http://www.suaramerdeka.com/ Hikmah Ramadan Mengharap Ampunan Oleh: Mudjahirin Thohir MENJELANG Ramadan -kita amati- banyak orang pergi ke makam. Di tempat itu, mereka duduk bersimpuh di dekat pusara, memanjatkan doa. Orang Jawa menyebut hal itu sebagai kirim donga, berkirim doa agar mereka (yang berada di dalam pusara) diampuni dosanya.
Perilaku mendoakan para arwah seperti itu, karena dilakukan pada Ruwah, lantas disebut Ruwahan. Dengan ampunan Tuhan, memudahkan arwah leluhurnya itu dinaikkan dari alam barzah (alam kubur) ke alam jannah (swargi). Istilah "naik" dalam bahasa Jawa disebut munggah, sehingga proses menuju atau ritual yang berkait dengan itu disebut punggahan. Di balik harapan demikian, mereka -para peziarah tersebut- juga memohon dimaafkan segala kesalahannya diri. Itu adalah ekspresi resiprositas alias timbal-balik. Relasi timbal balik secara simbolik. Dalam persepsi orang Jawa, relasi demikian adalah penting, terutama ketika memasuki Ramadan. Mengapa? Sebab, ridlollah, ridhol walidain. Rida Allah bermula karena atau mempersyaratkan adanya rida kedua orang tua. Analog kepada ampunan Allah, juga bermula dari atau karena adanya kesediaan orang tua untuk memaafkan. Setelah itu, dirilah yang memutuskan. Apakah akan bersuci dari segala kekotoran jiwa raga atau tidak? Jika ya, maka mandi (adus) di suatu padusan pada pertengahan Sakban (nisfu Sya'ban), untuk memasuki Ramadan, adalah ekspresi simboliknya. Itulah, perasaan umumnya orang Jawa di dalam memasuki Puasa. Bulan Puasa dipersepsi sebagai bulan suci. Sebagai bulan suci, manusia hanya bisa memasukinya dengan kesucian pula. Karena hanya dalam kesucian itulah, Allah Yang Maha Suci berkenan membuka pintu rahmah dan maghfirah. Kalau kasih sayang dan ampunan sudah didapatkan, dengan sendirinya, seseorang akan dihindarkan dari jilatan api neraka. Rasul berkata: Sepuluh hari pertama Puasa adalah rahmah. Allah menurunkan kasih-sayang-Nya ke bumi. Sepuluh hari kedua adalah magfirah alias ampunan bagi mereka yang menjalankan puasa dengan dasar iman dan ihtisaban; dan sepuluh hari terakhir adalah pembebasan dari api neraka. Itulah rahasia di balik ibadah berpuasa. Tetapi mari renungkan kembali realitas kehidupan kita sendiri. Apakah kita memiliki konsistensi terhadap apa yang kita canangkan di depan? Rupanya, tidak semuanya. Masih banyak di antara kita yang terjebak menempatkan Puasa sebagai semacam "bulan hadiah" tanpa menyadari bahwa itu adalah hadiah untuk yang lolos ujian. Jadi bukan hadiah cuma-cuma. Bukan pula promosi semacam bunyi iklan: Buy one, get one free. Beli satu mendapat gratisan satu lagi. Tidak! Puasa adalah media Tuhan untuk menguji kita. Apakah iman dan kejujuran cuma ketika ada di mushala, atau juga terbawa ke kantor, ke pasar, atau ke tempat yang tersembunyi sekalipun. Kegagalan menghadapi ujian, akan ditunjukkan dari perilaku yang berlawanan. Raganya beribadah, tetapi batiniyahnya tidak terjaga. Menjalankan aktivitas fisikal tanpa pengelolaan mental dan moralitas. Hal itu mulai kentara sejak hari raya tiba dan bulan-bulan sesudahnya. Kembali mengais rezeki tanpa peduli. Mencari uang ke sana kemari untuk sebuah harga diri. Tak peduli rezeki itu diperoleh secara halal atau dari korupsi. Bisa terjebak ke arah itu, jika Puasa ditempatkan sebagai siklus waktu belaka. Sepertinya, Ramadan adalah bulan untuk mencari pahala. Di luar bulan itu, boleh berbuat dosa. Padahal sejatinya, Ramadan adalah awal dari sebuah komitmen. Komitmen untuk berbuat baik dan menghindari keburukan menurut ukuran Tuhan. Imanan wa ihtisaban. Komitmen adalah semacam pernyataan moral. Lihat, misalnya, komitmen Sayidina Umar bin Khattab. Boleh jadi, dia pernah melakukan dosa besar. Membunuh anak kandungnya yang perempuan. Tetapi setelah masuk Islam, dia sadar. Bertobat atas kesalahan yang dijalankan. Menjadi amirul mukminin. Bagaimana dengan kita yang shalat dan berpuasa tetapi masih saja mengulang kebiasaan buruk seperti mencari rezeki yang tidak halal? Jika masih mengulang kebiasaan buruk seperti itu, jangan-jangan puasa kita hanyalah puasa raga saja. Jika demikian, mestinya kita malu sebelum dipermalukan. Malu karena sudah mau berpuasa, tetapi masih suka menipu. Malu diri karena mengaku orang Islam tetapi masih mau korupsi. Marilah dalam Ramadan ini kita berefleksi, bertanya diri: "Jika saya masih berkorupsi, orang Islam macam apa saya ini?" Itulah, pertanyaan pokok yang harus dijawab sendiri. Pertanyaan untuk orang-orang yang berpuasa, yang berharap mendapatkan ampunan Illahi. Semoga jawaban itu sudah didapatkan sebelum ajal datang.(64a) - Dr H Mudjahirin Thohir MA, Kepala Puslit Sosbud Lemlit Undip, Wakil Ketua PWNU Jawa Tengah [Non-text portions of this message have been removed] ______________________________________________________________________ http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
