Sumber: www.hidayatullah.com
 
Ibnu Arabi dan Pluralisme         

//Beberapa kalangan mengutip dan mencatut nama Ibnu Arabi. Sayangnya,
mereka kemudian memanipulasi pendapatnya, untuk digunakan  merusak
aqidah Islam//


Oleh: Dr Syamsuddin Arif *)


Di bulan suci Ramadhan ini, sebuah perkumpulan di bilangan Utan Kayu,
Jakarta menggelar kajian pemikiran Ibnu Arabi (w. 638 H/ 1240 M).
Tokoh asal Andalusia, Spanyol, yang bernama lengkap Muhyiddin Abu
Abdillah Muhammad ibn Ali ibn Muhammad ibn Ahmad ibn Abdillah
al-Hatimi at-Tha'i ini sengaja dipilih karena-menurut mereka- ia
merupakan sosok "sufi liberal".

Memang sejak beberapa dasawarsa terakhir tokoh yang telah menulis
lebih dari 400 karya ini oleh sebagian kalangan acapkali diklaim
sebagai pelopor paham pluralisme agama. Namanya dicatut dan dijadikan
bemper untuk membenarkan konsep `agama perennial' atau religio
perennis yang dipopulerkan oleh Frithjof Schuon, Seyyed Hossein Nasr
dan William C. Chittick dalam tulisan-tulisan mereka.

Sebagai dalih dikutiplah tiga bait puisi Ibn Arabi yang berbunyi:

"Hatiku telah mampu menerima aneka bentuk dan rupa;

ia merupakan padang rumput bagi menjangan,

biara bagi para rahib, kuil anjungan berhala,

ka`bah tempat orang bertawaf,

batu tulis untuk Taurat,

dan mushaf bagi al-Qur'an.

Agamaku adalah agama cinta, yang senantiasa kuikuti kemana pun langkahnya;

itulah agama dan keimananku:"

Berdasarkan puisi ini, Nasr mendakwa Ibn Arabi konon "menyadari bahwa
jalan-jalan yang diturunkan Tuhan mengantarkan ke satu puncak yang
sama (came to realize that the divinely revealed paths lead to the
same summit)."

Meski sekilas tampak meyakinkan, pemaparan golongan ini jika dikaji
lebih teliti sebenarnya jauh panggang dari api. Ibn Arabi bukanlah
seorang pluralis atau transendentalis sebagaimana mereka khayalkan.

Maksud ungkapannya itu telah ia jelaskan dalam kitab yang ditulisnya
sendiri: Dzakha'ir al-A`laq syarh Tarjuman al-Asywaq. Di sana jelas
dikatakan bahwa `agama cinta' yang ia maksud ialah agama Nabi Muhammad
SAW, merujuk kepada firman Allah SWT dalam al-Quran, surah Al Imran,
ayat 31, yang artinya: "Katakanlah [hai Muhammad!], kalau kalian
betul-betul mencintai Allah, maka ikutilah aku! --niscaya Allah akan
mencintai kalian." (Lihat: kitab Dzakha'ir al-A`laq syarh Tarjuman
al-Asywaq, ed. Muhammad Salim al-Unsi (Beirut, 1312 H), hlm. 39-40 =
ed. Dr. Muhammad `Alamuddin as-Syaqiri (Kairo: Ein for Human and ocial
Studies, 1995), hlm. 245-6)

Pengertian cinta dalam ayat tersebut juga diterangkannya dalam kitab
al-Futuhat al-Makkiyyah (bab 178, fi maqam al-mahabbah) , dimana ia
mengurai empat jenis cinta. Yaitu pertama, cinta kepada Tuhan (hubb
ilahi). Kedua, cinta spiritual (hubb ruhani). Ketiga, cinta kodrati
(hubb thabi`i). Dan keempat, cinta material (hubb `unshuri). Setelah
menjelaskannya satu persatu, Ibn Arabi lantas menegaskan bahwa cinta
kepada Tuhan harus dibuktikan dengan mengikuti syariat dan sunnah
Rasul-Nya saw (al-ittiba` li-rasulihi shallallahu alayhi wa sallam
fima syara`a).

Jadi, `agama cinta' yang dimaksud Ibn Arabi adalah Islam, yaitu agama
syari`at dan sunnah Nabi Muhammad saw, dan bukan la religion du coeur
versi Schuon dan para pengikutnya itu.

Selain bait puisi di atas, kaum transendentalis juga giat mencari
pernyataan-pernyata an Ibn Arabi yang dapat diplintir sesuka-hati. Ini
biasanya disertai dengan interpretasi yang bersifat rekaan. Lebih
teruk lagi, dan ini yang perlu cermati, adalah praktek menggunting dan
membuang bagian dari teks asli yang tidak mendukung asumsi mereka.

Sebagai contoh, mari kita lihat buku Chittick yang berjudul Imaginal
Worlds: Ibn Arabi and the Problem of Religious Diversity (1994). Buku
ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul: Dunia
Imajinal Ibn Arabi: Kreativitas Imajinasi dan Persoalan Diversitas
Agama. Sayang, penerjemahnya tidak memberikan kritik terhadap
Chittick, tetapi justru memberi kata pengantar berjudul "Titik Temu
Agama dalam Realitas Ketuhanan," yang isinya mengesankan seolah-olah
Ibn Arabi memang menganut ide "kesatuan agama".

Buku Chittick ini sangat perlu dikritisi. Sebagai contoh, ketika ia
mengutip sebuah paragraf dari Futuhat (bab 339) yang mengungkap
pendapat Ibn Arabi mengenai status agama-agama lain dalam hubungannya
dengan Islam, Chittick tidak memuatnya secara utuh. Ia seakan sengaja
memotong bagian-bagian penting yang tidak sesuai dengan asumsinya:

"All the revealed religions (shara'i`) are lights. Among these
religions, the revealed religion of Muhammad is like the light of the
sun among the lights of the stars. When the sun appears, the lights of
the stars are hidden, and their lights are included in the light of
the sun. Their being hidden is like the abrogation of the other
revealed religions that takes place through Muhammad's revealed
religion. Nevertheless, they do in fact exist, just as the existence
of the light of the stars is actualized. This explains why we have
been required in our all-inclusive religion to have faith in the truth
of all the messengers and all the revealed religions. They are not
rendered null (batil) by abrogation-- -that is the opinion of the
ignorant." (op.cit., hlm. 125).

Dengan sengaja berhenti di situ, Chittick memberi kesan seolah-olah
Ibnu Arabi menolak pendapat mayoritas kaum Muslimin bahwa semua agama
samawi pra-Islam dengan sendirinya terabrogasi dengan datangnya Islam.

Padahal maksud pernyataan Ibn Arabi adalah semua agama dan kitab suci
yang dibawa oleh para rasul pada zaman dahulu harus diakui
kebenarannya dalam konteks sejarahnya masing-masing, yakni sebelum
Nabi Muhammad SAW muncul. Dan ini merupakan bagian dari rukun iman.

Namun demikian tidak berarti bahwa validitas agama-agama tersebut
berkelanjutan setelah kedatangan Rasulullah SAW atau bahkan sampai
sekarang.

Dalam Futuhat (bab 36), Ibn Arabi dengan tegas menyatakan bahwa "Nabi
Isa (Jesus) pun, seandainya turun sekarang ini, niscaya tidak akan
mengimami kita kecuali dengan mengikuti sunnah kita [Ummat Muhammad],
dan tidak akan memutuskan suatu perkara kecuali dengan syari`at kita
(wa hadza `Isa idza nazala ma ya'ummuna illa minna, ay bi-sunnatina,
wa la yahkumu fina illa bi-syar`ina) .

Lebih jauh, dengan kutipan yang tidak komplit itu Chittick berusaha
memberi kesan dan menggiring para pembaca agar meyakini seolah-olah
Ibn Arabi itu adalah transendentalis yang menganut pluralisme agama
seperti dirinya. Sambungan pernyataan Ibnu Arabi yang dipotong oleh
Chittick dalam kutipan tersebut di atas berbunyi: "Maka berbagai jalan
[agama] semuanya bermuara pada jalan [agama] Nabi [Muhammad] saw.

Karena itu, seandainya para rasul berada di zaman beliau, niscaya
mereka mengikuti beliau sebagaimana syari`at mereka ikut syari'at
beliau (Fa-raja`at at-thuruq kulluha nazhiratan ila thariq an-Nabiyy
shallallahu `alayhi wa sallama, fa-law kanat ar-rusul fi zamanihi
la-tabi`uhu kama tabi`at syara'i`uhum syar`ahu)."

Bagaimana dengan ayat yang mengatakan bahwa Allah telah menciptakan
syariat dan jalan untuk masing-masing kalian (QS al-Ma'idah 48:
likullin ja`alna minkum syir`atan wa minhajan)? Menurut Ibn Arabi,
kata ganti orang kedua plural (kum) dalam konteks ayat tersebut
merujuk kepada para Nabi, bukan umat mereka. Sebab, jika ia ditujukan
kepada umat mereka, niscaya Allah tidak mengutus lebih dari seorang
rasul untuk suatu umat. Lagi pula, jika kata "kalian" di situ dipahami
sekaligus untuk para rasul serta umat mereka, maka kita telah
menta'wilkannya secara gegabah. Jadi maksud ayat tersebut, menurut Ibn
Arabi, bukan membenarkan semua jalan menuju Tuhan, atau menyamakan
status semua agama.

Sebaliknya, terdapat garis demarkasi yang jelas antara hak dan batil,
iman dan kufur, tawhid dan syirik, dan seterusnya. Jika tidak, lanjut
Ibn Arabi, niscaya Nabi SAW tidak akan berdakwah mengajak orang masuk
Islam, niscaya orang yang pindah agama (yartadid `an dinihi) tidak
akan disebut kafir (QS 2:217) dan niscaya tidak akan keluar perintah
untuk membunuh orang yang murtad (hadits: "man baddala dinahu
faqtuluhu"). Oleh sebab itu, Ibn Arabi menambahkan, orang Yahudi atau
nasrani yang masuk Islam tidak dikatakan murtad, karena ajaran murni
agama mereka memang mengharuskan beriman kepada dan mengikuti ajaran
Nabi Muhammad SAW. (Untuk detailnya lihat: Futuhat, bab 495: (fi
Ma`rifati hal qutb kana manziluhu "wa man yartadid minkum `an dinihi
fayamut wa huwa kafir").

Menurut Ibn Arabi, riwayat itu menunjukkan, bahwa pengikut Nabi Isa
a.s. yang murni dan sejati tidak hanya mengimani kenabian Muhammad SAW
tetapi juga beribadah menurut syari`at Islam. Sebab, dengan kedatangan
sang Nabi terakhir, syari'at agama-agama sebelumnya otomatis tidak
berlaku lagi. "Fa inna syari`ata Muhammadin shallallahu alayhi wa
sallama nasikhah," tegas Ibn Arabi seraya mengutip hadits Rasulullah
SAW, "Seandainya Nabi Muhammad; hidup saat ini, maka beliau pun tidak
dapat tidak, mesti mengikutiku (law kana Musa hayyan ma wasi'ahu illa
an yattabi`ani) ." Di sini nampak cukup jelas sikap dan posisi Ibn
Arabi terhadap agama lain sebelum Islam. (Lihat Futuhat, bab 36: fi
ma`rifat al-Isawiyyin wa aqthabihim wa ushulihim). Terlepas dari
kontroversi dan polemik seputar Ibn Arabi sendiri, adalah tidak etis
mencatut nama seorang pakar atau ulama dengan memanipulasi
pendapatnya, apalagi jika digunakan untuk merusak aqidah Islam.

*) Penulis peneliti INSISTS, sedang mengadakan penelitian di Johann
olfgang Goethe-Universität, Frankfurt am Main , Jerman, untuk PhD keduanya






______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke