagdad, maka > budaya Islam merupakan pola budaya umum seluruh belahan bumi Timur, > tetapi sekaligus merupakan budaya global, karena ketika itu benua > Amerika sebagai belahan bumi barat belum ditemukan.Sebagai > bandingan, ketika Bagdad sudah mengenal kolam renang (permandian > umum) orang Perancis belum mengenal budaya mandi. Buktinya, istana > Perancis yang memiliki seribu kamar hanya memiliki satu kamar mandi. > Ketika duta besar Bagdad memberikan souvenir berupa jam air, Raja > Perancis menanyakan, sihir apa yang dapat menggerakkan benda itu. > Ketika dunia Islam sedang pesat-pesatnya ilmu pengetahuan, Barat > masih berada dalam abad gelap (blue age). > > Karakteristik peradaban Islam yang mengglobal itu memudahkan > peneguhan agama Islam di Asia Tengara. Peranan saudagar anak benua > India berlanjut terus tetapi mereka tidak lagi beragama Hindu dan > Budha melainkan Islam (dari Gujarat). Pola budaya Perso Arab sebagai > buah masuk Islamnya imperium Persia, kemudian menggeser pola budaya > Sanskerta. Perkembangan selanjutnya, pola budaya Perso-Arab > digantikan oleh pola budaya yang bercorak Arab dengan dominasi > bahasa Arab. Bukti yang tak terbantahkan tergambar pada banyaknya > kata-kata Arab dalam bahasa Melayu dan Indonesia. Kerajaan Hindu- > Budha (Majapahit-Sriwijaya) yang sudah memasuki masa senja kemudian > digantikan oleh munculnya kerajaan-kerajaan Islam (Aceh, Demak, > Mataram, Ternate dll.). > > Akulturasi budaya Islam dengan budaya sebelumnya nampak pada > berkembangnya pesantren (pondok pesantren) Budaya Yunani mengenal > pondokheyon, yakni asrama atau penginapan bagi orang-orang yang > sedang menuntut ilmu pengetahuan. Kata pondokheyon ini kemudian > pindah ke Arab menjadi funduq (sekarang artinya hotel). Pada masa > kejayaan Islam, asrama bagi orang-orang yang menuntut ilmu, terutama > ilmu hikmah (tasauf) disebut zawiyah(padepokan sufi), ribath(di > Afrika) dan khaniqah (masa al Gazali),. Di Jawa, agama Hindu dn > Budha mempunyai lembaga pendidikan yang disebut padepokan, dimana > didalamnya ada unsur shastri-(guru) dan cantrik (murid). > > Nah ketika zaman kerajaan Islam, konsep lembaga pendidikan yang > dikembangkan mengadopsi konsep pondokheyon, konsep zawiyah dan > konsep padepokan Hindu Budha, menjadi bernama PONDOK PESANTREN. > Pondok berasal dari konsep pondokheyon, pesantren berasal dari pe- > cantrikan- juga dengan unsur kiyahi (dari konsep shastri) dan > santri (dari konsep cantrik). Jadi konsep pesantren sesungguhnya > merupakan hasil dari dialog peradaban. Karena pondok pesantren > sangat memelihara tradisi, maka betapapun pesantren dianggap > ketinggalan zaman, jejaknya akan selalu nampak, meski juga timbul > tenggelam. > > Wassalam, > agussyafii > http://mubarok-institute.blogspot.com > > > > > > > > > ______________________________________________________________________ > http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir > dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. > ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ > Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda > harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: > [EMAIL PROTECTED] > > Yahoo! Groups Links > > > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] ______________________________________________________________________ http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
