bith, ini tulisan yang kau suruh aku buat. jangan diolok2 ya! makasih
Agama, Negara, dan Eksistensi Manusia Oleh: Mohammad Yunus Saya bukanlah seorang kristiani yang lebih baik dari kebanyakan kristiani yang lain ketika memahami sebuah ajaran suci yang terpampang dalam kepala surat ini; sebuah larangan yang pada dasarnya dirunut dari tabiat dan akal manusia. Ketika saya masih bujang, saya mau saja diajar tentang kerjaan para tentara itu, sebuah kesenian membunuh; tapi sekarang, saya telah meninggalkannya. Saya tak akan membunuh hanya karena diperintah orang lain. Kutipan di atas merupakan bagian dari isi surat penolakan seorang pengawal negara asal Belanda, Van der Veer, ketika mendapat surat panggilan resmi dari atasannya. Tolstoy mengutip penuh dalam bukunya On Civil Disobedience and Non Violence yang terbit tahun 1967 itu. Tapi sebenarnya Van der Veer bukan satu-satunya orang yang resah. Dan protes. Tolstoy, Thoreau, Gandhi, dan Edward Said tak kalah resahnya dengan orang itu, saya kira. Malah, dalam sebuah esai tentang pembelotan Civil Disobedience yang terbit di sejumlah surat kabar tahun 1866 itu, Thoreau menegaskan bahwa,...jika sekiranya watak sebuah hukum telah menuntut anda untuk menjadi agen ketidak-adilan terhadap orang lain, maka saya katakan, langgar saja hukum itu! Dan seperti ditulis oleh der Veer, ketika agama telah diresmikan oleh negara, ia cenderung melakukan hal-hal yang justru ditampik oleh agama itu sendiri. Dalam pengakuannya, ia bukanlah tergolong seorang Kristen yang memahami agama dengan baik, tapi, toh, ia paham benar tentang larangan agama yang pada dasarnya merupakan runutan dari tabiat dan akal budi manusia itu: Thou shalt do no murder!, kamu tak boleh membunuh! Dan kalimat itulah yang ia jadikan sebagai kelapa surat untuk atasannya itu. Saya tahu, der Veer bukan sedang mata gelap ketika menulis surat itu. Ada suatu hal penting yang hendak diutarakannya di sana. Pertama-tama, agaknya, ia ingin mengolok-olok sebuah institusi negara yang berfungsi menjaga keberlangsungan kehidupan umat manusia, justru ketika institusi itu dengan apik telah memangkas keberlangsungan manusia itu sendiri. Dengan membunuh yang menjadi semacam barang dagangan dan telah diteorisasikan dalam bentuk seni. Ya, seni membunuh, katanya. Namun ia tak hanya berhenti di situ. Ia juga ingin menyumpahi para agamawan yang telah menghalalkan pembunuhan itu; untuk mengetahui bahwa membunuh, meski ketika dilakukan oleh orang bertopi baja sekalipun, adalah suatu hal yang ganjal sebenarnya tak membutuhkan pemahaman agama yang mendalam. Ketika mengigau pun orang bisa tahu tentang itu. Agama dan negara memang merupakan bentuk dari sebuah sistem yang paling besar yang semenjak pemaklumannya dinyatakan untuk menjaga dan mendidik manusia agar mengerti dirinya sendiri. Tapi, apa yang kemudian dilakukan oleh keduanya itu, paling tidak sampai saat ini?! Dibuatnya hukum dan aturan untuk memusnahkan mereka, melalui berbagai bentuknya yang beragam. Jauh-jauh hari, sebenarnya, semenjak Revolusi Perancis, Rousseau telah mengingatkan potensi berbahaya dari negara dan agama itu, lebih-lebih ketika menjadi mitra tunggal. Setidaknya, dalam buku kanonikalnya The Social Contract itu. Tapi aneh, suara itu begitu terdengar lirih dan mengerikan; seperti ketika dengan suara parau orang berteriak minta tolong disela-sela suara anjing yang menyalak lapar. Sudah terlalu sering, sebenarnya, kita ditunjukkan oleh kenyataan-kenyataan seperti ini. Dan mungkin, kali ini adalah sekian diantara ulangan-ulangan yang terlihat menyebalkan. Karena di jaman ini, jaman ketika orang sudah merasakan betul nikmatnya membunuh, kata tak-boleh merupakan hal yang kontra-produktif dengan peradaban manusia. Pun agama, ia telah begitu suksesnya memaklumkan kebesarannya lewat pembantaian-pembantaian massal, korban-korban, perang-perang, dan apa saja dari hidup manusia yang dianggapnya cukup buat agama itu eksis. Dan kitapun tahu, bahwa kata tak-boleh itu tak hanya dimaklumkan sebagai barang aneh oleh satu atau dua orang saja. Suara itu, saya kira, merupakan kumpulan yang hampir bulat untuk abad ini. Karena pada abad ini, kata itu bertentangan dengan kemaslahatan yang telah dinikmati bersama; kemaslahatan yang kemudian dimantapkan melalui rekaan-rekaan utilitarianistik. Meski demikian, kita selalu saja mendengar suara yang terdengar lirih dan aneh itu. Tak perduli andai hal itu kemudian dianggap sebagai suara yang tak bisa dipahami. Karena, bagi sejumlah orang, kata tak-boleh-membunuh itu merupakan harapan yang diyakini sebagai sebuah kebenaran untuk meluruskan penyimpangan-penyimpangan keagamaan dan sejumlah institusi yang dibuat manusia sendiri. Barangkali, ketika hendak tidur, saat ketika pikiran yang jejeg mulai datang, mereka mendengarkan suara lirih itumeski kemudian suara itu mulai mengambang di antara negeri kapuk. Karena, seperti dalam novelnya Aldous Huxley yang paling ambisius Brave New World itu, meski penyadaran tentang nilai-nilai kemanusian pada mulanya merupakan olok-olok yang memalukan, toh pada akhirnya hal itu dianggap sebagai sebuah kebenaran yang dirasakan bersamadan harus diraih. Saya jadi berpikir bahwa sebenarnya akumulasi tendensi dan penyimpangan manusia memang tampak dramatik, dan lebih sering terlihat tragis. Namun, seringkali pula, melalui akumulasi yang tragis itu, manusia lantas sadar bahwa ia telah terlalu pintar untuk membuat aturan yang telah membuatnya asing dengan dirinya sendirilebih-lebih ketika kemudian buatannya itu dilekatkan pada hal-hal yang disebut dengan agama. Ia pun segera tahu, bahwa membicarakan penyimpangan keagamaan pada dasarnya juga membicarakan tentang penyimpangan manusia itu sendiri. Karena agama sebagai bentuk pemahaman merupakan cermin ketika manusia mencoba hendak dengan sensitif meraba dirinya sebagai manusia. Dengan demikian, meski seringkali pembicaraan seputar agama itu terlihat berbelit dan berputar-putar, namun ia pada dasarnya tembus pandang; dalam pengertian bahwa memahami agama dengan baik itu selalu selaras dengan sejauh mana ia dapat memahami dirinya sendiri secara memadai. Sehingga membicarakan sebuah penyadaran agama sebagai agama manusia tak bisa dengan begitu mudahnya disederhanakanapalagi dipukul rata. Ia akan selalu beragam dan kompleks. Dan saya kira, Van der Veer telah menyatakan protesnya secara apik dalam suratnya itu. Meski demikian, saya kira, kita tetap tak dapat melupakan bahwa perjalanan sejarah peradaban agama manusia, bagaimanapun juga, dibangun diatas penumpasan manusia itu sendiri. __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed] ______________________________________________________________________ http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
