http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=217

Jumat, 29 September 2006

CMM Kairo Gelar Seminar 'Masa Depan Islam Moderat'


Center for Moderate Moslem (CMM) Cabang Kairo, Mesir, menyelenggarakan 
seminar umum bertajuk Masa Depan Islam Moderat di Indonesia, Jumat (22/9). 
Seminar yang menandai persmian cabang baru CMM ini dihadiri sekitar 500 
mahasiswa Indonesia di Mesir, dengan pembicara Ketua Dewan Direktur CMM, KH 
Dr dr Tarmizi Taher, dan intelektual Muslim Mesir, Dr Muhammad Imarah.

Menurut Tarmizi, masa depan Islam di Indonesia akan ditentukan sejauhmana 
umat Islam di negeri ini mampu menterjemahkan dan mengamalkan ajaran Islam 
secara benar dan cerdas. Ini penting dikemukakan, papar Tarmizi, lantaran 
dunia saat ini yang kian mengglobal, sementara umat Islam tidak lepas dari 
situasi dan kondisi tarik-menarik antara satu kepentingan dengan kepentingan 
lain, dan satu aliran dengan aliran lain.

Ini fakta yang tidak bisa kita hindari. Karena itu, kita mau tidak mau harus 
menghadapinya dengan cerdik dan rasional. Salah mensikapinya, bisa fatal 
dampaknya, jelas Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) ini. Ia 
menambahkan, bahwa salah satu tantangan berat yang dihadapi umat Islam 
Indonesia kini adalah kenyataan radikalisme beragama dan kemiskinan umat.

Radikalisme, dalam pandangan mantan menteri agama ini, muncul bukan tanpa 
sebab. Menurutnya, sebab utamanya tak lain karena pemahaman terhadap ajaran 
Islam yang salah, selalu hitam-putih. Pola pemahaman semacam itu, lanjut 
Tarmizi, menihilkan fakta sosial, kemodernan dan kemajuan zaman yang ada, 
selain dapat menjerumuskan orang kepada tindakan anarkhis dan terorisme. 
Padahal Islam dituntut untuk terus eksis betapapun kondisi dan tantangan 
yang ada. Ini tidak lepas dari peran intelektual dan tokoh Islam, selain 
umat Islam itu sendiri, tokoh Muhammadiyah ini menjelaskan.

Sementara Muhammad Imarah menegaskan, moderatisme dalam Islam landasannya 
jelas, yakni wahyu dan akal. Karena itu, Islam dapat bertahan, dalam amatan 
Imarah, karena menggabungkan antara keduanya. Sementara Barat timpang 
kemajuannya lantaran menumpukan modernitas dan kemajuan material mereka 
hanya pada akal, sementara menafikan wahyu. Itu yang menyebabkan agama di 
Barat menjadi terpinggirkan, ia memaparkan.

Lebih jauh, penulis lebih dari 150 buku ini mengatakan, bahwa moderatisme 
Islam mengusung di dalamnya keadilan, kesejahteraan, dan hidup saling 
menghormati antara satu dengan yang lain, menghargai pluralisme agama 
langit, dan kebudayaan yang beragam. Karena itu, Islam di masa mendatang 
akan dapat menemukan kejayaannya justru bila umat Islam secara sadar dan 
serius mengaplikasikan pola dan ajaran Islam yang moderat. Sejarah 
membuktikan hal itu, bahwa moderatisme menjadi pilihan utama dalam berislam, 
paparnya.

Pusat Studi Quran Membedah Jilbab

Pusat Studi Quran (PSQ) dan Lentera Hati mengadakan bedah buku Jilbab 
Pakaian Wanita Muslimah, Kamis (21/9). Sejumlah pakar tampil sebagai 
pembicara dalam forum ini, yaitu Prof Dr M Quraish Shihab MA (penulis buku 
dan direktur PSQ), Prof Dr Djalaluddin Rahmat (pakar komunikasi massa), Dr 
Eliwardah Maliki (dosen konsentrasi fikih, Universitas Al-Azhar, Mesir), dan 
Adian Husaini MA (Ketua Dewan Dakwah Islamiyyah).

Antusiasme peserta sangat tinggi terlihat dari membludaknya jumlah peserta 
yang mencapai 250 orang. Peserta yang hadir terdiri dari berbagai kalangan, 
baik dari wilayah Jakarta dan sekitarnya bahkan banyak juga yang khusus 
datang dari Bogor, Bandung, dan Cilegon.

Acara dipandu oleh Dr Muchlish M Hanafi, doktor konsentrasi tafsir hadis 
dari Universitas al-Azhar Kairo, Mesir. Pembicara pertama, M Quraish Shihab 
yang tetap berpendirian bahwa hukum jilbab adalah adalah khilafiah 
(perbedaan pendapat), sehingga implikasi hukumnya hanya dianjurkan bagi 
kalangan Muslim. Tapi, kata dia, Bukan berarti yang sudah berjilbab boleh 
menanggalkannya hanya karena buku ini.

Sementara Jalaluddin menyoroti kapan waktu tepat untuk menanggalkan jilbab, 
dengan analisis ayat yang mendukung status hukum jilbab lewat kajian usul 
fikih dan alasan darurat dapat menggugurkan kewajiban penggunaannya. Dalam 
hal ini ia menceritakan kisah putrinya yang tinggal di Amerika, yang telah 
menanggalkan jilbabnya karena intimidasi sosial-politik pascatragedi 9/11 
(11 September).

Lain lagi dengan Dr Eliwardah Maliki, yang menetapkan hukum jilbab sudah 
jelas dalam Alquran, dengan kewajiban menutup seluruh aurat kecuali wajah 
dan telapak kaki. Kalaupun ada dharuurat tetap melihat batas kewajaran. Saat 
ini banyak alasan yang tidak proporsional ketika banyak orang dengan gampang 
menanggalkan jilbabnya, ujar dia.

Sementara Adian Husaini lebih menyoroti sisi sosiologi dakwah dari kesan 
orang atas pendirian M Quraish Shihab yang seolah-olah membolehkan wanita 
Muslimah untuk tidak berjilbab. Karena menurutnya, M Quraish Shihab telah 
janggal menetapkan hukum jilbab sebagai khilafiah yang berbeda dengan arus 
dominan ulama klasik. Kecuali itu, status anjuran yang akan mengukuhkan 
anggapan bahwa berjilbab pun belum tentu terhormat.

Diskusi ini lebih memperlihatkan argumentasi dari tiap pembicara. Pada 
penutupnya, moderator mengingatkan perbedaan pendapat yang ada, sekiranya 
disikapi sebagai khazanah dari fikih yang mempunyai ragam pendapat dalam 
melahirkan formulasi hukumnya. Semua diserahkan kepada umat yang memililih 
mana yang paling mendekati kebenarannya.

( ) 



______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke